Pukul sebelas malam, lantai dua belas Badan Asuransi Napas Nasional hanya disinari layar. Maya Saraswati membiarkan lampu utama padam sejak satu jam lalu; cahaya monitor lebih jujur untuk membaca angka. Di luar jendela berlapis tiga, Jakarta Atas berkilau tenang di balik kubah filtrasinya, sementara jauh di bawah tanggul, Kota Bawah hanya tampak sebagai kabut oranye yang berdenyut, asap yang tak pernah benar-benar diam.
Ia menyeruput air dari botol logam, lalu menatap berkas terakhir hari itu. Klaim kematian, nomor seri 7-43-K, atas nama Sukarno Adiwijaya, lima puluh delapan tahun, pemegang polis Napas kelas Melati, kelas paling murah yang dijual negara. Penyebab kematian tertulis dengan dua kata yang membuat Maya berhenti mengunyah: gagal napas akut.
Di atas kertas, kalimat itu tidak aneh. Di Kota Bawah, orang mati karena gagal napas seperti orang mati karena tua. Yang membuat Maya menegakkan punggung adalah baris di bawahnya: log telemetri implan. Setiap implan filter biologis, bahkan yang termurah, mengirim denyut data tiap tiga menit ke server pusat. Tekanan parsial oksigen, laju filtrasi, suhu jaringan, kepatuhan membran. Implan Pak Sukarno melaporkan semuanya normal. Bukan sekadar normal, tapi prima. Laju filtrasi sembilan puluh tujuh persen, oksigenasi stabil, sampai stempel waktu pukul 03.14.07. Lalu data berhenti. Bukan menurun, bukan tersendat. Berhenti rata, seperti garis yang dipotong gunting.
Maya memutar kursi, mengetuk meja dengan ujung pena. Dalam dua belas tahun mengaudit klaim, ia tahu bentuk kematian dalam angka. Gagal napas sungguhan adalah kurva yang melorot perlahan: oksigen turun, jantung memburu mencoba mengejar, membran filter bekerja keras lalu kewalahan, telemetri jadi gaduh sebelum sunyi. Itu kematian yang berisik. Yang ada di hadapannya bukan itu. Implan Pak Sukarno bekerja sempurna sampai detik terakhir, lalu seseorang, atau sesuatu, mematikannya seperti memutus tombol.
Ia menarik dua kolom yang biasanya tak ia gabungkan. Penyebab kematian: gagal napas. Status fungsi implan saat kematian: optimal. Kalau implannya optimal, oksigenasinya stabil, lalu bagaimana paru-parunya bisa gagal? Itu seperti melaporkan orang tenggelam di kolam yang isinya pasir.
Maya membuka catatan tangan dokter pemeriksa. Tulisannya tergesa, hampir tak terbaca. Edema paru bilateral. Jaringan paru menunjukkan deplesi tidak biasa, ada catatan kecil di pinggir yang dicoret lalu ditulis ulang: regio apikal tampak kurang dari ekspektasi. Maya tidak tahu persis apa artinya secara medis, dan ia tidak akan berpura-pura tahu. Tapi ia tahu satu hal dengan pasti, hal yang membuatnya jadi auditor yang ditakuti rekan-rekannya yang malas: sebuah dokumen yang isinya saling bertentangan tidak boleh ditandatangani. Titik.
Di ujung berkas ada kotak persetujuan. Tinggal ia bubuhkan sidik biometrik, klaim cair, ahli waris dapat santunan kecil, kasus tutup. Begitu cara kerjanya untuk ribuan berkas serupa. Tapi nama ahli waris kosong. Kolom keluarga pelapor: tidak ada. Pak Sukarno mati sendirian, dan tak seorang pun datang menuntut santunannya.
Maya bersandar. Di luar, sebuah drone pemantau kualitas udara melintas dekat jendela, lampu hijaunya berkedip menilai dirinya, lalu lanjut. Di kantor ini, di seluruh kota ini, semua dinilai. Skor kesehatan-sosial menempel di tiap warga seperti bayangan, menentukan berapa jam udara bersih yang boleh kau beli, klinik mana yang menerimamu, pekerjaan apa yang mau merekrutmu. Maya sendiri berskor tinggi. Itu sebabnya ia bisa duduk di lantai dua belas dengan udara yang tak perlu disaring lewat masker.
Ia membuka basis data dan mengetik satu pertanyaan sederhana, dari kebiasaan, bukan kecurigaan. Berapa banyak klaim dengan kombinasi yang sama: penyebab gagal napas, status implan optimal, polis kelas Melati, telemetri yang berhenti rata bukan melorot. Sistem berpikir sebentar. Lalu memunculkan angka.
Delapan ratus dua puluh enam. Dalam delapan belas bulan terakhir.
Maya membaca angka itu dua kali. Delapan ratus dua puluh enam kematian dengan tanda tangan yang sama persis, dan tak satu pun pernah menarik perhatiannya, karena tiap satunya, sendirian, terlihat biasa. Kota Bawah memang membunuh orang miskin tiap hari. Tapi pola tidak. Pola adalah desain.
Ia hendak menyimpan kueri itu ketika layar berkedip dan jendelanya tertutup sendiri. Sebuah pesan sistem muncul, halus dan sopan: Akses arsip historis sedang dipelihara. Silakan coba lagi nanti. Maya mengerutkan kening. Server tak pernah dipelihara pukul sebelas malam. Ia mencoba membuka ulang. Kali ini hanya berkas tunggal Pak Sukarno yang muncul, sisanya, kueri agregatnya, lenyap seolah tak pernah ada.
Maya duduk sangat lama dalam gelap, mendengarkan dengung pendingin udara yang memberinya napas yang tidak ia pikirkan harganya. Lalu ia melakukan hal yang tidak ada dalam prosedur. Ia tidak menandatangani klaim 7-43. Ia menyalin berkasnya, satu-satunya yang masih bisa ia raih, ke kartu memori pribadi, lalu mengantonginya.
Menandatangani sesuatu yang tidak masuk akal, batinnya, adalah satu-satunya dosa yang tak pernah ia izinkan pada dirinya sendiri. Lima tahun lalu ia gagal menjaga sumpah itu untuk seseorang yang ia cintai. Ia tidak akan gagal lagi untuk orang asing bernama Sukarno yang mati sendirian dengan paru-paru yang katanya bekerja sempurna.