Kontraksi pertama datang pada minggu ketiga puluh sembilan saat Callista sedang memotong buah. Ia berhenti, memegang meja, dan menunggu. Rasa kencang hilang setelah kurang dari satu menit.
Lucas berdiri dari kursi. 'Apakah kita pergi sekarang?'
'Belum. Kita mencatat.'
Kontraksi kedua datang dua puluh menit kemudian. Nia menerima telepon dan menyarankan mereka makan, minum, beristirahat, serta mengikuti petunjuk rumah sakit. Tidak ada tanda bahaya dan ketuban belum pecah.
Lucas memeriksa tas tiga kali. Callista menyuruhnya membuat roti panggang. Ia membakar sisi pertama, lalu tertawa gugup. Kehidupan berubah sambil alarm asap berbunyi.
Enam jam berikutnya berlangsung di rumah. Callista berjalan, mandi hangat, dan tidur di antara kontraksi. Lucas mencatat waktu hanya setelah diminta. Ia tidak mengirim kabar kepada keluarga. Lucia serta Amanda tahu mereka akan diberi tahu ketika Callista memilih.
Menjelang malam, kontraksi menjadi lebih teratur. Callista menelepon unit bersalin sendiri dan menjelaskan gejala. Perawat meminta mereka datang untuk pemeriksaan.
Tim keamanan sudah memiliki rencana, tetapi Lucas hampir memanggil tiga mobil. Callista mengingatkan satu kendaraan cukup. Nia bertemu di pintu rumah sakit. Mereka masuk melalui jalur pasien biasa dengan privasi nama yang telah disiapkan.
Pemeriksaan menunjukkan persalinan masih awal. Callista boleh pulang atau berjalan di sekitar rumah sakit. Ia memilih pulang karena kamar medis membuat tubuhnya tegang. Lucas tidak membantah meski takut harus berkendara kembali.
'Aku akan mengatakan kalau ingin tinggal,' kata Callista.
'Aku percaya.'
Di rumah, air ketuban pecah menjelang dini hari. Cairan bening, gerakan bayi masih terasa, dan kontraksi makin kuat. Mereka kembali sesuai arahan.
Kali ini Callista dirawat. Perawat meminta persetujuan sebelum pemeriksaan dalam dan menjelaskan hasil: persalinan berkembang, tetapi masih perlu waktu. Monitor dipasang berkala sesuai pilihan awal, bukan terus menerus karena belum ada indikasi.
Callista mencoba bernapas melalui nyeri selama beberapa jam. Ia menggunakan bola, posisi berdiri, dan bantuan Nia. Lucas menekan punggungnya terlalu kuat sampai Callista berkata berhenti. Ia langsung melepaskan tanpa tersinggung.
'Tanya sebelum setiap kontraksi,' kata Nia. 'Kebutuhan dapat berubah.'
Lucas melakukannya. Kadang Callista ingin tekanan, kadang tidak disentuh. Persetujuan bukan keputusan sekali untuk seluruh persalinan.
Setelah dua belas jam, Callista meminta analgesia epidural. Ia sempat merasa mengecewakan diri sendiri karena ingin bertahan tanpa obat. Dokter anestesi menjelaskan manfaat serta risiko, dan Nia mengingatkan rencana mereka memang memasukkan pilihan nyeri.
'Tidak ada medali untuk rasa sakit paling banyak,' kata Callista kepada dirinya, lalu menandatangani persetujuan.
Epidural mengurangi nyeri tetapi menyebabkan tekanan darah turun sementara. Monitor menunjukkan detak bayi ikut melambat. Tim memiringkan tubuh Callista, memberi cairan, dan obat. Lucas melihat angka turun dan wajahnya kehilangan warna.
'Lucas, lihat aku,' kata Callista.
Ia tidak mampu menjawab. Nia menyentuh bahunya dan membawanya dua langkah menjauh sambil Lucia dipanggil dari ruang tunggu. Lucas mengikuti latihan napas. Detak bayi kembali stabil dalam beberapa menit.
'Aku bisa tinggal,' katanya setelah dokter menjelaskan keadaan.
Callista bertanya, 'Bisa mendengar?'
'Ya.'
Lucia tetap berada di luar, siap mengganti bila perlu. Lucas tidak menganggap bantuan itu kegagalan.
Pagi datang. Persalinan berkembang lambat setelah air ketuban pecah. Dokter membahas obat untuk memperkuat kontraksi dan risiko infeksi bila terlalu lama. Callista meminta waktu berbicara dengan Nia serta Lucas. Ia memilih dosis rendah dengan pemantauan terus menerus.
Ketika sif berganti, perawat baru hampir memulai pemeriksaan tanpa membaca catatan preferensi. Callista menghentikannya dan meminta penjelasan lebih dahulu. Perawat meminta maaf, membaca rencana di depan mereka, lalu mengulang persetujuan. Lucas tidak memarahi atau mengancam staf; ia mencatat kejadian untuk dibahas setelah persalinan. Kesalahan dikoreksi tanpa membuat Callista harus menenangkan pertengkaran di samping ranjang.
Seorang petugas keamanan juga masuk untuk menanyakan fotografer di luar gedung. Lucas mengarahkannya keluar dan meminta Lucia menangani informasi. Ruang bersalin bukan kantor krisis. Tidak ada kabar tentang kondisi Callista yang diberikan kepada tim keamanan selain apa yang diperlukan untuk akses.
Rencana bergerak semakin jauh dari gambaran awal, tetapi setiap perubahan masih memiliki percakapan. Callista lelah, menggigil, dan sesekali tertidur. Lucas memberi es, membantu mengganti posisi, serta membaca ulang preferensi ketika staf berganti giliran.
Amanda menerima satu pesan dari Lucia: persalinan berlangsung, belum ada kunjungan. Ia membalas dengan simbol hati dan tidak menelepon. Audi serta Mateo belum diberi tahu.
Menjelang sore, pemeriksaan menunjukkan pembukaan hampir lengkap. Bayi turun, tetapi posisinya sedikit miring. Perawat membantu Callista berganti posisi. Detak tetap baik.
Saat waktu mengejan tiba, Callista merasa nyeri meski epidural. Ia mendorong selama hampir dua jam. Lucas menghitung hanya ketika ia meminta dan berhenti ketika hitungan membuatnya marah.
'Aku tidak bisa,' kata Callista setelah kontraksi panjang.
'Kau boleh mengatakan tidak bisa,' jawab Nia. 'Kita tetap menilai langkah berikutnya.'
Dokter memeriksa dan menjelaskan kepala bayi belum turun cukup. Mereka dapat mencoba lebih lama bila kondisi stabil, menggunakan alat bantu bila posisi memungkinkan, atau operasi jika ada tanda bahaya. Callista memilih mencoba tiga puluh menit lagi.
Lima belas menit kemudian, monitor berbunyi. Detak bayi turun dan tidak segera kembali setelah posisi diubah. Lebih banyak staf masuk. Dokter mengatakan mereka perlu bergerak cepat menuju operasi.
Lucas mendengar suara roda dan teringat koridor rumah sakit lama. Tangan Callista meraih bajunya.
'Dengar dokter, bukan masa lalu,' katanya.
Lucas menatapnya. 'Aku di sini. Apa yang kau mau?'
'Tetap kalau kau bisa. Kalau tidak, Lucia.'
Dokter menjelaskan operasi darurat, kemungkinan anestesi, dan alasan. Callista memberi persetujuan. Lucas mengenakan pakaian operasi dengan tangan gemetar. Nia tidak boleh masuk karena aturan jumlah pendamping, sehingga Lucia menunggu di luar sebagai cadangan.
Di depan pintu ruang operasi, Lucas berkata kepada Nia bahwa dirinya takut mengulang kehilangan.
'Ketakutan itu nyata,' jawab Nia. 'Sekarang tugasmu bukan menjamin hasil. Tugasmu hadir dan mendengar.'
Pintu terbuka. Lucas masuk setelah tim mengizinkan. Rencana telah berubah hampir seluruhnya, tetapi satu hal bertahan: Callista bukan benda yang dibawa melewati keputusan. Ia tetap orang yang ditanya, dijelaskan, dan didengar bahkan ketika waktu menyempit.