sudah seminggu setelah kejadian laknat berbanjir air mata itu kini aku kembali menginjakkan kakiku di kampus merah kebanggan kota makassar ini. dengan santai aku melangkahkan kakiku memasuki area fakultas, sudah kuperkirakan hitam putih mendominasi kampus apalagi hari ini adalah hari senin dimana para staf kantor juga menggunakan pakaian bewarna putih sehingga semakin banyaklah papan catur berjalan.
seperti biasa tujuan utamaku adalah jurusan antropologi yang berada di lantai dua, setelah sampai pemandangan itu sungguh menggiris kulit wajah bagaimana tidak seseorang yang kukenal adalah adek tingkatku ternyata hari ini sudah berdiri menggunakan baju hitam putih juga selendang bertuliskan namanya dan jangan lupakan ada title sos ikut serta disana. walau tak kasat mata air mataku turun membanjiri hingga kehati sungguh sangat miris karena dirinya lebih dulu melakukan ujian meja dibanding aku, aku yang lebih dulu menggurus ini itu tapi dirinyalah yang mencapai titik finish terlebih dahulu isss menyesakkan.
dengan senyum yang dipaksakan akhirnya aku memberinya selamat dan sempat berbasa-basi ria dengannya. tidak lama setelah itu tiba-tiba seseorang yang sudah lama ku cari-cari menampakkan wajahnya. dia adalah pembimbing duaku, beliau keluar dari ruang ujian secara tiba-tiba, sungguh keberuntunggan yang tidak bisa diprediksi aku sudah seminggu ini menghubungginya namun tidak mendapat tanggapan apapun hingga kini dan tanpa ku harap dirinya hadir dengan senyum bahagianya dihadapanku, melihat itu tentu aku tidak ingin kehilangan kesempatan kuhadang beliau dan meminta sedikit waktunya untuk membicarakan skripsiku.
tapi sebelumnya biar kuceritakan sedikit deritaku selama ini jadi bersiaplah menggetahui kisahku. jika pembimbing satuku adalah orang yang menyebalkan maka pembimbing duaku lebih menyebalkan lagi, beliau adalah ibu paruh baya yang bertingkah sangat sangat dan sangat sibuk entah apa yang dilakukannnya namun sungguh sangat sulit bertemu dengan beliau. namanya ibu mahrani salah satu dosen super cuek dan mm cukup berkesan karena ada kejadian saat itu dirinya menjadi dosen penanggung jawab mata kuliah antropologi arsitektur di semester 4 namun beg sekalipun kami tidak pernah bertemu dikelas dan kami mahasiswa pemalas sangat senang karena itu, bagaimana tidak beliau baru datang dijam seharusnya jam kuliah berakhir dan dengan baik hatinya beliau berkata
"aisss tanda tangani mi saja, itu juga teman-temanmu yang udah pulang tanda tangani mi juga nah iya begitu mi saja nah?" wah dosen yang sangat sayang dengan mahasiswanya.
namun sungguh sangat disayangkan aku mendapat kesialan menjadi anak bimbingannya dan sialnya juga sikap cuek beliau menjalar padaku, aku adalah mahasiswa tingkat kepercayaan diri yang sangat tipis, setipis rambut bayi mungkin dan mendapatkan dua pembimbing yang untuk menghadapinya memerlukan kekuatan wonder women agh maka tebaklah alur selanjutnya.
kini aku menggajaknya duduk bersampingnan dan tanpa membuang waktu banyak aku menyerahkan skripsiku yang telah direvisi sekian kalinya, dengan pelan dan wajah enggan akhirnya beliau membuka dan sedikit membaca beberapa lembar dan setelah menunggu lama akhirnya beliau membuka suara
"apanya lagi mau direvisi ini" allah wakbarrr mendengar hal itu rasanya aku akan berubah menjadi huck
"maksudnya bu?" ucapku cenggoh mendengar ucapannya
"ini tulisanmu kenapa i lagi?" tanyanya sinis
"heheh kemarin saya sudah memperlihatkannya ke prof jamal dan ini adalah hasil dari revisian beliau bu"
"terus"
"bagaimana menurut ibu, apa ada yang perlu sya ubah lagi?" ujarku dengan sopan.
"apakah na bilang prof jamal" ucapnya balik bertanya
"saya masih menunggu beliau bu, ibu orang pertama yang membacanya setelah saya revisi" ujarku disertai cenggiran.
"jadi apa pi pale lagi nabilang prof"
"kan saya belum bertemu beliau bu."
"ogh iya kau ketemu mi dulu prof baru ketemu saya lagi"
"egh bagaimana bu?"
"kan kau bimbingannya sama prof ji terus untuk apa kau minta pendapatnya saya lagi?"
"egh maaf bu maksudnya bagaimana?"
"kamu minta pendapatnya mi prof saja, ka kau kenapa baru ketemu sama saya, ini revisian keberapa mi kah?"
"keempat bu, tapi maaf sebelumnya tapi saya selalu menitipkan skripsi saya di kak salma kok bu, seperti pesan ibu dan kak salma selalu bilang kalau skripsi saya sudah sampai ke ibu."
"iya kah? siapa lagi namamu"
"widya ayunigsih bu"
"ogh iya kah masa si saya rasa tidak pernah baca punyamu"
"......"
"ais nanti pade saya cek i, kau itu toh sering-seringko carika biar saya ingat juga kalo kau itu anak bimbinganku".
"only time bu" ucapku sedikit berdecih dan mulai kehilangan sopan santunku.
"iyo iya ka' kau yang butuh saya toh?" ucapnya cenggesan tidak tahu diri dan sepertinya tidak mengerti arti sindiranku.
"...." tidak menjawab tapi aku hanya mengganggukkan kepala, enggan menambah kekesalan hatiku.
"iya nah sudah mi toh?" ucapnya bersiap siap namun geraknnya itu kembali ku khalau karena dirinya memasukkan skripsiku dalam tasnya.
"iya bu" ucapku mantap "tapi tabe bu itu skripsi bukan untuk ibu tapi untuk perlihatkan ke prof jamal"
"mana pade punyaku saya?" ujarnya dengan suara sedikit meninggi.
"untuk sekarang tidak ada bu karena saya tidak menggira akan ketemu ibu hari ini" ucapku memberi pengertian.
"bagaimana sih, seharusnya kau selalu mempersiapkan" ucapnya dengan intonasi yang mulai naik setengah oktaf
"masalahnya ibu kayak hantu gentayangan datang saat tidak dicari jadi saya tidak mempersiapkan bu" dengan lancar mulutku menggatakan itu sungguh amarahku sudah menjalar hingga ke kepala sehingga tidak bisa menggontrol mulut nistaku untuk menggatakan kalimat yang hampir serupa tapi lebih sopan dari itu.
"...." dirinya tanpa berkata-kata lagi segera menggeluarkan skripsiku dalam tas mahalnya lalu tanpa bababi juga dirinya berlalu begitu saja, aku tidak tahu apa yang dirasaknnya tapi aku tidak peduli toh memang kenyataannya seperti itu pikirku membela diriku sendiri.
"iyo iya ka' kau yang butuh saya toh?" ucapnya cenggesan tidak tahu diri dan sepertinya tidak mengerti arti sindiranku.
"...." tidak menjawab tapi aku hanya mengganggukkan kepala, enggan menambah kekesalan hatiku.
"iya nah sudah mi toh?" ucapnya bersiap siap namun geraknnya itu kembali ku khalau karena dirinya memasukkan skripsiku dalam tasnya.
"iya bu" ucapku mantap "tapi tabe bu itu skripsi bukan untuk ibu tapi untuk perlihatkan ke prof jamal"
"mana pade punyaku saya?" ujarnya dengan suara sedikit meninggi.
"untuk sekarang tidak ada bu karena saya tidak menggira akan ketemu ibu hari ini" ucapku memberi pengertian.
"bagaimana sih, seharusnya kau selalu mempersiapkan" ucapnya dengan intonasi yang mulai naik setengah oktaf
"masalahnya ibu kayak hantu gentayangan datang saat tidak dicari jadi saya tidak mempersiapkan bu" dengan lancar mulutku menggatakan itu sungguh amarahku sudah menjalar hingga ke kepala sehingga tidak bisa menggontrol mulut nistaku untuk menggatakan kalimat yang hampir serupa tapi lebih sopan dari itu.
"...." dirinya tanpa berkata-kata lagi segera menggeluarkan skripsiku dalam tas mahalnya lalu tanpa bababi juga dirinya berlalu begitu saja, aku tidak tahu apa yang dirasaknnya tapi aku tidak peduli toh memang kenyataannya seperti itu pikirku membela diriku sendiri.
namun ternyata eh ternyata ibu mahrani melaporkanku pada kak salma lalu dengan sekejab mata namaku menjadi tenar diantara para dosen, bagaimana tidak ibu mahrani begitu marah ketika aku mengatainya setan gentayangan tapi tanpa kusangka-sangka banyak dosen yang mendukungku, sesuatu yang kurang sopan memang namun tetnyata banyak orang yang berpikiran sama denganku dan aku diberi apresiasi karena menjadi orang pertama yang dengan berani menggutarakan hal itu aisss aneh.