Jika kemarin bangun karena di paksa oleh ayu, kali ini winda bangun dengan sendirinya. Jujurnya ini terasa sangat sulit untuk winda namun pada akhirya Winda berdiri di depan rumah sambil memperhatikan langit yang masih terlihat gelap.
Matahari baru saja bergerak menuju langit tapi Ayu sudah meminta Winda untuk menemaninya ke sungai untuk mengambil air yang akan mereka gunakan.
Sesampainya di sungai itu, Winda pikir jika mereka terlalu rajin dan winda menyangka di sungai itu belum ada seseorang pun namun ternyata tebakan Winda salah.
Walaupun langit belum menjadi terang, Di sana terlihat beberapa orang yang sepertinya sudah selesai menampung air kedalam wadah lalu bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka.
Menyadari itu, winda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sesuatu hal yang sangat berbeda dengan di kota.
Jika biasanya winda melihat banyak orang bangun demi berangkat bekerja di kantoran, sekarang ini, winda hanya mendapi orang-orang meninggalkan rumah untuk mendapatkan air yang jujurnya belum terjamin kebersihannya.
Mereka sebenarnya bukan orang yang tidak mengerti jika di kota metropolitan sudah sangat maju dan apapun bisa di dapatkan namun mereka yang tidak punya uang memilih mengandalkan alam demi bertahan hidup di zaman yang semakin sulit.
Setelah berbicara banyak dengan ayu kemarin malam, Winda menjadi tahu jika di tempat ini banyak orang yang rela mengerjakan apa saja demi bisa bertahan hidup. misalnya saja ayu. Dulu ayu meninggalkan kampung halamannya demi membiayai sekolah dan pengobatan suaminya.
Ayu hanya menjadi salah satu dari mereka yang meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan uang di kota besar. Kota besar seolah menjadi harapan banyak orang untuk mengubah nasip menjadi lebih baik namun banyak orang yang tidak bisa bertahan dari kekejaman ibu kota.
Permasalahan orang-orang di tempat ini sebenarnya sama. Mereka tidak punya sesuatu untuk di kerjakan demi mendapatkan uang.Mengetahu itu, winda hanya tersenyum miring karena sungguh hidup itu aneh.
Aktivitas pagi ini terasa sangat melelahkan namun Winda merasa itu tidak masalah karena dia tidak lagi di persulit dengan permasalahan orangtuanya dan kegilaan yang harus dia anggap sebagai hal yang wajar.
Pagi ini, setelah mandi, sarapan, membantu ayu membersihkan rumah lalu menyiram tanaman, Ayu akhirnya mengajak Winda untuk kepasar tradisional.Tempat yang mereka datangin sangat berbeda dengan toko-toko atau mall yang biasa winda datangi.
Di tempat itu, hanya ada tanah kosong.pedagang akan datang lalu meletakan barangnya di sana, lalu ketika mereka selesai berjualan, semua barang mereka akan di angkut ke rumah masing-masing.
Melihat itu, winda tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya mereka harus selalu menyusun barang jualan mereka lalu di bereskan setelahnya. Mengerjakan itu saja sudah memakan waktu banyak, apa lagi jika tidak ada yang membeli maka rugilah mereka.
Kau kenapa.Tanya ayu pada winda.sedari tadi ayu memperhatikan Winda berdecak beberapa kali setelah melihat seliling yang di penuhi orang-orang yang ingin berbelanja.
Aku hanya tidak terbiasa.Jawab Winda acuh dan tetap membiarkan matanya memperhatikan sekelilingnya.
Ayu hanya mendengar ucapan Winda namun tidak menanggapinya karena semenjak mendapatkan hal-hal yang baru, winda selalu mengatakan hal yang sama.
Sekarang ini, Ayu membawa Winda untuk membeli beberapa pakaian untuk winda karena sejak winda di rumahnya, winda selalu menggunakan pakaian Ayu yang ukurannya sangat besar bagi winda yang memiliki tubuh kecil.
Beberapa pakaian telah di bungkus untuk di bawa pulang oleh Winda.Setelah membeli semua kebutuhan mereka, Winda terdiam sambil memperhatikan beberapa anak yang duduk dengan buku di pangkuannya.
Winda masih memperhatikan mereka dan semakin memperhatikan ketika melihat seorang pria berpakaian sederhana sedang mengajari beberapa anak yang ada di sana. winda sangat serius memperhatikan mereka hingga tidak sadar jika sekarang Ayu sedang berbicara pada seseorang.
Ooo ini toh, anak gadis yang datang dari kota. ucap seorang wanita yang teryata berdiri tepat di hadapan Ayu dan winda.
Iya. Jawab ayu
Cantik ya.pantas banyak anak muda yang membicarakannya
Kau ini terlalu mengada-ngada.
Sampai kapan dia di sini
Katanya mau tinggal dan menjadi orang sini saja.dia sudah bosan tinggal di kota.
Lah cocok itu.
Sudah punya suami
Belum
Kenapa
Hahaha kau tahu kan aku punya anak pria. Bagaimana jika dia menjadi menantuku saja.kelakar wanita itu.
Mendengar pembicaraan ayu dengan wanita itu, winda hanya tersenyum tipis tapi tidak menanggapi. Setelah wanita itu pergi, Winda baru berkata
Dia siapa
Dia istri dari kepala desa disini.
Memangnya anaknya siapa, kenapa dia percaya diri sekali untuk menjodohkan anaknya denganku.
Anaknya seorang dokter dan sekarang bekerja di salah satu rumah sakit yang ada di kota, jika dia membanggakan anaknya, itu hal yang biasa.
Anaknya tampan
Apa kau tertarik.
Tidak.
Lalu kenapa bertanya
Wanita itu jelek dan mulutnya lebih jelek lagi jadi tanpa melihat anak dari wanita itu, aku bisa menebak anak laki-lakinya seperti apa. Ucap Winda lalu pergi menghampiri seorang pedagang makanan.
Melihat dan mendengar ucapan Winda, ayu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.Bukan hal yang aneh jika banyak pria yang menyukai Winda namun Ayu tidak menyangka, sikap Winda seolah sangat membenci makhluk yang bernama pria di buka bumi ini.
Kali ini winda duduk menunggu pesanannya bersama beberapa anak kecil yang juga melakukan hal yang sama. Bersama anak-anak itu, Winda memperhatikan seorang pedagang yang sedang mengambil sebuah adunan lalu adonan itu di bentuk menjadi burung atau bentuk lainya.
Sekali lagi Ayu hanya bisa menggeleng bagaimana winda yang tadinya sedang marah karena ucapan wanita yang di temui lalu menjadi anak kecil yang tenang setelah melihat hal baru.
Setelah mendapat apa yang Winda inginkan dan membayar permennya, mereka akhirnya bergerak menjauh dari pasar tradisional lalu kembali ke rumah ayu. sesampainya di rumah ayu, Winda memilih memasukkan semua pakaian yang di belinya ke dalam lemari sedangkan ayu sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka.
Winda sudah selesai merapikan pakaiannya begitu juga dengan Ayu yang sudah selesai menyiapkan makanan.Mereka akhirnya makan siang dengan tenang. Di tengah-tengah kegiatan makan mereka, Winda berkata
Jadi kalo aku ingin membangun toilet umum, apa yang harus kulakukan.
Kau serius dengan ucapanmu kemarin
Ya, aku sangat serius. Jawab winda
Jujurnya aku tidak tahu winda, tapi sepertinya kau harus mendatangi kepala desa dan menjelaskan keinganmu itu.
Sepertinya kau benar.
kau dan aku tadi bertemu dengan istri dari kepala desa. Kenapa tidak kau tanyakan saja pada istrinya tadi.
aku tidak tahu kalau itu adalah istri kepala desa ayu. kalo kau menjelaskannya lebih cepat mungkin aku akan melakukan itu. Jawab Winda kesal.
Kau tahu winda.
Apa.
Kau masih seperti anak kecil yang gampang sekali marah.
Ya kau benar tapi kurasa tidak ada salahnya menjadi anak kecil.Anak kecil hanya butuh makan dan minum dan bermain.
Kau benar-benar menyebalkan winda
Kau juga tidak kalah menyebalkannya Ayu.jawab Winda.
Saat Winda mengatakan hal itu, Ayu bukannya kesal atu marah. Dia malah tertawa terbahak bersama Winda karena sadar jika winda ini sama seperti dirinya. Detelah tertawa, ayu berkata
Aku merasa saat kau datang kerumah kepala desa, wanita yang kita temui tadi akan berpikir jika kau benar-benar ingin di jodohkan dengan anaknya. Kelakar Ayu.
Menjengkelkan.Ucap Winda kesal lalu segera menyelesaikan makannya.
Jika kemarin bangun karena di paksa oleh ayu, kali ini winda bangun dengan sendirinya. Jujurnya ini terasa sangat sulit untuk winda namun pada akhirya Winda berdiri di depan rumah sambil memperhatikan langit yang masih terlihat gelap.
Matahari baru saja bergerak menuju langit tapi Ayu sudah meminta Winda untuk menemaninya ke sungai untuk mengambil air yang akan mereka gunakan.
Sesampainya di sungai itu, Winda pikir jika mereka terlalu rajin dan winda menyangka di sungai itu belum ada seseorang pun namun ternyata tebakan Winda salah.
Walaupun langit belum menjadi terang, Di sana terlihat beberapa orang yang sepertinya sudah selesai menampung air kedalam wadah lalu bersiap-siap untuk pulang ke rumah mereka.
Menyadari itu, winda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sesuatu hal yang sangat berbeda dengan di kota.
Jika biasanya winda melihat banyak orang bangun demi berangkat bekerja di kantoran, sekarang ini, winda hanya mendapi orang-orang meninggalkan rumah untuk mendapatkan air yang jujurnya belum terjamin kebersihannya.
Mereka sebenarnya bukan orang yang tidak mengerti jika di kota metropolitan sudah sangat maju dan apapun bisa di dapatkan namun mereka yang tidak punya uang memilih mengandalkan alam demi bertahan hidup di zaman yang semakin sulit.