Fida sejujurnya belum siap untuk bertemu dengan orang tua kekasihnya. Akan tetapi, ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan kedua orang tua Timo. Mereka sudah menjalani hubungan selama satu tahun; aneh saja kalau belum mengenal kedua orang tuanya. "Fid, ikut aku yuk?" ajak Timo. Hari ini Timo sedang berada di ruma Fida tempat berada di ruang tengah keluarga. Timo sedang mempersiapkan presentasi untuk meeting di kantornya minggu depan, sementara itu Fida sedang fokus mengerjakan tugas kuliahnya. "Ikut ke mana?" Fida mencomot kripik kentang di depannya. "Jangan sekarang aku lagi banyak tugas nih." "Iya aku tau nggak sekarang. Aku juga lagi sibuk. Sabtu ini yuk? Ke mall cari baju buat kamu." kata Timo pandangannya tetap lurus ke monitor laptopnya. Fida tidak langsung menanggapi ucapannya dari Timo. Ngapain beli baju buat gue? Kaya gue nggak ada baju aja. "Buat apa baju?" "Buat ketemu sama mama papa aku." jawab Timo santai. Nggak salah nih? Dia ngajak gue ke mall buat beli baju. "Nggak perlu Tim, aku banyak kok baju." Tiba-tiba Tata yang kebetulan melewati ruang tengah, sambil membawa sebotol air mineral dari daput ditangannya dan ia mendengar pembicaraan kakaknya dan kekasihnya itu. "Iya aja ka. Dibeliin tuh bajunya sama ka Timo. Kalo gue punya pacar kaya gitu, gue mau langsung yuk ah gas." Fida langsung melototi adiknya itu, memberikan isyarat melalui matanya untuk kembali ke kamar dan jangan ikut campur. Tata pun langsung menjulurkan lidah ke kakanya, lalau berlari ke kamarnya. "Nggak usah, bajuku banyak kok." kata Fida menolak dengan halus. Fida tahu kalau Timo bisa membelikan apapun yang ia mau, tapi kalau bisa beli sendiri kenapa harus dibelikan. Timo yang sedari tadi hanya fokus pada monitor laptopnya pun langsung menatap kekasihnya. "Please!" ia memohon pada Fida, "anggap aja sebagai tanda terima kasih aku ke kamu. Kemarin sudah bibuatkan kejutan." "Aku nggak mau." Fida tetap kekeh dengan pendiriannya tidak mau menerima hadiah dari Timo. Timo merasa kecewa, dan ia tidak menyerah tetap membujuk Fida. "Ayoklah Fid, terima hadiah dari aku, mau yah cantik?" Timo jarang-jarang bilang cantik sama gue, please semoga pipi gue nggak merah. Fida langsung memegang pipinya takut tiba-tiba memerah, "kamu jujur bilang aku cantik?" Menurut Timo ini adalah pertanyaan jebakan, dia harus hati-hati dalam menjawabnya. "Jujur dong, kalo kamu nggak cantik nggak mungkinlah kamu aku pacarin." Timo berdoa dalam hatinya semoga kali ini jawabannya adalah benar. Tettt!! Sangat disayangkan pemirsa jawaban Timo adalah salah. "Jadi, kalo aku jelek kamu nggak bakal pacarin aku gitu?" tanya Fida penuh selidik. "Nggak bukan gitu maksudku, yah kamu kan pacar aku pasti cantik." kata Timo sedikit gelagapan. Fida tahu apa yang dimaksud dengan Timo, ia hanya senang saja melihat kekasihnya merasa beralah dengan jawabannya, "iya ya dah percaya." "Jadi gimana?" tanya Timo masih belum menyerah membujuk Fida untuk membeli baju, yang akan dipakai utnuk bertemu dengan orang tuanya. Melihat Timo memohon seperti itu, membuat Fida merasa kasihan, "iya aku mau, kapan mau belinya?" "Besok setelah pulang kantor." kata Timo. "Oke." Akhirnya Timo berhasil membujuk kekasihnya, dan wajah langsung sumringah penuh kemenangan. Semoga acara pertemuannay nanti dengan orang tuanya berjalan lancar. *** Timo dan Fida pun akhirnya pergi ke mall berdua untuk membeli baju yang akan dipakai pada saat pertemuan Fida dengan orang tua Timo. Mereka pun berangkat ke mall yang tidak jauh dari rumah. Seperti biasa Timo menjemput Fida di rumahnya dengan mobil. Sementara itu Fida yang sudah rapih mengintip dahul dari jendela untuk melihat Timo yang datang, dan sedang memarkirkan motornya di halaman depan rumah Fida. Fida agaka kecewe karena Timo datang dengan membawa mobil. Timo sendiri tahu kalau Fida itu setiap kali naik mobil pasti mabuk perjalanan. Fida keluar rumah dengan memasang tampang cemberut. Timo keluar dari mobilnya menghampiri Fida, dan ingin memeluk Fida. Akann tetapi, ditolak oleh Fida. "Ih kamu apaan sih Tim, kok kamu bawa Mobil bukan motor aja." Fida bisa melihat wajah Timo tidak merasa bersalah. Karena Timo berniat baik supaya Fida tidak kepanasan. Ya, Timo tahu kalau kekasihnya itu tidak suka naik mobil. Tapi, Timo ingin kekasihnya itu terbiasa naik mobil. "Yah nggak apa-apa dong, Fid. Biar kamu terbiasa." Jelas Timo. Fida tidak menanggapi kekasihnya itu, dia langsung masuk ke dalam mobil Timo menutuppintinya dengan membantingnya cukup keras. Timo tersenyum penuh kemenangan karena kekasihnya itu pun menurut untuk naik mobil. Walaupun nanti semisalnya Fida mabuk perjalanan, Timo siap kok membersihkan muntahan Fida.Timo pun langsung duduk di kursi kemudi, menyalahkan mesin mobil memilhat Fida yang masih saja cemberut. "Kenapa pacar aku cemberut gitu?" Rasanya Fida ingin berteriak di depan wajah Timo; kenapa ia malah bertanya Fida cemberut Kita karena Timo yang membawa mobil padahal ia sendiri tahu kalau pacar ini tidak bisa mencium hawa mobil, karena Fida pasti akan muntah-muntah. "Pake nanya lagi, udah kaya kuis aja." kata Fida. Timo melajukan mobilnya suara decitan basn besentuhan degan aspal terdengar. Jalanan ibu kota meskipun weeekend terkadang masih saja macet. Percaya untuk orang yang suka mabuk perjalanan pasti kalau macet malam tambah mabuk. Fida mengerutu kesal, "tuh kan jadi macet, aku bilang juga apa. Ya kan? Aku jadi tambah pusing nih. Tanda-tanda bakal muntah." Timo langsung bergegas mengambil kantong kresek yang di taruh di databsboard. Rupanya Timo sudah menyiapkan segalanya bahwa kekasihnya itu pasti akan mengalami mabuk perjalanan. "Ini aku kasih kamu kantong plastik silahkan kalo mau muntah." Entahlah mungkin jika orang lain melihat Timo seperti itu akan menilai Timo sebagai orang yang tega karena memaksakan kehendak diri sendiri. Timo tidak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin kekasih itu terbiasa jika dibawa naik mobil. Timo jadi membayangkan bagaimana kalau nanti mereka sudah punya anak, lalu anak mereka ingin naik mobil. Masa Timo harus tega membiarkan Fida, naik ojek seorang diri. Akhirnya Fida pun benar-benar muntah, lipstik dibibirnya pun luntur. Fida meminta kepada Timo kalau sudah keluar dari kemacetan yang gila ini. Fida ingin pindah duduk dibelakang karena ingin merebahkan diri supaya rasa mual, dan pusingnya hilang meskipun tidak menjamin benar-benar hilang. Timo pun langsung memberikan freshcare kepada Fida, supaya sakit kepala kekasihnya itu mereda, karena biar bagaimanapun Timo khawatir dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya. Sudah sekitar sentegah jam mobil Timo tidak bergerak sama sekali, pelan-pelan mulai bergerak. Saat berjalan kira-kira seratus meter Timo menemukan sebuah mini market, ia pun memakirkan mobil di mini market tersebut. Setelah Timo selesai memakirkan mobilnya Fida langsung keluar mobil masuk ke dalam mini market meminta izin untuk pinjam toilet. Rasanya saat ini Fida ingin memuntahkan semua isinya benar-benar yah rasanya Fida ingin marah sama Timo. Tapi, kalau marah nanti kalau ada apa-apa dengannya gimana. Fida takut saja kalau Timo kesal di tinggalin di jalan kan tidak lucu. Timo pun berinisiatif membeli minuman the angat, dan juga antimo untuk diminum oleh Fida. Supaya kekasihnya itu menjadi lebih baik. Fida tidak memperhatikan kalau Timo tidak ada di mobilnya. Saat membuka pintu belakang mobil Timo, ia heran kenapa kok ini tidak bisa dibuka. Saat Fida melihat ke dalam mobil ternyata kosong tidak ada orang. Cuaca hari ini cukup membuat mata Fida menyepit, sangking kepanasannya. Fida sedikit mengerutu karena Timo, pergi tidak bilang-bilang. Sekitar dua puluh menitan Fida menunggu Timo. Fida melihat Timo keluar dari mini market dengan membawa roti, dan juga teh hangat berada di dalam gelas plastik. "Sorry lama munggu yah, Fid. Tadi aku beiin ini buat kamu. Biar kamu nggak merasa mual, dan lebih baik." Timo menyerahkan roti dan teh hangat kepada Fida, dan Fida langsung menerimanya tanpa berkata apa-apa. Timo langsung membuka pintu mobilnya, supaya kekasih bisa segera masuk dan erebahan di dalma mobil. Karena jarak mall cukup jauh dari rumah Fida. Fida juga heran kenapa Timo mau membawanya ke mall yang jauh pakai mobil lagi. Padahal Fid atidak tahu saja kalau Timo, ingin banyak menghabiskan waktu bersama Fida. Entahlah Timo merasa semakin hari, ia semakin mencintai kekasihnya itu. Timo berjanji pada dirinya sendirinya untuk tidak menyakiti Fida apapun yang terjadi. Timo menengok ke jok bekalkang untuk melihat keadaan kekasihnya, Fida langsung meminum teh panas. Akan tetapi, tidak dengan rotinya. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek AFida sejujurnya belum siap untuk bertemu dengan orang tua kekasihnya. Akan tetapi, ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan kedua orang tua Timo. Mereka sudah menjalani hubungan selama satu tahun; aneh saja kalau belum mengenal kedua orang tuanya. "Fid, ikut aku yuk?" ajak Timo. Hari ini Timo sedang berada di ruma Fida tempat berada di ruang tengah keluarga. Timo sedang mempersiapkan presentasi untuk meeting di kantornya minggu depan, sementara itu Fida sedang fokus mengerjakan tugas kuliahnya. "Ikut ke mana?" Fida mencomot kripik kentang di depannya. "Jangan sekarang aku lagi banyak tugas nih." "Iya aku tau nggak sekarang. Aku juga lagi sibuk. Sabtu ini yuk? Ke mall cari baju buat kamu." kata Timo pandangannya tetap lurus ke monitor laptopnya. Fida tidak langsung menanggapi ucapannya dari Timo. Ngapain beli baju buat gue? Kaya gue nggak ada baju aja. "Buat apa baju?" "Buat ketemu sama mama papa aku." jawab Timo santai. Nggak salah nih? Dia ngajak gue ke mall buat beli baju. "Nggak perlu Tim, aku banyak kok baju." Tiba-tiba Tata yang kebetulan melewati ruang tengah, sambil membawa sebotol air mineral dari daput ditangannya dan ia mendengar pembicaraan kakaknya dan kekasihnya itu. "Iya aja ka. Dibeliin tuh bajunya sama ka Timo. Kalo gue punya pacar kaya gitu, gue mau langsung yuk ah gas." Fida langsung melototi adiknya itu, memberikan isyarat melalui matanya untuk kembali ke kamar dan jangan ikut campur. Tata pun langsung menjulurkan lidah ke kakanya, lalau berlari ke kamarnya. "Nggak usah, bajuku banyak kok." kata Fida menolak dengan halus. Fida tahu kalau Timo bisa membelikan apapun yang ia mau, tapi kalau bisa beli sendiri kenapa harus dibelikan. Timo yang sedari tadi hanya fokus pada monitor laptopnya pun langsung menatap kekasihnya. "Please!" ia memohon pada Fida, "anggap aja sebagai tanda terima kasih aku ke kamu. Kemarin sudah bibuatkan kejutan." "Aku nggak mau." Fida tetap kekeh dengan pendiriannya tidak mau menerima hadiah dari Timo. Timo merasa kecewa, dan ia tidak menyerah tetap membujuk Fida. "Ayoklah Fid, terima hadiah dari aku, mau yah cantik?" Timo jarang-jarang bilang cantik sama gue, please semoga pipi gue nggak merah. Fida langsung memegang pipinya takut tiba-tiba memerah, "kamu jujur bilang aku cantik?" Menurut Timo ini adalah pertanyaan jebakan, dia harus hati-hati dalam menjawabnya. "Jujur dong, kalo kamu nggak cantik nggak mungkinlah kamu aku pacarin." Timo berdoa dalam hatinya semoga kali ini jawabannya adalah benar. Tettt!! Sangat disayangkan pemirsa jawaban Timo adalah salah. "Jadi, kalo aku jelek kamu nggak bakal pacarin aku gitu?" tanya Fida penuh selidik. "Nggak bukan gitu maksudku, yah kamu kan pacar aku pasti cantik." kata Timo sedikit gelagapan. Fida tahu apa yang dimaksud dengan Timo, ia hanya senang saja melihat kekasihnya merasa beralah dengan jawabannya, "iya ya dah percaya." "Jadi gimana?" tanya Timo masih belum menyerah membujuk Fida untuk membeli baju, yang akan dipakai utnuk bertemu dengan orang tuanya. Melihat Timo memohon seperti itu, membuat Fida merasa kasihan, "iya aku mau, kapan mau belinya?" "Besok setelah pulang kantor." kata Timo. "Oke." Akhirnya Timo berhasil membujuk kekasihnya, dan wajah langsung sumringah penuh kemenangan. Semoga acara pertemuannay nanti dengan orang tuanya berjalan lancar. *** Timo dan Fida pun akhirnya pergi ke mall berdua untuk membeli baju yang akan dipakai pada saat pertemuan Fida dengan orang tua Timo. Mereka pun berangkat ke mall yang tidak jauh dari rumah. Seperti biasa Timo menjemput Fida di rumahnya dengan mobil. Sementara itu Fida yang sudah rapih mengintip dahul dari jendela untuk melihat Timo yang datang, dan sedang memarkirkan motornya di halaman depan rumah Fida. Fida agaka kecewe karena Timo datang dengan membawa mobil. Timo sendiri tahu kalau Fida itu setiap kali naik mobil pasti mabuk perjalanan. Fida keluar rumah dengan memasang tampang cemberut. Timo keluar dari mobilnya menghampiri Fida, dan ingin memeluk Fida. Akann tetapi, ditolak oleh Fida. "Ih kamu apaan sih Tim, kok kamu bawa Mobil bukan motor aja." Fida bisa melihat wajah Timo tidak merasa bersalah. Karena Timo berniat baik supaya Fida tidak kepanasan. Ya, Timo tahu kalau kekasihnya itu tidak suka naik mobil. Tapi, Timo ingin kekasihnya itu terbiasa naik mobil. "Yah nggak apa-apa dong, Fid. Biar kamu terbiasa." Jelas Timo. Fida tidak menanggapi kekasihnya itu, dia langsung masuk ke dalam mobil Timo menutuppintinya dengan membantingnya cukup keras. Timo tersenyum penuh kemenangan karena kekasihnya itu pun menurut untuk naik mobil. Walaupun nanti semisalnya Fida mabuk perjalanan, Timo siap kok membersihkan muntahan Fida.Timo pun langsung duduk di kursi kemudi, menyalahkan mesin mobil memilhat Fida yang masih saja cemberut. "Kenapa pacar aku cemberut gitu?" Rasanya Fida ingin berteriak di depan wajah Timo; kenapa ia malah bertanya Fida cemberut Kita karena Timo yang membawa mobil padahal ia sendiri tahu kalau pacar ini tidak bisa mencium hawa mobil, karena Fida pasti akan muntah-muntah. "Pake nanya lagi, udah kaya kuis aja." kata Fida. Timo melajukan mobilnya suara decitan basn besentuhan degan aspal terdengar. Jalanan ibu kota meskipun weeekend terkadang masih saja macet. Percaya untuk orang yang suka mabuk perjalanan pasti kalau macet malam tambah mabuk. Fida mengerutu kesal, "tuh kan jadi macet, aku bilang juga apa. Ya kan? Aku jadi tambah pusing nih. Tanda-tanda bakal muntah." Timo langsung bergegas mengambil kantong kresek yang di taruh di databsboard. Rupanya Timo sudah menyiapkan segalanya bahwa kekasihnya itu pasti akan mengalami mabuk perjalanan. "Ini aku kasih kamu kantong plastik silahkan kalo mau muntah." Entahlah mungkin jika orang lain melihat Timo seperti itu akan menilai Timo sebagai orang yang tega karena memaksakan kehendak diri sendiri. Timo tidak bermaksud seperti itu, ia hanya ingin kekasih itu terbiasa jika dibawa naik mobil. Timo jadi membayangkan bagaimana kalau nanti mereka sudah punya anak, lalu anak mereka ingin naik mobil. Masa Timo harus tega membiarkan Fida, naik ojek seorang diri. Akhirnya Fida pun benar-benar muntah, lipstik dibibirnya pun luntur. Fida meminta kepada Timo kalau sudah keluar dari kemacetan yang gila ini. Fida ingin pindah duduk dibelakang karena ingin merebahkan diri supaya rasa mual, dan pusingnya hilang meskipun tidak menjamin benar-benar hilang. Timo pun langsung memberikan freshcare kepada Fida, supaya sakit kepala kekasihnya itu mereda, karena biar bagaimanapun Timo khawatir dengan apa yang terjadi dengan kekasihnya. Sudah sekitar sentegah jam mobil Timo tidak bergerak sama sekali, pelan-pelan mulai bergerak. Saat berjalan kira-kira seratus meter Timo menemukan sebuah mini market, ia pun memakirkan mobil di mini market tersebut. Setelah Timo selesai memakirkan mobilnya Fida langsung keluar mobil masuk ke dalam mini market meminta izin untuk pinjam toilet. Rasanya saat ini Fida ingin memuntahkan semua isinya benar-benar yah rasanya Fida ingin marah sama Timo. Tapi, kalau marah nanti kalau ada apa-apa dengannya gimana. Fida takut saja kalau Timo kesal di tinggalin di jalan kan tidak lucu. Timo pun berinisiatif membeli minuman the angat, dan juga antimo untuk diminum oleh Fida. Supaya kekasihnya itu menjadi lebih baik. Fida tidak memperhatikan kalau Timo tidak ada di mobilnya. Saat membuka pintu belakang mobil Timo, ia heran kenapa kok ini tidak bisa dibuka. Saat Fida melihat ke dalam mobil ternyata kosong tidak ada orang. Cuaca hari ini cukup membuat mata Fida menyepit, sangking kepanasannya. Fida sedikit mengerutu karena Timo, pergi tidak bilang-bilang. Sekitar dua puluh menitan Fida menunggu Timo. Fida melihat Timo keluar dari mini market dengan membawa roti, dan juga teh hangat berada di dalam gelas plastik. "Sorry lama munggu yah, Fid. Tadi aku beiin ini buat kamu. Biar kamu nggak merasa mual, dan lebih baik." Timo menyerahkan roti dan teh hangat kepada Fida, dan Fida langsung menerimanya tanpa berkata apa-apa. Timo langsung membuka pintu mobilnya, supaya kekasih bisa segera masuk dan erebahan di dalma mobil. Karena jarak mall cukup jauh dari rumah Fida. Fida juga heran kenapa Timo mau membawanya ke mall yang jauh pakai mobil lagi. Padahal Fid atidak tahu saja kalau Timo, ingin banyak menghabiskan waktu bersama Fida. Entahlah Timo merasa semakin hari, ia semakin mencintai kekasihnya itu. Timo berjanji pada dirinya sendirinya untuk tidak menyakiti Fida apapun yang terjadi. Timo menengok ke jok bekalkang untuk melihat keadaan kekasihnya, Fida langsung meminum teh panas. Akan tetapi, tidak dengan rotinya. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi membayangkan bagiamana efek kemoterapi yang sakitnya luar biasa. Devin baru saja tertidur setelah muntah-muntah hebat, itu karena diberi obat bius oleh dokternya setelah adik satu-satunya Timo itu meminum obat. "Adik kamu kuat yah, Tim." kata Fida. Pada saat itu Fida belum bertemu dengan orang tua Devin, papa mamanya harus pergi ke Hongkong karena ada bisnis trip yang memang harus dihadiri oleh mereka. Jadi, kemotrapi kali ini Devin hanay ditemanin oleh Timo kakaknya. Saat Fida memasuki ruangan Devin, entah kenapa Fida langsung berkaca-kaca. Anak sekecil Devin harus menanggung sakit yang luar biasa. Tubuhnya harus dipasang selang infus di mana-mana, belum lagi me