"Kay? Ini kamu kan, Kayla?"
Seseorang dengan suara bariton menepuk bahuku ketika aku sedang memilih-milih di stand ikan dan daging. Saat kulihat ternyata seseorang yang menyapaku adalah Raihan. Teman kecilku semasa di taman kanak-kanak. Cinta monyetku dulu.
"Mmm, Raihan kan?"
"Iya, aku Raihan. Masih inget aja kamu." ujarnya seraya tersenyum. Senyum yang dulu akan membuatku bersemu saat melihatnya.
"Kamu sendirian aja? Belanja bulanan ya."
"Iya nih. Kebetulan Aa Syafiq lagi nggak bisa belanja, jadi aku yang pergi."
"Syafiq belanja? Seriusan? Mau gitu dia disuruh belanja bulanan? Kan ada alat perang cewe juga kali. Emang nggak malu?" tanyanya beruntun dengan ekspresi takjub saat mengetahui fakta kalau Aa Syafiq suka belanja kebutuhan bulanan.
"Iya, Han. Memang biasanya juga setiap bulan Aa yang pergi belanja bulanan. Aku cuman duduk manis aja nunggu belanjaannya di rumah. Hehe." ujarku sambil tertawa ringan.
"Waw, nggak nyangka aku."
"Kamu sendiri lagi belanja?" tanyaku balik padanya sambil meneliti, karena keranjangnya masih kosong.
"Euh, iya nih. Tapi yang kucari belum ketemu. Eh, malah nemu kamu disini, Kay."
"Oh, gitu. Yaudah deh aku lanjut lagi ya." Pamitku pada Raihan sambil berlalu, karena aku sendiri sudah selesai memilih ikan dan daging untuk keperluan makan selama sepekan. Ya, berbeda dengan keperluan bulanan, untuk lauk makan aku dan Aa Syafiq biasa melakukan foodprep untuk makan setiap sepekan sekali.
"Eh, bentar, Kay. Aku boleh minta nomor HP kamu? HP ku ke reset dan phonebooknya belum sempat ku backup, jadi semua kontak di HP ku hilang." Raihan berseru menahan kepergianku.
"Oh, boleh. Sini HPnya." kataku sambil menengadahkan tangan meminta gawainya. Raihan pun segera memberikan padaku, lalu kumasukkan nomorku disana.
"Nih, udah." kuberikan gawai Raihan setelah selesai menyimpan nomorku.
"Oke, Kay. Makasih, ya." ucapnya.
"Oke, aku pamit ya." Akupun langsung berlalu dari hadapan Raihan dan melanjutkan kegiatan belanjaku yang sempat tertahan sejenak oleh kehadirannya.
*****
Jelang adzan maghrib, terdengar suara deru kendaraan di halaman rumah, saat kulihat ternyata suamiku sudah pulang.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam waramatullaah, A."
Kusambut suamiku dengan senyum secerah mentari yang kupunya. Kuambil tangannya untuk kucium. Aa Syafiq pun merengkuh kepalaku dan mencium keningku. Tas dan jaketnya kuambil dan kami berjalan masuk ke rumah.
Wajahnya menampakkan kelelahan yang sangat kentara. Ah, Allah, begitu lelahnya suamiku mencari nafkah hingga terlihat sangat di wajah teduhnya, batinku melihat kelelahan Aa Syafiq.
"Aa capek banget kayanya. Mukanya kuyu gitu."
"Iya, teh. Tadi pagi kan Aa cerita ke kamu kalau mau ke customer. Ternyata nggak cuma rusak, tapi minta dipindah ke ruangan baru. Mana Aa cuman berdua aja tadi pas kesana, kamu tau sendiri kan seberat apa baterainya. Dan yang harus dipindah juga ada sekitar empat puluh baterai."
"Subhanallaah, pantesan aja Aa kucel bin kuyu begini. Yaudah atuh, Aa istirahat dulu, aku siapin air panas dulu ya buat Aa mandi. Biar enakan badannya kalau mandi air hangat."
Aku segera berlalu menuju kamar kami, menyimpan tas dan juga jaketnya. Setelah itu akupun segera memasak air untuk mandi suamiku. Tak lupa kubuatkan segelas teh manis hangat untuknya.
Aa Syafiq memang sering membagu cerita tentang pekerjaannya padaku. Meskipun aku tak begitu paham apa yang dikerjakan, tak lelah ia juga menjelaskan secara perlahan dengan bahasa yang mudah kumengerti. Bidang kerja suamiku itu berhubungan dengan sumber cadangan arus listrik, yaitu power supply unit. Di rumah kami pun ada satu versi kecilnya, untuk cadangan listrik kalau-kalau listrik dari PLN mati.
Sedangkan di tempat kerja suamiku, power supply unitnya besar-besar. Aa Syafiq pernah bercerita kalau berat satu buah baterainya saja itu setara satu karung beras yang 50 kilo. Terbayang sudah betapa lelahnya tadi suamiku memindahkan empat puluh buah baterai hanya berdua saja. Baterai sebanyak itu untuk cadangan listrik satu gedung, tujuannya agar perangkat komputer server di gedung itu tidak mati ketika ada pemadaman. Terbayang bagaimana repotnya jika server yang setiap detik selalu diakses itu mati.