Dalam hidup kamu harus membuat pilihan dalam hal apapun. Termasuk dalam soal memilih untuk datang lebih pagi ke kantor atau terlambat. Dira pagi ini membuat pilihan datang ke kantor terlambat dikarenakan ia tidur terlalu malam karena habis maraton Drakor. Padahal dari malam pun Dira sudah diberi keputusan ingin tetap menonton drama Korea atau tidak. Kenyataan Dira memilih menonton Drakor sampai tengah malam, dan ia pun bangun kesiangan.
Ia terburu-buru jalan ke lift untuk naik lift. Kadang pilihan yang salah pun tidak selamanya membawa dampak buruk. Itulah yang dialami oleh Dira sekarang—saat pintu terbuka di sana ia menemukan sosok Shaka yang sedang berdiri dengan gagahnya, dengan rambutnya masih basah karena gel rambut. Dira tidak masuk ke dalam lift ia malah diam mematung memandangi maha karya Tuhan yang luar biasa ini.
"Mau masuk kagak woy?!" ucapan Shaka cukup membuat Dira terhentak kembali ke dunia nyata ia pun langsung bergegas masuk ke dalam lift.
"Hai Shaka?"
"Hai juga." kata Shaka.
Dira pikir Shaka tidak akan menjawabnya ternyata Shaka menjawab. "Lo dateng telat juga Shaka?"
Dira tahu kalau pertanyaan terlalu basa-basi sekali, ya tapi tidak apa-apa siapa tahu dari obrolan basa-basi ini menjadi obrolan yang panjang seperti jembatan Suramadu.
"Basi-basi banget pertanyaan lo."
Tiba-tiba di dalam lift terjadi guncangan yang cukup hebat. Lift pun berhenti di lantai dua itu berarti lift mati dan mereka berdua terjebak di dalam lift.
Mereka pun terlempar pada saat Lift berhenti bergerak posisi mereka yang tadinya berdiri kini berubah menjadi duduk. Dira mengaduh kesakitan; karena bongkongnya benar-benar sakit Dira menarik kata-katanya yang sebelumnya, bahwa datang pilihan salahnya tidak selamanya membaa dampak buruk. Dampak buruknya tidak lepas, meskipun ia terjebak berdua di dalam lift hanya bersama Shaka, dalam posisi lift mati. Ini taruhan nyawa; Dira sendiri pun ogah kalau harus meninggal dulu baru bisa bersama dengan Shaka. TERLALU TRAGIS DAN KEJAM.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Shaka dari nada suaranya Dira bisa menebak kalau Shaka sedang lkhawatir dengan dirinya. Shaka pun menekan terus berusaha menekan tombol berhenti supaya pintu lift tebuka untuk meminta bantuan. Suasana di dalam lift cukup gelap, dan pengap. “Lo tetap tenang ya.”
“Kalo gue meninggal di sini gimana?”
“Gue bilang tetap tenang ya jangan panik. Gue yakin bantuan nggak lama bakal dating kok.” Shaka berusaha membuat Dira untuk tenang.
Dira mencoba membuka ponselnya berharap ada sinyal, namun kenyataannya sinyal tidak ada. Ia ingin mengabari sahabatnya itu kalau ia terjebak di lift supaya Fida bisa melaporkannya, dan mereka pun bisa keluar dari lift.
Entah kenapa tiba-tiba saja Dira menangis karena ia benar-benar takut akan terjebak di sini lama. Shaka pun jadi bingung harus bagaimana untuk menenangkan Dira yang sedang ketakutan seperti itu.
Shaka pun mendekati Dira berusaha untuk bisa menenangkan Dira ia merangkul Dira dengan sangat erat berharap Dira akan baik-baik saja. Shaka mengusap bahu Dira sambil mengatakan. "Tenang ya.Tenang Lo kejebak di lift nggak sendiri ada gue di sini. Lo nggak perlu khawatir yah." ucap Shaka.
Dira pun langsung memeluk Shaka dengan posisi masih menangis. "Gue takut Shaka."
"Ada gue!"
Tiba-tiba dari luar terdengar suara seperti beberapa orang yang coba membuka pintu lift, dan Shaka yakin itu bala bantuan yang akan mengeluarkan mereka dari sini.
"Tuh kan gue bilang apa. Ada bantuan yang dateng untuk bantu kita. Jadi lo tenang aja ya." Shaka masih terus mengusap-usap pundak Dira supaya perempuan ini dapat tenang. Entahlah Shaka tidak bisa melihat perempuan menangis begitu saja.
Dari luar pintu lift sedang dibongkar oleh para petugas teknisi yang memang sudah disediakan oleh gedung wisma Sejahtera. "Ka, kita selamat kan ya?"
"Iya selamat Ka." kata Shaka.
Untuk bisa membuka pintu lift kira-kira membutuhkan waktu 1 jam lebih. Shaka dan Dira pun bisa bernafas lega. Saat pintu lift terbuka sudah banyak orang di depannya. Tubuh Dira yang berkeringat, dan lemas karena dehidrasi di mana di lift tidak ada udara yang masuk. Ini juga untuk pertama kalinya Shaka membopong Dira untuk bisa berjalan ke laur melewati kerumanan orang-orang yang menyaksikan lift yang tiba-tiba berhenti di lantai 2.
Fida yang melihat sahabatnya itu keluar dari lift dengan wajah pucat sedang dibopong oleh Shaka, ia pun langsung menghampiri Dira. "Dir, lo nggak apa-apa?"
"Fid, teman lo butuh air minum. Lo bawa ari minum nggak?"
"Kagak bawa gue, Ka."
"Yaudah lo bisa beli."