Seperti janji Timo kemarin untuk menjemput Elvira di rumah setelah ia menjemput Fida. Fida sempat menceritakan soal ini kepada Dira. Jawabannya dari Dira; bahwa Fida terlalu baik alias gampang bilang tidak apa-apa. Padahal perasaan Fida tidak terima. Bodoh! Satu kata itu lolos dari mulut Dira. Di telephone mereka sempat berdebat, namun akhirnya Dira juga yang minta maaf.
Timo terlebih dahulu menjemput Fida di rumahnya baru setelah itu ia menjemput Elvira. Di dalam mobil Fida hanya diam bingung saja mau biara apa. "Kamu oke kan?" tanya Timo.
Tentu saja jawabannya tidak 'oke' padahal menurut Fida Timo tidak seharusnya bertanya. Timo sudash tahu sendiri jawabannya. Mana ada perempuan yag baik-baik saja ketika kekasihanya masih memperdulikan seseorang yang pernah menjadi bagian hidupnya, bukan sebagai sahabat ya konteksnya di sini. Tapi, lebih ke mantan pacar
"Aku baik-baik aja. Nggak oke kenapa?" Fida sengaja memancing Timo dengan bertanya begini. ia ingin tahu aoa jawaban dari Timo.
"Makasih ya." Timo tersenyum ke arah Fida lalu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Fida.
Sungguh itu bukanlah sebuah jawaban yang diinginkan oleh Fida, kenapa harus bilang makasih? "Iya sama-sama." kata Fida berusaha akting sebaik mungkin supaya kentara kalau dia benar baik-baik saja.
"Pegertian banget yah kamu, kamu malam ini cantik Fid." kata Timo.
Fida bisa melihat dari tatapan Timo saat memujinya bahwa itu tatapan tulusnya. Meskipun malam ini Fida hanya memakai dress panjang berwarna berwarna nude dengan cardian berwarna yang senada, rambutnya ia biarkan terurai, sedikit make up, dan lipstik supaya tidak terlihat pucat.
"Makasih Tim, tapi tetep masih cantika si Elviran" kata Fida dengan nada sarkas, tapi tetap saja Timo menganggapnya itu sebagai candaan.
"Kamu sama dia kan sama-sama cewek yah, jadi cantik lah. Kamu gimana sih," Timo tertawa. "Kamu insucure lagi?"
Untuk saat ini Fida sama sekali tidak insecure hanya saja saat ini ia merasa cemburu dengan Timo yang bersikap begini."Nggak. Itu memang a, kan? Kalo mislanya Elvira nggak cantik, ngapain kamu mau jemput dia?"
Timo tiba-tiba mengerem mendadak hingga menimbulkan suara 'ngik' dari ban mobil yang beradu dengan aspal."Kamu cemburu, Fid?" Timo kembali melajukan mobilnya.
Fida tidak menjawab ia memilih untuk diam. Kalau Fida usdah bersikap diam itu berarti sudah di puncaknya marah. Timo bolehlah untuk tidak peka pada hal-hal tertentu, tapi kenapa harus masalah ini. Seolah-olah Timo tidak peduli dengan perasaan Fida.
"Kamu cemburu, Fid?" tanya Timo sekali lagi. Dari nada biaranya Timo Fida bisa paham kalau Timo sedang merasa kesal. Sekarang pertanyaaannya kenap aTimo yang harus kesal dengannya?
"Kenapa harus nanya?"
Timo tidak menjawab pandangannya lurus ke depan. Kira-kira sebentar lagi mobilnya akan memasuki perumahan yang cukup elit dibilangan Jakarta Utara. Dalam mobil itu hening tidak ada yang memulai bicara. Saat seperti ini sepertinya mereka berdua bukannya sepasang kekasih. Akan tetapi, antara supir dan penumpang.
"Fid?" akhirnya Timo buka suara, bukan untuk menjawab pertanyaan Fida yang tadi. "Masalah ini nanti kita bicarakan lagi, pokoknya kalau udah sampe di rumah Elvira. Kita harus bersikap baik-baik saja."
Lagi dan lagi Timo seperti lebih mementingkan perasaan Elvira, daripada Fida. Fida pun menjawab dengan sarkas, "siap udah biasa kok akting saya mah."
"Kamu apaan sih, Fid?"
"Maksudnya?"
"Udah nggak usah dibahas, " kata Timo ia memberhentikan mobilnya di depan rumah pagar biru. "Kita sudah sampai di depan rumah Elvira. Kamu harus bersikap biasa aja."
Malam ini yang seharusnya jadi malam yang paling membuat Fida senang. Karena ia akan datang ke rumah Timo bertemu denan Aminah, dan Devin. Tapi, malam ini Fida ditampar oleh kenyataan bahwa itu tidak semenyenangkan yang dipikirkan olehnya. Ia malah seperti tidak mengenal Timo. ini bukan Timo yang ia kenal.
Timo lebih dulu turun dari mobil lalu disusul oleh Fida. Timo menekan bel rumah tdiak lama kemudaian pintu rumah terbuka. Pintu rumah itu dibukakan oleh seorang wanita paruh baya, sepertinya itu asisten rumah tangga Elvira.
"Eh ada mas Timo, mari masuk." Wanita paruh baya itu mempersilahkan Timo masuk, dan juga Fida.
"Elvira aja mba Sari?" tanya Timo saraya berjalan untuk masuk ke dalma rumah Elvira.
"Ada sepertinya sudah siap. Pantes yah Elvira seharian ini bawanya seneng terus, ternyata mau ada mas Timo mau ke sini." Mba Sari mempersilahkan Elvira dan Timo untuk duduk dulu. Timo sempat bertanya kenapa kedua orang tua Elvira. Mba sari bilang kalau orang tua Elvira sedang berada di Bogor untuk urusan bisnis.
"Kamu juga seneng, Tim?" tanya Fida setelah mba Sari pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.
"Seneng bangetlah." kata Timo dengan santai.
Parah banget sih! tadi aja gue nggak usah ikut kalau ujung-unjungnya kaya gini! Fida hanya bisa menarik nafasnya dalam berusaha untuk sabar, dan tidak emosi. Kalau Fida marah-marah di sini malah bisa membuat gaduh tidak estis saja membuat gaduh di rumah orang.
"Oke." hanya itu kata yang keluar dari mulut Fida.
Mba Sari datang bersama dengan Elvira; serius saat Fida memandang Elvira satu kata yang kelaur dari kepalanya adlaah bahwa Elvira ngat cantik. Elvira malam ini memakai pakaian yang casual, tapi terlihat anggun. Elvira memakai dress polos berwarna abu-abu, rambutnya digelung sampai ke atas, dan memakai sepatu espadrilles shoes, dan juga tidak ketingglan tas jinjing dengan berwarna putih. Perfect! Elvira selain pintar dia juga fashionable.
"Maaf yah, kalian nunggu lama." kata Elvira menyapa Timo dan Fida.
Fida memasang senyum pura-pura bahagia. Elvira memeluk Fida, "aku seneng banget kamu ikut ke sini, lain kali kalo kamu mau main. Main aja yah ke rumahku, rumahku tebuka lebar untuk pacarnya teman aku ini." Elvira melepaskan pelukannay dari Fida, dan beralih memeluk Timo mencium pipi kira dan kanan Timo. Perasaan siapa yang tidak sakit?
Mba sari menaruh minuman di atas meja ruang tamu. "Mba Fida dan mas Timo silahkan diminum dulu, saya permisi." mba Sari kembali ke dapur, dan Fida mngatakan terima kasih kepada mba Sari.
Elvira duduk di depan Fida dan Timo. Elvira mempersilahkan Fida dan Timo untuk minum terlebih dahulu, sebelum mereka berangkat. "Tim, gimana menurut kamu penampilan aku?" tanya Elvira membuaka oborlaan.
Rasanya Fida ingin bereriak kepada Elvira, Eh Elvira ngapain nanya kaya gitu ke pacar gue? Fida hanya diam pura-pura buka i********:, sengaja Fida da tdiak menanggapi pertanyaan Elvira. Fida ingin tahu jawaban apa yang diberikan oleh Timo.
"Kamu cantik banget. Selalu seperti itu."
Boomb! Seperti bom yang meleda saat peperangan. Jawabannya benar-benar diluar dugaan Fida, benar-benar yah Timo.
"Makasih yah Tim, menurut kamu aku gimana Fid?"
"Cantik banget," iya cantik. Tapi, bisa nggak usah caper sama Timo? "Aku kagum banget sama kamu."
"Makasih ya." Elvira tersenyum, "yaudah yuk naanti keburu malam. Oh yah Tim, aku boleh duduk didepan nggak?"
Ya Tuhan si cantik ini minta apalagi coba. Ini sebenarnya yang menjadi kekasihnya Timo, Fida atau Elvira? itulah pertanyaan yang berputar-putar kepala Fida.
"Kamu izin dulu ke Fida, " kata Timo.
Fida tersenyum ke arah Elvira, melihat tampang wajah Elvira rasanya ia ingin menyiram Elvira dengan air keras. Kalau saja menyiram air keras ke wajah Elvira bukanlah hal yang berdosa. "Silahkan saja nggak apa-apa. Kalian berdua kan sahabat, yah bebas doan mau duduk di mana aja, di atap mobil juga boleh."
Elvira tidak paham bahwa itu adalah sarkas dari Fida, ia malah tertawa dan menanggapinya dengan santai, "kamu kalo bercanda bisa aja. Makasih yah Fid."
"Iya sama-sama. Santai aja."
Mereka bertiga pun langsung keluar dari rumah, dan langsung berangkat ke rumah Timo. Fida berharap tidak ada lagi kejadian yang membuat hatinya menjadi gondok.
***
Sampainya di rumah Timo. Devin adik semata wayang Timo langsung berlari ke arah Fida yang baru saja keluar dari rumah. Devin sangat merindukan Fida; kekasih dari kakaknya yang sudah ia anggap seperti kakanya sendiri. Ia memeluk Fida sanat erat, lalu mendongakkan kepalanya, "ka Fida Devin kangen. Ayuk masuk di dalam banyak makanan."
Aminah dan Andreas pun langsung menyambut mereka bertiga, "Elvira kamu makin cantik ajak. Rencana setelah kuliah apa?" tanya Andreas.
Mereka semua pun masuk ke dlaam rumah, Andreas berjalan berdampiangan dengan Elvira. Fida dihapit oleh Devin dan Aminah, Timo berjalan terlebi dahulu untuk membuaka pintu ruamahnya."Rencana aku mau terusin bisnis papa," kata Elvira. Andreas mepersihalkan Elvira dan Fida duduk berdampingan. Andreas duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka, Aminah izin pamit terlebih dahulu ke dapur untuk membawakan makanan.
"Wah bagus itu! Sukses yah. Kalo Timo mah milih untuk kerja sama orang lain, daripada sama papa."
"Nggak apa-apa itu, pa."kata Elvira. Elvira memang sadari dulu sudah mememanggil kedua orang tua Timo dengan sebutan mama dan papa. "Itu juga bagus pa, papa gimana kabarnya sehat?"
"Puji Tuhan, papa sehat. Mama sama papa kamu juga sehat, kan ya?" tanya balik Andreas.
Elvira dan Andreas pun mengbrol berdua dengan Elvira, dari obrolan hanya sekadar basa-basi menjadi serius, seprti membicarakan soal bisinis, pendidikan, isu politik, dan isu sosial. sementara itu Fida berbiacra dengan Devin.
"Ka Fida, Devin benci banget sama jarum suntik." kata Devin sambil menunjukkan bekas suntikkan di lengan kirinya.
"Kenapa?"
"Dia terus bikin tangan Devin sakit." Devin memanjukan bibirnya, dan itu malah membuat Fida gemas ia langsung memeluk Devin.
Fida mengusap kepalanya, mencium kening Devin ia sudah mengangap Devin sebagai adiknya sendiri. Ia sangat menyanyangi Devin. "Nanti ka Fida omelin deh jarum suntiknya, kamu gak perlu takut yah sama jarum suntik. Walaupun jarum suntuik itu jahat, tapi dia bisa bikin sembuh kamu. Semangat yah. Nanti kapan-kapan kalau libur, ka Fida ajak kamu main yah ke Dufan. Tapi, ka Fida izin dulu ke ka Timo, mama dan papa." Fida mencolek hidung Fida.
"Asyikkk!" Devin loncat-loncatan di epan Andreas. Elvira, dan Timo.
Andreas pun langsung bertanya kepada Devin, "anak papa kenapa nih, kok seneng banget?"
"Devin mau diajak main ke Dufan sama ka Fida. Tapi, Devin diminta untuk izin dulu ke papa dan mama, sama ka Timo juga. Boleh yah?" Devin memohon dengan memasang wajah puppy face-nya.
Andreas meminta Devin untuk menghampirinya, Devin pun langsung berjalan menghampiri Andreas. Lalu ia dipangku oleh Andreas. Aminah yang baru kembali habis dari dapur sambil membawakan minuman untuk semua orang yang ada di ruang tamu.
"Devin kenpa, pa?" tanya Aminah.
"Devin minta izin ke papa untuk pergi ke Dufan, diajak sama Fida. Mama bolehin nggak?"
Setelah menaruh minumannya di meja, Aminah duduk di samping Andreas. "Tentu boleh dong, yang penting Devin rajin minum obatnya yah sayang. Nanti pergi jangan berdua aja sama ka Fida, sama ka Timo juga."
Elvira yang sedari tadi hanya memperhatikannya pun angkat bicara, "ka El, boleh ikut kamu nggak?"
"Boleh dong, biar ramai." jawab Devin dengan girang.
Sementara itu Timo hanya dia saja. Ia sepertinya tidak setuju dengan usul Fida yang ingin mengajak adiknya itu liburan ke Dufan. Ia pun menarik Fida keluar mengajak untuk bicara. Timo izin terlebih dahulu untuk kepada kedua orang tuannya.
Timo mengajak Fida untuk bicara di halaman belakang rumah mereka. Memang suasananya sangat sepi , dan hanya ada suara bunyi jangkrik.
"Aku nggak ngijinin Devin ke Dufan!"
Benar-benar yah Timo malam ini cukup mengesalkan. Kenapa seola-olah ini sebuah kesalahan Fida; padahal niat Fida baik. Ia ingin menghibur Devin dengan membawanya jalan-jalan ke Dufan. Aapa itu salah?
"Kenapa?"
"Kamu nggak mikir apa yah Fid?!" suara Timo meninggi. Tanpa mereka sadari Elvira yang kepo dengan pembicaraan mereka pura-pura ijin ke toilet padahal Elvira hendak menguping."Dia sakit Fid! Ke Dufan itu bahaya banyak wahana-wahana yang bikin Devin drop. Devin sebelum sakit paling suka naik roller coaster kalo dia maksa minta gimana? Kamu mau bikin Devin kehilangan nyawanya? Kamu mau bikin aku kehilangan Devin?"
"Aku nggak akan memperbolehka Devin naik yang berbahaya. Aku bakal buat Devin mengerti dengan keadaanya, lagi di Dufan permainan bukan cuma satu. Aku juga paham Tim, aku nggak gila!" Fida menjawab dengan nada yang lebih keras.
Elvira yang mendengarkan kedua sepasang kekasihnya sedang berdebat masalah sepele, entah kenapa tiba-tiba mendoakan mereka akan bubar. Elvira berharap bisa bersatu kembali dengan Timo seperti dulu, Elvira pun langsung buru-buru mengenyahkan pikiran negatifnya itu.
"Pokoknya aku nggak boleh!"
"Mama sama papa kamu aja okeh-okeh aja tuh, mereka percaya sama aku. Aku masih waras, aku nggak mungkin kan mencelakakan adik kamu. Lagian kenapa sih mesalah kecil gini kamu ributin Tim, kamu kenapa sih sama aku?"
"Kamu yang kenapa?"
"Kok kamu malah balik nanya, sih?" tanya Fida kesal.
"Udahlah aku malas ribut sama kamu, aku jenuh Fid."
Fida paham sekali sepertinya omongan soal Dufan akan berbuntut panjang ke mana-mana. Ini bukan Timo yang suka mencari-cari masalah untuk ribut dengannya. Ada apa dengan Timo? Kenapa sikap jadi begini?
"Yaudah. Nggak usah mulai. Lagian ini di rumah orang tua kamu. Aku tetep bawa Devin ke Dufan."
"Fid?!" panggil Timo sedikit teriak.
Fida pergi meninggalkan Timo sendirian di halaman belakang rumahnya. Serius Fida tidak suka keribuatan seperti ini. Apalagi di rumah orang tua Timo.
Elvira yang sedari tadi menguping dari balik pintu pun setelah kepergian Fida. "Eh, Tim. Aku denger lagi ada keribuatan tadi di sini. Kamu sama Fida kenapa?"
Timo bukanlah tipe orang suka menceritakan masalah pribadinya, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Jadi, ia lebih memilih untuk mengatakan, "Biasa dalam hubungan memang suka ada sedikit bumbu berantem, tenang aja nanti kita baik lagi kok. Bukan masalah besar." Padahal tanpa Timo ketahui bahwa sahabatnya sedari tadi sudah menguping pembicaraan mereka.
"Oh gitu, kamu kalo ada apa-apa cerita aja ke aku ya." Elvira menawarkan diri.
"Oh yah kok kamu bisa ada di sini?"
"Aku tadi abis ke toilet terus nggak sengaja denger kalian lagi berdebat gitu sama Fida," Elvira berbohong. "Tenang aja aku nggak denger semua kok. Cuma yang tadi aja," entahlah Timo akan marah jika tahu kalau Elvira menguping sedari tadi.
"Oh, yaudah yuk. Kita makan kayanya mama sudah siapin makanan untuk kita." kata Timo. Timo merangkul pundak Elvira layaknya seorang teman. Tanpa sepengetahuan Timo bahwa perasaan Elvira malam ini berbunga-bunga.
***
Inti acara ulang tahun Timo pun di mulai. Mereka semua berkumpul di meja makan. Ditengah-tengah meja makan ada kue ulang tahun bergambar batman, karena Timo menyukai karakter hero batman. Aminah sudah memasak makanan yang cukup banyak; Fida sangat menyukai opor ayam buatan Aminah.
Sebelum acara makan-makan dimulai mereka pun terlebih dahulu menyanyikan lagu selamat ulang tahun, dan meniup lilin. Aminah meminta Timo untuk memotong kuenya, dan memberikan potongan kue pertama ke Fida.
Elvira yang melihat hal seperti pun langsung kesal; padahahl ia berharap kalau Timo yang akan memberikan kue ulang tahun untuknya. Karena sedari dulu memang selalu begitu. Akan tetapi, Elvira lupa kalau dahulu dan sekarang sudah berbeda.
"Sebelum kasih kuenya kamu buat make a wish dulu, Tim." pinta Aminah. Saat Timo memenjamkan mata sedang membuat permintaan Aminah memotret Timo.
Timo pun memberikan kue kepada Fida, dan tidak lupa menyuapi Fida. "Makasih Tim, selamat ulang tahun yah sayang. Panjang umur, sehat selalu, lancar rezekinya, dan selalu dalam lindungan Tuhan." Mereka berdua pun langsung berpelukan, dan mencium pipi kanan dan kiri.
Pada saat itu Aminah mengabadikan moment itu dengan memotretnya. Lalu untuk potongnan kue kedua diberikan kedapa Aminah, lalu Andreas, Devin, dan terakhir diberikan kepada Elvira.
"El, makasih yah sudah mau datang. Makasih juga udah balik lagi ke Indonesia, kirain bakal betah di Aussie terus nikah sama bule." ucap Timo sambil bercanda.
"Jangan ngomong kaya gitu, El." Timo memepringatan, "bagaimana kalu nggak dapat jodoh sama sekali? Omongan adalah doa, El."
"Nggak gitu konsepnya Tim, maksud aku jodohnya ama orang Indonesia." Jodohnya mungkin kamu, lanjut Elvira di dalam hatinya.
"Amin." kata Timo.
Aminah pun langsung meminta mereka untuk segera makan malam, sudah cukup waktunya mereka bersenda gura, kini saatnya mereka semua makan. Sementara itu Fida yang sedari tadi hanya diam saja berusaha memasang senyum palsu, supaya orang-orang yang berada di sini mengira ia baik-baik saja. Tapi, kenyataannya tidak ia rasanya ingin menjerit.
Timo yang memahami bahwa kekasihnya tidak dalam keadaan baik saja, pun berbisik ditelinganya. "Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Jadi, selesai acara ini. Kita selesain masalah kita."
Fida tidak menanggapi ia hanya berdehem, dan melanjutkan makan.Devin yang punay insting kuat bahwa kedua kakanya tidak sedang baik-baik saja. Kebetulan Devin duduk di sebelah Fida, "ka Fid, are okay?" tanaya Devin.
"I'm okay." Fida tersenyum sebisa mungkin supaya Devin tidak curiga dengannya. I ajuga tidak mau membuat anak kecil khawatir dengan keadannya. "Ayuk lanjut lagi yah makannya."
Malam itu pun berjalan dengan baik-baik samapai acara makan malam dihari ulang tahun Timo. Akan tetapi, setelah Timo mengantar Elvira. Fida dan Timo bertengkar hebat, tepatnya di depan rumah Fida.
***
"Kamu kenapa, Tim?" tanya Fida. "Kamu kok kaya sensi banget yah sama aku malam ini." Fida sudah sedari tadi mulutnya inin mengatakan hal ini. Tapi, masih ia tahan-tahan karena masih berada di rumah orang tua Timo.
"Perasan kamu aja, dah kamu masuk?"
"Hah perasaan doang? Kamu sensi sama aku karena kamu ngerasa nggak bebas bareng sama si Elvira, ya kan?"
"Kamu kenaa berprasangka buruk sama aku?!" Suara Timo meninggi. Timo tidak biasanya suranya meninggi, meskipun sedang kesal dengan Fioda sekali pun.
Fida bener-bener lelah dengan Timo, akhirnya ia mengleuarkan semua uneg-ungegnya. Malam ini di depan rumahnya. " Aku diam Tim, aku emang bodoh. Aku kemarin diem kamu karena aku marah. Kamu tahu kenapa aku amrah?! Aku marah karena, aku merasa dibohongi sama kamu. Kamu pergi ke rumah Elvira waktu itu kan? Kamu bilang meeting. Iya oke memang meetingnya benaran. Tapi, kamu bohojngi aku pergi ke rumah Elvira. Aku chat kamu juga bilangnya kamu di rumah. Ini pertama kalinya kamu bohongi aku. Dan, sama yang tadi."
"Memang harus yah aku bilang-bilang ke kamu kalo aku mau pergi sama Elvira?"
Fida benar-benar tidak menyangka kalau tanggapan dari Timo seperti itu. Benar-benar keterlauan yah. Fida pikri dengan ia menjelaskan semua ungeg-ungeg -nya Timo akan mejelaskan seusatu yang membuat armarah yang sedari tadi terpendam dari hatinya mereda. Ternyata Timo malah memancing emosinya.,
"Aku nggak habis pikir sama kamu,Tim. Aku kecewa banget sama kamu!" Fida menatap Timo dengan dengan air mata yang sedasri tadi terbendung di kedua kelopak matanya pun, akhirnya tumpah ruaah membasahi pipinya. "Kamu beneran udah nyakitin hati aku Tim!"
Respon yang diberikan Timo hanya, "kamu terlalu dibawa perasaaan Fid. Ini cuma masalah sepele lgagian aku jalan sama sahabat aku sendiri loh. Bukan cewek lainl."
WAH ENTENG BANGET! Begitulan yang dikatakan Fida di dalam hatinya, "UDAH TIM NGGAK USAH DIBAHAS!" Fida pun langsung masuk ke rumahnya. Ia malas jika harus berdebatan dengan Timo untuk sesuastu yang kekasih tidak mengerti, atau Timo sebenarnya mengerti. Tapi, pura-pura tidak mengerti.
Saat ia membuka pintu rumahnya, dibalik pintu sudah ada T ata. Fida tahu pasti Tata sudah mendengar pembicaraan dirinya dengan Timo sedari tadi.
Tata bertanya kepada kakanya dengan Nada khawatir, "Ka lo kenapa?"
Fida tidak menanggapi petanyaan adiknya ia langsung menlengos pergi meninggalkan Tata adiknya dengan pen uh pertanyaaan. Fida mungkin tidak mau cerita sekarang, bersok-beswok pasit akan cerita kepada adiknya itu.
Tata pun langsung mengunci pntu ruamhnya, Untuk beberapa hari Tata membiarkan kakanya untuk punay waktu sendiri. Tata tidak akan memasksa kakaknya untuk bicara, jika belum ingin bicaranya.