Callista terlambat datang bulan sebelas hari. Ia mencatatnya tanpa memberi tahu siapa pun pada hari pertama, lalu membeli dua alat tes saat keterlambatan mencapai seminggu. Keduanya menunjukkan satu garis.
Ia tidak merasa lega sepenuhnya. Ia juga tidak kecewa sepenuhnya. Campuran itu membuatnya menyimpan kotak di dasar tempat sampah dan berangkat kerja seolah tubuhnya tidak sedang mengajukan pertanyaan.
Pada hari kesebelas, ia mengatakan kepada Lucas setelah makan malam.
'Aku terlambat. Dua tes negatif.'
Lucas meletakkan gelas. Wajahnya berubah sebelum ia sempat memilih ekspresi. 'Apa yang kau butuhkan?'
'Temani aku ke dokter. Dan jangan memberi tahu Mom.'
'Tentu.'
Ia tidak bertanya apakah Callista berharap hamil. Pertanyaan itu menunggu sampai dokter memastikan keterlambatan disebabkan perubahan hormon sementara, kemungkinan berkaitan dengan stres dan perjalanan kerja. Tes darah juga negatif. Tidak ada keadaan darurat.
Di dalam mobil, Lucas bertanya, 'Boleh kita membicarakan bagaimana perasaanmu?'
'Aku takut jawabanku menyakitimu.'
'Jawabanmu tetap milikmu.'
Callista menatap jalan. 'Saat melihat satu garis, aku lega. Lalu aku sedih karena lega. Aku mencintaimu, tapi aku belum ingin menjadi ibu.'
Lucas mengembuskan napas perlahan. 'Aku juga belum tahu apakah ingin menjadi ayah lagi.'
Kata lagi menggantung di antara mereka. Bayi yang dikandung Carissa tidak pernah lahir, tetapi Lucas telah membayangkan dirinya sebagai ayah. Kehilangan itu tidak memberinya hak atas kehamilan Callista, dan tidak membuat ketakutannya sederhana.
'Apakah kau mengira menikah berarti akhirnya punya anak?' tanya Callista.
'Pada awalnya aku mengira itu yang Mom inginkan. Setelah aku mencintaimu, kadang aku membayangkannya. Lalu aku takut mencintai seorang anak karena pernah kehilangan.'
'Aku takut kehilangan diriku. Pekerjaan, tubuh, waktu, bahkan cara orang memanggilku. Mereka sudah sering menjadikan aku istrimu sebelum menyebut namaku. Kalau hamil, aku takut hanya menjadi ibu pewaris Dixie.'
Mereka membawa percakapan itu ke sesi pasangan dengan Miriam. Terapis meminta mereka memisahkan empat hal: keinginan pribadi, ketakutan, tekanan keluarga, dan kemampuan praktis. Daftar mereka tidak menghasilkan jawaban ya atau tidak.
Lucas mengakui bahwa dirinya diam-diam menyimpan kamar bayi dari masa Carissa dalam inventaris, meski barangnya sudah dipindahkan ke arsip. Ia belum pernah membayangkan kamar lain yang tidak menjadi pengganti.
Callista mengakui penggunaan kontrasepsi selama ini lebih banyak ia kelola sendiri. Lucas mengetahui, tetapi tidak memikul pekerjaan mengingat jadwal, janji dokter, dan efek samping.
'Kalau keputusan bersama, tanggung jawab pencegahan juga bersama,' kata Miriam.
Lucas menawarkan menjalani prosedur permanen. Callista menolak keputusan terburu-buru hanya untuk menunjukkan kesetaraan. Mereka berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan yang dapat dibalik, risiko, dan pembagian tanggung jawab. Lucas mulai mencatat persediaan serta jadwal tanpa mengawasi tubuh Callista.
Mereka sepakat tidak mencoba hamil selama dua tahun dan menilai kembali hanya bila keduanya ingin. Tidak ada janji bahwa evaluasi akan berakhir pada anak. Salah satu jawaban tidak berarti tidak.
Lucas juga memanggil pengacara warisnya. Mereka meninjau kembali pembaruan yang telah dibuat agar tidak ada salinan lama dipakai sebagai dasar keputusan. Ketentuan bahwa kepemilikan perusahaan tidak bergantung pada kelahiran anak dan bahwa seorang anak tidak diwajibkan memimpin bisnis tetap dipertahankan. Sebagian saham akan masuk ke perwalian profesional serta dana kesejahteraan pekerja. Callista tidak ikut menentukan angka, tetapi memastikan namanya tidak dicantumkan sebagai wali otomatis tanpa persetujuan.
Masalah berikutnya adalah Amanda. Callista ingin privasi, tetapi jadwal dokter terlihat oleh seorang staf rumah yang kemudian bertanya apakah ia membutuhkan makanan khusus. Staf itu tidak bermaksud menyebarkan kabar, namun Callista menyadari privasi medis di rumah besar bergantung pada terlalu banyak orang.
Ia dan Lucas mengubah prosedur. Jadwal pribadi tidak lagi masuk kalender rumah tangga, transportasi medis tidak otomatis melalui Ben, dan staf mendapat pelatihan kerahasiaan tanpa diberi alasan khusus.
Amanda tetap mendengar spekulasi dari seorang kenalan yang melihat mereka di klinik. Ia datang dengan mata penuh harap dan sekantong pakaian bayi lama milik Lucas.
'Aku tidak ingin menekan,' katanya, sambil meletakkan tas yang justru terasa seperti tekanan.
'Kalau begitu jangan bertanya apakah aku hamil,' jawab Callista.
Amanda menarik tangannya dari tas. 'Apakah kau sakit?'
'Aku sehat. Informasi lainnya pribadi.'
Lucas berdiri di samping istrinya. 'Mom, kalau suatu hari ada kabar yang ingin kami bagikan, kami yang akan membagikan.'
'Aku hanya takut tidak punya cukup waktu.'
'Waktumu tidak menciptakan utang pada tubuh Callista.'
Amanda menangis, tetapi tidak terjadi krisis jantung. Ia duduk, minum air, dan mengatakan dirinya perlu waktu menerima. Callista tidak menarik batas hanya karena air mata muncul.
Keesokan hari, Amanda mengambil kembali tas pakaian bayi. Ia meminta izin meninggalkan satu foto Lucas kecil, bukan pakaiannya. Callista menerima foto itu karena menginginkannya, bukan sebagai janji.
Di Safe Service, Callista menemukan tekanan lain. Sebuah majalah ingin menulis profil tentang perempuan sukses yang menyeimbangkan karier dan rencana keluarga. Ia menolak tema tersebut dan menawarkan wawancara mengenai kepemilikan pekerja. Majalah membatalkan.
'Mereka kehilangan cerita tentang rahimmu,' kata Audi.
'Kerugian besar bagi jurnalisme.'
Mereka tertawa, lalu kembali meninjau laporan Meridian. Keputusan untuk tidak hamil sekarang bukan ruang kosong dalam hidup Callista. Ruang itu dipenuhi pekerjaan, pertemanan, cinta, istirahat, dan pilihan yang belum harus ditutup.
Sebulan kemudian, siklusnya kembali. Callista memberi tahu Lucas bukan karena ia wajib melaporkan tubuh, melainkan karena mereka telah sepakat berbagi kecemasan tersebut. Lucas memeluknya setelah bertanya.
'Kau lega?' tanyanya.
'Ya.'
'Aku juga. Dan aku sedikit sedih.'
'Aku juga.'
Mereka membiarkan dua perasaan berdiri bersebelahan. Lucas mengambil foto masa kecil yang diberikan Amanda. Dalam gambar itu, ia berusia empat tahun, memegang balon dan menatap kamera dengan marah.
'Kau sudah seperti CEO,' kata Callista.
'Aku mungkin sedang menolak tidur siang.'
'Keputusan yang buruk. Sekarang kau paham manfaatnya.'
Malam itu mereka tidur di kamar masing-masing karena Callista ingin beristirahat sendiri. Lucas mencium keningnya di ambang pintu, lalu pergi tanpa kecewa yang dijadikan hukuman.
Dua garis tidak muncul. Tidak ada bayi yang diumumkan, tidak ada kamar yang disiapkan, dan tidak ada keluarga yang memperoleh kepastian tentang generasi berikutnya. Yang tumbuh justru kemampuan mereka mengatakan belum, mungkin, takut, lega, dan sedih tanpa menjadikan salah satu jawaban sebagai pengkhianatan terhadap cinta.