“Kenapa, Pak?” tanyaku tak kalah kalah kaget.
Pak Anwar menunjukku dengan tangan gemetar. Kenapa dia? Kertas yang bertuliskan Kartu Keluarga ada di tangannya. Kertas yang ditunjukkan oleh Bagas putra sulungku. Kartu Keluarga? Astaga! Jadi, kertas yang disodorkan bagas tadi adalah kartu keluarga kami?
“Ja – di, Dar – fan, su - a – mi, ka – mu? Ka … li … an, pe … ni … pu!” ucap Anwar terbata-bata. Lelaki paruh baya itu jatuh tiba-tiba terkapar.
“Pak! Pak Anwar!” Spontan aku menghampirinya. “Bapak kenapa, Pak?” tanyaku seraya mengguncang-guncang tubuhnya. Tapi pria itu tetap diam, tak ada respon sama sekali. Sepertinya dia mati. Eh, pingsan barangkali.
“Pak Anwar! Bangun, dong! Biar aku jelasin, ya! Ini hanya kertas! Kenapa Bapak pinsan hanya karena selembar kertas. Oh iya, ini Kartu Keluarga, eh, anu, Pak! Ini memang betul Kartu Keluarga kami. Saya memang istri sah Mas Darfan, tapi Bapak jangan mati dulu, dong! Pak Anwar! Sadar, Pak! Bapak enggak usah kaget! Jangan mati, dong, Pak! Meskipun itu lebih baik, sih? Tapi, jangan sekarang, dong, Pak! Bagaimana ini?” cerocosku kebingungan.
Tubuh laki-laki itu tetap diam. Apa yang harus aku lakukan sekarang, ya? Oh, menyelamatkan Kartu Keluaraga ini dulu. Urusan nyawa laki-laki ini, itu nanti. Urusan ke sejuta. Biar aja dia mati sekalian. Kalau dia mati, makin gampang menguasai di Kribo. Setelah ayahnya, baru giliran si Kribo yang akan aku depak, hehehehe …. Ternyata begitu gampang menguasai harta mereka.
Pelan aku menarik kertas itu dari genggamannya. “Maaf, ya, Pak! Kartu Keluarga ini saya simpan, dulu! khawatir ditemukan oleh si Kribo anak gadis Bapak,” ucapku lalu menyimpan kertas itu kembali ke dalam tas map plastik, lalu menyembunyikanya di antara tumpukan baju. Setelah beres, baru aku merogoh ponsel di saku daster lusuhku, lalu mulai mencari bantuan.
**
POV 3
[Mohon maaf buat reader semua, selanjutnya cerita ini menggunakan POV 3, ya. Agar cerita ini lebih ngalir dan tidak susah berganti-ganti POV . Semoga tetap suka. Selamat membaca.]
Mobil yang dikemudikan Darfan baru saja memasuki hamalan sebuah salon paling terkenal di kota ini. Amel buru-buru turun dan berjalan memasuki gedung berlantai tiga. Sementara Darfan masih sibuk memarkirkan mobil di posisi paling tepat. Saat itulah ponselnya tiba-tiba berdering.
“Ya, Sayang? Baru aja sampai ini, ada apa? Bagas gak nangis lagi, kan?” tanyanya setelah menekan panel hijau bergambar telepon.
“Gawat, Mas! Gawat!” lapor Yati dengan nada panik.
“Apanya yang gawat?” Darfan ikut panik.
“Papanya si kribo mati!” jawab Yati dengan suara bergetar.
“Apa? Mati? Maksudnya?” Darfan kebingungan.
“Cepat balik, Mas! Aku bingung! Papanya si kribo di sini, dia membaca Kartu Keluarga kita yang sempat dimainkan oleh anak-anak. Terus, dia jatuh, mungkin mati!”
“Papanya Amel datang ke situ? Dia baca Kartu Keluarga kita? Dia mati? Dia udah tahu, dong, kalau kita suami istri?” cecar Darfan semakin bingung.
“Iya, makanya dia kaget mungkin, cepat datang, Mas! Aku gak mau dituduh bunuh dia, Mas!” Yati semakin panik.
“Iya, iya. Kamu tenang, ya! Jangan panik! Aku panggil Amel dulu, kami segera datang!”
Darfan menutup telepon. Pria itu melongo sesaat. “Gawat, rahasia kami sudah terbongkar. Untung dia langsung semaput. Semoga mati beneran! Kalau tidak, bisa gawat! Semua rencana kami terancam gagal! Bisa-bisa aku malah dipidanakan oleh orang kaya itu karena telah menipunya!” batin Darfan berkecamuk.
Gontai dia berjalan menyusul Amel ke dalam salon. Wanita yang baru dinikahinya itu sedang berbicara dengan pegawai salon. Amel mengorder paket lengkap. Mulai dari perawatan rambut, wajah dan tubuh. Yang paling utama dia ingin menghilangkan gelar kribo yang disematkan oleh keluarga suaminya terhadap dirinya. Rambut ikal tebalnya harus diluruskan, itu tujuan utamanya.
“Sayang, rencana smootingnya ditunda dulu, ya!” bisik Darfan di dekat telinganya.
“Kenapa?” Amel menoleh tidak senang.
“Papa kamu, Sayang! Dia datang ke rumah kita, lalu jatuh terkapar, barusan Yati telpon!”
“Apa? Papa?” teriak Amel kaget. Sekita lemas seluruh tubuhnya. Hampir saja dia ambruk ke lantai. Darfan langsung menyangga tubuh wanita itu.
“Kita pulang, saja, ya! Kita liat kondisi Papa kamu! Tapi kamu harus tetap tenang! Harus kuat meskipun Papa kamu misalnya meninggal!” bujuk Darfan.
“Meninggal? Kamu doakan Papaku meninggal?” Tiba-tiba Amel bangkit. Kalimat Darfan barusan seperti cambuk yang memecut kesadarannya. Bukankah suami dan seluruh keluarga licik itu akan sangat senang bila papanya meninggal?
Segera dikeluarkannya ponsel dari dalam tas sandang. Dr. Frans Kelvin, dia hubungi nomor Dokter pribadi papanya itu.
“Papa jatuh, Dok! Kirim mobil ambulan ke rumah yang di Medan Tuntungan, segera, ya, dok!” pintanya yang langsung ditindak lanjuti oleh sang Dokter.
“Kamu telpon siapa, Sayang?” Darfan mengelus pundak Amelia. Segera ditepis halus oleh wanita itu. Menscrol nomor di daftar kontak, Amel lalu mencari nomor Wak Dadang, supir pribadi papanya.
“Ya, Non? Saya masih di bengkel, Bapak di rumah Tuntungan, nunggu Non Amel! Non pulang, engge!” sambut Dadang dari seberang sana.
“Wawak di bengkel mana ini?”
“Deket, kok, Non! Kira-kira dua ratus meter dari rumah Non amel!”
“Cepat ke rumah! Papa jatuh! Bentar lagi mobil ambulan datang! Saya langsung ke rumah sakit!” perintah Amel.
“Apa? Bapak jatuh?”
“Cepat, Wak! Bantuin Papa! Bawa ke rumah sakit terdekat! Amel nyusul!”
“Iya, Non! Wawak segera pulang!”
Amel buru-buru menuju mobilnya. Darfan mengikuti dengan langkah sama panjangnya. Sekilas sebuah lengkungan terbentuk di bibirnya. Darfan tersenyum samar.
“Gleneagles, Mas! Balap, ya!” perintah Amel begitu pintu mobil dia tutup kencang.
“Gleneagles? Kenapa ke sana? Jauh banget, dong, dari Tuntungan?” protes Darfan sengaja mengulur waktu.
“Itu rumah sakit langganan Papa, Mas! Gak usah nawar, deh! Dokter Frans udah nunggu di sana!” teriak Amel mulai kesal.
“Sabar, dong, Sayang! Jangan panik, gitu! Ihklasin, kalaupun Papa kamu meninggal. Biar dimudahkan Allah jalannya!”
“Mas! Berhenti mengatakan Papaku meninggal! Minggir! Aku aja yang nyetir!” Amel berteriak.
“Iya, Sayang! Tenang! Kita berangkat, ya!” Mobil itu mulai melaju.
**
Amel langsung berlari menuju ruang UGD, begitu mereka tiba di rumah sakit. Darfan memarkirkan mobil terlebih dahulu. Dadang menyambut Amel, dengan wajah tegang. Rasa bersalah menghantui pikirannya. Andai saja aku tak ceroboh meninggalkan majikanku di rumah itu. Mungkin Bapak tidak akan jatuh. Begitu sesalnya. Dan saat Amel menanyakan keadaan Papanya, Dadang tak bisa berkata apa-apa selain minta maaf.
Amelia menghenyakkan tubuh di bangku panjang, yang tersedia di depan ruang UGD itu. Air mata mulai meleleh, takut kehilangan mulai mengaduk perasaan. Bagaimana dia akan menghadapi keluarga suaminya sendirian. Amel tak punya siapa-siapa untuk bersandar. “Jangan meninggal, ya, Pa! Jangan tinggalin Amel, Pa!” rintihnya dalam bisikan.
*****