terimah kasih pada jarak yang sudah memisahkan kita
terimah kasih pada luka yang sudah mendorong langkah - lamgka rapuh sampai ke tempat ini
tempat dimana aku belajar arti perjuangan
terimah kasih pada hati yang sudah belajar dewasa dan penurut
terimah kasih pada air mata yang kini malu - malu untuk jatuh
dan terimah kasi pada waktu yang membiarkanku menghadapi kenyataan yang kadang pahit namun memberi satu kisah di dalamnya.
waktu memang terkadang jahat namun dalam waktu selalu ada detik yang berlalu dan akan menjadi kenangan. waktu memang tak mampu berkata namun memiliki makna tersirat dalam detiknya yang seolah mengajarkan untuk jangan meremehkan kebersamaan sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan kamu hanya bisa menyalahkan keadaan.
sepertinya kaya itu cocok untuk menggambarkanku saat ini, rasanya sudah cukup lama aku tidak berkabar dengan orang tuaku setelah insiden gadget rusak itu aku tidak dapat mengabari mereka.
tidak berani rasanya aku membeli gadget baru dengan uang pas pasan apa lagi saat itu aku sedang sibuk - sibuknya menggurusi ujian mejaku yang akhirnya terjadi juga dengan segala mala upayah yang hampir membuatku hancur hingga berkeping-keping bahkan melebur jadi debu yang kini lenyap di bawa angin begitu saja.
ujian meja adalah titik akhir untuk seorang mahasiswa agar bisa mendapat gelar sarjananya begitu pun denganku. tapi itu dulu ya memang hanya dulu dan kini tidak lagi karena untuk mendapatkan title itu ada harga yang harus ku bayar mahal dan itu sangat - sangat tidak ingin ku lalu i lagi.
bagaimana ingin ku ulang lagi jika disaat semua orang belajar mengguasai materi agar meyakinkan pengguji aku malah dibuat kalang kabut karena pengujiku sekaligus pembimbing akedemiku juga uang berstatus sebagai pembimbing pertama ku harus melakukan perjalanan keluar negeri bertepatan dengan hari yang di jadwalkan juga sudah di sepakati bersama jauh - jauh hari sebelum hari itu tiba untuk aku melakukan ujian meja.
namun mau dikata apa lagi undanganku sudah disedarkan dan kenyataan itu harus ku hadapi jua. hari ini hari yang sudah ku tunggu - tunggu, dimana hari ini adalah yang selalu ku perjuangkan untuk bisa bertemu hari ini dan berdiri di depan podium untuk mempresentasikan hasil kerja kerasku selama ini namun semua itu akan hanya menjadi angan - angan saja.
dengan berbesar hati dan muka tebal aku tetap datang keruang ujian dan berharap sebuah mukjisat mendatanggiku di saat - saat kepepet akan tetapi lagi -lagi aku harus menelan mentah - mentah harapan itu. Pembimbing pertama adalah penanggung jawab dari hasil penelitian dan penyusunan skripsi ku karena hasil tulisan itu tidak lepas dari kerja sama bersama pembimbing pertama begitu pun dengan pembimbing kedua. ketika pembimbing pertama berhalangan hadir maka bisa di wakilkan oleh pembimbing kedua, tapi sudah jelas jika pembimbing dua ku menolak untuk hadir karena insiden beberapa bulan lalu itu masih membekas dan hingga sampai saat ini. bendera perdamaian diatara kami belum ada tanda - tanda akan di kibarkan olehnya. jadi sebenarnya harapanku hanya kepada pembimbing satuku namun apalah dayaku pembimbing ku itu lebih memilih pekerjaannya di luar negeri di banding menghadiri hari besarku ini. rasa kecewa frustasi dan rasa benci mulai bersemayam dalam sukmaku namun tidak bisa ku ekspresikan melalui air mata karena kini sudah ada tiga pengguji yang telah hadir dan duduk di kursi yang disediakan.
detik demi detik berlalu waktu yang ditentukan sudah hampir melewati batas untuk aku memulai ujianku walau waktu telah menunjukkan pukul 10 : 00 wit pembimbing pertamaku itu tak kunjung menampakkan diri juga hingga membuat semua yang berada di ruang ujian kala itu bertanya - tanya dan mulai bosan karena kegiatan itu tak kunjung di mulai. dengan semangat yang hanya setengah aku hanya bisa menyungingkan senyum palsu pada mereka kini menatapku dengan prihatin apa lagi yang kini mereka sudah menggetahui jika pembimbing pertamaku menolak hadir dan tidak bisa membuka ujian mejaku.
bisik - bisik dan semua asumsi telah dikemukan oleh dosen - dosenku tapi tak ada satu pun kata yang bisa memberiku harapan untuk bangkit karena satu - satunya solusi yang bisa mereka berikan hanyalah MENUNDA JADWAL UJIANKU hingga pembimbing pertamaku bisa hadir sebagai menanggung jawab.
saat kata itu di lontarkan dengan mudah dan dengan santainya semua orang menyetujuinya serasa menghancurkan lantai yang kini ku pijaki namun aku masih tetap berdiri tegar dengan segala rasa walau hatiku sudah menjerit -jerit merasakan sakit yang tiada tara kala itu. aku yang berpura - pura tegar ternyata tidak bisa bertahan lama karena dengan mudahnya air mata bodoh itu lolos begitu saja dan membasahi wajahku dengan cara yang sangat tidak elegant.
melihatku mulai goyah satu persatu orang mulai meninggalkan tempat duduknya lalu keluar dari ruangan hingga hanya menyisihkan aku yang ada diruangan itu. berada di ruang yang sepi, luas, dan hanya ada aku sendiri membuatku dengan leluasa menumpahkan air mataku tak henti hentinya aku merutuki dan menyumpahi orang yang telah tega membuatku menanggis dengan tradis di ruang ujian ini.
cukup lama aku menanggis dengan keadaan berjongkok dan menyembunyikan wajahku di lipatan tangan hingga tanpa ku sadari ternyata lampu ruangan telah di padamkan. kini kesepian gelap dan rasa sedih melengkapi kisah nistaku dan itu membuat air mataku semakin semangat untuk turun dari muaranya. masih dengan rasa sakit dan kekecewaan akhirnya aku menungguti semua barang - barangku dan bersiap untuk meninggalkan ruangan itu namun kesialanku tidak hanya sampai di situ karena lagi dengan kejamnya seseorang menjebakku hingga terkunci dalam ruang yang menyedihkan itu.
tawa sumbang seketika mengema di ruang itu walau demikian tanggisan juga tak kunjung bisa ku hentikan dari mata ku dan sekali lagi kulipat tangan ku diatas meja dan ku sembunyikan wajahku diatas lipatan tanggan ku. ku resapi segala rasa juga kebencian pada seseorang yang sudah berbaik hati menggoreskan luka begitu dalam untuk hari ini larut dalam otakku sudah menyusun siasat untuk menyantet orang yang namanya akan ku kenang sempanjang masa itu. sangat larut dengan kebencianku tiba - tiba terdengar suara kunci yang di putar dan sepertinya seseorang kini membuka pintu dengan hati- hati walau suara decitan pintu menggisi ruangan yang sepi itu.
masih dengan posisi sama aku membiarkan orang itu mendengar isak tanggisku. peduli setan dengan rasa ibanya pada ku toh saat ini aku memang layak untuk di kasihani oleh orang lain dan tidak ada yang salah dari tanggisanku itu. hingga ketika ku dengar suara laknat yang sudah pamiliar ku dengan menggisi telinggaku ku angkat wajahku lalu dengan cara yang sadis ku kahapus air mata itu.
ku tatapi dia yang kini berdiri di belakangku sembari membawa sebuah kue yang di sertai lilin kecil diatas kue itu. lilin- lilin kini menyala dan sedikit meneranggi ruangan itu dan ku pernatikan sekitar ternyata kini tidak hanya ada mantan laknatku tetapi semua orang yang tadi meninggalkanku kembali dengan cenggiran yang menyebalkan menurutku.
jika saja hanya ada aku dan mantan ku itu, bisa ku pastikan kue itu akan berakhir tragis dan dengan hitungan detik sudah menempeli wajahnya saat ini juga namun untuk menghargai kehadiran semuanya ku beri dia senyum ke sopanan bagaimana tidak jika wajahnya itu menggingatkanku dengan orang yang menjadi sumber air mataku turun dengan cara sadis di hari ini.
segala sorakan nista memenuhi ruangan entah itu dari dosen - dosen atau pun dari teman - temanku yang sangat semangat memintaku bertingkah mesra dengan mantan yang sangat ingin ku lupakan itu. sudah hilangkah urat malunya hingga menemui ku di waktu yang tidak tepat, atau sudah biasakah dirnya menjadi pusat perhatian sehingga terlalu bodoh tentang tanggapan orang - orang.
aku hanya memberi mereka mereka senyum sopan sebagai ucapan terimah kasih telah berpartisipasi memberiku kejutan yang hampir saja menggelindingkan jantungku hingga kelantai. dan untuk menyelesaikan semua drama itu akhirnya aku berdiri dan memperhatikan ku yang ternyata bertuliskan "Happy anniversary honey"