Hari kedua, seseorang datang ke sasana yang tak Bima harapkan.
Wanita itu berdiri di ambang pintu, mengenakan blazer rapi yang terlihat janggal di tempat sekumuh ini. Wajahnya tegas, matanya tajam. Bima mengenalinya seketika, dan dadanya terasa sesak.
"Sinta," katanya pelan.
Sinta Mahendra. Adik Reza.
"Aku dengar dari Pak Darto," kata Sinta tanpa basa-basi. "Kamu melatih anak buat tinju bawah tanah."
Bima tak menjawab. Ia menyuruh Arga melanjutkan latihan shadow boxing di sudut, lalu mengajak Sinta keluar ke teras belakang.
"Tiga tahun, Bima." Suara Sinta dingin. "Tiga tahun kamu sembunyi di sini. Kakakku mati, dan kamu malah lari. Sekarang kamu mau kembali ke ring? Setelah semua yang terjadi?"
"Aku nggak kembali ke ring," kata Bima. "Aku cuma bantu anak itu supaya nggak mati."
"Dengan ngajarin dia memukul orang sampai mati? Seperti yang kamu lakukan ke kakakku?"
Kata-kata itu menusuk tepat di luka yang tak pernah sembuh. Bima menunduk.
"Aku nggak pernah mau Reza mati," katanya, suaranya nyaris berbisik. "Kamu tahu itu. Dia sahabatku. Dia satu-satunya sahabatku."
"Tapi kamu yang mukul. Hook kanan terakhir. Aku ada di sana, Bima. Aku lihat kakakku jatuh dan nggak bangun lagi." Mata Sinta berkaca-kaca, tapi suaranya tetap keras. "Dan kamu tahu yang paling sakit? Sebelum pertandingan itu, Reza bilang ke aku, 'Sin, apa pun yang terjadi nanti, Bima tetap saudaraku.' Dia membela kamu sampai akhir."
Bima memejamkan mata. Air matanya menolak keluar, seolah ia merasa tak berhak menangis.
"Aku tahu kamu nggak sengaja," lanjut Sinta, suaranya melembut sedikit. "Semua orang tahu. Dokter bilang itu kondisi langka, pembuluh darah di otaknya. Bisa pecah kapan saja. Bukan salah pukulanmu." Ia menarik napas. "Tapi kamu nggak pernah mau dengar itu, kan? Kamu lebih suka menyiksa diri sendiri. Lebih suka jadi martir."
"Kalau aku nggak mukul, dia masih hidup."
"Kalau dia nggak naik ring, dia masih hidup. Kalau dia nggak jadi petinju, dia masih hidup. Itu pilihan dia, Bima. Sama kayak pilihanmu mukul. Itu olahraga. Kalian berdua tahu risikonya."
Bima terdiam lama. Hujan semalam menyisakan genangan di halaman, memantulkan langit kelabu.
"Kenapa kamu ke sini, Sinta?" tanyanya akhirnya.
Wanita itu menatapnya lama. "Karena aku capek lihat dua orang yang aku sayang hancur gara-gara satu malam. Reza udah pergi. Aku nggak mau kamu ikut hancur juga." Ia mengeluarkan amplop dari tasnya, meletakkannya di meja teras. "Ini, buat utang anak itu. Nggak banyak, cuma bisa nutup sebagian."
Bima menatap amplop itu, lalu menggeleng. "Aku nggak bisa terima."
"Bukan buat kamu. Buat anak itu." Sinta berdiri. "Tapi aku tahu kamu terlalu keras kepala. Jadi kalau kamu memang mau bawa dia ke tinju bawah tanah—" matanya menyipit, "—setidaknya menangkan. Jangan biarkan dia jadi Reza kedua. Jangan biarkan ada lagi yang jatuh dan nggak bangun di atas ring karenamu."
Ia berbalik dan pergi, meninggalkan amplop dan beban yang jauh lebih berat di dada Bima.
Dari dalam, Arga mengintip. "Siapa, Mas?"
Bima mengambil amplop itu, memasukkannya ke saku. "Bukan siapa-siapa. Lanjut latihan. Combination sekarang. Jab, jab, hook."
Tapi sepanjang sore itu, pukulan Bima saat memegang pad terasa berbeda. Lebih keras. Seolah ia memukul sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu di dalam dirinya sendiri.