Sore tepat pukul 17:00 Fida sedang bersiap-siap berdandan karena hari ini ia akan pergi ke rumah Timo untuk makan malam bersama dengan keluarga Timo. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka—pintu kamar Fida dibuka oleh Tata, adiknya. Ia menoleh ke arah Tata yang sedang membawa dua paper bag di tangannya.
Sore tepat pukul 17:00 Fida sedang bersiap-siap berdandan karena hari ini ia akan pergi ke rumah Timo untuk makan malam bersama dengan keluarga Timo. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka—pintu kamar Fida dibuka oleh Tata, adiknya. Ia menoleh ke arah Tata yang sedang membawa dua paper bag di tangannya.
Tata masuk ke dalam kamar lalu dengan seenaknya Tata pun mengatakan ini kepada Fida, “ka ganti deh baju lo.”
Fida pun langsung melotot dengan perkataan Tata barusan. Dengan seenaknya menyuruh dirinya yang sudah rapih ini untuk menganti bajunya. “Enak banget yah kamu nyuruh kakak baut ganti baju? Kamu nggak lihat apa kakak udah rapih gini.”
Tata membuka paper bag yang tadi ia bawa menunjukkan sebuah setelah baju. Rok bewarna ungu dengan motif bunga, lalu atasan blouse berwarna putih polos. “Pake yang ini, ka.”
Fida pun bingung dari mana Tata dapat pakaian itu. Apakah ia dapat pakaian tersebut dari uang tabungannya khusus membelikannya. Seperti itu tidak mungkin, Fida tahu sekali kalau Tata itu pelit sekali soal uang. “Kamu dapat uang itu dari mana?” tanya Fida.
“dibeliin sama ka Timo,” jawab Fida dengan santai.
“Kamu minta sama ka Timo ya untuk dibeliin baju?” tanya Fida curiga dengan Adiknya.
Padahal sebenarnya bukan Tata yang meminta. Akan tetapi, Timo yang membelikannya. Ini untuk Fida secara diam-diam karena Timo tahu kalau ia meminta langsung Fida untuk beli baju—perempuan itu tidak akan menolaknya dengan keras. Jadi Timo pun membelikannya diam-diam lalu mengirim ke rumah Fida, dan yang menerima Tata. Timo sebelumnya sudah bekerja sama dengan Tata.
Tata mengacungkan dua jarinya kepada Kakanya mengatakan bahwa sama sekali tidak meminta Timo untuk membelikan baju, Timo yang membelinya sendiri. “Suer ka gue nggak beli baju sama sekali ini, ka Timo yang sendiri beli. Udah sih lo dibeliin baju kok protes mulu sih jadi orang.” kata Fida dengan kesal lalu ia keluar dari kamar tidak ingin di introgasi oleh kakaknya perihal baju siapa yang membelinya. Karean ia sama sekali tidak membelinya. Sebelum menutup pintu Tata mengatakan ini, “kalo mau tahu lebih jelas. Sebaiknya lo telepon ka Timo aja deh.”
Fida pun langsung menelpon kekasihnya itu untuk mengkonfirmasi perihal pembelian bajunya kepada dirinya. Tidak lama kemudian telepon pun tersambung ke Timo.
Timo : Hallo sayang?
Suara Timo tumben sekali lembut tidak biasanya ia seperti ini: mungkin Timo sudah feeling kalau akan dimarahi oleh Fida.
Fida : Ngapain kamu beliin aku baju?
Timo : Kok kamu nanyanya gitu sih Fid?
Aku beli baju yah buat beliin kamu buat dipake.
Fida menghela nafasnya supaya tidak nge-gas dengan Timo ia pun langsung mengatakan sesuatu yang menimbulkan perdebatan di antara mereka berdua.
Fida : Nanti aku balikin Tim ini pakaiannya.
Timo : Fida?! Sori, aku nggak masuk bentak kamu.
Fida tidak bermaksud untuk membuat Timo kesal dengan apa yang ia katakan barusan. Di sini Fida sendiri pun kesal dengan dirinya sendiri karena ia pun sedari awal sudah menolaknya untuk tidak dibelikan baju oleh Timo.
Timo : Kamu bisa kan ngehargaiin pemberian aku?
Fida : Iya maaf.
Timo : Kamu terima hadiahnya itu?
Fida : Iya aku terima. Aku ganti baju dulu
Kalau kamu udah mau sampe nanti tunggu aja di ruang tamu.
Kamu bisa WA dia untuk bukaiin pintu.
Timo : Oke deh makasih ya.
Telepon langsung terputus Fida pun langsung menutup teleponnya ia pun langsung bergegas untuk menganti pakaian yang diberikan oleh Timo. Ia sebenarnya bisa saja marah, dan memperpanjang perdebatan yang tiada henti di antara mereka berdua. Itu malah buang-buang waktu jadinya.
Setelah selesai menganti pakaian yang diberikan oleh Timo, Fida pun langsung mematut dirinya di cermin, dan ia melihat bahwa pakaian yang dipilihkan oleh Timo cuku bagus. Rok bermotif bung dengan blouse putih polos benar-benar cocok dan membuatnya terlihat lebih elegan.
Setelah dirasa penampilan oke. Fida pun langsung bergegas turun ke bawah dan di sana sudah ada Timo sedang duduk di raung tamu bersama dengan adiknya Tata. Mereka sedang asyik mengobrol sambil makan kripik jagung.
“Seru amat yah kalian!” kata Fida.
Tata yang fokus sedang menatap Timo pun langsung menengadahkan kepalanya melihat penampilan kakanya yang sangat berbeda dari biasanya. “Tumben yah lo cantik ka.”
Memang adiknya Fida satu ini benar-benar membuat kesal, sekalinya muji dia malah bikin emosi dengan ucapannya baruan.
“Ikhlas nggak?” tanya Fida lalu ia duduk di samping Timo.
“Kamu cantik,” puji Timo.
Pujian Timo barusan berhasil membuat pipi Fida seperti kepeting rebus, “makasih lo kamu jarang-jarang muji aku cantik.”
Tata pun langsung menyambung, “itu muji cantik karena bajunya dibeliin sama ka Timo, tapi kalau nggak dibeliin belum tentu kan ya.”
Fida pun langsung meloto ke Tata, “kamu tuh yah Tata.”
“Yak an ka Timo?”
“Nggak beneran cantik loh kakakmu ini,” ucap Timo dengan tulus.
“Nggak ah!” Tata tetap kekeh dengan perkataannya.
“Biarin uang jajan libur yah sebulan,” ucap Fida.
“Masih ada ka Timo,” ucap Tata dengan santai. “Iya kan ka?” Tata berbicara seperti itu hanya beranda sebeanrnya tidak ada benaran. Lagi pula kata-kata kakanya barusan itu hanya ancaman saja supaya ia tidak banyak bicara.
“Tata kamu mening masuk kamar gih,” pinta Fida ke adiknya Tata pun langsung menuruti apa yang dikatakn kakanya. Kalau tatapan kakaknya terlihat serius begitu berarti Fida tidak main-main dengan kata-katanya. Jadi ia pun langsung bergegas untuk masuk ke kamarnya, namun ia tidak lupa untuk meminta satu permintaan ke kakanya, “pulang bawa kebab ya!” Tata pun langsung menutup pintu kamarnya.
“Kebiasaan itu anak. Maafin ya.” Fida meminta maaf kepada kekasihnya karena kelakuan adiknya yang memang suka merepotkan dirinya.
“Nggak apa-apa sih santai aja, “ kata Timo. “Aku udah anggap Tata sebagai adikku sendiri kok.”
“Yuk berangkat kita udah siap.”
Mereka berdua pun langsung begegas untuk pergi menuju rumah Timo yang letaknya cukup jauh ada di Bekasi, dan kali ini mereka berdua naik mobil. Fida menyetujui hal itu karena buju rayu Timo yang menjamin kalau pewangi ruangannya tidak bau jeruk. Fida pun menyetujuinya.
***
Mereka berdua pun sampai di rumah Timo dengan selamat; tidak ada drama Fida yang mabuk perjalanan, tidak ada bau pewangi jeruk. Timo benar-benar menepati janji supaya kekasih itu tidak mabuk dalam perjalanan nanti.
Timo langsung menekan bel rumahnya. Tidak lama pintu pun terbuka; pintu dibukakan oleh Devin. Debin yang sumringah melihat kehadarian Fida pun langsung memeluk Fida, “akhirnya ka Fida dateng juga. Ka Fida hari ini cantik banget.” Puji Devin
Bocah laki-laki itu langsung meminta untuk di gendong oleh Fida, dan Fida pun menyanggupi mesikpun Timo sempat melarang untuk itu.
“Kamu berat juga yah Devin,” kata Fida sambil mencubit pipi bocah laki-laki itu.
Timo merangkul bahu Fida memintanya untuk berjalan masuk ke dalam rumahnya. Mereka bertiga pun langsung berjalan ke ruang makan. Di sana sudah ada Aminah yang masih mengunakan celemek sedang menghidangkan makanan. Semantara Sumarno membantu Aminah dengan menata piring-piring dan gelas di atas mejanya.
“Fida kamu udah datang,” Aminah langsung menghampiri Fida. Devin pun langsung turun dari gendongan Fida. Fida langsung memeluk Aminah. Lalu mereka berdau saling melepaskan pelukan, Aminah memegang kedau bahu Fida, ia memperhatikan Fida dari atas sampai bawah. “Kamu cantik banget, ini pasti baju yang dibeliin Timo?”
“Tante tahu?”
“Kan tante yang milihin,” saat melihat meja makan Fida memyadari kalau makananya sudah siap tinggal disantap. Aminah menyuruh Fida untuk duduk di kursi, “kemarin Timo ngerengek ke Tante minta ditemenin ke mall buat beli baju, katanya buat kamu.”
“Timo kok nggak bilang-bilang?”
Timo yang habis dari kulkas mengambil minuman dingin pun langsung menyahut, “kejutan dong kalau ini.” Timo menaruh air minum di atas meja makan, lalu duduk berhadapan dengan Sumarno yang duduk tepat berada di depannya.
“Makasih banget lo aku terkesan,” ucap Fida kepada Timo. Lalu langsung dibalas dengan senyuman oleh Timo. Fida bertanya ke Aminah. “Tan, ada yang perlu aku bantuiin nggak?”
Aminah pun langsung berkata kepada Fida, “Nggak ada kok, tinggal tolong siapin kuenya aja yah sayang. Ada di kulkas, biar tante yang ambil.”
“Aku aja Tan,” ucap Fida.
“Serius?” tanya Aminah.
“Iya tante duduk aja yah biar aku yang ambil,” Fida bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah kulkas. Tidak lama Fida pun kembali dengan membawa kue yang masih ada di dalam kotak, Fida pun langsung menaruhnya di atas meja. Lalu ia pun langsung menyalahkan lilin dengan korek api yang sudah ada di meja. Sepertinya Aminah benar-benar mempersiapkan ini dengan detail.
Seperti biasanya di keluarga ini kalau ada yang ulang tahun pertama-tama yang dilakukan adalah berdoa dahulu, baru menyanyikan selamat ulang tahun. Lalu tiup lilin meminta yang berulang tahun untuk membuat satu permintaan.
Setalah selesai berdoa mereka pun langsung menyanyikan lagu selamat ulang tahun meminta Timo pun langsung diminta untuk diminta tiup lilin, dan diminta untuk membuat satu permohonan oleh Aminah, “nak cepat buat permintaan.”
Timo pun langsung memejamkan mata dan membuat satu permohonan. Ia pun membuka matanya kembali, “udah nih yuk makan udah laper nih!”
“Tunggu dulu ka,” ujar Devin.
“Tadi kakak minta apa?”
“Rahasia.”
Timo paling suka membuat adiknya kesal, “ka Timo pelit!”
“Tim, adiknya jangan digodaiin.” Sumarno menasehati anak sulungnya.
“Rahasia pa,” Timo langsung mengambil piring lalu menyedok nasinya, dan menaruh beberapa lauk. Hari ini Aminah memasak sayur sop dengan perkedel sebagai pelengkap. Untuk makanan penutupnya Aminah membuat pudding coklat.
“Ka Timo jahat pa,” kata Devin langsung menghampiri Sumarno minta untuk dipangku, “masa pelit saam Devin.”
“Itu kan rahasian Devin, kalau dikasih tahu kakak malu.”
Permintaan Timo adalah sama seperti waktu saat ia bersama dengan Fida. Melihat Adiknya yang seperti ini menangis pun langsung membuatnya iba. Ia pun langsung mengatakan ini kepada adiknya, “ nanti abis makan malam kita tidur bareng ya, nanti kakak ceritaiin.”
Devin pun langsung loncat dari pangkuan ayahnya lalau menghampiri Timo, dan mencium pipi kakanya itu, “makasih yah ka..”
Timo mengusap kepala adiknya itu, “iya sama-sama. Yaudah gih kamu makan sekarang.” Devin pun langsung menuruti permintaan kakaknya ia pun kembali ke kursi mekannya.
Fida yang sedang melihat keakraban kaki beradik pun tersenyum, “kamu sama adik kamu akur ya. Nggak kaya aku kaya kucing sama monyet.”
“Makanya diakurin.”
“Udah nyoba, tapi gagal.”
Aminah yang mendengar Fida sedang membicarakan adiknya, “kapan-kapan ajak Tata ke sini juga yah, makan bareng sama kita.”
“Iya tante. Anaknya sibu mulu dia,” kata Fida.
“Bagus dong kalau sibuk,” kata Aminah.
“Sibuk darakoran tante.”
Sontak semua orang yang ada di raung makan pun tertawa terbahak-bahak dengar ucapan dari Fida barusan. Suasana makan malam kali ini benar-benar hikmat, Fida sangat menikmatinya ia seperti bagian dari keluarga ini. Semoga suatu saat bisa benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini.