"Semangat banget sih," ucap Riski pada Tawny yang sedang mengemas barang-barangnya, yap gadis itu akan pulang kampung berhubung libur semester, berbeda dengan Riski karena pria itu dapat banyak job liburan ini. Sebenarnya Tawny juga kerja tapi dia cuti dua minggu agar bisa bertemu keluarganya. Ia sangat merindukan keluarganya terutama sang ibu.
"Iya dong, aku dah rindu banget tau gak sama keluarga aku."
"Jadi sama aku gak rindu?"
"Lah? Belum juga pergi, lagian aku cuman pergi dua minggu sih."
"Tapi nanti kalo aku rindu."
"Tinggal chat sih, atau telepon atau vc, itu aja ribet."
"Rindu peluk-peluk kamu, rindu cium kamu."
"Ishhh otaknya, penuh noda banget sih."
"Bukan penuh noda, lagian kan cuman sama kamu aja."
"Sama Lucya lah, tapi jangan ngegas juga nanti kaget dia."
"Aku maunya sama kamu."
"Gilak, lo udah punya pacar juga. Heran deh."
"Maksud lo apa sih Ki? Hancur hati gue, lo mikir nggak sih, lo pikirin nggak semua yang lo lakuin? Sialnya gue malah nggak bisa pergi dari lo," batin Tawny.
"Ya udah ayo, dah siap ini," ucap Tawny lagi setelah barangnya beres.
"Cium dulu sini, nanti bakal kangen banget," ucap Riski sambil menepuk pahanya, Tawny pun menurut dan duduk di pangkuan Riski.
"Dasar big baby," ucap Tawny sambil menangkup wajah Riski.
"Cium," pinta Riski sambil memeluk pinggang Tawny.
Tawny menempelkan bibirnya dengan bibir Riski, tak ada pergerakan ia hanya diam sambil mengelus rambut Riski. Riski pun menggerakkan bibir Tawny dengan begitu lembut dan mengelus rambut gadis itu. Tak ada nafsu, yang ada hanya ciuman penuh kelembutan dan kasih sayang yang tak bisa mereka ungkapkan secara langsung, antara tak menyadari perasaan masing-masing atau malu, atau gengsi, entahlah.
"Mphh ...." Tawny mendorong Riski karena kehabisan napas, Riski pun pengertian lalu melepas tautan bibir mereka kemudian mencium kening Tawny cukup lama.
"Jaga diri baik-baik ya," ucap Riski sambil menyelipkan rambut Tawny ke belakang telinga perempuan tersebut.
"Iya iya, aku ke rumah aku kok kamu gak perlu khawatir, kamu juga jaga kesehatan ya. Jangan asik kerja terus, ingat istirahat, peduliin diri kamu."
"Iya sayang iya." Enteng banget ya Riski ngomong gitu, nggak tau apa hati Tawny sesak tiap Riski manggil gitu, yang dipanggil siapa, sayangnya siapa.
"Sayang? Hobi banget sih ambyarin hati gue," batin Tawny, namun ia tetap berusaha menampilkan senyumnya.
"Aku cinta banget sama kamu," bisik Tawny dengan sangat lembut lalu mencium daun telinga Riski.
"I love you more," balas Riski kemudian mencium hidung Tawny.
"Tapi kamunya malah sama yang lain," cicit Tawny dengan sangat pelan.
"Apa? Aku nggak dengar."
"Apa? Nggak ada kok," ucap Tawny sambil tersenyum, untung Riski tak mendengarnya.
"Ya udah ayo," ucap Tawny lagi dan mereka pun menuju bandara.
*****
"Aku pulang," ucap Tawny agak berteriak tapi tak ada yang menyahut.
"Belum pulang kali ya," monolog Tawny, orang tua Tawny adalah petani dan dia adalah anak pertama makanya ia kuliah sambil bekerja agar bisa meringankan tanggung jawab orang tuanya. Ia tak ingin terus bergantung pada orang tuanya.
[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif ....]
Tawny langsung mematikan teleponnya.
"Kemana sih tu anak? Tumben gak aktif," monolog Tawny, ia pun akhirnya mengirim pesan pada Riski.
[Gue dah sampe, lo dimana? Kok gak aktif hpnya?]
Setelah mengirim pesan pada Riski Tawny pun membereskan rumahnya yang cukup berantakan. Setelah membereskan rumah ia pun mencuci kain yang sudah menumpuk di kamar mandi.
*****
Sekitar satu setengah jam akhirnya Tawny selesai mencuci pakaian dan membilasnya. Tawny keluar dari kamar mandi bertepatan dengan adiknya yang paling kecil membuka pintu rumah.
"Kakakkkkkkkk," ucap sang adik sambil berlari ke arah Tawny.
"Mandi mandi sana," suruh Tawny.
"Nantiiiiiii."
"Gak gak gak, mandi sana," ucap Tawny, akhirnya sang adik pun hanya bisa menurut.
"Dah lama sampe?" tanya sang ibu yang juga baru tiba.
"Udah Ma, Chelsea mana Ma?" tanya Tawny menanyakan keberadaan adiknya yang perempuan.
"Biasalah ke rumah nenekmu."
"Ooooo, mau dibuatin teh gak ma?"
"Boleh-boleh," ucap sang ibu dan Tawny pun membuatkan teh untuknya dan sang ibu. Ia pun mulai bercerita banyak hal kepada sang ibu. Sudah menjadi kebiasaan seorang Tawny Nayyara Anjelita jika pulang ke rumah pasti cerita terus kepada sang ibu. Mulai dari hal yang penting sampai hal paling tak penting sekali pun.
"Lancar kan kuliahnya? Gimana sama Riskinya?" tanya sang ibu.
"Lancar bu, kalo soal Riski ya gimana, kita dah kayak saudara Ma."
"Yakin tetap bakal kayak saudara?"
"Hah? Maksud Mama apa?"
"Gak mungkin kayak saudara, laki-laki sama perempuan mustahil bisa kayak saudara."
"Lah? Mama apa sih, aneh deh."
"Ya terserah kamu."
"Ngomong-ngomong aja terus, udah lapar ini." suara berat sang ayah yang tampak berjalan oleng karena mabuk menginterupsi perbincangan yang dilakukan Tawny dengan sang ibu.
"Iya iya, ini mau masak." ucap sang ibu.
"Gak usah banyak ceritamu situ," ucap sang ayah pada Tawny, dia hanya diam. Gadis itu menghela napas, ia sudah biasa menghadapi hal semacam ini ketika pulang kampung, inilah alasannya Tawny kadang malas pulang tapi tak bisa dipungkiri ia juga selalu merindukan keluarganya.
*****
Selama dua minggu di rumah Tawny terus melihat ayahnya yang mabuk, tak bekerja, mengatur-atur, marah-marah bahkan selalu memprotes masakan ibu Tawny. Tawny sudah biasa dengan hal seperti itu tapi tetap saja ia lelah dan kasihan melihat ibunya. Tak jarang tengah malam ia diam-diam menangis karena perkataan sang ayah yang kadang masih suka membuat Tawny sakit hati. Oleh karena itu juga ketika pulang ke rumah Tawny selalu menonaktifkan sosial medianya, ia tak ingin beban pikirannya bertambah.
"Kalau kamu nyerah, kalo kamu mengeluh sama aja kamu gak ngerhagain mama, sama aja kamu gak ngehargain perjuangan mama. Gak usah dipikirin apa-apa, gak usah dipikirin omongan ayah, fokus aja belajar yang bagus kuliahnya."
Kata-kata itu lah yang selalu menjadi alasan dan kekuatan buat Tawny untuk bertahan, ia memang mengalami masa yang berat tapi ibunya lebih berat. Ia tak ingin ibunya kenapa-kenapa, ia selalu berdoa agar ibunya diberi kekuatan dan ketabahan dalam mempertahankan keluarga mereka. Ia juga selalu mendoakan sang ayah agar berubah.
Sama seperti sekarang ini, ayah Tawny pulang larut malam dalam keadaan sudah mabuk berat, sekarang ayahnya sedang makan dan lagi-lagi marah-marah mengenai Tawny. Tawny hanya diam di gelapnya kamar, ia diam-diam menangis. Bukan karena dia lemah, tapi rasanya ini sudah terlalu berat, pun setidaknya dengan menangis bebannya sedikit berkurang.