Langkah Dian menuju unitnya terhenti karena tanpa sengaja berpapasan dengan Arion atau biasa dipanggil Rion, teman kecil yang sekarang menjadi tetangga unit apartemennya. Pria itu tersenyum begitu menatap Dian. Lengan kekarnya memeluk wanita bergaun mini merah dengan erat sehingga p******a wanita itu menempel erat didada bidang Rion.
" Baru pulang?" tanya Rion pada Dian.
Dian mengangguk, matanya menyipit kearah wanita menor disebelah Rion. " Kok makin tebel? Nemu di mana?" ceplos Dian membuat wanita itu melotot terkejut.
" Kami masuk dulu.." Sela Rion dan masuk ke dalam apartemennya dengan wanita seksi itu.
Dia mendengus kesal. Sial, entah ini wanita keberapa yang dibawa pria itu ke apartemennya!
Dian kesal.
Atau lebih tepatnya ia cemburu.
Dian mendorong pintu unitnya, melempar sepatu ke rak tanpa disusun, lalu menutup pintu dengan punggungnya. Tas kerjanya ia taruh di meja makan, bertumpuk dengan buku pendamping Arin yang belum sempat ia isi.
Unitnya dan unit Rion hanya dipisahkan satu dinding. Satu dinding saja. Dulu ia pikir itu keberuntungan paling besar dalam hidupnya. Sekarang ia tahu dinding itu justru hukuman, karena setiap malam ia jadi tahu persis jam berapa pintu sebelah dibuka, dan jam berapa sepatu hak tinggi diletakkan di depan pintu.
Dian menyalakan televisi, mengeraskan volumenya lebih dari yang ia butuhkan, lalu masuk ke dapur dan merebus air. Mie instan lagi. Ia sudah hafal ceramah Ibu tentang perempuan yang makan mie tiga kali seminggu, tapi Ibu berada di Jogja dan tidak bisa mengecek panci siapa pun dari sana.
Sambil menunggu air mendidih, matanya jatuh pada foto kecil yang ditempel di pintu kulkas. Foto lama, warnanya sudah kekuningan. Dua anak kecil duduk di teras rumah, yang perempuan memakai daster kembang-kembang kebesaran, yang laki-laki memegang mobil-mobilan tanpa roda.
Ia masih ingat hari itu, atau setidaknya ingat versi yang sudah diulang-ulang Ibu di setiap acara keluarga.
Waktu itu umurnya lima tahun. Mama Rion menitipkan anaknya di rumah mereka lagi, seperti biasa, dengan alasan yang juga biasa: ada rapat, ada dinas, ada apa pun yang membuat orang dewasa tidak pulang. Rion kecil duduk di meja makan dengan wajah datar, tidak menangis, tidak juga bicara. Anak itu memang begitu dari dulu; dunia boleh runtuh, mukanya tetap seperti orang yang sedang menunggu antrean.
Ibu menyendokkan nasi untuk mereka berdua. Hanya ada satu telur dadar di meja, dibagi dua.
Dian yang waktu itu sedang rakus-rakusnya menatap potongan telur di piring Rion. Lalu, entah kesambet apa, ia justru mendorong potongan telurnya sendiri ke piring anak lelaki itu.
"Buat Rion aja," katanya.
Ibu tertawa dan bertanya kenapa. Dian menjawab dengan mulut penuh nasi, dengan suara paling percaya diri yang bisa dikeluarkan anak lima tahun, "Soalnya nanti aku mau nikah sama Rion."
Seisi rumah tertawa. Kakaknya, Gian, tertawa paling keras sampai tersedak. Dan Rion, bocah yang bahkan belum selesai mengunyah, hanya mengangkat wajah, melihat Dian sebentar, lalu menjawab satu kata.
"Boleh."
Dua puluh lima tahun berlalu dan kata itu belum pernah dicabut. Masalahnya, kata itu juga belum pernah diulang.
Bunyi air mendidih menyadarkan Dian. Ia mematikan kompor, menuang mie ke mangkuk, lalu duduk di lantai ruang tamu dengan punggung bersandar ke sofa. Suara televisi menutupi apa pun yang terjadi di balik dinding.
Ponselnya bergetar. Nama Ibu muncul di layar.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam. Sudah makan?"
"Sudah, ini lagi makan."
"Makan apa?"
Dian menatap mangkuknya. "Ayam."
"Ayam apa?"
"Ayam... kecap."
Ibu diam sebentar. "Bunyi seruputannya kok kayak mie."
Dian hampir tersedak. "Ibu ini kenapa jadi detektif."
Ibu tertawa, dan Dian ikut tertawa, dan untuk beberapa detik apartemen itu tidak terasa terlalu sepi.
"Kamu pulang kapan?" tanya Ibu kemudian.
"Nanti pas ulang tahun Ibu. Dian sudah izin sama Bu Sarah, kalau Arin libur sekolah, Dian bisa cuti dua hari."
"Enggak usah repot-repot bawa apa-apa."
"Ibu selalu bilang gitu, tapi kalau Dian datang tangan kosong, Ibu ngomel tiga bulan."
"Ya kan Ibu cuma bilang enggak usah repot, bukan enggak usah bawa," jawab Ibu enteng, membuat Dian mengurut dahi.
Lalu, seperti yang sudah Dian duga sejak nada dering pertama, Ibu berdeham. Deham itu selalu jadi tanda bahwa pertanyaan berikutnya bukan tentang makan malam.
"De."
"Iya, Bu."
"Kamu masih belum ada niatan?"
"Niatan apa?"
"Jangan pura-pura budek."
Dian mengaduk mie di mangkuknya, memutar-mutarnya tanpa niat memakannya. "Belum ada calonnya, Bu."
"Kamu itu kerjanya di sekolah, ketemu orang tiap hari, masa enggak ada satu pun?"
"Yang Dian temuin tiap hari itu anak SMA, Bu. Masa Ibu mau punya menantu yang masih ujian kenaikan kelas."
Ibu tertawa lagi, tapi tawanya pendek. "Rion gimana kabarnya? Ibu kangen."
Sendok Dian berhenti.
Di balik dinding, samar sekali, ia mendengar suara pintu ditutup dan tawa perempuan.
"Rion sibuk, Bu," jawabnya. "Dokter bedah kan enggak punya jam pulang."
"Sampaikan salam Ibu kalau ketemu."
"Iya."
Setelah panggilan itu berakhir, Dian meletakkan ponsel di lantai dan menatap langit-langit lama sekali. Mienya sudah mengembang, kuahnya sudah dingin, dan ia tidak lapar lagi.
Ia bangkit, membawa mangkuk ke wastafel, lalu berhenti di depan cermin kecil dekat pintu kamar mandi. Perempuan di dalam cermin itu masih memakai kemeja kerja yang kusut, rambutnya diikat asal, dan ada satu garis halus di sudut matanya yang minggu lalu belum ia sadari ada.
Tiga puluh tahun.
Umur segitu bukan tua. Ibu sendiri yang bilang begitu. Tapi tiga puluh tahun yang dihabiskan untuk menunggu satu orang yang tidak pernah memintanya menunggu, itu bukan lagi soal umur. Itu soal harga diri.
"Besok," bisik Dian pada bayangannya sendiri, "gue cari suami. Beneran. Serius."
Bayangan di cermin itu menatapnya balik dengan tatapan yang jelas-jelas tidak percaya.
Ia mencuci muka, menggosok gigi terlalu lama, dan berkumur dua kali, seolah semua itu bisa ikut membilas nama yang menempel di kepalanya sejak sore tadi.
Dian mematikan lampu ruang tamu, melewati dinding yang memisahkan unitnya dan unit sebelah, lalu masuk ke kamar. Ia menarik selimut sampai dagu dan memaksa matanya terpejam.
Di dalam kepalanya, seorang anak lelaki berumur lima tahun masih duduk di meja makan, mengunyah telur dadar pemberiannya, dan menjawab satu kata yang tidak pernah ia tarik kembali.
Boleh.