Pamela's POV
Lelaki panas ini membaringkan tubuhku di atas Sofa ruang kerjaku, lantas Kau terkekeh dan menarik jasnya, dia menyeringai padaku. "Apakah ruangan mu kedap suara?" tanyanya dengan suara beratnya, dapat kurasakan dia sangat terjepit disana, uratnya yang menegang dan wajahnya memerah.
Aku mengangguk, membelai lehernya, terutama uratnya, Aku terkekeh dan mengecup lehernya, "Jangan tegang," bisikku.
"Aku tidak," ujarnya, dia meraih daguku yang tadi bersembunyi di lehernya, menatap mataku sebentar lantas dia mulai menyatukan bibir kami.
Aku mengelus rambutnya, entahlah Aku sangat suka melakukan ini, terkesan lebih membakar dan Aku menyukai rambut lelaki ini, sangat lembut dan kupikir jarang laki-laki dengan rambut lembut indah sepertinya.
Suara decapan kedua bibir kami harus berhenti saat mendengar suara Ponsel Harry yang ada di saku celananya, dirinya mendecak membuatku terkekeh, lantas dia dengan terpaksa harus mengambil ponselnya yang sedang berdering itu. Tangan kirinya sedari tadi bermain-main dibelakang pinggang ku, entah mengelusnya atau memainkan kain bajuku.
"Siapa?" bisikku saat dia mulai mengangkat.
"Maddie," ujarnya dengan gerakan bibirnya saja, tubuhku melemas malas, ugh dia lagi yang menggangu kami. Namun Aku sadar jika Aku tidak boleh marah pada Maddie, bagaimanapun juga Harry lebih menyayangi Maddie ketimbang diriku, tentu saja. Dia terlihat lebih melindungi Maddie daripada diriku dan Aku sadar jika Aku dengan Harry bahkan baru kenal, belum sampai satu bulan, kedekatan kami hanya terlihat pekat karena jiwa jalangku yang selalu menginginkan dirinya.
Aku mendengarkan Harry berbicara, walau tidak mendengarkan Apa yang Maddie bilang dibalik ponsel, setidaknya Aku bisa mendengar suara seksi Harry dari bawah sini. Aku memainkan kerah bajunya, melipatnya, memainkan kancing bajunya atau memilin rambut nya yang berjatuhan disekitaran lehernya. Aku menunggunya untuk selesai berbicara dengan Maddie dibalik ponsel.
Aku memerhatikan wajahnya, dia sangat serius, dan Akhirnya dia selesai dengan Maddie. Lantas Aku memegang kerah bajunya dan hendak menciumnya lagi, namun belum sampai lima detik bibir kami bertemu, Harry langsung saja kembali menarik dirinya. Aku bahkan terasa sudah mengering dibawah sana, "Kenapa?" tanyaku, berusaha menghilangkan nada suaraku yang terdengar kecewa. Pasti dia ingin pergi. Dan Aku rasanya ingin memukul kepalaku saat Aku sangat terdengar seperti Jalang, memang itu kenyataannya, bisik Gadis batinku protes.
"Aku lupa jika ada Janji makan siang setelah Aku meeting, dengan Maddie," ujarnya membuatku mengarahkan mataku pada jam dinding.
"Ini sudah jam 3 sore," ujarku dan memilin kemejanya. Setidaknya jika kami tidak bercinta dia bisa menemaniku disini. Ugh, Aku benci diriku sendiri.
Harry mengangguk, "namun Aku harus makan siang, Aku belum makan siang," ujarnya dan langsung bangkit, lantas Akupun ikut bangkit dan merapikan pakaianku.
"Makan siang bersamaku?" tanyaku dan Harry menggeleng.
"Maaf, Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji dengan Maddie jika kami akan makan di Restoran temannya yang baru saja launching," ujar Harry dan Aku lantas mengangguk mengerti, Aku sedikit menyesal kenapa Aku tadi seperti melarangnya pergi. Aku harus ingat jika Aku dan Harry hanya teman biasa, teman dengan keuntungan biasa, itu saja, tidak lebih. Masalah hidup yang lain biar menjadi urusan kami masing-masing.
Aku mengangguk, "Oh begitu, baiklah," ujarku dan membantu merapikan dasinya yang tadi Aku mainkan.
Dia tersenyum kecil, "Terima kasih," lantas dia mengecup dahiku sebentar, "Maaf sekali lagi, Aku harus pergi."
Aku mengangguk, berjalan untuk mengantarnya keluar dari Ruangan ku, "sampai jumpa," ujarnya dan Aku mengangguk dengan senyum kecil.
"Sampai jumpa."
-----------
Aku mengelap keringatku yang bercucuran, begini jadinya jika Aku tidak terbiasa membersihkan Rumahku. Semuanya terasa melelahkan dan berat, dan Aku sangat menyesal saat baru belajar seperti ini kala Aku sudah lepas dari kedua orang tuaku. Lantas Aku memainkan ponselku, tidak ada yang berarti didalam sana. Hanya ada Zoe yang mengupload foto terbarunya yang sedang berjalan-jalan dengan Sammy, kekasihnya yang payah itu dan kupikir mereka sudah kembali berdamai sekarang.
Aku melihat kearah Jam dinding, disana menunjukan waktu 09.00 dan Aku belum mandi, lantas Aku memutuskan untuk mandi.
Berjalan ke arah Shower, Aku terhenti saat mendengar ponselku yang ada diatas wastafel berdering, lantas Aku mengambilnya. Menatap diriku dicermin yang hanya dilapisi celana dalam dengan Bathrobe yang tidak ku ikat.
Harry.
Wow, ini adalah Hari libur karena perayaan Notting Hill Carnival di London, dan Harry menelfon ku dihari libur dan ini masih sangat pagi.
Aku mengangkatnya, "Halo?" ujarku.
"Kau dimana?" tanyanya, Aku yang tadi sedang menunduk membersihkan ujung kuku-ku, menjadi menegakkan kepalaku dan menatap diriku dicermin. Terkejut atas pertanyaannya.
"Di Apartemen ku," ujarku dan dia seperti membersihkan tenggorokan nya disana. "Kenapa?"
"Tidakkah kau mengeluarkan bual-bualanmu yang lain untuk menarik ku ke Apartemenmu?" tanyanya tiba-tiba membuatku bingung namun Aku terkekeh.
"Untuk hari ini tidak," ujarku dan Harry tertawa kecil diujung saja. "Kenapa?"
"Aku akan kesana," ujarnya membuatku terkejut, "Sarapan bersama?" tanyanya dan Aku mengangguk dan memukul dahiku kala sadar jika ia tak bisa melihatnya.
"Baik---"
Tutt tutt tut.
Dia memang sialan.
Lantas Aku meletakkan ponselku di tempat semula dan mulai melepas kain-kain yang melekat di tubuhku, lalu Aku berdiri dibawah shower dan mulai membersihkan tubuhku. Aku tidak berniat untuk berendam di bath up untuk hari ini.
Lantas Aku mengeringkan tubuhku dengan handuk dan memakai Bathrobe, berdiri didepan cermin dan mulai meloloskan skin care routine setiap sehabis mandi pagi.
Aku terkejut saat mendengar pintu kamar mandi ku terbuka secara tiba-tiba, padahal Aku tinggal sendiri disini. Saat menoleh, dan benar semua dugaanku, itu Harry si Pria panas yang tiba-tib saja bisa masuk kedalam kamar mandi ku!
"Halo," ujarku dan dia terkekeh, Aku kembali fokus pada wajahku dan merasakan dia mendekat. "Kenapa kau bisa masuk kesini?" ujarku dan dia berdiri dibelakangku, memerhatikan ku memoleskan moisturizer pada wajahku.
"Resepsionis," ujarnya membuatku menatapnya bingung melalui kaca.
"Huh?" tanyaku.
"Resepsionis itu memberitahu-ku nomor sandi Apartemenmu," ujarnya dan Aku membalikkan tubuhku padanya.
"Bagaimana bisa? Maksudku, segampang itu?" Harry mengangguk, dia menyeringai kecil.
"Tentu, Harry Styles bisa melakukan apapun," ujarnya dan kembali membalikkan badanku dan Aku sekarang menghadap cermin kembali.
"Jangan lakukan hal seperti itu pada orang yang tidak kau kenal, untung itu Aku," ujarku dan Harry tertawa.
"Untuk apa pula Aku melakukan itu jika orang itu tidak penting," Oh, apakah ia baru saja berbicara jika Aku adalah orang penting baginya?
Aku mengangguk, menutup produk kecantikanku dan membuka botol sun screen-ku, "Apakah itu semua wajib bagi wanita?" tanya Harry, Aku dapat merasakan tangannya melingkar dipinggang ku, dia memajukan wajahnya untuk melihat Produk yang kupakai.
Aku mengangguk, "tentu," ujarku dan mengambil sedikit produk pada ujung jariku lantas mengaplikasikan pada wajahku kembali.
"Untuk apa?"
"Untuk menarik lelaki macam kau," ujarku dan Ia tertawa.
"Cukup bertingkah agresif kau sudah bisa menarik ku, Macan," ujarnya lagi dan Pipiku yang tadi kuusapkan sun screen memerah karena malu mendengar ucapannya barusan.
Aku menutup botol sun screen itu, menoleh padanya, "Bisakah kau lepas sebentar? Aku ingin memakai body lotion," ujarku dan mengambil botol body lotion-ku.
Harry melepaskan pelukannya pada perutku, walaupun Aku merasa kurang nyaman dengan itu, jika boleh jujur Aku suka pelukannya. Tangannya yang besar benar-benar menghangatkan tubuhku yang hanya terbalut Bathrobe.
Aku duduk diatas Toilet duduk ku, sebelum itu Aku menutupnya dulu. Lantas duduk diatas nya dan mulai menuangkan cairan kental body lotion itu, Harry mendekat kearahku dan berjongkok. "Sini," ujarnya dan mengadahkan tangannya padaku.
"Apa?" tanyaku tak mengerti.
"Cairan itu," ujarnya membuatku menunjukkan botol body lotion itu dan dia mengangguk. "Berikan padaku."
Aku memberikan botol itu padanya, "Kau ingin coba juga? Itu dapat melembabkan kulitmu," ujarku sambil terkekeh dan lanjut memoleskannya pada tanganku sampai rata.
Aku tersentak saat merasakan tangan Harry mengusap ujung jariku, membuatku menunduk melihatnya mengusapkan cairan kental itu pada kulit kakiku dengan lembut, "Ini seperti pelumas, namun warnanya putih," ujarnya membuatku terkekeh canggung, masih belum menetralkan detak jantungku karena terkejut lelaki ini mengusapkan body lotion pada kakiku? Serius?
"Kau tak perlu melakukan itu," ujarku dan hendak menarik kakiku, "Kau tunggu saja diluar, hidupkan Televisi," ujarku dan dia diam terus mengusapkan nya hingga betis ku.
Ini gila. Aku menjadi tidak fokus untuk mengusapkan body lotion ini pada tanganku lagi! Hanya karena sentuhan Harry pada kakiku? Organ tubuhku memang sudah gila.
Aku memerhatikannya, dimana Jari-jarinya dengan telaten dan lembut mengusap betis ku, dan Anehnya Aku justru menggigit bibirku, dan meraih tangannya saat ia mengusap belakang lututku, itu menyengat hingga rasanya rahim ku bergetar. "Sampai lutut saja, sudah cukup," ujarku dan dia menatapku dari bawah sana. Mata hijaunya memancarkan sesuatu yang tersembunyi, diantara cahaya remang-remang kamar mandi ku.
"Body lotion-nya masih banyak di telapak tanganku, sampai ini habis," ujarnya membuatku kian frustasi. Aku tidak mau lagi ia tinggal di saat - saat b*******h seperti kemarin.
Lantas dia melanjutkannya, menambah nya dengan pijatan - pijatan kecil, Oh Tuhan kumohon hentikan ini semua. Dia menyingkapkan Bathrobe yang menutupi pahaku, lantas kembali memoles cairan itu. Dan bodohnya Aku hanya bisa mencengkram ujung toilet ini untuk menahan desahan ku.
"A---H-Har--" era ngku tertahan dan dia langsung menoleh padaku.
"Kenapa?" tanyanya dan Aku menggeleng. "Pijatan ku sakit?"
"Teruskan."
Dia terus mengusap itu, sampai ku lihat ditelapak tangannya dan cairan itu sudah habis, namun dia masih saja mengusapnya dan memijat pahaku, "S-su-sudah," erangku memohon agar ia berhenti.
Harry kembali menoleh, dapat kulihat ia berusaha menyembunyikan seringaian nya, "Belum rata," ujarnya. Rasanya Aku ingin menyeretnya menuju tempat tidur namun itu tidak mungkin dengan keadaan lemas seperti ini.
Dia semakin menyingkap Bathrobe-ku dengan kasar, seperti sengaja membuat ikatannya melonggar, lantas Aku merapatkan pahaku dan mencengkeram bahunya. "Ku-kumohon," ujarku dan menggigit bibir bawah ku.
"Katakan sekali lagi," ujarnya dan jari-jarinya mulai bermain dipangkal-ku. Ini benar-benar, dia menyentuhnya.
Aku mengadahkan kepalaku saat ia mengusapnya dengan jempolnya yang licin karena sehabis mengoles body lotion ku, "Kumohon, Aku ingin kau."
--------------