Goaaar
raungan keras terdengar dari dalam hutan rimba kuno, penduduk desa yang berada di sekitar hutan berlarian menjauh dari hutan kuno itu.
Di dalam hutan seekor Naga langit terbaring lemah , tubuhnya penuh luka ada lubang hitam yang perlahan mengecil tak jauh dari naga itu
Goaaar
Naga langit itu meraung lagi dan mencari tempat untuk beristirahat, ia menggerakkan badannya dengan beringsut saat melihat sebuah goa tak jauh dari tempat dia jatuh. Dengan bersusah payah ia berhasil masuk ke dalam goa itu dan beristirahat di sana. Namun kondisi badannya yang terluka parah membuatnya tak bertahan lama di dalam goa itu , dengan sisa kekuatannya ia menyegel goa itu agar tampak seperti dinding batu dari luar, hanya orang orang yang terpilih yang akan bisa melihat dan memasuki goa karena Mutiara Naganya pasti akan tertinggal di dalam goa itu.
Beberapa puluh tahun berlalu goa tempat Naga Langit bersemayam semakin tersamarkan dan di penuhi oleh pohon dan semak belukar.
Sudut Kota Bunga tampak seorang remaja sedang berlari menghindari kejaran beberapa remaja seusianya
" Arya berhenti....!" seru seorang remaja yang mengejar
" huh , berhenti untuk di pukul olehmu, emangnya aku bodoh wanto!" teriak Arya.
Arya seorang yatim piatu di desa Melati dia bekerja sebagai pelayan di salah satu rumah makan , dan Wanto adalah anak pemilik Rumah makan itu.
Awalnya Wanto akrab dan baik pada Arya , hanya saja ketika Wanto tahu Ningrum menyukai Arya , Wanto menjadi kesal dan sering membuly Arya, karena Wanto menyukai Ningrum , ia tak mau Ningrum di ambil oleh Arya.
Ningrum anak kepala desa Melati, perawakannya bagus dengan kulit kuning langsat, wajah yang cantik dengan lesung Pipit di kedua pipinya membuat terlihat manis saat tersenyum. Wanto dan Ningrum berteman dari kecil hingga Wanto menganggap Ningrum kekasih kecilnya begitu mendengar Ningrum menyukai Arya ia menjadi marah dan selalu mempersulit Arya . Ningrum menyukai Arya bukan karna Arya tampan atau rajin bekerja , tapi karena ia pernah di tolong oleh Arya saat tenggelam di sungai, saat itu Ningrum dan beberapa temannya bermain di tepi sungai , Ningrum terpeleset dan jatuh ke dalam sungai , semua temannya termasuk Wanto tak satupun yang turun membantu hanya berteriak teriak saja di tepi sungai, Arya yang kebetulan lewat tanpa pikir panjang langsung turun ke sungai dan membawa Ningrum ke daratan, dari sanalah Ningrum suka pada Arya , karena dia merasa nyaman dan terlindungi oleh Arya.
Arya berlari kian menjauh dari pengejarnya , Wanto yang merasa tak dapat menyusul berhenti dan berteriak.
" awas kamu besok Arya, !" ancam Wanto , ia pun mengajak teman temannya kembali pulang.
hos
hos
hos
Arya yang melihat Wanto berbalik pulang, menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon di tepi jalan napas nya ngos ngosan .
" semua ini gara gara Ningrum!" geram Arya, menurutnya Ningrum pembuat masalah baginya, semenjak Ningrum berkata pada Wanto bila ia menyukainya, Wanto yang biasanya baik dan berteman dengannya menjadi musuh, pekerjaan nya di rumah makan pun semakin berat , dari awalnya hanya melayani pelanggan , kini di tambah dengan mencuci piring dan mengambil air dari sungai yang lumayan jauh.
Arya bergegas pulang saat hari menjelang petang, rumahnya memang tak jauh dari posisi dia sekarang. sebuah gubuk sederhana peninggalan neneknya bagi Arya tak perlu mewah yang penting bisa melindungi ia dari hujan dan panas.
" apa besok aku berhenti bekerja saja yah?, tapi mau kerja apa nantinya?" gumam Arya bingung.
" ah gimana besok ajalah" kata Arya dalam hati . Arya bergegas mandi karena badannya berkeringat sehabis berlari menghindari Wanto dan teman temannya .
Arya duduk di bangku panjang depan rumahnya, di temani segelas kopi Arya menatap langit .
" suatu saat aku akan menggapai kalian " gumam Arya melihat indahnya kerlap kerlip bintang di angkasa. rumah Arya yang jauh dari desa membuat rumah itu terasa sunyi , namun bagi Arya itu lebih baik, dengan kesunyian malam ia bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi itu Arya kembali berangkat bekerja, walau dia tahu dia pasti bisa bully lagi dan di beri pekerjaan yang banyak dan berat nantinya, tapi ini adalah penentuan bila Wanto masih mengganggunya ia pasti akan membalasnya hari ini.
seperti biasa begitu datang Arya langsung membersihan meja meja dan menyusun ulang bangku bangku agar terlihat rapi.
" Arya kamu di suruh menghadap juragan?" kepala pelayan memberi tahukan
" iya pak, saya kesana sekarang, terima kasih?" ucap Arya , ia bergegas agar juragannya tak menunggu lama.
" permisi gan, ada apa juragan memanggil saya" tanya Arya sopan
" ini gaji kamu, dan mulai besok kamu ga usah datang lagi !" ucap juragan kamso ketus, Arya terdiam ia menduga pasti kerjaan Wanto yang menyuruh ayahnya memecat dirinya, hari ini memang hari gajian , tapi ia tak menduga bila ini gaji terakhir nya. mau protes jelas ga mungkin. Arya mengambil kantung uang yang di berikan juragan kamso yang sekarang sudah menjadi mantan bosnya
" maaf juragan , kenapa hanya 600 ribu?" tanya Arya kaget, karena gajinya satu juta perbulannya , tapi ini hanya 600 ribu jelas kurang 400 ribu
" itu karena kamu sudah menyinggung anakku, masih untung di kasih " ketus juragan kamso.
Arya menghela napas kasar, lagi lagi Wanto.
" terima kasih juragan" Arya tak berbicara lagi , ia langsung keluar dari rumah juragan kamso . di balik tirai Wanto tersenyum penuh kemenangan
" kalau Arya ga bekerja dia pasti makin miskin dan Ningrum pasti kembali padaku." gumam Wanto , ia keluar menemui ayahnya
"terima kasih yah" ucap Wanto , sambil menyodorkan tangannya , sang ayah menyambut uluran tangan itu
" bukan salaman ayah, minta uang!?" ucap kesal Wanto
" eh kamu uang mulu , coba sesekali bantu ayah di Rumah Makan, apalagi sekarang Arya udah ga kerja lagi" gerutu juragan kamso
" lah cari lagi lah yah, dengan gaji yang lumayan tinggi pasti banyak yang mau kerja di Rumah Makan kita" timpal Wanto santai.
" iya tapi yang rajin seperti Arya itu jarang Wanto!" seru ayahnya .
" dah lah nanti juga ada, aku main dulu , mau ngajak Ningrum keliling Danau Teratai " Wanto keluar sambil bersiul .
Arya berkeliling mencari pekerjaan, tapi semua menolaknya, Arya tak tahu bila juragan Kamso sudah memberi tahu pada semua nya agar tak menerima Arya bekerja . Arya bersandar pada sebatang pohon di tepi jalan, tubuhnya terasa lelah . Arya bergegas berlari saat melihat seorang wanita tua terhuyung huyung karena membawa kayu bakar yang melebihi kemampuannya .dengan sigap Arya menurunkan kayu bakar itu
" nenek mau kemana??" tanya Arya setelah melihat si nenek agak pulih tenaganya ,Arya mengeluarkan bekal makannya ,dan botol kecil penyimpan air minumnya.
" makanlah nek," Arya memberikan bekal makannya pada si nenek .
" terima kasih nak, nenek memang lapar, dan nenek mau menjual kayu bakar ini di pasar " ucap si nenek sambil memakan ,makanan yang di beri oleh Arya.
" nenek biasa ngejual sama siapa??" tanya Arya
" sama pak Pujo yang di belakang pasar nak" sahut nenek itu.
" kalau nenek percaya biar saya yang bawakan nek ke lapak pak Pujo bagaimana?"tanya Arya menawarkan bantuan.
" apa ga merepotkan nak?!" tanya nenek itu ragu
" ga nek, ya sudah nenek istirahat dulu yah di sini biar aku yang ke lapak pak Pujo, " Arya langsung mengangkat tumpukan kayu bakar itu, dia merasa heran dia saja merasa berat mengangkatnya bagaimana nenek itu membawanya . sesampainya di lapak pak Pujo Arya bingung karena ia lupa menanyakan nama si nenek.
" ini kayu bakar punya siapa Arya??" tanya pak Pujo yang memang mengenal Arya.
" punya seorang nenek , aku membawakannya kesini, karena nenek itu kecapean?" sahut Arya
" ini uang kayu bakarnya!" pak Pujo memberikan beberapa uang lembaran lima ribuan pada Arya namun Arya tolak.
" paman simpan saja, biar nanti si nenek yang mengambil uangnya" tolak Arya sopan, pak Pujo mengangguk, ia berpikir sesaat
" kita ke tempat nenek yang kamu maksud saja , yuk!" ajak pak Pujo tiba tiba , Arya mengangguk . Arya menunjukan jalan pada pak Pujo,
" ibuuu!" pak Pujo berlari ke arah si nenek, dan memeluknya, ia tak menyangka bila yang di bantu Arya ibu kandungnya sendiri .
" kenapa ibu tak memberitahu aku kalau ibu mau kemari, aku bisa mengirim orang untuk menjemput ibu!?" tegur pak Pujo pada ibunya
" tadinya aku baik baik saja, hanya saja aku lupa karena saking ingin memberikan kamu kejutan ibu lupa makan pas berangkat, untung bertemu dengan anak ini, dia yang menolong dan memberi makan ibu , jadi tenaga ibu pulih kembali" ucap si nenek. pak Pujo menepuk bahu Arya,
"terima kasih yah Arya," ucap tulus pak Pujo." kamu udah dapat kerja??" tanya pak Pujo lagi, Arya menggeleng
" belum pak , juragan Kamso sepertinya melarang semua lapak untuk menerima saya" keluh Arya .
" bagaimana bila kamu kerja di tempatku!?" pak Pujo menawarkan, Arya termenung sesaat, bila ia bekerja pastinya juragan kamso akan mencari gara gara dengan pak Pujo, matanya melihat ke arah kayu bakar yang tercecer , mungkin jatuh saat ia membawa tadi .
" ga usah paman, nanti paman malah berurusan dengan juragan Kamso , bagaimana bila saya menjual kayu bakar pada paman apa paman menerima??" sahut Arya ,
" wah , ide yang bagus, aku pasti menerima penjualan kayu bakar darimu Arya" ucap pak Pujo senang , Arya berpamitan pada nenek dan pak Pujo, dia ingin segera mencari kayu bakar dan menjualnya agar bisa menghasilkan uang