"Lo kemarin ke mana? Kok ngilang? Padahal kita belum selesai ngobrol," ujar wanita dengan gaya begitu feminim.
Berbanding terbalik dengan Sabrina yang berpenampilan agak tomboy.
Pasalnya kemarin saat Sabrina dan Aurel mengadakan piknik dadakan, mereka tadinya sedang reunian bersama teman-teman kerjanya tujuh tahun lalu.
Wanita dengan kaos oversize warna hitam itu memutar kedua matanya.
"Harus, ya, gue izin ke lo atas semua urusan gue?"
"Ya enggak gitu. Maksudnya kita kemarin kan lagi ngumpul bertujuh, harusnya kalau lo mau pergi bilang, kek."
Sabrina yang tadinya ingin duduk kembali mendorong kursinya. Tanda ia tertarik dengan obrolan tersebut. "Tapi lo nggak ada hak buat tahu aktivitas gue sehari-harinya, La."
Ella melipat kedua tangan di d**a. "Lo itu kenapa, sih? Sama gue dan yang lain lo kasar banget. Sedangkan sama Aurel si janda anak satu itu lo baiknya minta ampun."
Mendengar kalimat yang cukup kasar untuk sampai ke telinga Sabrina, ia menggebrak meja lantas berdiri. "Lo nggak ada hak bawa-bawa status orang! Harusnya lo nyadar, lo sama dia temenan juga. Nggak seharusnya lo jelek-jelekin dia depan gue cuma buat ngebela diri lo sendiri. Lo nggak harus menjatuhkan orang lain supaya lo terlihat tinggi."
Cewek yang dipanggil Ella itu terdiam sambil menatap sekeliling. Malu bukan main saat Sabrina tiba-tiba bicara kasar padanya di depan semua orang.
Harusnya Ella tahu, konsekuensi apa yang akan ia dapat saat mengajak gadis seperti Sabrina berdebat.
Sorot mata Sabrina belum juga memudar, bahkan makin menajam. "Dan soal sikap gue sama Aurel, harusnya lo nggak perlu tanya. Nggak ada yang perlu dibandingin, karena bahkan kalian berdua itu nggak selevel."
Sabrina maju beberapa langkah mendekati Ella. "Gue memperlakukan orang sebagaimana mereka memperlakukan gue. Dulu mungkin gue bisa bersikap baik ke semua orang gimanapun mereka membalas perlakuan gue. Tapi sekarang enggak. Bukan karena gue capek jadi orang baik. Tapi karena emang sekarang hati gue udah nutup diri buat orang-orang yang nggak penting. Udah males aja gitu. Lo sendiri yang ngajarin gue, bahwa gue nggak perlu bersikap baik sama orang yang berlaku buruk ke gue. Lalu menurut lo sikap lo selama ini ke gue udah cukup baik?"
Skakmat! Sabrina memang jarang sekali bicara. Tapi itu dulu. Saat ini dalam dirinya hanya ada emosi. Dia akan terus bicara sampai lawannya kalah.
Kemarahan yang sedari dulu tak bisa ia luapkan justru baru bisa ia keluarkan saat ini.
Sabrina tidak pernah meminta siapapun untuk mengerti dirinya. Toh dia juga sudah terbiasa untuk melakukan segalanya seorang diri. Tapi jika Aurel mengerti semua keadaannya, itu bukan permintaannya.
"Hei, hei, ada apa ini?"
Seorang pria dengan setelan hitam menghampiri keduanya. Lebih tepatnya ia hanya bertanya pada Ella.
Sabrina yang melihat itu mengembuskan napas perlahan lalu melipat kedua tangan di depan d**a berusaha tenang.
"Pak, dia mempermalukan saya di depan umum," ujarnya penuh penekanan namun dengan suara pelan.
Namun yang dituduh malah diam. Sebaliknya dengan Ella yang tengah menggebu, ia justru tengah mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sadar baru saja dia kehilangan kendali atas emosinya.
Sosok dengan badge nama Orion itu menatap Sabrina sekejap lantas kembali menatap Ella. "Saya tahu Sabrina tidak akan mempermalukan kamu kalau dia nggak merasa terpojok. Kamu bikin salah apa sama dia?"
Kedua mata Ella menyorot heran. Ia menunjuk dirinya sendiri. Masih tidak percaya kalau Orion masih saja membela Sabrina. "Kok saya, sih, Pak? Kan udah jelas-jelas dia yang teriak-teriak ke saya pakai acara gebrak meja segala. Bapak pikir ini sopan?"
"Dan kamu pikir singa yang sedang tidur akan bangun sendiri kalau nggak ada yang mengusik? Ella, hidup ini adalah timbal balik. Apa yang kamu lakukan, hal sekecil apapun, itu yang akan berbalik kepada diri kamu sendiri," ujarnya memberi nasihat.
Memang harus diakui Orion lebih mengistimewakan Sabrina daripada karyawan lain. Dan mereka semua tahu itu. Itu terjadi karena ia tahu Sabrina memiliki masalah dengan mentalnya.
Bukan hanya karena itu, tapi Orion juga tahu Sabrina penulis yang berkelas. Semenjak kedatangannya tiga tahun lalu, nama perusahaannya melambung.
Meskipun Sabrina hanya seorang penulis lepas di kantornya, tapi itu sudah berpengaruh. Dan sebagai pebisnis, tentu saja Orion tidak mau rugi.
"Pak Orion ini selalu aja belain Sabrina Padahal di sini jelas-jelas dia yang salah." kesal Ella. Ia mendelikan kedua bola matanya.
Sabrina yang baru saja berhasil mengendalikan dirinya kemudian menatap Ella dingin. "See? Mana bisa sih gue bersikap baik sama lo? Kalau lo pengen dibaikkin, jaga image dikit kek. Benci itu gak usah dilihatin, biar orang tuh lebih gampang tertipu. Teman mana coba yang jelekkin temannya sendiri di depan atasannya? Lo doang emang yang bisa, La."
Dia kemudian menarik kursinya, sedikit mengenai Ella yang menghalangi tempat duduknya. Ia menatap Ella. "Sorry, lo ngehalangin."
Hal itu semakin membuat Ella geram. Dan ia segera berlalu dari hadapan Sabrina daripada dirinya lebih dibuat malu lagi.
Orion menggelengkan kepala melihatnya. Ia lalu mendekati Sabrina yang terlihat sudah memulai pekerjaannya.
"Jadi gimana? Bisa naskahnya tamat dua minggu lagi? Atau kamu perlu bantuan editor tambahan?"
Sabrina menggeleng. "Saya lebih suka sama kak Tami aja, nggak perlu yang lain. Oh iya, naskahnya bisa tamat besok lusa. Itupun kalau nggak ada gangguan kayak barusan yang bisa bikin mood saya kacau dan kehilangan feel di ceritanya. Asal bapak tahu ngumpulin feel dan mood di satu bab aja itu nggak mudah."
Lihat, kan? Hampir semua penulis membutuhkan waktu setidaknya minimal tiga bulan untuk menyelesaikan sekitar 200 halaman novel.
Tapi Sabrina hanya membutuhkan waktu kurang dari sebulan untuk novel dengan 300 sampai 400 halaman novel. Tentu saja asal moodnya sedang baik-baik saja.
Orion berdehem. Paham betul maksud Sabrina barusan adalah tentang Ella. "Biar nanti dia saya yang urus. Mulai hari ini kamu nggak akan lihat dia ada di sebelah kamu lagi. Jadi mood kamu bisa selalu baik-baik aja."
"Jadi meja samping saya kosong?"
"Ada orang baru yang ngisi. Dia pegawai baru di sini. Harusnya sih sekarang udah sampai. Tapi nggak tahy di ke mana sekarang."
Sabrina tidak terlalu peduli dengan karyawan baru. Tentu saja ia tidak akan mempedulikan apapun. Apapun kecuali Daniel.
Melihat Sabrina yang semakin berkonsentrasi, Orion kemudian pamit. "Kalau gitu saya pergi dulu, kamu bisa panggil saya kalau ada apa-apa."
"Siap, bos."
Setelah mengatakan itu, Sabrina memasang headphone untuk menyempurnakan pekerjaannya. Ia tidak bisa konsentrasi menulis jika keadaan sekitar terlalu bising.
Tapi musik dari headphone dengan volume kencang membuatnya merasa rileks dan mendapat inspirasi. Sepertinya hampir semua penulis melakukan itu.
Semua berjalan lancar seperti biasa. Sabrina dan kehidupan yang baginya sangat menarik. Akhir-akhir ini dia sangat semangat bekerja. Ini karena Aurel terus mengingatkannya tentang Daniel dan kembalinya pria itu.
Saat ini kedua sudut bibir Sabrina tertarik ke atas. Tanpa sadar ia tersenyum saat menulis. Padahal ia sedang menulis bab sedih.
Dan biasanya hal itu justru menganggu feel dalam cerita itu sendiri.
Sabrina membuka headphone lalu meletakkan kasar di mejanya.
"Ck! Kalau kayak gini terus gue nggak bisa konsentrasi. Ini juga. Kan ini harusnya nangis tapi kenapa gue bacanya malah hole gitu?"
Sabrina menarik napas dalam lalu mengambil gelas cappuccino yang ada di depannya. Biasanya dia selalu membutuhkan makanan atau minuman saat menulis.
Tapi sebentar! Dia tidak merasa memesan minuman. Justru baru saja berpikir untuk memesan di kantin dan mengantarnya ke sini.
Ia lalu menoleh ke kanan, Reina rekannya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan saat menoleh ke kiri, ia melihat sosok pria yang tidak asing.
Sedang menatap dengan wajah konyolnya. "Hai."
"Elo?!" Sabrina kaget bukan main bahkan ia hampir tersedak karenanya.
Namun berbanding terbalik dengan ekspresinya, pria itu justru dengan santai menarik kursi miliknya-- kursi yang semula milik Ella-- agar dekat dengan Sabrina. "Yap, ini gue. Marcell, dan nggak ada Daniel-nya."
"Garing sumpah." Gadis itu sama sekali tidak berminat dengan pria di sebelahnya. Ia meletakkan kembali cappuccino itu di tempatnya semula.
Marcell hanya mengedikan bahu acuh lalu kembali ke mejanya.
Tadinya Sabrina sama sekali tidak berniat untuk mengobrol. Tapi ia juga harus mendapat inspirasi baru. Dan siapa tahu bisa mendapatkannya dari Marcell.
Ya meskipun tidak yakin.
"Lo yang taruh capcin di sini?" tanya Sabrina.
Namun pria itu tampak menghiraukannya dan malah sibuk dengan layar laptop. Seolah tidak ada yang bicara padanya.
Hal itu tentu saja membuat Sabrina kesal. Di kantor ini semua menghormatinya, Marcell saja yang berani mengabaikannya.
"Oyy, Marcell, gue ngomong sama lo!" Teriaknya kesal. Ia bahkan memasang raut wajah berantakan.
Pria itu baru 'ngeh' dan langsung terperanjat. "Hah? Apa? Lo ngomong sama gue?" tanyanya berturut-turut seperti memastikan pendengarannya tidak salah.
"Iya, lah, bego! Lo kira gue ngomong sama kembaran lo?!"
Marcell hanya mengeluarkan cengiran tak berdosa. "Abisnya biasanya kan lo nggak mau ngomong sama gue. Makanya gue diam aja tadi."
"Tahu, ah! Nyebelin lo. Harusnya, kan, gue dapat feel sedih. Kenapa malah dapatnya emosi?"
Marcell tampak berpikir sebentar. "Lo lagi nyari inspirasi?"
"Kagak! Nyari kembaran lo gue," balasnya ketus sambil kembali memakai headphone namun belum menyalakan lagunya.
Namun Marcell sama sekali tidak menggubris kalimat Sabrina barusan. "Gue punya rekomendasi film sama lagu sedih, sih. Mau nyoba nonton, nggak? Mana tahu bisa balikin mood lo." Marcell menawarkan.
Sabrina melepas headphone dan menatap Marcell, ia tertarik jika tentang menulis. "Serius lo? Awas aja yang lo kasih malah adegan mimi peri. Ngakak gue yang ada."
"Lo bisa ngakak juga?"
"Bisa, lah, anjir. Gue normal."
"Kirain. Tiap gue ketemu lo, lo-nya marah-marah mulu, sih."
"Ya kalau gitu berarti bukan lo orangnya."
Pria itu tampak diam sebentar. Entah kenapa perkataan Sabrina sedikit menyinggung perasaannya. Padahal dia sendiri tidak tahu maksud dari perkataan lawan bicaranya itu.
"Send film sama musiknya ke w******p gue, deh," ujar Sabrina akhirnya.
"Nomornya?"
Tanpa mengatakan apapun Sabrina merampas ponsel Marcell di meja dan menyimpan nomornya sendiri.
"Gue save pakai nama Sabrina. Buruan send, gue butuh ide."
"Sabrina," gumam Marcell sambil mencari media yang akan dia kirim.
"By the way, capcin itu emang gue yang taruh," lanjutnya setelah melihat Sabrina yang kembali fokus ke layar laptop.
"Iya gue tahu. Tapi dari mana lo tahu gue suka capcin?"
"Nggak tahu, sih. Sebenarnya itu bukan buat lo. Gue taruh disitu karena mau beberes meja gue dulu. Tahu-tahu malah lo minum," ia mengedikan bahu diakhir kalimatnya.
Kedua bola mata Sabrina memelotot ke arah Marcell. "LO?! Astaga, ini belum sejam lo jadi partner gue dan lo udah bikin tensi gue naik?! Kalau ini punya lo ngapain nggak ngomong, sih, anjir? Kan jadinya gue yang minum."
Marcell menelan ludah melihat singa mengamuk di depannya. Ia terperanjat dengan ekspresi yang ditunjukan Sabrina. "Ya, santai aja, sih. Capcin juga punya gue, yang minum juga elo, kenapa gue yang dimarahin?"
"Ya tapi gue nggak bisa minum punya orang lain," ia kemudian kembali menjatuhkan bokongnya di kursi. "Astaga!"
Sabrina memijit pelipisnya meredakan amarah. Baru saja Marcell akan kembali bicara namun gadis itu segera menoleh menunjuk ke wajahnya. "Stop! Jangan ngomong lagi. Gue mau fokus. Jangan ganggu gue kecuali itu masalah kerjaan. Awas lo!"
Dan setelah itu, Sabrina kembali memakai headphone dan fokus menulis. Ah, hari-hari berikutnya ia harus siap dengan kehadiran Marcell.