Pamela's POV
"Oh disini kau rupanya, Pamela sayang," suara Ibuku menghentikanku.
Lantas Aku menarik diriku dan tanganku dari paha Harry, Aku bisa mendengar Harry terkekeh kecil disana. "Oh Hai, Mr. Styles," ujar Ibuku lagi.
Sudahkah kubilang jika Harry tampak lebih panas dan tampan malam ini? Dengan Jas hitamnya yang super mewah dengan rambutnya yang tertata rapi. Tuhan. Dia adalah CEO pertama yang paling tampan seumur hidupku.
Sebelum Ibuku sadar, Aku mengulai lemaskan tubuhku, dan menyandarkan kepalaku dibahu Harry dan Aku memijat pangkal hidungku seperti orang yang sedang sakit kepala, Ayahku tiba-tiba melirik kearahku. "Kau kenapa, Pamela?"
Aku tiba-tiba tertawa, Harry pun menatapku bingung sebelum Aku menangkap seringaian nya yang tiba-tiba muncul, dalam artian lain dia mengerti apa maksudku, "Kupikir ia mabuk, tadi Aku menghampirinya karena ia tampak pusing. Terlalu banyak meminum white wine," ujar Harry. Bagus. Dia memang pandai diajak kerja sama.
"Uh, Aku pusing," lirih ku dan menenggelamkan wajahku di leher Harry, tak lupa meniupnya dan terkekeh kecil disana. Kena kau, Stevenson.
"Sayang, masih bisakah kau berjalan? Kupikir Aku akan menggendong atau memapah Pamela untuk membawanya ke Mobil, kuharap Vertigo mu masih---" ucapan Ayahku terintrupsi oleh Harry.
"Ada apa dengan Mrs. Crawford?" tanya Harry tiba-tiba.
"Dia tiba-tiba saja terkena Vertigo mendadak," jawab Ayahku. Aku mengintip dari celah leher Harry, Ibuku hanya membual. Aku tau dia baru saja bertemu dengan Rivalnya yang bernama Beth, itu musuh bebuyutan ibuku. Beth adalah mantan kekasih Yah aku sekaligus pendiri perusahaan juga. Dan kupikir pasti mereka baru saja bertemu dan Ibuku ingin cepat pulang. Aku tau jika Ibuku Vertigo pasti dia tak dapat berdiri kembali. Bahkan ia bisa saja pingsan. "Aku ingin membawa Pamela pulang ke Apartemen nya. Sayang,bisakah kau duduk sebenar sementara Aku membawa Pamela ke Mobil? Setelah itu Aku akan membantumu lagi." Aku mendecak, mereka itu sudah tua dan masih saja memanggil dengan panggilan menjijikan itu.
"Kau bisa membawa Mrs.Crawford ke Rumah sakit dan Aku akan mengurus Pamela disini." Aku menyembunyikan tawaku dan mengecup leher lelaki ini, Aku tau dia sudah terdesak dibawah sana dan kalian harus bantu Doa jika Ayah atau ibuku tidak melihat tingkahku sekarang. Ini akibat dari mengatakan Aku cupu. "Kupikir Mrs. Crawford sudah tidak tahan lagi."
"Oh baiklah. Kabari Aku jika kau baik-baik saja dan sudah sampai," ujar Ayah dan ia mulai menggandeng tangan Ibuku untuk berpamitan pada Harry dan pemilik acara ini.
Ayahku benar-benar gampang di bual, ia bahkan langsung percaya dan menyerahkan Aku pada b******n tampan ini.
Saat menyadari jika Ayah dan Ibuku pergi, Aku bangkit dari posisiku dan menjauhkan diriku. Sesungguhnya di ceruk leher Harry sungguh nikmat.
Harry tiba-tiba berdiri, dan mataku fokus pada urat lehernya yang sudah timbul. Wajahnya memerah dan Aku tau ada apa dengannya, "Ingin kemana?" tanyaku. "Kau benar-benar ingin mengantarku pulang? Sebenarnya tidak ada guna lagi Aku disini, Ayah dan Ibuku sudah pergi dan--"
"Ayo kita pulang, temani Aku untuk pamit pada pemilik Acara ini. Setidaknya agar kau tidak seperti wanita kesepian lagi," Harry terkekeh, namun Aku tau dia terpaksa melakukan itu. Dia sekarang sudah sangat panas dan tentunya sangat mendesak dibawah sana.
Aku berdiri, berjalan beriringan dengannya menuju pemilik Acara ini. Harry berjabat tangan dengan pemilik Acara ini, begitupula denganku. Lantas Harry menarikku menuju Mobil mewahnya yang berbeda seperti terakhir kami bertemu.
Aku memasuki mobilnya, begitu pula dengan si Panas itu, "Apakah kau akan membawaku ke Apartemen ku atau ke Rumah orang tuaku? Jika kau ingin membawaku ke Rumah---"
"Rumahku," ujarnya membuatku menoleh kepadanya. Dia... Apakah dia gila? Oh ini kesempatan yang bagus untuk membuktikan pada Zoe, tidak mungkin Maddie adalah pacarnya sedangkan Harry sendiri membawaku je Rumahnya, hanya berdua, dimalam hari. Bukan begitu? Bagus sekali.
Aku mengambil ponselku, hendak mengirimi Zoe pesan bahwa Aku hampir berhasil mewujudkan tantangannya. Namun sesuatu mengintrupsiku. "Apakah Ponselmu tidak hilang lagi? Aku bisa menelfonmu sekali lagi."
Bisa kupastikan pipiku yang sudah kulapisi foundation dengan bedak akan tetap saja bisa menembus kulit pipiku yang memerah, sialan. Ini begitu memalukan, tak bisakah ia melupakan kejadian itu begitu saja?
Aku menatap tajam kearahnya, "Ponselku benar-benar hilang waktu itu," desisku, dia menaikkan sebelah alisnya lantas menatapku tak percaya, namun ia hanya mengedikkan bahunya dan kembali fokus kejalanan.
Me.
Lihat, b***h. Aku sedang di Mobil dengan Harry menuju ke Rumahnya.
Aku melirik kearah Harry, takut-takut dia mengetahui apa isi pesanku. Dia seperti memiliki indra ke-enam, dia mengetahui apapun yang Aku lakukan jika itu menyangkut tentangnya. Dan Aku tegaskan Aku tidak ingin malu untuk kedua kalinya, oleh orang yang sama.
Setelah beberapa menit menunggu, Zoe akhirnya membalas. Aku sangat penasaran apa balasannya, dia pasti iri dan tidak percaya.
Zoe.
Oh ya? Jika begitu selamat, tapi satu lagi, b***h. Kau belum tidur dengannya. Kembali menyombongkan dirimu saat kau sudah dimasuki olehnya. Okay, dear?
Aku mendecak, dengan cepat jari-jari jenjangku mengetik balasan untuk si perempuan yang memiliki pacar super cupu ini.
Me.
Wth, kau iri 'kan Zoe? Kau hanya takut jika milik Harry jauh lebih menggiurkan ketimbang Sammy si cupu itu.
Zoe.
Ew. Aku saja belum tau ukurannya berapa. Jangan lupakan tantangannya dariku, kau harus tidur dengannya. Buktikan kau itu wanita liar seperti katamu. Satu lagi, masalah si kembar yang kemarin kita temui di Toko peralatan. Ayo, bangkitkan jiwa jal*ngmu.
Masalah Maddie dan Siena, itu bukan masalah besar bagiku. Aku tidak peduli jika kembaran Maddie yang sialnya sangat sombong itu mau berkenalan denganku atau tidak, yang menjadi masalah adalah saat sahabat neraka-ku a.k.a Zoe menggodaku. Dia benar-benar setan berwajah cantik namun sayangnya Aku menyayanginya.
Dan tantangan Zoe, apakah Aku yang bodoh karena selalu menerima tantangan darinya? Kemarin Aku sudah berhasil menarik Harry ke Toilet, dan sekarang Aku ditantang untuk menarik lelaki ini ke Ranjang?
"Kau sudah makan?" tanya Harry membuatku menoleh kearahnya. Kenapa ia menjadi peduli tentang makanku?
Aku mengangguk, "Sudah."
"Sudah istirahat?" tanya-nya membuatku mengerutkan dahiku.
Aku mengangguk, "tadi sepulang bekerja."
"Butuh istirahat di Rumahku?" tanyanya membuatku semakin kebingungan, rasanya jari-jariku ingin kembali membuka ponsel dan mengirim pesan pada Zoe. Terkadang Zoe dapat berperan sebagai seorang Ibu jika dalam keadaan membingungkan seperti ini. "Jika butuh, kau bisa bilang padaku. Karena seseorang sedang berencana untuk menarik ku kedalam kandangnya yang hangat."
--------
Aku menyesal. Aku menyesal berpura-pura mabuk didepan kedua orang tuaku. Lebih baik Aku ikut pulang dengan mereka ketimbang pulang berdua dengan Harry. Harga diriku sudah luntur saat pertemuan kedua kami. Dia selalu berhasil membuatku berlutut, dan Aku kesal akan fakta sialan itu. Aku memiliki prinsip jika Aku tidak boleh kalah dengan lelaki manapun. Dan hanya Harry, lelaki yang tidak atau belum kalah dalam hal itu. Dia memang pantas diacungkan jempol akan kehebatannya, dan Aku mengakui itu. Dan tentunya dia tidak cupu seperti kekasih Zoe.
Ia sangat sulit ditebak, penuh teka-teki namun dia sangat mudah dalam mengetahui sesuatu. Itu tidak adil. Kupikir lelaki yang sulit dibaca sedikit menantang. Dia merupakan mangsa terbesarku, dan Tentunya Aku bisa sangat bangga jika mangsa itu masuk kedalam lahapanku.
Kami berhenti didepan Rumah bernuansa Eropa klasik, berwarna putih gading yang indah dengan sentuhan warna gold elegan disetiap ujungnya. Tak lupa beberapa arsitektur berwarna hitam yang mengkilat. Leherku bahkan sampai memanjang demi melihat keseluruhan Rumah ini dari dalam Mobil. Uh Aku benar-benar tidak mencerminkan anak pengusaha.
Aku berbalik untuk melihat Harry, namun mataku benar-benar membesar saat merasakan bibirnya menempel pada leherku. Napasku tercekat, terkejut dan tiba-tiba darahku seperti tersumbat, tidak mengalir. Aku mengerang saat merasakan gigi-gigi nya mulai menggigit kecil kulit leherku, ditambah lagi dengan lidahnya yang kenyal dan lembut. Merasakan helai helai rambut coklatnya yang halus menggelitik.
"Ngh," eranganku semakin menjadi saat tangannya mulai memeluk pinggang ku, mengurungku, dan yang bisa kulakukan hanya mengelus dan menambah halus rambutnya yang ada di leherku. Tak lupa punggungnya yang berotot ikut ku pijat.
"Cukup," ujarnya dan menarik dirinya membuatku menatapnya tajam. Apa? Cukup? Aku menatap ke sekeliling mobil, kupikir ia berhenti karena ada seseorang atau security yang melihat kami. Namun tidak ada. "Ayo keluar."
Dia membukakanku pintu, dia menyeringai saat melihatmu berjalan dengan sangat tidak nyaman dan padaku yang merapat. Tentu saja. "Ada sesuatu yang sedang bermasalah sekarang?" tanyanya, Aku menatap tajam kearahnya.
"Yang membuat masalah itu adalah kau!" tajam ku. Aku berlari kecil walaupun geez, licin sialan. Aku tidak yakin lelaki ini memiliki celana dalam perempuan atau Aku harus bermalam disini tanpa benda itu!
Dia terkekeh, dan seorang wanita tua yang sepertinya seumuran Ibuku membukakan kami pintu. "Selamat malam, Mr. Styles dan--"
"Pamela," ujarku dan Wanita ini tersenyum. Dia menyingkirkan tubuhnya dan mengijinkan kami masuk.
Aku tersenyum padanya dan membisikkan kata Terima kasih, lantas kembali pada lelaki yang ada disampingku, "Dimana kamar mandimu?" tanyaku. Aku butuh membersihkan nya, lelaki sialan ini benar-benar b******k meninggalkanku dalam keadaan menyiksa seperti ini.
"Foreplay di mobil dan intinya di Kamar mandi tidak buruk, namun itu membuang waktu," ujar Harry dan Aku mendecak.
"Kau memang menyebalkan!"
-----
Aku keluar dari kamar mandi milik Harry, wanita yang tadi tampak seusia Ibuku memberikanku sepotong baju kaos yang super nyaman, bahannya dingin dan tipis, cocok untuk tidur, ukurannya yang sangat besar mencapai pertengahan pahaku dan akibatnya Aku hanya memakai celana dalam. Namun Aku terpaksa tidak memakai bra.
Aku melihat Harry sedang bermain ponselnya dan bersandar pada headboard kasurnya yang sangat besar. Mungkin empat sampai lima orang bisa tidur diatas kasur yang kelihatannya sangat empuk.
"Hei," sapanya dan Aku hanya mengangguk, lantas duduk disampingnya.
Mengecek ponselku dan terdapat satu pesan dari Zoe.
Zoe.
Kau Betul-betul akan tidur dengan Harry? Bukan tidur terlelap, maksudku kau-- argh Pamela! Aku tidak bisa menyebutkannya.
Me.
Kau sok suci, Zoe. Tidak, kami hanya makeout di mobil tadi. Dia menyebalkan.
Aku meletakkan ponsel ku, "Apakah Zoe itu Ibu gurumu? Kau selalu melapor padanya," ujar Harry. Namun sekarang Aku sudah sangat mengantuk. Lantas hanya menatapnya dan bersandar, tidak membalas ucapannya sama sekali. "Kau mengantuk?" tanyanya.
Aku mengangguk, "kau benar-benar tidak terangsang karena tadi? Kau ini normal tidak sih?" tanyaku saat dia menarik tubuhku untuk berbaring disebelahnya. Mataku sudah terasa sangat berat.
Aku menunjuk dadanya yang terdapat tato burung yang paling kusukai, dia terkekeh, "kau seperti orang mabuk jika mengantuk."
"Kau normal---"
"Akan ada saatnya Aku menunjukannya, Pamela."