Sean datang ke kantor Safe Service membawa dua kotak kopi dan kabar bahwa ia akan pindah ke Boston. Ia mendapat posisi sebagai kepala operasional sebuah restoran sosial yang mempekerjakan penyintas kekerasan domestik.
Audi mengambil kopi tanpa bertanya rasa. 'Kapan?'
'Enam minggu lagi.'
Callista memeluknya dan mengucapkan selamat. Di belakang kebahagiaan itu ada kesadaran bahwa selama bertahun-tahun Sean selalu berada dekat, siap membantu meski tidak pernah dipilih sebagai pasangan. Callista tidak ingin perpisahan mereka berubah menjadi upacara tentang cinta yang gagal.
'Apakah kau mengambil pekerjaan itu karena ingin menjauh dariku?' tanyanya saat Audi pergi menerima telepon.
Sean tersenyum tipis. 'Sebagian kecil diriku mungkin butuh jarak. Tapi aku mengambilnya karena pekerjaannya bagus dan aku menginginkannya. Dua hal bisa benar.'
'Aku minta maaf kalau dulu menerima perhatianmu tanpa cukup jelas.'
'Kau sudah mengatakan tidak. Aku yang kadang mengubah harapan menjadi pekerjaan sukarela.'
Mereka tidak menghibur satu sama lain dengan janji bahwa Sean pasti menemukan perempuan yang lebih tepat. Hidupnya tidak perlu dibenarkan oleh pasangan berikutnya.
Dalam minggu-minggu sebelum kepindahan, Sean membantu menyusun modul dapur aman untuk Safe Service. Ia mengajarkan cara mengenali luka bakar, akses pisau, jam kerja malam, dan budaya bentakan yang sering disebut disiplin koki.
Audi menantangnya lebih keras daripada anggota lain. 'Kau menulis bahwa pekerja harus melapor kepada manajer. Bagaimana kalau manajernya pelaku?'
'Ada jalur luar di halaman berikutnya.'
'Pekerja yang panik belum tentu membaca halaman berikutnya.'
Sean memperbaiki modul. Perdebatan mereka berlanjut hingga makan malam, lalu pindah ke pesan singkat. Callista melihat Audi lebih sering tersenyum pada telepon, tetapi tidak bertanya.
Suatu sore, Sean mengajak Audi menonton pertunjukan musik. Audi bertanya apakah itu kencan.
'Aku berharap begitu,' jawab Sean.
'Enam minggu sebelum kau pindah?'
'Lima minggu sekarang.'
Audi menolak. Ia tidak ingin menjadi obat perpisahan atau bukti Sean telah melupakan Callista. Sean menerima, meski wajahnya menunjukkan kecewa. Keesokan hari mereka tetap bekerja tanpa menjadikan penolakan sebagai hukuman.
Callista baru mengetahui percakapan itu ketika Audi sendiri bercerita.
'Kau menyukainya?' tanyanya.
'Mungkin. Tapi aku tidak mau memulai sesuatu karena waktunya dramatis.'
'Itu masuk akal.'
'Dan jangan merasa bersalah. Aku bukan mengambil lelaki yang pernah menyukaimu.'
Callista terdiam, menyadari masih ada bagian dirinya yang menganggap hubungan orang lain berputar di sekitar sejarahnya. 'Kau benar. Itu bukan hakku untuk dipikirkan.'
Pada acara perpisahan Sean, tidak ada pidato tentang pengorbanannya untuk Callista. Mateo memutar foto-foto dapur, Audi memberikan celemek dengan tulisan kepala dingin, dan Callista menghadiahkan salinan modul yang sudah diperbaiki.
Sean berkata, 'Aku menghabiskan waktu lama percaya kesetiaan berarti terus menunggu. Ternyata kesetiaan juga berarti berhenti menagih jawaban yang sudah diberikan.'
Lucas yang hadir di ujung ruangan mendengarkan tanpa merasa menang. Setelah acara, ia menghampiri Sean.
'Aku pernah cemburu kepadamu,' katanya.
'Aku tahu.'
'Aku juga memperlakukanmu seperti ancaman, bukan manusia.'
'Itu juga aku tahu.'
Lucas meminta maaf tanpa menjelaskan bahwa ia sedang trauma atau takut. Sean menerima permintaan maaf, tetapi tidak menawarkan persahabatan mendadak.
'Jaga Callista dengan menghormatinya,' kata Sean. 'Bukan karena aku menitipkan dia. Dia tidak pernah menjadi milikku.'
'Aku mengerti.'
'Bagus. Berarti percakapan kita selesai.'
Sean pindah sesuai jadwal. Audi mengantarnya ke stasiun bersama beberapa anggota koperasi. Setelah yang lain pergi membeli makanan, Sean bertanya apakah Audi masih menganggap ajakannya sekadar keputusan panik.
'Tidak seluruhnya,' jawab Audi. 'Tapi kau tetap pindah.'
'Ya.'
'Jalani hidupmu di sana. Aku menjalani hidupku di sini. Kalau kita masih ingin bicara setelah enam bulan, kita bicara tanpa hitung mundur.'
Mereka berpelukan. Tidak ada ciuman yang membuat peron menjadi panggung.
Enam bulan berikutnya mengubah keduanya. Sean bekerja dengan tim yang tidak mengenal masa lalunya sebagai lelaki yang menunggu Callista. Ia gagal dalam audit pertama karena jadwal mentor terlalu padat, menerima koreksi, lalu membangun sistem bersama pekerja. Ia mulai bermain basket lagi dan belajar menghabiskan akhir pekan tanpa mencari alasan menghubungi New York.
Audi memimpin program mentor Safe Service. Ia awalnya memeriksa semua keputusan sendiri, takut kesalahan anggota akan dianggap bukti dirinya tak layak. Mateo menegur bahwa kepemimpinannya mulai menyerupai kontrol yang mereka kritik.
'Aku cuma ingin melindungi program,' katanya.
'Dengan membuat semua orang takut memutuskan?'
Audi menyerahkan sebagian wewenang, membuat prosedur banding, dan meminta penilaian anonim. Hasil pertama menyakitkan: anggota menghargai keberaniannya tetapi takut pada caranya memotong pembicaraan. Ia meminta maaf dalam rapat dan mengubah giliran fasilitator.
Ia bercerita kepada Sean melalui panggilan bulanan yang mereka sepakati. Sean tidak menyelesaikan masalahnya. Ia menceritakan kegagalannya sendiri, lalu bertanya apa yang Audi ingin lakukan.
Pada bulan ketujuh, Sean kembali untuk konferensi. Ia dan Audi bertemu di kedai kopi tanpa Callista. Mereka membahas kemungkinan hubungan jarak jauh, biaya perjalanan, kesetiaan, dan hak berhenti bila hubungan berubah menjadi kewajiban.
'Aku masih menyukaimu,' kata Sean.
'Aku juga menyukaimu. Sekarang jawabannya ya untuk satu kencan, bukan untuk selamanya.'
Kencan pertama mereka berlangsung buruk. Restoran terlalu berisik, Sean terlambat karena rapat, dan Audi kesal karena ia tidak memberi kabar. Dahulu Sean mungkin akan membeli hadiah untuk menutup kecewa. Kini ia meminta maaf, mendengar dampaknya, dan bertanya apakah Audi ingin mencoba lagi.
'Besok pagi,' jawab Audi. 'Sarapan. Jangan terlambat.'
Ia datang sepuluh menit lebih awal. Mereka makan roti panggang, berbicara tentang hal biasa, dan tertawa ketika kopi Sean tumpah. Tidak ada janji bahwa jarak akan mudah.
Callista mengetahui hubungan itu seminggu kemudian melalui Audi. Ia merasa senang dan sedikit kehilangan, bukan karena menginginkan Sean, melainkan karena satu bagian masa lalu benar-benar bergerak tanpa dirinya.
Ia mengatakannya kepada Lucas.
'Apakah kau ingin aku cemburu?' tanyanya.
'Tidak. Aku ingin bisa mengakui perasaan yang tidak cantik tanpa kau menggunakannya.'
Lucas menggenggam tangannya. 'Aku bisa mendengarkan.'
Sean bukan hadiah bagi Audi setelah gagal mendapatkan Callista. Audi bukan jalan keluar agar Sean terlihat telah sembuh. Mereka adalah dua orang yang bertemu setelah belajar bahwa penolakan tidak mengurangi nilai siapa pun dan ketertarikan tidak menciptakan utang. Hubungan mereka dimulai bukan ketika waktu mendesak, melainkan ketika keduanya cukup bebas untuk memilih satu sarapan lagi.