Tiga hari sebelum pertandingan, Bima mendapat kabar tentang lawannya.
Plontos bertato leher itu datang ke sasana, kali ini sendirian, membawa sebuah amplop berisi foto.
"Bos suruh saya kasih ini," katanya, melempar foto ke meja. "Biar adil, katanya. Biar kamu bisa siap-siap." Senyumnya licik. "Walaupun saya rasa nggak bakal ngebantu."
Bima mengambil foto itu. Seorang lelaki besar, jauh lebih besar dari dirinya, dengan tubuh penuh tato dan bekas luka. Matanya kosong, seperti mata orang yang sudah tak punya apa-apa lagi untuk ditakuti.
"Namanya Gento," kata plontos. "Mantan napi. Dua kali bunuh orang di ring ini. Belum pernah kalah dalam tiga tahun. Dia nggak bertinju, Om. Dia menghancurkan. Bobotnya seratus sepuluh kilo, kamu paling delapan puluh. Dia lebih muda, lebih segar, dan dia suka—" plontos itu menjilat bibirnya, "—dia suka denger suara tulang patah."
Bima menatap foto itu lama. Wajahnya tak menunjukkan apa-apa.
"Kenapa Broto pilih dia buat lawan saya?"
Plontos terkekeh. "Karena Bos taruhan besar. Buat kamu kalah." Ia mencondongkan badan. "Dengar, Om. Bos nggak peduli kamu menang atau kalah. Dia menang banyak dari taruhan apa pun hasilnya. Tapi taruhan paling gede dia pasang buat kamu jatuh. Jadi kalau saya jadi kamu—" ia berdiri, "—saya bakal mikir-mikir lagi. Mantan juara umur tiga puluh dua lawan monster ini? Kamu bisa pulang dengan kursi roda. Atau peti."
Setelah plontos itu pergi, Pak Darto memungut foto Gento, wajahnya pucat.
"Bima," katanya. "Ini gila. Orang ini... lihat ukurannya. Kamu nggak bisa lawan dia. Kita cari cara lain buat utang anak itu. Aku jual sasana kalau perlu—"
"Nggak ada cara lain, Pak." Bima mengambil foto itu kembali, menatapnya. "Broto nggak akan terima uang. Dia mau tontonan. Dia mau lihat Palu Garuda hancur. Ini bukan soal utang lagi. Ini soal harga diri dia, dan harga diri aku."
"Harga diri nggak ada gunanya kalau kamu mati!"
Bima menatap lelaki tua yang sudah menampungnya tiga tahun itu. "Pak Darto. Tiga tahun lalu, aku mati di dalam. Aku jadi mayat yang masih jalan. Naik ring ini mungkin bunuh aku beneran. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku ngerasa hidup lagi."
Ia meletakkan foto Gento di dinding, di sebelah foto lamanya sebagai juara. Dua wajah, masa lalu dan masa depan, berhadapan.
"Lagian," lanjut Bima, sudut bibirnya terangkat tipis, "Broto bikin satu kesalahan. Dia kira aku naik ring buat menang." Ia mengepalkan tangan. "Aku naik ring buat satu alasan: anak itu nggak boleh masuk ke dunia ini. Dan untuk itu, aku rela hancurin diri aku sendiri."
Malam itu, Arga menemukan Bima sendirian di ring, menatap foto Gento dengan saksama, seperti seorang jenderal mempelajari musuh.
"Dia gede banget, Mas," kata Arga lirih.
"Iya." Bima mengangguk. "Tapi gede itu pedang bermata dua. Tenaganya besar, tapi staminanya boros. Tubuh sebesar itu butuh banyak oksigen. Dia terbiasa menang cepat, karena lawan-lawannya tumbang di ronde awal." Ia menunjuk foto. "Lihat ototnya. Itu otot kekuatan, bukan otot ketahanan. Kalau aku bisa bertahan—kalau aku bisa terus bergerak, terus menghindar, bikin dia ngejar aku—dia bakal kelelahan. Dan saat monster kehabisan tenaga..."
"Saat itu Mas serang?"
Bima menatap bocah itu. "Saat itu aku ubah dia jadi mangsa." Ia menurunkan foto. "Tapi itu artinya aku harus bertahan dari pukulan-pukulannya dulu. Dan setiap pukulan dia bisa patahin tulang. Satu kesalahan, satu pukulan telak, dan semuanya selesai."
Arga menelan ludah. "Mas pasti bisa."
Bima tak menjawab. Ia tahu peluangnya tipis. Ia tahu tubuhnya sudah tak semuda dulu. Ia tahu mungkin ini pertarungan terakhirnya.
Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tak takut mati.
Yang ia takutkan hanya satu: gagal melindungi bocah itu, dan membiarkan satu nyawa lagi jatuh karena dirinya.