Tes lisensi pelatih digelar di gedung olahraga provinsi, ruangan ber-AC yang asing bagi Bima setelah tiga tahun di sasana yang panas dan bocor. Lantainya bersih, baunya bukan karet matras tapi pengharus ruangan. Semua orang di sini memakai polo berkerah dengan logo komisi. Bima merasa seperti petarung yang masuk ring lawan tanpa tahu aturannya.
"Bukan cuma teori," Hendra mewanti-wanti tadi pagi. "Mereka tes fisik juga. Pelatih harus bisa demo. Standarnya... ya, standar."
Bagian teori, Bima lolos. Aturan poin, klasifikasi berat, protokol cedera kepala, prosedur head guard — ia menghafalnya semalaman, dan ternyata banyak yang sudah ia tahu dari naluri bertahun-tahun. Tapi bagian fisik adalah cerita lain.
Mereka memintanya memegang pad untuk seorang atlet muda sambil bergerak — footwork pelatih, mereka menyebutnya. Lalu tes refleks: lampu menyala acak, ia harus menepuk sasaran yang benar.
Sasaran pertama, ia kena. Kedua, kena. Ketiga, tangannya datang setengah detik terlambat. Keempat, terlambat lagi.
Penguji — lelaki paruh baya dengan papan klip — mencatat tanpa ekspresi.
"Sekali lagi," kata Bima.
Ia mencoba lagi. Otaknya melihat sasarannya, jelas, terang. Tapi tubuhnya, tubuh tiga puluh dua tahun yang tiga tahun terakhir cuma mengangkat ember pel dan kain, datang terlambat. Pesan dari otak ke tangan menempuh jalan yang lebih panjang dari dulu.
Lalu cek tekanan darah. Perawat memompa manset, membaca angka, dan keningnya berkerut. Ia mengukur ulang.
"Tinggi," katanya. "Sistoliknya di atas ambang. Bisa karena tegang, tapi—"
"Tapi nggak lolos," kata penguji datar, mencatat. Ia menatap Bima, tidak kejam, hanya jujur. "Pak Bima, dengan segala hormat. Refleks di bawah standar, tensi di atas ambang. Buat pelatih demo aktif, kami nggak bisa luluskan hari ini. Coba lagi siklus berikutnya, tiga bulan lagi. Dengan perbaikan."
Bima berdiri di tengah ruangan ber-AC itu, manset masih melingkar di lengannya, dan untuk sesaat ia merasakan sesuatu yang tidak ia rasakan sejak final tiga tahun lalu — bukan kekalahan dari lawan, tapi kekalahan dari waktu.
Tiga tahun. Tiga tahun ia mengubur diri jadi mayat hidup, dan tubuhnya menagih harganya sekarang. Tiga tahun itu mahal. Setiap detik yang ia habiskan menghukum diri, mengelap lantai dan menolak hidup, terbayar dalam refleks yang lambat dan tekanan darah yang tinggi.
Di mobil, dalam perjalanan pulang, Hendra mencoba menghiburnya. "Cuma ditunda. Tensi bisa turun. Refleks bisa diasah—"
"Aku tahu," potong Bima, menatap jalanan. "Aku cuma... nggak nyangka tubuhku udah berkhianat sejauh ini."
Hendra diam sebentar. "Kamu masih mikir kamu petarung," katanya akhirnya, hati-hati. "Yang gagal tadi itu standar buat pelatih yang masih mau ikut demo aktif, gerak terus, kayak masih di ring. Tapi yang Arga butuh dari kamu bukan itu, Bima. Dia butuh mata kamu. Otak kamu. Cara kamu baca lawan. Itu nggak diukur sama lampu refleks."
Bima tidak menjawab, tapi kata-kata itu menempel.
Malamnya, di sasana, Arga melihat wajah gurunya dan tahu hasilnya buruk. "Gimana, Coach?"
"Gagal yang fisik," kata Bima jujur. Ia tidak pernah berbohong pada muridnya. "Tiga bulan lagi diulang."
Ia menunggu Arga kecewa. Tapi bocah itu malah mengernyit, lalu berkata dengan keras kepala yang khas, "Ya berarti kita latihan, Coach. Bareng. Tensi Coach tinggi? Lari bareng aku besok subuh. Refleks lambat? Kita sparring pad tiap hari." Ia menyeringai. "Coach selalu bilang ke aku, capek itu pilihan. Masa Coach mau nyerah duluan."
Bima menatap muridnya, kata-katanya sendiri dilemparkan kembali ke wajahnya. Dan untuk pertama kalinya sejak ruangan ber-AC itu, sudut mulutnya naik tipis.
Pukul empat pagi, kata otaknya. Besok kita mulai pukul empat pagi. Bukan cuma buat Arga lagi.
Buat tubuh tua ini juga.