Sebuah kamar kecil terlihat terang di antara gelapnya malam, semua orang telah tertidur dengan lelap, di antara keheningan itu hanya terdengar goresan demi goresan dari pena yang bergerak lihai di atas kertas kosong, di sahuti dengan suara kodok dan jangkrik yang saling menyahut, semakin menambah suasana hati mungil gadis yang berambut Panjang terlena dengan tulisannya di atas kertas.
Dia terus menulis tanpa melihat waktu, matanya yang indah sudah basah dengan buliran air keruh, bibirnya bergetar menahan tangis, menahan suaranya agar tidak keluar dan membangunkan orang rumah.
“Tuk..tuk..”
Gerakan tangan gadis itu terhenti, menggulirkan tatapannya ke arah bawah kertas yang sudah berubah warna menjadi warna merah.
Mimisan
Tak ada rasa panik ia hanya terdiam melihat genangan kecil darah yang masih segar di atas kertas putih.
“Apa sakit nya semakin parah?” Pertanyaan itu terlintas di benaknya, jika di suarakan maka akan hanya terdengar suara santai.
Ia dengan lembut mengambil tisu yang ada di sampingnya, memilinya membentuk sumbatan, menaruh dua tisu yang sudah di pilin seperti sumbatan di kedua lubang hidungnya dan mendongak melihat langit-langit kamarnya.
“Sepertinya memang semakin parah” Lirihnya sambil memejamkan mata, sambil merasakan kepalanya seperti di pukul-pukul dan berdetak seperti denyut jantung, dan itu sangat sakit.
Ia membuka mata dengan tatapan sendu dan putus asa “Tidak bisakah aku pulang lebih cepat? Tapi aku takut… apa yang harus aku lakukan?”
Skip pagi hari
Tok… tok… tok….
Suara ketukan itu membangunkan gadis yang sekarang tertidur di atas lipatan tangannya.
“Naera… cepat bangun… apa kamu tidak punya kelas pagi?” Tanya ibu Naera, Sariasih atau sering di pangil Asih, masih belum ada jawaban dari dalam.
“Aish anak ini, kenapa susah sekali bangunnya” Gerutu Ibu Naera.
“Ibu tau kamu sudah bangun, keluarlah dan bantu ibu beres-beres jika kamu tidak ke kampus, jangan jadi pemalas” Setelah mengatakan itu suara langkah kaki menjauh pun terdengar, pertanda ibu Naera pergi.
Naera yang masih di posisi duduk di atas kursi memandangi burung-burung yang terbang lewat jendela kamarnya, tidak ada niatan untuk beranjak dari tempat duduknya.
“Aku masih di sini…” Helaan napas terdengar, kecewa akan kenyataan ia belum pulang.
Drrrtttt… Drrrttttt….
Sudah berapa kali handphone yang ada di depan Naera bergetar, tapi Naera hanya memandanginya tanpa ada niat mengangkatnya.
Naera kembali memejamkan matanya merasakan rasa sakit yang mendera, lagi dan lagi handphone nya bergetar dan kali ini ia mengangkatnya.
“NAERA KENAPA BARU MENGAKAT TELPONKU HAH!...” Suara teriakan langsung terdengar dari seberang telpon.
“Ada apa? kenapa menelponku sepagi ini?” Jawab Naera dengan lirih.
“PAGI..? KAMU BILANG PAGI...! LIHAT JAM BERAPA SEKARANG..!” Suara di seberang telpon semakin keras atas jawaban santai Naera.
Naera dengan malas menggeser sedikit layar handphonenya ke bawah.
9:12 am.
“Jam 9” Jawab Naera santai.
“NAERAAAA…” Suara hembusan nafas terdengar setelah teriakan itu.
“bersiaplah aku akan menyeret mu dari kamar sialan itu… tut..tut..tut”
Telpon berakhir
Naera menegakkan tubuhnya, memijat kepalanya yang terus berdenyut.
“Kapan ini akan berakhir?” Lirihnya.
Naera pun bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, dan tak lama suara gemerincik air pun terdengar.
Di tempat ibu Naera berada
Ibu Naera sedang melipat baju di ruang tamu, di temani dengan suara TV yang menanyangkan drama indosian, yang berjudul “Bapakku ternyata laki-laki”.
Di tengah keseriusan menonton drama yang menyayat hati itu, harus terbuyarkan dengan suara ketokan dan panggilan dari luar rumah.
“Siapa?” Tanya ibu Naera tanpa mengalihkan pandangannya dari drama yang ia tonton.
“Ini aku Tan… Semi” Jawab orang di luar rumah.
“Oh Semi.. masuk saja drama tante belum iklan” Suruh ibu Naera pada orang yang bernama Semi itu.
Ceklek…
Pintu terbuka
Semi berjalan mendekati ibu Naera yang sekarang sedang serius menatap ke arah TV, Semi pun ikut memalingkan tatapannya ke TV, di sana terlihat sang antagonis wanita yang meninggal dengan jeratan tali di lehernya dan tergantung di bawah pohon terong, sungguh ironis.
“Akhirnya Surti tau siapa bapaknya dan si pelakor itu huh.. syukurin.. mati kan.. mampus lo” Ucap ibu Naera dengan kesal.
Semi yang melihat itu meringis, ia pun dengan cepat tersadar akan tujuan awalnya ke sini.
“Tan.. Naera nya mana?”
“Di kamar.. kamu ke sana saja” Semi hanya mengangguk lalu berlalu dari ruang tamu.
Di depan kamar Naera
Tok.. tok… tok..
“Ae…?” Semi kembali mengetuk pintu tapi tetap tidak ada sahutan.
“Ae aku masuk ya?”
Cklek
Semi pun membuka pintu, Semi mengarahkan pandangannya ke segala arah kamar tapi tidak melihat Naera.
“Naera..” Panggilnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
“Iya tunggu sebentar” Sahut Naera dari dalam kamar mandi.
Semi pun menunggu sambil melihat-lihat isi kamar, sampai langkahnya terhenti saat matanya tak sengaja mengarah ke arah buku yang ada di dalam kamar.
Semi dengan ragu-ragu, melihat ke arah kamar mandi, melangkah pelan untuk mengambil buku itu, merasa Naera masih lama ia pun dengan cepat mengambil buku yang terdapat noda darah di atasnya.
Semi membaca baris demi baris, tak terasa pipinya sudah basah.
Cklek… suara pintu akan segera terbuka
Semi dengan cepat menaruh kembali buku itu di tempat semula tak lupa ia memposisikannya seperti di awal, setelah merasa pas, ia berlari dengan cepat sambil mengambil handphonenya dan duduk di atas kasur Naera.
Saat keluar kamar mandi dengan seragam lengkap Naera melihat Semi yang bergelar sahabatnya itu sedang sibuk memainkan handphonenya di atas kasurnya.
“Maaf kamu menunggu lama” Sesal Naera sambil melangkahkan kakinya ke arah meja belajar tempat ransel dan keperluan belajarnya berada.
Mata Naera membola, terkejut melihat buku yang ia tulis semalam masih terbuka, ia menatap Semi dengan raut cemas.
“Aku sudah terbiasa, cepatlah… dua puluh menit lagi kelas akan di mulai” Jawab acuh Semi, seolah layar handphonenya lebih menarik.
“Mn..” Naera pun segera bergegas, menutup bukunya yang ternoda darah dan menaruh nya di dalam laci.
“Sudah.. ayuk berangkat”
Semi mematikan handphonenya, menaruhnya di dalam tas, lalu berdiri “Ayuk” Ucapnya berjalan ke arah pintu keluar, tangannya sudah siap memutar knop pintu sampai sebuah pertanyaan menghentikan aksinya.
“Semi.. apa kamu tidak melihat apa pun?”
Keadaan menjadi hening, setelah sekian detik, Semi berbalik menatap Naera yang sekarang melihatnya dengan penuh selidik, dan terdapat rasa takut di tatapan sahabat nya.
Pikiran Semi kembali terngiang akan tulisan yang ia baca tadi, ia dengan cepat mengontrol emosinya.
“Tentu saja ada” Jawabnya serius.
Jantung Naera semakin berdegup kencang, takut apa yang ia pikirkan benar-benar terjadi.
Segala macam pertanyaan berputar di kepalanya, bagaimana sekarang? apa ia harus jujur?
"A.. apa yang… kamu lihat?”
“Itu…”
BERSAMBUNG