Rahasia besar yang diketahui oleh Fida tentang perasaan Elvira kepada kekasihnya. Di Bandung—Di Villa tempat mereka menginap selama di Bandung. Pada malam itu Fida yang tidak bisa tidur di kamarnya memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Samar-samar mendengar suara dua orang sedang mengobrol di halaman belakang Villa. Dira mengumpat di dalam semak-semak. Ia ingin tahu siapa orang yang berbicara. Obrolannya sepertinya sangat serius.
"Tim?"
Itu suara Elvira. Tadi Elvira memanggil apa? Tim? Timo maksudnya? Untuk apa mereka berdua mengobrol hanya berdua seperti sembunyi-sembunyi.
"Ya El? Ngapain lo ngajak ngomong di sini? Kesannya jadi kaya ngumpet-ngumpet gitu ya?" Benar itu suaranya Timo. Perasan Fida saat ini benar-benar tidak enak. Pikirannya mulai berpikir jauh tentang kekasihnya itu. Apakah Timo diam-diam masih ada perasaan dengan Elvira.
"Aku pengin ngomong ini lama sama kamu." kata Elvira. Elvira melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan Elvira. "Bahkan sejak aku di Aussie. Aku mau ngomong ini;."
Timo menoleh ke arah Elvira, "Emang soal apa El? Soal kita? Itu sudah selesai.. Aku udah nggak mau bahas soal itu. Aku sudah punya Fida," Timo berkata dengan tegas.
Di sini Fida jadi merasa bersalah pada dirinay sendiri; kenapa ia harus memikirkan hal itu? Dan, benar kan apa yang ia pikirkan selama ini terjadi. Bohong sekali kalau Elvira sudah tidak ada perasaan dengan Timo. Coba ingat-ingat lagi waktu mereka berdau di Dufan. Waktu Elvira membuat tantangan untuk naik histeria. Kalau yang kalah nanti jalan bersama dengasn Timo, harusnya Fida sadar sedari awal kalo Elvira mencari-cari kesempatan utnuk bisa bersama dengan Timo.
"Iya aku tahu Tim."
"Terus kenapa lo masih mau bahas, El?"
"Aku memangnya tidak boleh mengungkapkan apa yang aku rasa? Aku ungkapin ini tidak akan memaksa kamu untuk balik sama aku. Aku begini supaya perasaan aku lega aja, dan nggak terlalu mikiran kamu." kata Dira mencoba membela diri.
Alasan aja lo Elvira. Bilang aja lo mau cari kesempatan dalam kesempitan. Kata Fida pada dirinya sendiri dengan berbisik. Fida masih betah menguping obrolan mereka berdua meskipun nyamuk-nyamuk sudashn mulai mengerogoti kakinya. Ia masih menunggu tanggapan Timo.
"Yaudah kalau lo mau ungkapin, sekarang ungkapin. Supaya nggak ada yang ngeganjel. Kita selesaiin malam ini juga,dan setelah ini kita harus bahagia dengan pilihan masing-masing. Lo tahu nggak El?" Timo bertanya kepada Elvira, dan Elvira hanya mengeleng. Sepertinya ia memang tidak paham apa yang dimaksud oleh Timo. "Gue ini sayang banget sama Fida, dan gue udah berjanji sama diri sendiri kalau gue nggak bakal ngecewaiin dia"
Hati Fida benar-benar tersentuh mendengar kalimat terkakhir dari Timo, taidak menyangka bahwa kekasih sangat menjaga perasaannya, semoga saja selalu begitu. Sementara itu hati Elvira seperti ditusuk ribuan jarum. Ia bahkan hampir menyerah, dan berkata pada dirinya sendiri bahwa tidak ada jalan menuju Timo. Tapi, Elvira percaya ia pasti menemukan jalan itu.
"Timo, pertama aku mau minta maaf. Karena aku udah mutusin dengan cara yang klasik banget. Aku mutusin kamu cam karena aku nggak mau LDR-an, aku mau fokus kuliah. Padahal pada saat itu aku mengakui kalau aku hanya taktu, takut aku tersakiti, dan nggak percaya sama kamu." Elvira menundukan kepalanya. Mungin untuk yang ini Elvira benar-benar menyesal dengan apa yang pernah ia lakukan walaupun terlambat. "Padahla kamu bukan orang yang seperti itu. Aku mutusin kamu disaat kamu masih sayang sama aku, itu masih nggak mudah buat kamu untuk ngebuang perasaan sayang kamu ke aku. Pasti butuh waktu."
"Bagus El, kalau kamu menyadari hal itu." Timo memasukan tangannya ke dalam saku celana merubah posisi untuk berdiri sejajar berhadapan dengan Elvira. "Untungnya aku adalah orang yang nggak gampang ngeluh, apalagi menyerah. Aku butuh waktu satu tahun untuk bisa ngelupaiin kamu. Butuh satu tahun juga aku untuk bisa mengakui kalau aku jatuh cinta dengan Fida, kalau aku sayang sama dia, dan aku udah yakin bahwa perasaan aku udah habis untuk kamu." Kemudian Timo memegang kedua bahu Elvira. "El, aku bilang ke kamu ya. Kamu nggak perlu berharap apa-apa lagi ke aku. Karena memang perasaan ke kamu itu udah nggak ada. Tapi, kamu tenang aja persaan sayang ke kamu sebagai seorang sahabat tetap ada."
Fida sudah tidak mempedulikan lagi soal perasaan Timo kepada Elvira. Sudah jelas dari penjelasan Timo bahwa ia tidak memiliki perasaan apa-apa lagi untuk Elvira. Yang menjadi pertanyaan Fida adalah Timo kenapa bicaranya dari 'gue-lo' jadi 'aku-kamu'.
Fida memukul-mukul kepalanya, lo ngapain si mikirkan hal-hal yang remeh sih. Udah terpampang jelas kalau perasaan Timo cuma buat lo. Fida pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perasan yang lega. Sebaiknya memang kembali ke kemar lebih cepat, daripada ketahuan.
Setelah Fida kembali ke kamar Fida tidak menyadari kalau Elvira meminta satu permintaan yang kalau Fida melihatnya sekarang pasti perasaan langsung memanas, "Timo boleh aku meluk kamu? Sebagai tanda rasa terima kasihku, karena kamu sudah mau memaafkan aku."
"Sure." Timo merentangkan tangannya.
Elvira pun langsung memeluk Timo, dan tentu saja Timo membalas pelukan Elvira. Elvira berdoa pada malam itu kalau ia masih ingin bersama terus bersama dengan Timo. Ia masih amat sangat menyayangi Timo lebih dari seorang sahabat. Timo laki-laki baik, Timo adalah laki-laki yang selama ini ia cari, dan ia tidak akan menemukan sosok seperti Timo pada laki-laki mana pun.
***
Pagi-pagi sekali mereka berkumpul di dapur untuk sarapan, dan yang kebagian masak adalah Adit. Adit pun walaupun suka ngeselin ia kalau masak jagonya. Makanan Adit lumayan enak, dan Shaka musuh bebuyutannya mengakui kalau masakan Adit.
"Masa apa Adit?" tanya Shaka yang baru bangun belum sikat Gigi, dan belum mandi ia menguap di depan Adit.
Adit protes, "mulut lo bau naga mandi Sono lu, sikat gigi yang bersih."
"Iya iya, lebay lo. Kaya mulut lo nggak pernah bau naga aja."
Shaka pun berjalan ke kamar mandi. Di meja makan sudah ada Timo dan Fida. Fida sedang mengupas buah untuk Timo, saling suap-suapan. Sampai Adit sedikit protes. "Duh yah kalian berdua udah kaya dunia milik sendiri gitu. Gue dianggap cuma sekadar bayangan. Sedih banget dah gue."
Nasi goreng pun jadi Adit menyajikannya di piring, sambil menyajikan sambil mulutnya mendongeng. "Widih serasa gue nge-kost di sini lihat lo berdua."
"Lebay banget lo Dit, makanya cari pacar."
Tiba-tiba munculah Shaka dari kamar mandi entah itu orang mandi atau tidak, atau hanya sekadar mandi bebek. "Mana ada yang mau sama lo."
Adit memperhatikan Shaka; Adit bisa menebak kalau Shaka tidak mandi alias cuma cuci muka sama gosok gigi saja. "Lo kagak mandi ya?"
"Apa urusannya sama lo?" tanya Shaka. Shaka langsung mengambil piring, dan menyendok nasi goreng piringnya. Lalu melahap. Ketiga temannya menatap Shaka dengan tatapan. "Apa sih lo, bagus kali yah begitu."
"Ka, gimana rasanya makan nasi goreng campur jigong lo?" tanya Fida.
"Enak kaya keju."
"Idih." Adit bergidik geli, lalu ia juga mengambil piring.
"Yang masak bisa lapar juga ya?" kata Timo.