“Bayu, kamu harus bertanggung jawab.”
Kalimat Raka terdengar begitu tegas hingga membuat suasana di dalam ruang pemeriksaan yang semula hening mendadak berubah kaku.
Bayu yang sejak tadi berdiri di sisi tempat tidur Nitara langsung menoleh. Alisnya berkerut, jelas tidak memahami maksud ucapan lelaki itu. Sejak membawa Nitara ke rumah sakit, pikirannya hanya dipenuhi kekhawatiran melihat wanita yang selama beberapa minggu terakhir dekat dengannya tiba-tiba jatuh pingsan di depan gedung kantor.
Ia bahkan belum sempat mencerna kabar bahwa Nitara sedang hamil dan sekarang Raka justru berdiri di hadapannya dengan tatapan yang seolah hendak meminta pertanggungjawaban atas sebuah kesalahan besar.
“Tanggung jawab apa?”
Pertanyaan itu justru membuat urat rahang Raka mengeras.
Bagi Raka, jawaban Bayu terdengar seperti sebuah bentuk pengelakan. Seolah-olah lelaki itu tidak tahu apa-apa, padahal beberapa menit lalu Kiandra sudah menjelaskan bahwa Nitara tengah mengandung.
Raka merasa semakin yakin bahwa Bayu sedang mempermainkan kakaknya.
Ia melangkah maju dan tanpa berpikir panjang mencengkeram kerah kemeja Bayu.
“Raka!”
Kiandra segera bangkit dan menarik lengan putranya.
“Jangan marah-marah dulu.”
“Bun, dia harus tanggung jawab!” Raka masih menatap tajam Bayu. “Tapi malah berlagak tidak tahu apa-apa. Jelas-jelas dia mau jadi ayah!”
Bayu semakin kebingungan.
Menjadi ayah?
Kalimat itu berputar-putar di kepalanya.
Ia menatap Raka, kemudian beralih kepada Kiandra. Setelah itu pandangannya jatuh pada Nitara yang duduk lemah di atas ranjang.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Kemudian Bayu menelan ludah.
“Ayah?”
Raka melepaskan kerah kemejanya dengan kasar.
“Iya. Kamu akan menjadi seorang ayah.”
Wajah Bayu semakin pucat.
“Aku jadi ayah? Anak siapa?”
Bayu membeku.
“Anak kalian,” ulang Raka, seolah-olah ingin memastikan tidak ada kesalahpahaman. “Kamu dan Kak Tara.”
“Apa?”
Kali ini suara Bayu terdengar benar-benar terpukul.
Ia menoleh kepada Nitara.
Wanita itu tidak mengatakan apa-apa.
Nitara hanya menundukkan kepala. Kedua tangannya saling menggenggam erat di atas selimut. Wajahnya pucat, bukan hanya karena tubuhnya masih lemah, tetapi juga karena situasi yang semakin tidak terkendali.
Bayu memperhatikan diamnya Nitara.
Tatapan lelaki itu perlahan berubah.
Ada kebingungan, keterkejutan, sekaligus sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.
Selama ini ia memang dekat dengan Nitara. Mereka beberapa kali makan bersama, pergi bersama, dan saling mengenal secara perlahan. Bayu bahkan mulai memiliki perasaan serius kepada wanita itu.
Namun hubungan mereka belum pernah sejauh yang Raka pikirkan.
Tidak pernah ada pembicaraan tentang pernikahan dan yang paling membuat Bayu semakin tidak mengerti, Nitara tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan kehamilan.
“Tara…”
Nitara memejamkan mata.
Ia tahu cepat atau lambat Bayu akan membutuhkan penjelasan.
Namun sebelum lelaki itu bertanya lebih jauh, Nitara membuka mata dan menatap adiknya.
“Ka…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Bukan Bayu.”
Raka terdiam.
Seolah baru saja menerima pukulan yang jauh lebih mengejutkan daripada kabar kehamilan itu sendiri.
“Hah?”
Nitara menarik napas panjang. Tenggorokannya terasa tercekat.
“Bukan Bayu, Ka.”
Raka menatap kakaknya dengan dahi berkerut.
“Kalau bukan dia, lalu siapa?”
Pertanyaan sederhana itu justru terasa seperti sebuah bom yang dilemparkan ke tengah ruangan.
Nitara tidak menjawab.
Bayu menatapnya penuh tanda tanya. Bahkan Kiandra yang sejak tadi berusaha menjaga suasana agar tetap tenang ikut memperhatikan Nitara dengan sorot mata penuh pertimbangan.
Raka menunggu.
Namun semakin lama Nitara diam, semakin jelas bahwa kakaknya belum siap mengatakan apa pun.
“Kenapa diam?” tanya Raka akhirnya. “Kak Tara, siapa laki-laki itu?”
Nitara menundukkan wajah.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan.
Nama itu sebenarnya sudah ada di dalam kepalanya sejak pertama kali dokter mengatakan dirinya hamil.
Antares.
Lelaki yang selama ini justru berusaha ia hindari, sosok yang pernah dianggapnya hanya sebagai anak kecil keponakan Sofia.
Lelaki yang dulu pernah menyatakan perasaan kepadanya dan ditertawakan karena menurut Tara saat itu, perasaan tersebut hanyalah kekaguman seorang anak laki-laki kepada perempuan yang lebih tua.
Namun malam itu mengubah semuanya.
Malam yang ingin ia kubur dalam-dalam yang selama ini berusaha ia anggap sebagai kesalahan yang tidak perlu diingat dan sekarang, kesalahan itu tumbuh di dalam tubuhnya.
Seorang bayi.
Nitara tanpa sadar meletakkan telapak tangan di perutnya yang masih datar.
Bayu melihat gerakan itu.
Ada sesuatu dalam ekspresi Nitara yang membuatnya mulai menyadari bahwa masalah ini jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
“Jadi selama ini…” Bayu berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. “Kamu bersama seseorang sebelum kita dekat?”
Nitara tidak langsung menjawab.
Bayu mengembuskan nafas pelan.
Ia tidak marah.
Setidaknya belum.
Yang terlihat justru kekecewaan yang perlahan muncul di wajahnya.
Raka sendiri mulai memahami bahwa ia telah salah menuduh Bayu.
Ia melirik lelaki itu sebentar sebelum kembali menatap kakaknya.
“Kenapa Kakak tidak bilang dari awal?”
“Karena aku sendiri baru tahu hari ini.”
“Tapi siapa ayahnya?”
Nitara memejamkan mata.
“Aku belum bisa mengatakannya.”
Raka terdiam.
Jawaban itu membuatnya semakin frustrasi, tetapi melihat kondisi kakaknya yang masih lemah, ia menahan diri untuk tidak mendesak.
“Bukan karena aku tidak mau jujur,” lanjut Nitara lirih. “Aku hanya… belum tahu harus bagaimana.”
Nitara sendiri bahkan belum memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
Takut.
Malu.
Bingung.
Dan yang paling besar adalah ketidakmampuannya menerima kenyataan bahwa lelaki yang menjadi ayah dari anaknya adalah Antares.
Bagaimana mungkin ia mengatakannya sekarang?
Bagaimana jika Raka tahu?
Bagaimana jika ayahnya, Arman tahu?
Bagaimana jika seluruh keluarga mengetahuinya sebelum dirinya sendiri siap menerima keadaan?
Apalagi Antares masih jauh lebih muda darinya dan hubungan mereka bahkan tidak pernah benar-benar menjadi sebuah hubungan.
Bayu akhirnya mengerti satu hal.
Nitara tidak sedang menyembunyikan kehamilan itu darinya karena ingin mempermainkannya.
Wanita itu sedang berusaha menyelamatkan seseorang atau mungkin sedang menyelamatkan dirinya sendiri.
“Maaf,” kata Bayu akhirnya.
Nitara mengangkat wajah.
“Aku tadi sempat berpikir…” Bayu tersenyum hambar.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kaget.”
Raka tampak sedikit bersalah karena hampir saja menghajarnya.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara langkah kaki terdengar dari luar.
Beberapa detik kemudian pintu ruangan terbuka.
Seorang pria masuk dengan wajah serius.
Arman.
Dan melihat kedatangannya, jantung Nitara terasa semakin tidak tenang.
Raka langsung menoleh.
“Ayah.”
Arman tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah dari Raka, Bayu, Kiandra, lalu berhenti pada Nitara yang duduk pucat di atas ranjang.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada yang segera menjawab.
Nitara menelan ludah.
Ia tahu pertanyaan itu hanya awal.
Sebentar lagi ayahnya akan mengetahui bahwa dirinya hamil dan setelah itu, pertanyaan tentang siapa ayah dari bayi tersebut pasti akan muncul.
Nitara menggenggam selimut lebih erat, ia berharap Antares berada jauh dari tempat itu.
Namun di sudut hatinya yang lain, ada rasa takut yang justru lebih besar.
Karena ia tahu, seberapa pun keras ia berusaha menyembunyikannya, suatu hari nanti ia tetap harus mengatakan satu nama.
Antares.
Dan ketika nama itu akhirnya keluar dari mulutnya, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.