Sinar keemasan matahari pagi menembus celah awan, memandikan Istana Naga Langit Timur dalam kilau surgawi. Di dalam kediaman pribadi Raja Naga, Bai Han Ming, aroma cendana dan bunga teratai memenuhi udara, berpadu sempurna dengan kehangatan yang terpancar dari pasangan di atas ranjang berukiran naga.
Yu Heng menggeliat pelan dalam dekapan suaminya, Bai Han Ming. Kulit putih porselennya berkilau lembut di antara selimut sutra emas. Dia merasakan hembusan napas teratur Bai Han Ming di tengkuknya, dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Sebuah lengan kekar melingkar posesif di pinggangnya, menariknya semakin rapat seolah tak ingin ada jarak sedikit pun di antara mereka.
"Sudah bangun, Mutiaraku?" Suara Bai Han Ming dalam, serak khas bangun tidur, mengalun lembut di telinga Yu Heng. Ada nada sayang yang tak terhingga di setiap suku kata.
Yu Heng membalikkan tubuh, menatap iris emas Bai Han Ming yang kini terbuka, memancarkan kehangatan yang selalu memabukkannya. "Hanya ingin merasakan pelukanmu lebih lama, Yang Mulia," bisiknya, jemarinya membelai pelan rahang tegas sang raja.
Bai Han Ming terkekeh pelan, mencium kening Yu Heng dengan lembut. "Kau tahu, setiap pagi bersamamu terasa seperti ribuan tahun kebahagiaan. Dulu, aku tak pernah membayangkan akan menemukan kedamaian seperti ini." Matanya menatap Yu Heng lekat, seolah ingin merekam setiap detail wajah cantiknya. "Kau adalah keajaiban yang tak pernah aku duga, Yu Heng. Mutiara yang benar-benar mengubah duniaku."
Pipi Yu Heng merona tipis. Dia membenamkan wajahnya di d**a bidang Bai Han Ming, menghirup aroma maskulin yang selalu menenangkannya. "Dan kau adalah takdirku, Yang Mulia. Tanpamu, aku hanyalah sebutir mutiara tanpa arti." Dia mendongak, menatap Bai Han Ming dengan mata berkaca-kaca. "Aku bersyukur setiap detiknya, bahwa aku dilahirkan dari nafasmu, untuk menjadi milikmu."
Bai Han Ming mengeratkan pelukannya. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kau adalah dirimu sendiri, jiwamu begitu murni dan berharga. Aku hanya beruntung takdir membawamu kepadaku." Dia menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut Yu Heng yang lembut, mengelusnya penuh kasih. "Setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti orang yang paling beruntung di seluruh empat langit. Kau memberiku cahaya, memberiku arti."
"Dan kau memberiku segalanya," balas Yu Heng, suara bergetar menahan haru. "Sebuah rumah, sebuah cinta yang tak terbatas." Dia mengangkat tangannya, meletakkan telapaknya di pipi Bai Han Ming. "Aku hanya takut... takut jika suatu saat semua ini hanyalah mimpi. Bisakah kita selamanya seperti ini, Yang Mulia?"
Bai Han Ming menangkup tangan Yu Heng, menciumnya perlahan. "Selamanya, Mutiaraku. Langit dan bumi boleh runtuh, bintang-bintang boleh padam, tapi cintaku padamu takkan pernah pudar. Itu janjiku sebagai Raja Naga Langit Timur, dan sebagai suamimu."
Dia menarik Yu Heng lebih dekat, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang dalam, penuh janji dan gairah.
Ciuman Bai Han Ming semakin dalam, mengikis habis sisa-sisa kantuk dari diri Yu Heng. Jemari kokoh Bai Han Ming beralih dari punggung Yu Heng, menyelip masuk ke balik jubah tidur sutra, membelai kulit halus sang Omega. Yu Heng balas mengeratkan pelukan, tubuhnya merespons setiap sentuhan dengan gejolak rindu yang tak terhingga. Dulu, ia hanyalah mutiara tak bernyawa, namun kini, dalam pelukan Bai Han Ming, setiap sel tubuhnya terasa hidup dan penuh gairah.
"Aku mencintaimu, Yu Heng," bisik Bai Han Ming di sela ciuman, suaranya sarat akan hasrat yang membakar. Tangannya menjelajahi lekuk pinggang Yu Heng, merasakan setiap inchi tubuh indah yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Lebih dari apapun," balas Yu Heng, napasnya tersengal. Dia mendongak, sorot matanya dipenuhi adoraasi. "Kau segalanya bagiku, Yang Mulia."
Bai Han Ming menggeser posisi, menindih Yu Heng perlahan, menyalurkan kehangatan tubuhnya. Aroma alpha sang Raja Naga, perpaduan kayu cendana dan sedikit petrichor dari awan, memabukkan Yu Heng hingga ke sumsum tulang. Dia tahu, ini adalah aroma rumah, aroma yang selalu mendamaikan sekaligus membakar hasratnya.
"Setiap napasku adalah untukmu, Mutiaraku," desah Bai Han Ming, bibirnya bergerak turun ke leher jenjang Yu Heng, mengecup dan menyesap kulitnya hingga meninggalkan jejak kemerahan. Yu Heng mendesah, punggungnya melengkung, menikmati sensasi yang mengalirkan gelombang kenikmatan.
"Ah... Yang Mulia..." Yu Heng mencengkeram erat bahu Bai Han Ming. "Kau tahu bagaimana membuatku... gila."
Bai Han Ming terkekeh rendah, suara beratnya bergetar di d**a Yu Heng. "Kau pun demikian, Sayang. Sejak kau ada, ketenangan yang kudambakan selama ribuan tahun meditasi mendadak terasa hambar tanpamu." Tangannya kini membelai pahanya, kehangatan sentuhannya menembus kain tipis yang tersisa.
Yu Heng memejamkan mata, kepalanya sedikit mendongak, membiarkan Bai Han Ming menguasainya. Sensasi cinta dan gairah yang begitu kuat membuat air matanya sedikit menggenang di pelupuk mata. Ini bukan hanya nafsu, ini adalah penyatuan jiwa yang telah lama menanti.
"Aku percaya padamu, Yang Mulia," bisiknya lirih, suaranya serak karena gairah. "Aku akan selalu bersamamu, selamanya."
Pagi itu, di dalam Istana Naga Langit Timur, kebahagiaan mereka memuncak, mewarnai setiap sudut ruangan dengan gema cinta yang abadi. Mereka adalah dua belahan jiwa yang akhirnya bertemu, dan di tengah pelukan erat yang memabukkan, dunia terasa berhenti, hanya ada mereka berdua.