Bila menatap pria di depannya dengan tubuh bergetar. Kepalan tangannya sudah basah karena takut. Untuk apa lagi pria ini muncul?
Hari ini memang weekend. Bila tidak pergi kemana-mana lagi setelah tadi bersama Rena menghabiskan pagi dengan curhat berbagai topik. Dari hal serius hingga hal-hal konyol yang membuat keduanya tertawa. Sedangkan Jac, dia sedang ada urusan ke Singapura. Bisnis.
Bukan tidak sopan, tapi Bila menahan pria itu di teras rumahnya saja. Tidak membawanya masuk. Kalau dia memang ingin menyampaikan sesuatu seperti yang dia katakan sebelumnya saat Bila menanyakan maksud kedatangannya, cukup mengatakannya di tempat ini. Tidak ada bedanya dengan di dalam rumah.
Pria itu duduk di kursi yang memang ada di teras. Tidak berniat memaksa Bila. "Aku minta maaf, Bil," sahutnya pelan setelah terdiam mengamati wajah takut Bila padanya. Ferdi menyadari kesalahannya terakhir kali. Dan kali ini dia memang berniat datang khusus untuk meminta maaf. Berharap kali ini dia mendapatkannya.
"Buat?"
"Buat semuanya. Aku minta maaf buat semuanya, Bil. Aku sudah banyak menyakiti kamu. Aku tidak bermaksud sama sekali. Semuanya di luar dugaanku, Bil. Aku mohon maafin aku."
"Aku udah maafin. Kamu pulang saja, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku."
"Tapi aku mencintaimu, Bil. Aku yakin kamu juga masih mencintaiku. Aku ini cinta pertama kamu, tidak mungkin kamu bisa melupakannya begitu saja."
Bila mengumpulkan semua keberaniannya menatap pria di sebelahnya. "Jangan terlalu pede. Aku sudah melupakan semuanya tentangmu. Sekarang kamu tidak lebih dari seorang pria yang baru saja muncul di hidupku, pria yang baru aku kenal. Bukan, aku tidak kenal denganmu, aku tidak tau apa-apa tentangmu," desis Bila tajam. "Sekarang kamu boleh pergi dari rumahku, aku tidak menerima tamu sepertimu di rumahku," usir Bila.
"Bil, aku akan menjelaskan semuanya. Semuanya, sesuai keinginan kamu. Ak-"
"Aku tidak butuh," potong Bila.
"Aku masih mencintaimu, Bila. Aku sangat mencintaimu."
"Bulshit!" Bila bangkit dari duduknya, masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan teriakan Ferdi. Biar saja tetangga Bila memelototinya dan membuatnya malu sendiri. Bila tidak ingin bertemu pria itu lagi. Tidak ingin mendengar kata-katanya lagi. Kata maaf yang diucapkannya tadi juga bulshit. Itu hanya alasan saja. Di balik itu dia hanya ingin menghasut Bila lagi.
Masuk ke dalam kamarnya, memakai earphone dan memasang musik keras. Menutupi semua teriakan Ferdi dari luar sana.
"Hai, kamu apa kabar di sana? Aku sangat merindukanmu. Kalau saja kamu mau ikut denganku, aku tidak akan semenderita ini." Pesan dari Jac mampu mengembalikan jiwa Bila.
"Aku baik-baik saja. Jangan mencoba menghasutku. Aku tidak ada kepentingan untuk ikut serta dalam perjalanan bisnismu. Salah sendiri menjadi orang penting."
Di belahan bumi lain di kejauhan sana Jac tersenyum. Gadisnya ini selalu bisa membuatnya merasa menjadi orang paling bahagia di planet ini.
"Aahhh, baru dua hari rasanya sudah seperti setahun. Aku sangat merindukanmu. Aku akan kembali secepatnya. Dan awas saja kamu kalau sampai bertemu dengan pria lain. Aku tidak akan mengampunimu begitu saja."
"Apa yang akan kamu lakukan jika begitu?" Bila mulai menggoda. Sebenarnya dia juga merindukan pria tampannya.
"Aku akan mengurungmu di dalam sakuku. Kamu akan ikut denganku kemana saja, termasuk ke toilet sekalipun, dan tidak akan ada pria lain yang bisa menemukanmu. Hanya aku seorang. Bagaimana? Kamu tidak berniat melakukannya kan?"
"Hm, mumpung kamu tidak tau, aku akan mencuri waktu bersenang-senang dengan mereka. Kalau memang kamu akan menghukumku, setidaknya aku sudah merasakan bagaimana rasanya bersenang-senang dengan pria-pria tampan itu."
"Jangan membuatku kembali kesana saat ini juga dan menelanmu bulat-bulat."
"Sepertinya terdengar seru. Aku juga ingin merasakan bagaimana ditelan olehmu. Mungkin akan jadi pengalaman terbaik."
"Hei, aku sudah bilang jangan menggodaku. Kamu tidak tau, dengan membaca pesanmu yang seperti itu saja mampu membangunkan yang sedang tidur tenang. Kamu memasang perangkap untuk dirimu sendiri, nona."
"Memangnya apa yang salah dengan pesanku, Mr. Benedict?"
Tidak sabar mengetik pesan lagi, Jac memutuskan untuk menelepon saja. "Kamu tidak tau? Jangan berpura-pura bodoh, miss Squeryll. Kamu sepertinya benar-benar sedang menggodaku. Apa kamu juga merindukanku seperti yang aku lakukan?" Jac langsung menyerocos saat panggilan itu diangkat oleh Bila.
"Jangan terlalu berharap, Mr. Benedict. Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku akan menikmati waktuku tanpa kamu. Itu benar-benar menyenangkan." Meski mencoba biasa saja, namun suara Bila terdengar bergetar. Seperti sedang ketakutan, dan Jac menyadarinya.
"Hei, ada apa denganmu? Kenapa suaramu seperti itu, ada yang mengganggumu?" selidik Jac. Kekhawatirannya tak bisa disembunyikan. Ia merasa Bila menggodanya tadi adalah isyarat agar dia pulang secepatnya. Apa yang terjadi pada Bila? Batinnya berkecamuk tidak tenang.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Jangan coba-coba membodohiku, Bil. Suara kamu dengan jelas memberitauku. Katakan ada apa denganmu!" Jac semakin tidak bisa mengendalikan dirinya, membayangkan seseorang datang mengusik Bila. Tapi Jac menahan emosinya untuk tidak menaikkan nadanya pada Bila. Bisa-bisa Bila akan semakin ketakutan.
"Tapi kamu janji jangan meninggalkan pekerjaanmu hanya karena ini. Bukan hal yang serius. Aku saja yang terlalu terbawa hati." Terdengar geraman dari seberang sana. "Tadi Ferdi menemuiku lagi. Dia memanfaatkan alasan meminta maaf untuk mencari kesempatan lagi."
Tidak ada balasan dari Jac. Hanya terdengar geraman kebencian dari ujung sana. "Jac, kamu mendengarku kan?"
"Iya, aku dengar, sayang. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku tidak peduli dengan apa yang dia katakan. Jiwa dan ragaku kini hanya untuk kamu. Kamu segeralah selesaikan pekerjaanmu di sana, dan jangan coba-coba untuk kembali jika belum terselesaikan. Aku tidak mau menjadi perusak perusahaanmu hanya karena masalah sepele."
"I love you, Bil. I'll be back soon."
"I love you too. I'm waiting for you."
Jac memaksa menyelesaikan pekerjaannya siang ini juga. Meminta asistennya bekerja ekstra dan memesan tiket pulang sore ini juga. Pikirannya tak bisa tenang membayangkan Bila sendirian, harus menghadapi laki-laki yang pernah terikat hubungan asmara dengan Bila. Laki-laki itu bisa saja muncul lagi dan lagi, mengingat niatnya bukan hanya ingin meminta maaf, tapi mengambil kembali Bila menjadi miliknya. Dan sepertinya dia bukan laki-laki yang akan menyerah dengan mudah.
***
Suara ketukan di pintu terdengar lagi oleh Bila entah setelah berapa lama dia tertidur sehabis menikmati makan siangnya. Perasaannya menjadi was-was. Siapa lagi yang muncul di rumahnya? Bagaimana kalau Ferdi lagi?
Bila mencoba mengabaikannya saja. Tapi ketukan itu terdengar semakin keras. Terdengar pula suara dari tetangga yang menyatakan kalau Bila memang sedang ada di rumah. Suara wanita, tetanggal Bila itu menyuruh seseorang yang mengetuk pintu untuk memanggil saja.
Suara ketukan yang semakin keras dan panggilan membuat Bila tak bisa mengabaikannya lagi. Hal itu sangat mengganggu. Tapi dari suara itu, Bila tak bisa mengenalinya. Kakinya melangkah berjinjit, mengaturnya agar tidak mengeluarkan suara. Dari celah kecil jendela, ia mengintip. Memastikan siapa tamunya. Ada tiga orang pria yang mengenakan setelan jas yang rapi. Salah satunya memunggungi pintu, sedangkan dua lainnya masih mencoba mengetuk pintu sesekali meneriakkan nama Bila. Dua orang itu sama sekali tidak dikenali oleh Bila. Tubuhnya yang berotot keras membuat Bila mengernyit ngeri. Sedangkan punggung satu lagi, sepertinya Bila bisa mengenalinya tapi lupa. Hanya saja dia merasa mengenali punggung tegap itu.
Dengan hati-hati dan perasaan was-was, Bila akhirnya memutuskan untuk membukakan pintu. Mengerahkan seluruh keberaniannya. "Maaf, kalian siapa?" tanya Bila takut-takut.
Dua pria yang tadi mengetuk pintu tak menjawab, memutar tubuhnya pada pria satu lagi. Pria paruh baya yang terlihat seperti bos dari dua orang ini. Pria itu memutar tubuhnya perlahan. Bila melihatnya seakan sedang menonton film dalam gerak slow motion. Jantungnya berdebar tidak karuan, seperti merasakan akan ada hal buruk yang datang padanya.
"Aa...ayah?" Bila tercekat, tenggorokannya terasa kering seketika tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Kakinya bahkan terasa lumer. Tangan yang masih memegangi kenop pintu membantunya untuk berdiri. Ingin sekali berteriak mengusir pria itu tapi tak mampu dilakukannya.
Ya, pria itu adalah ayah Bila. Ashton Squeryll. Pria campuran Inggris-Manado-Jawa yang telah menelantarkan Bila di masa kecilnya, di saat Bila masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Pria yang telah membuat masa kecilnya begitu suram. Menggoreskan luka yang tak ingin Bila ingat seumur hidupnya. Pria tidak bertanggung jawab, pembohong. Entah sebutan apa lagi yang Bila berikan pada pria itu. Bahkan hingga mengutuki dirinya sendiri anak durhaka karena tak mampu menahan u*****n untuk pria itu.
Pria itu tersenyum licik. "Ya, ini ayah, sayang." Bulshit! Jangan menyebutku sayang karena kau tak pernah mengajariku tentang kasih sayang, tak pernah sekalipun menyayangiku, teriak batin Bila. Rencana licik apa yang ada di otak pria itu sekarang.
"Kamu tidak mengijinkan kami masuk? Ayah lelah berdiri setengah hanya jam menunggumu membukakan pintu. Ayah juga haus."
Bila sudah curiga dengan sikap manis pria yang adalah ayahnya sendiri. Pasti ada sesuatu di balik kedatangannya, bukan hal yang baik bagi Bila. "Kalau anda ingin menyampaikan sesuatu, kita bicara di sini saja. Saya tidak menerima orang-orang yang saya tidak kenal di rumah saya," kata Bila ketus. Ia keluar dan mengunci kembali rumahnya. Mengambil posisi duduk di salah satu kursi di teras rumah. Tanpa mempedulikan kursi yang ada di sana tidak cukup menampung mereka semua. Hanya ada dua kursi, sementara tamunya saja ada tiga orang. Kebenciannya pada pria inilah yang membuatnya demikian. Tidak mempedulikannya sama sekali. Dikatai anak durhakapun tidak masalah.
Ashton menatapnya heran. Gadis kecilnya sudah terlalu berani, menurutnya. Dan apa tadi dia bilang? Anda? Orang yang tidak dikenal? Siapa yang sudah menghasut pikiran putriku, batinnya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Memaksakan dirinya untuk tetap tenang, ia mengikuti Bila dan duduk di kursi lainnya. Dua orang yang sudah Bila tau pasti adalah pesuruh ayahnya, memutuskan duduk di tembok pembatas teras rumah.
"Ayah haus. Apa kamu tidak biasa menyuguhkan minum pada tamumu?" desak Ashton.
Bila mendelik sebal. Tapi kehadiran mamang pedagang keliling membuatnya berterima kasih sebesar-besarnya. Merogoh saku dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru disana. Bila meminta pedagang itu menyediakan beberapa minuman dan juga makanan ringan untuk mereka. Tidak perlu repot untuk melayani pria ini, batinnya berteriak menang.
"Apa yang ingin anda sampaikan?" tanya Bila setelah urusan dengan mamang pedagang selesai, tak ingin melihat tiga orang ini berada lama di sekitarnya. Terlebih pria yang duduk di sebelahnya.
"Ayah dengar, nenekmu sudah meninggal. Ayah turut berduka dan maaf tidak mengunjungimu waktu itu." Pria yang menjadi menantu paling didambakan oleh neneknya ini memang tidak datang waktu itu. Menantu paling didambakan karena memang dia menantu satu-satunya. Dan lihatlah kelakuannya karena nenek terlalu banyak memujinya. Bukan ingin menyalahkan sikap neneknya juga, tapi memang demikian kebenarannya. Meraup semua harta kakek entah dibawa kemana. Tabungan diporotin hingga tak bersisa. Sampai-sampai bisnis kecil-kecilan kakek juga ikut melayang ke pegadaian. Villa keluarga yang kakek beli di puncak juga menyusul tak lama setelahnya. Yang tersisa hanyalah rumah ini, satu-satunya yang tidak termakan oleh ayahnya. Dan itu juga Bila pikir hanya karena kedua orangtuanya segera bercerai. Kalau saja tidak, Bila yakin semua akan habis, takkan bersisa. Bila yang saat itu masih berusia depalan tahun saja mengetahui semuanya.
Kakeknya meninggal saat keluarga kecil mereka itu dalam gentingnya, menjalankan proses perceraian. Serangan jantung yang tiba-tiba saat mengetahui kelakuan asli menantunya. Sang nenek hanya bisa meratap sedih. Tidak menyangka kalau orang yang sudah dipercaya untuk meneruskan menjaga keluarga malah menghancurkannya dalam waktu yang singkat. Pernikahan yang hanya berusia sepuluh tahun, sudah tak bisa dipertahankan lagi.
Perceraian berakhir dengan hak asuh jatuh pada Melanie Cartell, ibu Bila. Tapi yang terjadi adalah wanita itu juga memilih pergi jauh. Entah kemana, tak ada yang diberitahu. Setelah membawa Bila ke rumah neneknya, wanita itu pergi dan tak pernah kembali dengan memberikan alasan ingin menemui temannya. Dan entah dimana keberadaannya sekarang. Bila juga tidak ingin memikirkannya. Baginya ibu dan ayahnya ini sama saja.
Kembali pada saat ini. Apa dia bilang tadi? Hanya itu? Wanita tua yang dibuatnya tersiksa dengan kehilangan suami yang tercinta setelah kehilangan semua harta, meninggal, dia hanya mengatakan itu? Kemana otaknya? Tidakkah dia merasa bersalah sedikit saja. Merasa menyesal atau semacamnya?
"Tidak perlu sok peduli. Katakan saja apa yang anda ingin katakan. Saya tidak punya waktu banyak."
"Dengar, Bila. Ayah kesini hanya ingin mengambil apa yang seharusnya sudah ayah ambil dan menjadi hak ayah."