diujung lorong terdengar suara desahan yang saling bersahut-sahutan. karena penasaran, dania mendekatinya dengan menggendap-ngendap. diruangan itu ternyata tidak tertutup hingga dihapan danisa terlihatlah sepasang manusia sesama jenis sedang berciuman panas.
danisa merasa syok bukan main, air matanya juga luruh begitu saja saking tidak sanggupnya melihat apa yang ada dimatanya tapi danisa juga seolah dipaksa melihat adegan-adegan yang dilakukan oleh dua lelaki itu.
kaki danisa lemas hingga terjatuh dan duduk lantai menutup mulut untuk menahan jeritannya, mata melotor, juga tidak ketinggalan air mata yang mbasahi wajahnya.
kegiatan dua orang itu sempat terhenti, mereka juga sempat syok mendapati danisa sudah berada di ambang pintu. melihat danisa sudah seperti itu anggara bukannya kelabakan dan melepaskan diri dari seseorang yang menusuknya dari belakang malah berinisiatip bergerak menuju danisa secara perlahan-lahan lalu diikuti llelaki itu dengan posisi pusat inti lelaki itu masih menancap ditempatnya.
danisa seolah hampir muntah melihat itu, tapi dia tidak bisa berkutik. tulang-tulangnya serasa hancur hingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun. tepat ketika anggara dihadapan danisa, anggara baru mendorong lelaki itu agar melepaskan barangnya dari lubang anggara.
anggara lalu menyamaratakn tingginya dengan danisa lalu berkta
"aku sudah berkata jujur padamu sedari dulu, apa kau masih ingin bertahan?"
"...." danisa diama
"aku tidak normal danisa, aku lelaki lemah" jelasnya lagi.
"...." danisa masih diam.
"ini danisa, lihat, dia baru bangun tidak seeperti saat kau merayuku" katanya merai tangan danisa lalu membuat danisa menyentuh pusat inti anggara.
"..." danisa diam tapi tanggisnya semakin jadi biarpun danisa sudah membekap bibirnya dengan kedua tangannya.
"aku tidak heran lagi saat kau akan menceraikanku danisa"
"...." danisa masih terisak ditempatnya tapi saat mendengar kata cerai danisa malah menyentuh wajah anggara dengan kedua tangannya lalu entah dorongan dari mana danisa memilih menyatukan bibirnya dengan bibir anggara.
anggara membalas ciuman danisa. mereka berciuman dengan panas, hisapan, lilitan lidah bahkan gigitan kecil anggara lakukan dibibir danisa. akhirnya anggara mengangkat danisa menuju keranjang lalu setelah danisa sudah berbaring nyaman, ciuman itu kembali terjadi tapi tidak hanya dibibir.
anggara kini sudah mengecup dan menjilati telingga danisa merambat keleher. danisa menikantinya hingga tanpa sadar seluruh kanci kemejanya sudah terbuka dan saat anggara akan membuka celannya, kesadaran tiba-tiba menghentikan kegiatan anggara.
danisa syok dan mencoba menutupi tubuhnya karena sadar mereka tidak hanya berdua tapi dengan nada lembut dan meyakinkan, anggara berkata
"aku janji hanya aku yang akan menyentuhmu danisa jangan takut"kata anggara dan bodohnya danisa menggikutinya karena sudah keburuh nafsu.
kondisi danisa kini sama dengan dua lelaki didepannya, mereka sudah tidak ditutupi sehelai pakaian pun. anggara masih menggoda tubuh danisa dengan pijitan, jilatan juga remasan diarea sensitiv. danisa lupa diri hingga kembali mendesah.
sadar danisa sudah nyaman lelaki yang tadi memasukkan pusat intinya ke anggara kembali mendekat. anggara juga membukakan akses untuk lelaki itu dengan sedikit membungkukkan tubuhnya. semua kejadian itu terekam dimata danisa tapi danisa dibuat melayang kala bibir anggara memainkan pusat inti danisa dibawah sana.
anggara memperlakukan bibir bawah danisa layaknya bibir atas danisa hingga danisa kelabakan menerima semua perlakuan anggara. danisa mendesis, mendesah bahkan tanpa sadar meremas dadanya sendiri sedangkan tangan satunya digunakan untuk meremas rambut anggara sekaligus menekannya agar semakin memainkan lidahnya.
lelaki dibelakang anggara membuka mulutnya sedikit lebar dan mendesah bersamaku sedangkan anggara masih sibuk menjilatiku. dengan bibirnya saja aku sudah hampir melayang anggara malah memasukkan jari tenggahnya didalam sana hingga desahan danisa layaknya sebuah jeritan.
kini tari tengah anggara sudah masuk dan aktif keluar dengan ritme yang tidak beraturan. masih dengan posisi yang sama akhirnya danisa merasa sesuatu yang aneh datang padanya.
layaknya ingin menggeluarkan air sani, tapi rasanya mampu menggetarkan tubuhnya. layaknya orang yang akan kejang-kejang danisa membuka dan menutup matanya berulang-ulang kali saking merasa aneh dengan apa yang diarasakan tapi dia juga menikmatinya.
tangan anggara masih dibawah sana malah menggococoknya kian kencang hingga tanpa sadar danisa menjerit sekencang-kencangnya bersamaan dengan tetesan-tetesan itu membasahi seprai.
"kau memang wanita tidak berguna, tidak bisa diandalkan mencari uang egh malah jaga anak pun tidak becus"
"hiks hikss"
"diam kau kau wanita pembawa sial, sekarang apa? lihat karena didikanmu anak sialan itu sekarang mendekam di penjara dan mempermalukanku"
"plak" suara tanparan begitu keras terdenganr hingga membuat telingga sang wanita berdengung.
makian dan pukulan tak henti-hentinya terjadi, namun sang wanita hanya bisa pasrah merasakan semuanya. puas melakukan hal itu akhirnya lelaki itu meludahi wajah wanita yang sudah setia menjadi pembantunya selama ini. hubungan mereka adalah suami-istri namun sebenarnya wanita itu tidak ada bedanya dengan p*****r bahkan lebih rendah dari p*****r.
entah dimana wibawa hingga rasa manusiawi untuk sang wanita karena jangankan dihormati oleh anak-anak yang dilahirkannya sedangkan suaminya sendiri merendahkan wanitanya serendah-rendahnya dan sialnya mahluk yang pernah menetap di perutnya itu lebih menggikuti tabiat sang penyembur benih itu.
makan dibatasi, tidur selalu tak nyaman kekerasan pun masih sering diterima hingga dia terkapar sakit tak seorang pun yang peduli padanya padahal jika suami atau anak-anaknya sakit dia yang selalu merawat mereka. dimanakah belas kasih yang pada wanita itu? atau dimanakah rasa kemanusiaan mereka pada wanita yang sudah rela membuang-buang tenaga hingga masa hidupnya, kebahagiaan dan kebebasannya demi menjaga martabat dan nama baik keluarga mereka yang sedari awal memang sudah kacau balau.
kemunafikan laki-laki itu membautnya hancur lebih namun dengan serpihan itu dia masih menetap, bodohnya wanita itu tidak membiarkan angin kencang membawanya melayang dan terhempas jauh lalu melekat pada sesuatu yang mungkin lebih membutuhkannya. bodoh ya memang bodoh.
waktu bergulir dengan semestinya dan wanita itu semakin ringkih, tak ada makanan, tak ada obat, hanya tetesan air yang menggizi perutnya hingga ketika maut menyapanya bukan rasa takut yang melanda melainkan senyuman lebar menghiasi bibirnya.
ya wanita itu pulang pada penciptanya tanpa penyesalan sedikitpun. dia pergi selama-lamanya dengan luka masih bernanah disekujur tubuh, berat badan yang sangat rigan, dan tak bernyawa. jangan tanyakan bagaimana mereka yang telah ditinggalkan karena dia yang menderita semakin menderita bahkan hukuman penjara semakin menjeratnya hingga ajal akan menjemputnya juga.
diujung lorong terdengar suara desahan yang saling bersahut-sahutan. karena penasaran, dania mendekatinya dengan menggendap-ngendap. diruangan itu ternyata tidak tertutup hingga dihapan danisa terlihatlah sepasang manusia sesama jenis sedang berciuman panas.
danisa merasa syok bukan main, air matanya juga luruh begitu saja saking tidak sanggupnya melihat apa yang ada dimatanya tapi danisa juga seolah dipaksa melihat adegan-adegan yang dilakukan oleh dua lelaki itu.
kaki danisa lemas hingga terjatuh dan duduk lantai menutup mulut untuk menahan jeritannya, mata melotor, juga tidak ketinggalan air mata yang mbasahi wajahnya.
kegiatan dua orang itu sempat terhenti, mereka juga sempat syok mendapati danisa sudah berada di ambang pintu. melihat danisa sudah seperti itu anggara bukannya kelabakan dan melepaskan diri dari seseorang yang menusuknya dari belakang malah berinisiatip bergerak menuju danisa secara perlahan-lahan lalu diikuti llelaki itu dengan posisi pusat inti lelaki itu masih menancap ditempatnya.
danisa seolah hampir muntah melihat itu, tapi dia tidak bisa berkutik. tulang-tulangnya serasa hancur hingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun. tepat ketika anggara dihadapan danisa, anggara baru mendorong lelaki itu agar melepaskan barangnya dari lubang anggara.
anggara lalu menyamaratakn tingginya dengan danisa lalu berkta
"aku sudah berkata jujur padamu sedari dulu, apa kau masih ingin bertahan?"
"...." danisa diama
"aku tidak normal danisa, aku lelaki lemah" jelasnya lagi.
"...." danisa masih diam.
"ini danisa, lihat, dia baru bangun tidak seeperti saat kau merayuku" katanya merai tangan danisa lalu membuat danisa menyentuh pusat inti anggara.
"..." danisa diam tapi tanggisnya semakin jadi biarpun danisa sudah membekap bibirnya dengan kedua tangannya.
"aku tidak heran lagi saat kau akan menceraikanku danisa"
"...." danisa masih terisak ditempatnya tapi saat mendengar kata cerai danisa malah menyentuh wajah anggara dengan kedua tangannya lalu entah dorongan dari mana danisa memilih menyatukan bibirnya dengan bibir anggara.