"aku membencimu"
"log kok bilang gitu ke mama?"
"benci kamu" teriakan anak kecil itu melengking membengkakkan telingga, tidak lama setelah itu terdengar suara pecahan kaca yang berhamburan di lantai dapur.
"angga, heii anak mama kenapa heii angga" wanita itu menggejar namun anak kecil itu terus berlari menghibdar namun tidak butuh tenaga banyak sang wanita akhirnya mampu meraih sang anak laki-laki dan membawanya dalam dekapanya
sang anak masih meronta-ronta untuk dilepaskan namun pelukan sang wanita yang bersatus ibu kandungnya terus membekap dan beberapa mendaratkan kecupan di kening sang anak. dengan tenang ibu lalu menggendong putranya menuju kursi kayu ringkih milik mereka lalu di pangkunya sang anak dengan sayang.
sang anak masih menanggis setelah menunggunya tenag barulah sang ibu kembali berkata
"putra ibu kenapa? mm?" tanyanya dengan lembut disertai elusan di kepala sang anak.
"mama bodoh"
"iya mama bodoh, tapi kenapa?"
"karena mama aku tidak punya teman" adunya masih dengan isakan yang belum hilang.
"log kok mama?"
"mereka bilang kita miskin tidak layak diajak berteman"
"ooo"
"mama memang miskin sampai-sampai tidak bisa memberiku mainan sebagai kado ulang tahunku"
"..." tak ada kalimat penyangkalan ataupun nasehat yang terdengar dari bibir wanita itu, walau begitu matanya masih nanar menatap anaknya yang menjadi korban bullyan dari teman-temannya
"mama bodoh" katabya sekali lagi menegaskan
"..." sekali lagi tak ada ucapan yang terucap. wanita itu malah tersenyum lebar dan semakin memeluk putranya dengan sayang.
entah apa yang sebenarnya dirasakan sang wanita itu, karena kini bukannya marah dirinya malah kembali menggendong putranya kembali ke meja makan lalu dihidangkannya lagi sepiring nasi dan lauk yang sederhana. seharusnya nasi dan lauk itu cukup untuk mereka berdua namun karena sang anak menjatuhkannya akhirnya wanita itu menggalah dan memilih kelaparan dibanding melihat anaknya yang merasakan apa yang kini dirasakanya.
diperhatikannya sang anak makan dengan perasaan muak karena hanya sekedar tempe dan tahu yang selalu terkapar di piring itu. perutnya beberapa kali berbunyi air liurnya pun serasa begitu mengginginkan nasi dan tempe itu terkunyah dalam mulutnya namun apa daya kemiskinan membuatnya hanya bisa menyumpal kelaparan itu dengan air yang banyak.
semakin berkembangnya anak semakin banyak keluhannya hingga wanita itu merekakan dirinya menjadi p*****r hanya demi memuaskan kebutuhan sekunder sang anak. selama menjadi p*****r sang ibu dengan lambat laun bisa memenuhi kebutuhan mereka hal itu berjalan setenggah tahun lamanya hingga suatu hari sang anak mendapati ibunya sedang digagahi laki-laki asing maka saat itulah sang anak semakin marah dan membenci ibunya
tak ada lagi senyum manis yang menyambutnya sepulang sekolah lalu disusul dengan pelukan hangat, bukan, bukannya sang wanita yang melupakan kebiasaaanya melainkan sang anak yang merasa jijik disentuh oleh wanita itu sehingga dengan cepat dan pasti hanya pertengkaran yang terjadi.
"kau w************n" kata anak laki-laki itu berang dan menunjuk-nunjuk wanita yang telah melahirkannya
"orang-orang bilang p*****r tempatnya di neraka" katanya lagi dengan suara yang semakin melengking.
"pergi kau pergi" katanya keras lalu kembali berkata "w************n sepertimu hanya membawa sial untuk semuanya"
"..." tak ada pembantahan ataupun kemarahan yang terlihat maupun terucap dari wanita itu, dirinya mendekap anaknya dengan paksa bahkan beberapa kali mendaratkan kecupan seperti biasanya sebelum masalah itu datang diantara mereka.
sang anak menanggis keras begitu pun dengan wanita itu. tak bisa lagi rasanya dia membendung sakit hatinya namun tidak mampu meluapkan amarahnya pada anak laki-laki yang dilahirkannya dengan penuh perjuangan, dirinya bahkan sadar jika apa yang terucap dari anaknya itu jelas terdengar olehnya dari bibir orang lain lalu disampaikan padanya dengan luges.
sang anak terus menanggis hingga akhirnya tertidur karena lelah dengan tanggisnya sendiri. sang wanita masih dengan setia menemani sang anak hingga pada pukul 02 pagi diputuskannya meninggalkan rumah untuk menghilang seperti yang dipinta sang anak.
pagi sudah menyapa namun kali ini terik mataharilah yang membangunkan sang anak laki-laki bukannya wanita itu. sang anak menunggu dan terus menunggu tapi wanita itu tak kunjung datang. perut kecilnya sudah meronta-ronta namun hanya ada beberapa bungkus roti diatas meja.
dimakannya sehari, dua hari hingga lebih dari tiga hari sang anak tidak memiliki apa-apa lagi untuk dimakan. semuanya rasanya berjalan sangat cepat hingga adegan dirinya terkapar diatas aspal seketika membangunkan anggara dengan peluh yang bercucuran.
napasnya terputus-putus seakan kejadian itu baru saja sialaminya. ya kejadian itu telah terjadi hampir 13 tahun lamanya namun sakit dan apa yang dirasakan anggara masih sama. hal itu menjadi traumatik untuk anggara iya bayang-bayangan wanita itu hingga rasa kelaparan yang dulu menemaninya masih sama-sama menakutkannya untuk anggara.
anggara muak, benar-benar muak karena masa lalu dan kehidupannya kini. dia muak berurusan dengan wanita. menurut anggara wanita adalah sumber penyakit dimuka bumi ini.
"aku membencimu"
"log kok bilang gitu ke mama?"
"benci kamu" teriakan anak kecil itu melengking membengkakkan telingga, tidak lama setelah itu terdengar suara pecahan kaca yang berhamburan di lantai dapur.
"angga, heii anak mama kenapa heii angga" wanita itu menggejar namun anak kecil itu terus berlari menghibdar namun tidak butuh tenaga banyak sang wanita akhirnya mampu meraih sang anak laki-laki dan membawanya dalam dekapanya
sang anak masih meronta-ronta untuk dilepaskan namun pelukan sang wanita yang bersatus ibu kandungnya terus membekap dan beberapa mendaratkan kecupan di kening sang anak. dengan tenang ibu lalu menggendong putranya menuju kursi kayu ringkih milik mereka lalu di pangkunya sang anak dengan sayang.
sang anak masih menanggis setelah menunggunya tenag barulah sang ibu kembali berkata
"putra ibu kenapa? mm?" tanyanya dengan lembut disertai elusan di kepala sang anak.
"mama bodoh"
"iya mama bodoh, tapi kenapa?"
"karena mama aku tidak punya teman" adunya masih dengan isakan yang belum hilang.
"log kok mama?"
"mereka bilang kita miskin tidak layak diajak berteman"
"ooo"
"mama memang miskin sampai-sampai tidak bisa memberiku mainan sebagai kado ulang tahunku"
"..." tak ada kalimat penyangkalan ataupun nasehat yang terdengar dari bibir wanita itu, walau begitu matanya masih nanar menatap anaknya yang menjadi korban bullyan dari teman-temannya
"mama bodoh" katabya sekali lagi menegaskan
"..." sekali lagi tak ada ucapan yang terucap. wanita itu malah tersenyum lebar dan semakin memeluk putranya dengan sayang.
entah apa yang sebenarnya dirasakan sang wanita itu, karena kini bukannya marah dirinya malah kembali menggendong putranya kembali ke meja makan lalu dihidangkannya lagi sepiring nasi dan lauk yang sederhana. seharusnya nasi dan lauk itu cukup untuk mereka berdua namun karena sang anak menjatuhkannya akhirnya wanita itu menggalah dan memilih kelaparan dibanding melihat anaknya yang merasakan apa yang kini dirasakanya.
diperhatikannya sang anak makan dengan perasaan muak karena hanya sekedar tempe dan tahu yang selalu terkapar di piring itu. perutnya beberapa kali berbunyi air liurnya pun serasa begitu mengginginkan nasi dan tempe itu terkunyah dalam mulutnya namun apa daya kemiskinan membuatnya hanya bisa menyumpal kelaparan itu dengan air yang banyak.
semakin berkembangnya anak semakin banyak keluhannya hingga wanita itu merekakan dirinya menjadi p*****r hanya demi memuaskan kebutuhan sekunder sang anak. selama menjadi p*****r sang ibu dengan lambat laun bisa memenuhi kebutuhan mereka hal itu berjalan setenggah tahun lamanya hingga suatu hari sang anak mendapati ibunya sedang digagahi laki-laki asing maka saat itulah sang anak semakin marah dan membenci ibunya