Gudang itu sama persis seperti dalam mimpi buruknya. Bau garam, karat, dan keringat lama. Lampu sorot menggantung di langit-langit tinggi, menerangi ring kotor di tengah dengan tali yang menghitam.
Bima mendobrak pintu samping yang ia ingat. Dua centeng menghadangnya, tapi mereka melihat siapa yang datang — Palu Garuda, lelaki yang menjatuhkan Gento — dan keduanya ragu sepersekian detik. Cukup bagi Bima untuk menerobos.
Di tengah ruangan, di bawah lampu sorot, Arga berdiri menghadap meja. Di seberang meja, Pak Broto duduk tenang dengan setelan rapi pukul lima pagi, secangkir teh mengepul di sampingnya seolah ini hari biasa. Di tangan Arga ada pena. Di atas meja, selembar kontrak.
"ARGA!" teriak Bima.
Bocah itu berputar, wajahnya pucat, mata membelalak. "Coach—jangan—kenapa kamu ke sini—"
"Jangan tanda tangan apa pun." Bima berjalan cepat menembus ruangan, tak peduli centeng-centeng yang mulai mengelilinginya. "Letakkan penanya."
Broto mengangkat tangan, dan para centeng berhenti. Lelaki itu tersenyum, menyeruput tehnya. "Bima Aditya. Sungguh tak terduga. Aku sedang mengurus urusan dengan calon karyawanku, dan kau mendobrak masuk seperti badai." Ia meletakkan cangkir dengan dentingan halus. "Bocah ini datang sendiri, lho. Atas kemauannya sendiri. Bukankah itu menarik?"
"Dia tujuh belas tahun." Suara Bima rendah, berbahaya. "Dia anak-anak. Dan kau tahu utangnya sudah lunas. Aku menang. Ada saksi. Ada kerumunan malam itu."
"Ah, soal itu." Broto membuka map di sampingnya, mengeluarkan surat-surat. Surat-surat yang sama yang dikirim ke komisi. "Klausul, Bima. Bunga berjalan. Biaya administrasi. Denda keterlambatan. Secara hukum — hukumku — bocah ini masih berutang. Tujuh puluh juta itu cuma pokoknya." Ia tersenyum tipis. "Dan kau, ternyata, masih terikat kontrak denganku. Kau tahu komisi sudah memanggilmu, bukan?"
Bima menatap surat-surat itu, lalu menatap Arga yang berdiri terjebak di antara mereka, tubuh kurusnya gemetar. Bocah itu telah berjalan masuk ke mulut singa demi menyelamatkan orang-orang yang ia cintai — keputusan bodoh, mulia, dan menyayat hati yang sama persis dengan yang dulu Bima buat untuk dirinya sendiri.
"Lepaskan dia," kata Bima. "Aku yang kau mau. Sejak awal kau mau menjatuhkan aku, bukan dia. Anak ini cuma alat buatmu."
Broto menatapnya lama. Lalu sesuatu menyala di mata licik itu — sesuatu yang sudah ia rencanakan jauh sebelum Bima mendobrak pintu. Ini bukan kebetulan. Ini perangkap yang dibangun dengan sabar, dan Bima baru saja melangkah masuk ke pusatnya.
"Kau benar," kata Broto pelan, hampir lembut. "Aku memang lebih tertarik padamu, Bima. Bocah ini cuma umpan yang manis." Ia menyandarkan punggung di kursinya, menyatukan jari-jari bercincin. "Jadi mari kita berbisnis, seperti dulu. Satu pertarungan. Satu pertarungan pamungkas. Kau menang — semuanya bersih. Utang Arga lenyap, beneran kali ini, hitam di atas putih di depan saksi sindikat. Kontrak palsumu kurobek. Surat-surat ke komisi kutarik. Lisensimu aman. Bahkan—" ia menatap Arga, "—bocah ini bebas selamanya. Sungguh-sungguh bebas."
Bima merasakan jebakan itu menutup perlahan di sekelilingnya, tapi ia tak bisa melihat seluruh bentuknya. Belum.
"Dan kalau aku kalah?" tanya Bima.
Senyum Broto melebar, dingin seperti pisau. "Kalau kau kalah, Arga jadi milikku. Selamanya. Dan semua bukti yang kau dan wartawan itu kumpulkan tentang ringku..." ia mengangkat bahu, "...akan hilang bersama reputasimu."
"Coach, jangan." Arga melangkah maju, suaranya pecah. "Ini jebakan. Pasti jebakan. Aku yang mulai ini, biar aku yang—"
"Diam, Arga." Bima tak mengalihkan pandangan dari Broto. Otaknya berputar cepat, membaca, menghitung, seperti membaca lawan di ring. Broto terlalu tenang. Terlalu siap. Ada sesuatu yang tidak Bima ketahui — kartu yang belum dibuka. Tapi pilihannya menyempit. Menolak berarti meninggalkan Arga di sini, dengan pena di tangan dan kontrak di meja. Menerima berarti melangkah ke perangkap yang ia tahu sengaja dirancang.
Kalau ini perangkap, batin Bima, maka satu-satunya cara adalah masuk dengan mata terbuka — dan mengubah perangkapnya jadi perangkap balik.
"Aku terima," kata Bima.
"Coach!"
"Aku terima," ulang Bima, lebih keras, suaranya bergema di gudang berkarat itu. Ia menatap Broto lurus. "Tapi semua syaratnya hitam di atas putih. Di depan saksi sindikatmu. Bukan janji kosong seperti dulu."
Broto tersenyum lebar, seperti pemain catur yang baru saja melihat lawannya menggerakkan bidak ke kotak yang ia rencanakan tiga langkah lalu. "Tentu saja, Bima. Tentu saja." Ia mengangkat cangkir tehnya, memberi hormat mengejek. "Selamat datang kembali ke ring."
Di luar, hujan subuh masih turun. Dan Bima tahu, dengan kepastian dingin yang menusuk perutnya, bahwa ia baru saja menyetujui sesuatu yang jauh lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan.