Fida benar-benar sudah kecewa dengan Timo yang tidak memperhatikan perasaannya sebagai seorang kekasih. Kali ini Fida menangkap lagi Timo sedang makan siang bersama di luar kantor, padahal pada saat itu Fida sempat mengajak Timo untuk keluar makan siang. Tapi, Timo menolaknya dengan alasan kerjaannya banyak. Padahal ia berbohong demi bisa makan siang bersama dengan Elvira.
"Lo ngeliatin apa sih?" tanya Dira yang baru selesai dari toilet lobi wisma Sejahtera.
"Nggak apa-apa."
"Serius?" tanya Dira meyakinkan karena tatapan Fida seperti orang yang sedang kesetanan.
Dira pun langsung mengajak Fida untuk ke kantin. Karena memang berniat untuk makan siang di kantor. Tadinya Fida hanya ingin makan berdua dengan Timo—Tapi Timo membatalkan janjinya untuk makan siang bersamanya demi makan bersama dengan Elvira.
Sampai di kantin mereka langsung memilih tempat duduk di dekat gerobak bakso karena siang ini mereka akan makan bakso.
Dira yang memasangkan bakso untuk Fida setelah memesannya Dira langsung kembali ke tempat. "Fid lo nggak apa-apa kan yah?"
"It's fine." Fida menarik nafas dalam-dalam ia tidak perlu memberitahu kepada siapapun bahwa hubungannya dengan Timo sedang tidak baik-baik saja. "Nggak tahu nih otak gue lagi ngeblank. Kurang liburan kayanya gue."
"Kalo itu mah gue juga kurang hiburan Dir."
"Iya nih."
Tidak lama kemudian bakso yang dipesan oleh mereka pun datang. Dira dan Fida mengucapkan terima kasih kepada Abang baksonya. "Gue punya ide nih." kata Dira.
"Ide apa?" Fida langsung menaruh sambal dan kecap dan baksonya.
"Gimana kalau kita traveling berdua aja. Mau nggak?" tanya Dira
"Ini Lo serius?"
Dira sendiri kesal dengan Fida; ajakannya kali ini seperti tidak meyakinkan. Cukup Shaka saja yang tidak yakin dengan perasaanya—Fida tidak perlu yang ada malah menjadi beban untuk dirinya.
"Lo nggak yakin sama gue?"
"Iya."
Dira menepuk jidatnya. "Cukup Shaka aja yang nggak yakin sama gue. Lo jangan deh."
"Hubungan lo sama Shaka gimana?"
Pertanyaan itu membuat Dira menunduk merasa kecewa; kenapa harus basa-basi mempertanyakan soal ini. Padahal yah Fida tahu jawabannya. Ini Fida sengaja atau bagaimana?
"Apa perlu ini gue jawab?"
Fida tertawa, "iya dong."
"Tapi, lo..."
Tiba-tiba Fida memegang tangan Dira sambil berkata, "lo sayang kan sama Shaka?"
"Nggak sayang sih, baru suka aja. Belum jatuh cinta juga, cuma suka aja. Untuk ke tahap sayang belum suka juga." kata Dira jawab sejujurnya dari hatinya yang paling dalam.
"Iya gue ralat. Lo suka banget sama Shaka?"
Dira menjentikan jarinya. "Nah ini pertanyaan yang benar." Dira mengetuk-ngetuk jarinya. "Iya suka banget Fid. Tapi, kayanya gue nggak yakin sama Shaka."
"Kok?" tanya Fida. Fida sejujurnya merasa bersalah dengan Dira karena sampai saat ini ia tdiak bisa membantu apa-apa untuk Dira. Ia sendiri pun bingung bagaiman caranya. Shaka terlalu banyak teka-tekinya. "Maaf yah," tiba-tiba kata maaf itu lolos dari bibirnya.
"Kenapa minta maaf?"
"Maaf gagal deketino sama Shaka."
Dira Sendiri bingung sebenarnya ini mau ke mana yah pembicaraannya. Tadi, kan Dira ingin mengutarakan keinginannya untuk bisa liburan bersama Fida hanya berdua, lalu pembicaraan di belokan menjadi persoalan ia dengan Shaka.
"Santai aja kali Fid, kayanya gue mau ikhlasin Shaka aja deh." Dira sebenarnya sudah lama ingin membicarakan ini kepada Fida. Tapi, kayanya ini waktu yang tepat untuk membicarakan ini.
"Kenapa begitu?" Fida menyeruput es teh manisnya.
"Gimana.." Dira berusaha mencari kata-kata yang pas. Supaya tidak terlihat salah. Atau terlihat ia sedang berpura-pura ikhlas. Akan tetapi, kali ini ia benar-benar yakin."Capek lo Dir, kita ngejar-ngejar orang yang nggak suka sama kita. Gue lebih baik ikhlasin aja jodoh nggak ke mana."
Fida menatap Dira dengan tatapan nanar, "Lo lagi nggak kesambet kan yah, Dir?"
"Setan mana yang mau masuk ke dalam tubuh gue?" tanya Dira lalu ia tertawa. Begitu pun dengan Fida yang ikut tertawa. "Udahlah yah kita omongin soal kita yang mau jalan-jalan cuma berdua. Jangan dibelokin lagi."