“Jangan!”
Clara berteriak sekeras mungkin ketika Ethan terlihat sudah membuka satu persatu kancing pakaiannya. Pria itu menunjukkan bagian d**a yang tidak tertutup sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Ethan benar-benar membuat Clara merinding. Air matanya juga tidak berhenti mengalir.
“Aku mohon jangan,” kata Clara dengan raut wajah memelas. Dia sedikit memundurkan tubuh, berusaha menghindari Ethan.
Namun, bukan Ethan namanya kalau menuruti ucapan orang lain. Dia pun terus mendekat ke arah Clara yang masih berada di ranjang. Jaraknya memang cukup jauh, tetapi itu masih dalam jangkauan pria tersebut. Dia bahkan mengamati lekuk tubuh Clara yang tampak menggoda. Hingga dia melihat wanita itu membalikkan tubuh dan siap pergi. Tepat saat itu, Ethan meraih tangan Clara dan menariknya.
“Tidak! Jangan!” teriak Clara dengan isak tangis yang masih terdengar.
“Kamu mau kabur, hah?” Ethan menangkup pipi Clara dan mengapitnya dengan keras.
Clara tidak bisa mengatakan apapun, tetapi dia terus menggelengkan kepala. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi ketika Ethan mendekatkan kepala. Dia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria tersebut.
“Aku mohon jangan apa-apakan aku,” pinta Clara. Ketika pria itu menatapnya dengan jarak yang begitu dekat. Sekali saja Clara membuat gerakan, pasti bibirnya akan bersentuhan dengan bibir pria itu.
“Keluargamu sudah memberikanmu denganku. Jadi, sekarang hidupmu ada dalam genggamanku, Clara.”
Clara yang mendengar hal itu langsung memucat. Benar apa yang dikatakan Ethan. Sejak dirinya masuk ke rumah itu, dia memang sudah tidak memiliki kehidupannya lagi. Sang papa benar-benar menjadikannya b***k untuk pria itu.
Ethan yang melihat Clara hanya diam langsung tersenyum sinis. Jemarinya langsung bergerak, melepas satu persatu kancing pakaian Clara. Malam ini, dia ingin melepas semua hasratnya.
Namun, saat pakaian itu terbuka, Ethan terdiam. Kedua matanya melebar, melihat bekas luka di tubuh Clara. Ada yang baru, ada juga yang terlihat sudah lama. Dia pun menatap ke arah Clara yang saat itu hanya menutup mata dengan tubuh bergetar.
‘Ini luka yang diberikan keluarga Athena?’ batin Ethan.
Suasana ruangan yang awalnya begitu mencekam, kali ini terasa hening. Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Ethan masih terpaku dengan luka yang berada di sekujur tubuh Clara. Hingga dia mengurungkan niat dan membuang nafas kasar. Ethan pun bangkit dengan raut wajah masam.
Sedangkan Clara yang tidak merasakan apapun langsung membuka mata secara perlahan. Dia melihat ke arah Ethan yang melangkah menjauh. Buru-buru, dia menutup bagian tubuhnya. Dia meringkuk dengan raut wajahmu ketakutan.
“Kamu mau apa?” tanya Clara ketika Ethan kembali mendekat sembari membawa kotak obat.
Ethan tidak menjawab. Dia hanya diam dan menarik Clara agar kembali mendekat ke arahnya. Tanpa diduga, pria itu mengoleskan obat ke arah luka yang dimiliki Clara, membuat wanita itu merias menahan sakit.
‘Dia mengobatiku?’ batin Clara, cukup terkejut.
“Jangan salah paham. Aku melakukan ini karena tidak mau melihat luka-luka di tubuhmu. Aku tidak suka meniduri wanita yang memiliki banyak luka dan tidak enak dipandang,” ucap Ethan dengan ekspresi datar.
Clara pun hanya menganggukkan kepala dan menutup mulut rapat-rapat. Dia tidak mempermasalahkan mengenai hal itu. Rasanya juga tidak cukup peduli. Sekarang dia memilih diam dengan kedua tangan mengepal, menahan sakit karena Ethan yang mengobatinya tanpa kelembutan. Hingga pria itu selesai, membuat Clara sedikit bernafas lega. Tepat di waktu yang sama, ketukan pintu terdengar.
“Tuan, kami sudah mendapatkannya.”
“Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan segera datang,” sahut Ethan.
Ethan pun bangkit dan bersiap pergi, tetapi baru beberapa langkah, dia kembali berhenti. Dia membalikkan tubuh, menatap ke arah Clara dan berkata, “Tetap di sini dan jangan kemana-mana.”
Setelah mengatakan itu, Ethan pun melangkahkan kaki dan keluar dari kamar, meninggalkan Clara yang masih sedikit ketakutan.
***
“Liam, bagaimana?”
Imara Jaida—mama angkat Clara—langsung terlihat cemas ketika melihat Liam memasuki rumah. Dia langsung menghampiri sang suami, membawa itu untuk duduk dan menunggu pria itu mengatakan informasi yang didapat dengan raut wajah cemas. Sejak tadi dia menunggu pria itu, membuatnya tidak sabar sama sekali.
“Apa Tuan Evander menerimanya?” tanya Imara lagi.
Liam terdiam sejenak, menatap ke arah sang istri dengan ekspresi tidak terbaca. Tapi, hal itu hanya berlangsung sejenak. Pasalnya, Liam langsung tersenyum dan memasang raut wajah ceria.
“Tuan Evander menerimanya. Dia juga sudah melunasi semua hutang kita dengan keluarga Evander. Jadi, perusahaan Athena tidak jadi bangkrut,” jawab Liam.
Imara langsung tersenyum lebar. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan keceriaan. Dia bernafas lega karena perusahaan keluarganya tidak jadi bangkrut. Dia pun mengelus d**a sembari berkata, “Untung ada Clara yang masih bisa ditukar. Jadi, setidaknya Putri kita tidak perlu kita jadikan jaminan untuk pelunasan hutang kita.”
“Benar. Untung waktu itu kita merawatnya,” sahut Liam.
Imara hanya tersenyum mendengarnya. Pemikirannya sama dengan Liam. Dalam hidupnya, Clara memang tidak penting sama sekali. Dia juga tidak benar-benar ingin merawatnya. Saat itu Imara hanya merasa kalau Clara bisa dimanfaatkan. Itu sebabnya dia mengambil bocah yang sudah terlantar itu.
“Sekarang kita bisa hidup tenang. Tuan Ethan juga mengatakan akan memberikan investasi untuk kita,” ucap Liam lagi dan langsung mendapat anggukan dari arah istrinya.
Sedangkan di tempat lain, Ethan mulai memasuki ruangan dengan cahaya begitu minim. Ruangan itu juga terasa pengap, tidak ada ventilasi sama sekali. Suasana ruangan yang begitu hening benar-benar seperti mencekam. Sampai Ethan menghentikan langkah dan berdiri di hadapan seorang pria. Bibirnya tersenyum sinis melihat seseorang yang berdiri dengan tangan diikat ke atas.
“Jadi, kamu pelakunya? Kamu yang membuatku hampir kehilangan nyawa?” tanya Ethan.
Tidak ada jawaban. Pria dengan wajah penuh luka itu hanya menatap Ethan dengan sorot mata datar. Lihat jelas tidak ada semangat dan tenaganya sama sekali.
Sayangnya, Ethan yang melihat tidak memiliki rasa iba. Dia mendekat dan kembali bertanya, “Siapa yang menyuruhmu?”
“Aku tidak akan mengatakannya. Kamu itu pria kejam dan pantas menerima itu,” jawab pria tersebut.
Pria kejam? Ethan tersenyum sinis dan menganggukan kepala kecil. Memang dia pria kejam dan tidak berhati, tetapi dia juga tidak suka dikomentari. Dia pun mengambil pistol yang sejak tadi berada dalam saku mantel miliknya dan menodongkan tepat di kening pria tersebut.
“Pilihannya hanya dua, katakan Siapa yang menyuruhmu atau Kamu akan mati,” ucap Ethan dengan tegas.
“Sampai mati pun aku tidak akan mengatakan Siapa yang menyuruhku,” jawab pria tersebut dengan lantang.
“Benar-benar anak buah yang setia,” gumam Ethan, diikuti dengan tarikan pada pistol miliknya.
Dor.
“Cari tahu lagi Siapa dalang dibalik kecelakaan kita beberapa hari yang lalu,” perintah Ethan.
Sedangkan di tempat yang sama, Clara yang memang berniat ingin melarikan diri tanpa sengaja melihat kejadian itu. Dia pun langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar dengan kedua mata melebar. Ditambah dengan darah yang bersimbah di lantai, membuat tubuh mungilnya semakin bergetar.
‘Dia membunuh,’ batin Clara.