Pertemuan kedua antara Timo dan Fida terjadi di kafe Cozy. Kafe yang kini menjadi favorite mereka berdua untuk menghabiskan waktu bersama. Waktu itu adalah hari minggu di mana Fida sedang gabut di rumah butuh kopi untuk menyagrkan otaknya. Ia pergi ke san seorang diri, orang-orang mungkin melihatnya sangat menyedihkan karena pergi ke kafe sendiri. Padahal pergi sendirian tanpa orang lain itu sangatlah asyik kalau belum pernah mencoba patut untuk diocba.
Fida duduk di sana di dekat pintu masuk. Pada saat Timo memasuki pintu kafe ia langsung melihat Fida, Timo sudah memastikan beberapa kali apakah benar itu Fida tau bukan, aneh saja rasanya kalau tib-tiba ia menegur ternyat itu bukan Fida.
Timo terlebih dahulu memesan kopi untuk dirinya sendiri di counter. Setelah pesanannya selesai ia langung menghampiri meja yang di sana ada Fida, sedang fokus dengan Laptopnya. Timo pun langsung duduk di hadapan Fida. “Gue boleh kan duduk di sini?” tanya Timo.
Fida pun langsung menengadahkan kepalanya, dan langsung melihat Timo di hadapannya ia agak terkejut dengan kehadirannya. “Timo? Lo ada di sini juga?”
“Ketemu lagi ya kita.”
“Iya pertemuan yang kedua,” Fida menutup Laptopnya. “Lo jauh-jauh dari Bekasi ke sini cuma buat ngopi?”
Sebenarnya tidak seperti yang Fida bayangkan. Ia ke kafe Cozy yah semua karena Shaka. Shaka pagi-pagi sekali meminta untuk datang ke rumah karena ingin membicarakan soal project yang sedang mereka garap. Mengesalkan pada saat Timo sudah hampir sampai di rumah Shaka sekitar sepuluh menit lagi tiba-tiba-tiba Shaka menelponnya kalau ia membatalkannya karena harus mengantar ibunya yang habis jatuh dari kamar mandi. Timo tidak mungkin marah karena ini sudah menyangkut orang tua. Jadi, daripada ia harus pulang lagi ke Bekasi yang lumayan jauh, sebaiknya ia istirahat dulu sejenak di kafe Cozy.
“Gue nggak seniat itu, Fid.” Timo menyeruput kopinya,”ini gara-gara si Shaka tiba-tiba ngebatalin janjinya sebenarnya bukan salah dia sih, ini di luar kuasanya. Nyokapnya harus di bawa ke rumah sakit karena jatuh dari kamar mandi.”
Fida membentuk mulutnya menjadi bentuk ‘O’. “Ada hikmahnya kan ya? Kita bisa ketemu lagi.” Setelah pertemuan pertama itu mereka beruda tidak pernah bertemu lagi selama berbulan-bulan. Dan, akhirnya Tuhan mempertemukannya lagi di sini.
Timo sangat setuju dengan ucapan Fida; mungkin ini sudah jalannya utnuk dirinya bisa bertemu. lagi dengan Fida. Timo sangat bersyukur akan hal ini. “Benern banget gue setuju dengan itu. Gue sangat amat percaya sih kalau di dunia ini nggak ada yang kebetulan.” kata Timo.
“SETUJU BANGET!” ucap Fida dengan semangat. “Gue adalah orang yang percaya banget kaalu di duni ini tidak ada yang kebetulan semua sudah di ranang sama Tuhan, pertemuan kita yang pertama, dan pertemuan kita yang kedua ini.”
Mereka berdau sama-sama tidak ada yang pernah membayangkan kalau mereka akan bertemu lagi untuk kedua kalinya. Memang sudah seharusnya kita sebagai manusia tidak boleh terlalu berharap, kalau memang sudah ditakdirkan untuk bertemu pasti akan dipertemukan.
“Gue bersyukur banget.” Kata Timo. “Oh yah rumah lo di mana? Deket sini juga aau jangan-jangan rumahnya jauh kaya gue?”
“Iya deket sini,” Fida menunjuk keluar jendela kafe di sana ada perumah elit, memang kafae Cozy ini letakknya tepat bersebrangan dengan perumahan elit yang harga rumahnya ada yang sampai 1 milyar rupiah. Rumah Fida tentu bukan di komplek perumahan itu, tapi di belakangnya dan tentu saja masih jauh harus naik kendaraan. ‘Bukan di rumah elitnya di belakangnya, jadi kalau mau ke rumah gue lo harus naik kendaraan dulu lebih dahulu, melewati rumah-rumah elit itu. Baru dah sampe rumah gue.”
“Kirain gue lo benaran tinggal di sana.” Timo terkekeh. “Omong-omong lo di sini lagi nunggu orang atau emang lo sendirian aja di sini?”
“Lebih tepatnya sendiri. Aneh ya?”
“Aneh? Nggak kok. Malah enak lo ke kafe seorang diri. Jadi lebih dekat lagi sama diri sendiri. Kita sebagai manusia butuh waktu juga buat sendirian.’
“Bener banget. Cuma masih banyak aja orang yang bilang kalo pergi ke mana-mana cuam sendirian itu aneh, ansos, dan nggak punya teman sama sekali. Padahal teman mah ada, yah tapi ada moment di mana kita butuh waktu hanya berdua dengan diri sendiri.”
“Lo emang cocok.”
“Cocok?” tanya Fida tidak mengerti.
“Lo ama gue punya pendapat yang sama, maksudnya.” Timo pun sendiri heran kenapa tiba-tiba mulutnya mengeluarkan kata ‘cocok’.
“Ohh iya. Kita se-frekuensi nih. Ke sini lo naik apa Tim?”
“Motor.”
“Kirain naik kereta.”
“Tadinya.”
“Tadinya?”
“Iya tadinya gue mau naik kereta. Akan tetapi, karena teman gue si Shaka ini minta buru-buru. Jadi gue memutuskan untuk naik motor. Padahal enakan naikm kereta nggak pegel.” Timo memang orangnya lebih suka naik kereta daripada naik motor.
“Gue suka kereta banget naik kereta, sama suasana stasiunnya.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu ya, bagi gue stasiun adalah tempat pertemuan dan perpisahan orang-orang.” Timo pun mulai menyimak Fida dengan serius. “Ada orang yang bertemu di stasiun yang sama, naik kereta yang sama, lalu berpisah di stasiun yang berbeda. Sama seperti kehidupan Tim, kita kadang bertemu dengan seseorang yang memang sudah satu frekuensi, pandangan akan satu hal yang sama, punya hobi yang sama, punya cita-cita yang sama, tapi kadang harus dipisahkan karena satu hal. Entah karena memang masanya sudah habis atau memang mereka tidak bisa bersama untuk selamanya. Jadi, dalam hidup kita harus bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang entah orang, barang, atau apapun. Karena semaunya berisfat sementara yang kita punya pada akhirnya hanya diri kita sendiri.” Setelah selesai bicara Fida baru menyadari kalau dirinya terlalu bijaksana sekali. “Sori Tim, gue ngomong jadi ngalor ngidul gini.”
“Nggak apa-apa gue suka kok dengerinnya. Kalo lo suka sama stasiun, gue suka banget sama Bandara. Entalah meskipun bandara pernah menorehkan luka yang paling dalam di hati gue, tapi dia selalu menjadi favorite gue.” kata Timo.
Bandara telah memisahkan ia dengan orang yang paling ia sayangi, sekaligus perempuan favoritenya setelah ibunya.
“Memangnya bandara sudah menorehkan lukanya seberapa dalam?”
“Sedalam samudra hindia.”
Fida langsung tertawa mendengar ucapan dari Timo, “bisa aja lo.” Fida meliriknya arlojinya yang bertengger di tangan kirinya. Di jamnya sudah menunjukkan pukul 06:00 sore sudah saat ia harus pulang karena ia belum membuat makan malam untuk adiknya dan dirinya sendiri.
“Nggak kerasa yah ngobrol sama lo tau-tau udah sore aja, gue mau balik nih Tim,” Fida memasukkan Laptonya ke dalam tas laptop berwarna biru. “Gue harus masak nih buat makan malam. Lo masih mau di sini, Tim?” tanya Fida.
“Gue mau pulang aja, giemana kalo lo gue anter pulang Fid?”
Tawaran yang menarik jadi Fid atidak perlu ongkos. Akan tetapi, ia tidak enak baru juga kenal dua hari—lebih tepatnya 1 hari dua bulan kemudian baru dipertemukan lagi.
“Nggak usah gue biasanya nak ojek kok, Tim.” Fida menolak tawaran Timo dengan halus.
“Kok nolak sih?” Timo pura-pura memasang wajah kecewa. “Terima ya soalnya gue juga sekalian balik nih.”
“Beneran Tim, nggak usah.” Kata Fida tetap menolak tawaran dari Timo dengan halus.
“Gue bukannya maksa, tapi sekalian jalan aja.’
Fida pun menghela nafasnya, “oke gue terima.”
Mereka berdua pun langsung berjalan keluar dari kafe Cozy. Fida pun mengikuti Timo berjalan ke parkiran kafe Cozy yang disediakan di belakang kafenya.
***
Fida sudah sampai di rumahnya tentu saja di antar oleh Timo. Di dalam rumah ada Tata yang sedang menonton TV di sofa. Namun, tiba-tiba remaja itu bangkit dari sofanya dan melihat ke luar melalui jendela ruang tamu.
Ia terkejut melihat kakaknya pulang dari kafe Cozy bersama seorang laki-laki yang tentu saja bukan pacarnya karena Tata tahu kalau kakanya itu tidak punya pacar.
“Tim makasih banyak ya udah mau anterin gue.” Fida melepaskan helmnya dan memberikannya kepada Timo. “Lo hati-hati di jalan.”
“Siap.” Timo kembali menyalahkan mesin motornya, “gue balik dulu ya. Buru-buru biar di jalan nggak malem-malem banget. Biasnya Bekasih suka macet.”
“Iya hati-hati ya.”
Setelah Timo pergi Fida langsung masuk ke dalam rumahnya, ia langsung menyalahkan lampur rumahnya ini sudah sore, tapi Fida lampu-lampu di ruamg tamu belum dinyalahkan oleh adik satu-satunya Tata.
“Ka siapa tadi?”
Fida terkejut ketika adiknya tiba-tiba ada di depannya. “Kamu ya ngagetin kakak aja ya.” Ia menatap Adiknya yang sudah pakai pyama tidur dengan kesal. “Kenapa lampu belum dinyalahin?”
“Aku suka gelap ka, lagi nonton film.” Tata langsung mengarahkan pandangan kakaknay ke ruang tv. “Itu siapa ka tadi?”
“Kepo.”
“Pacar baru?”
“Palamu pacar.” Fida langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, sama sekali tidak menghiraukan adiknya yang merengek ingin tahu siapa tadi laki-laki yang mengantarnya.