BRUK
"akhhh" Samudra memegangi pinggang nya karna terjatuh dari ranjang tempat tidurnya.
"ah lagi enak mantep mantepan sama mba irene malah bangun, sial." gerutu nya, lalu Samudra bangkit dari posisi duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk bersih bersih.
Galaksi masih nyaman dengan dunia mimpinya sampai terganggu oleh suara alarm yang membangunkan dirinya.
"eunghh" Galaksi mengucek ngucek matanya lalu mematikan dering alarm, kemudian dia juga langsung melesat ke kamar mandi.
kurang lebih 30 menit mereka bersiap siap, mulai dari mandi, perawatan, hingga bersiap menggunakan seragam sekolah.
ya, sekarang mereka kembali ke sekolah, dan hari ini hari senin dimana Galaksi harus datang lebih pagi ke sekolahnya untuk menjalankan tugas nya sebagai ketua osis.
"eh dah siap aja bocah nya kakak" celetuk Galaksi sambil menuruni tangga dan merapikan dasi nya.
"hm." timpal Samudra yang sama sekali tidak menatap kakak nya.
Mereka menikmati sarapan pagi nya dengan keadaan hening, karena memang tidak sopan dalam keadaan sedang makan jika mereka mengobrol.
Samudra mengambil tas nya dan menyampaikannya di salah satu bahu miliknya, "aku berangkat bareng kakak lagi?"
"iyalah, mau sama siapa lagi hm?" jawab galaksi sambil menebar senyuman indah dibibir nya.
Memang jika mood nya sedang baik, Samudra terkadang berinteraksi dengan menyebut 'aku', jadi jangan heran.
"yaudah cepet." Samudra berjalan keluar dari dalam rumahnya, yang diikuti oleh kakak nya, dan tidak lupa, mereka berpamitan dengan bi inah yang sedang menyapu halaman depan.
"Bi, kita pamit sekolah dulu." Galaksi dan Samudra menyalimi tangan bi Inah kemudian langsung masuk kedalam mobil milik Galaksi.
"Hati hati den."
Seperti biasa, Galaksi memarkirkan mobilnya di tempat parkir, Disana banyak ciwi ciwi yang berteriak karena kagum kepada mereka, yah memang sudah nasib menjadi seorang famous seperti itu.
"pamit kak." Samudra langsung melesat karna tidak mau terus menjadi sorotan banyak siswa. Sedangkan Galaksi hanya terkekeh melihat kelakuan adik satu satu nya itu.
Samudra masuk ke kelasnya, dan langsung diganggu oleh Neyla si bendahara kelas.
"Draaaa, uang kas sini hahh, lo belom mana hah hah hahh" Panggil Neyla dengan nafas yang tak teratur menghampiri Samudra.
"ck. ganggu aja lo. gua baru datang." Samudra memutar bola matanya malas dan merogoh sakunya lalu memberikan selembar uang 50.000.
"noh. sisanya gua nyimpen." Samudra kembali fokus pada ponsel dan memasangkan headset ke telinganya.
"GILAAA SIH, okeh." Neyla kembali ke bangku nya untuk menuliskan uang yang diberikan Samudra.
"bengek lo ney?" celetuk zalfan, yang sontak membuat Samudra terkejut karna tiba tiba datang.
"brengsek." Samudra menghela nafasnya lalu kembali memainkan game nya.
"ya mangap dra, sensian lu ah."
"IYE GW BENGEK GARA GARA NGEJAR LU TOLOL." Neyla menjawab pertanyaan Zalfan tadi.
"TITAH SAHA NGUDAG?"
(suruh siapa ngejar?)
"buruan bayar makannya, jajan aja lo bisa habis 20.000 sekaligus, ini cuma 5.000 doang ZALFANUDINNN"
"apa apaan anjing pake udin ujung nya, merusak ke estetikan nama gw aja lo BENDAHARAM" balas Zalfan yang tak mau kalah.
"HEH APAAN BENDAHARAM, CEPETAN BAYAR ATAU GW NAIKIN 3 KALI LIPAT MAU?!" kini Neyla berdiri dan menggebrak meja Samudra dan Zalfan.
"akhh berisik bangsat." Samudra ikut bicara lalu Zalfan dan Neyla akhirnya tunduk ciut karena takut jika Samudra semakin marah.
"gara gara lo sih zalfanudin, tinggal bayar aja apa susahnya." kini nada bicara Neyla setengah berbisik pada Zalfan.
"sekarang gw ga ada duit bendaharam ku tercintah."
"halah alesan lo udin."
"yeu kagak percaya lu? ortu gw lagi ke luar kota, gw belum dapet kiriman, ntar deh kalo udah ada gw langsung bayar."
"awas ye kal..." belum saja Neyla selesai bicara, sudah ada wali kelas nya masuk dan memberi salam.
"Assalamu'alaikum anak anak." ucap pak wiryan wali kelas kelas 11 MIPA 2 yang langsung dijawab serempak oleh semuanya. "waalaikumsallam"
"anak anak, saya kesini membawa orang baru yang akan menjadi bagian keluarga kalian juga." jelas pak wiryan dengan nama lengkap wiryanto kusuma.
"what? anak baru?..."
"cowo apa cewe ya..."
"semoga aja bukan anak cupu..."
"menurut gw kek nya cewe deh..."
Begitulah bisikan bisikan dari semuanya yang penasaran. Lalu pak Wiryan menyuruh murid baru nya untuk masuk ke kelas. "Silahkan masuk nak, lalu perkenalkan nama mu." titah pak Wiryan
Anak baru itu memasuki kelas baru nya, dengan setelan seragam rapih, tinggi nya begitu ideal, dan juga menyampingkan tas nya di salah satu bahunya.
"Assalamualaikum, salam 6 agama, kenalin gua Gian Pratama, panggil aja Gian atau Ian terserah, asal sekolah gua dari SMA ......, oke salam kenal ye." jelas Gian dengan senyum tipis nya namun terasa hangat.
Dan semuanya menyimak dengan baik penjelasan gian.
"Silahkan kamu duduk dengan nouval di bangku yang itu." Pak wiryan menunjuk bangku itu, lalu Gian duduk bersama teman baru nya yang bernama nouval itu.
"Yasudah, selebihnya kalian tunggu guru mata pelajaran kalian, saya akan kembali ke kantor." jelas pak wiryan.
"Baik pak..." jawab mereka kompak.
"weh kenalin gw Nouval, semoga lu nyaman ye temenan sama gw wkwk." Nouval membuka pembicaraan, dan Zalfan ikut menoleh kebelakang untuk ikut nimbrung, namun Samudra tidak.
"Oke. salken ye." Balas gian.
"Kalo gw Zalfan, si b***k sunda anu ngarantau sorangan."
(kalo gw Zalfan, si anak sunda yang merantau sendirian)
"Yoiii bro, gw juga jakarta-bandung, jadi gw paham hahaha."
"Wah nyaan? mantep atuh kitu mah."
(wah bener? mantep kalo gitu)
"weh, nama lu siapa btw?" Gian menepuk pundak Samudra, lalu samudra ikut menoleh juga.
"samudra." jawab samudra sangat singkat, lalu kembali ke posisi nya menghadap ke depan.
Gian tak menghiraukan sikap Samudra, dan zalfan dengan nouval pun ikut menjelaskan sikap Samudra yang Dingin dan tak terlalu care pada apapun kecuali yang dia anggap berharga. kakaknya dan sahabatnya zalfan.
Seterusnya mereka kembali mengobrol seperti biasanya, lalu dilanjut kegiatan pembelajaran karna sudah ada guru yang mengajar.
Waktunya istirahat, Nouval tidak bisa mengajak Gian karena ada urusan juga dengan teman se geng nya, Samudra dan Zalfan sedang merapihkan peralatan nya masing masing.
"lo mau ikut kita?" tanya samudra yang sontak membuat Gian kaget.
"Nah iya, kiw ikut." ajak Zalfan juga.
"wah boleh tuh." jawab gian senang hati.
Mereka bertiga berjalan dikoridor yang ramai , banyak sekali siswi siswi yang memperhatikan mereka, bukan karna hanya Samudra adik dari ketua osis, namun dari penampilan mereka yang sangat tampan.
Dikantin sudah dan bangku yang tersisa hanya ada satu, yaitu disebelah ujung pojok dekat gerbang belakang.
"gw pesen makanan dulu, kalian berdua duluan aja kesana."
"oke, gw beliin mi goreng telur sama es teh ye fan."
"ngokey, lo dra? mau apa?"
"biasa."
Zalfan mengacungkan jempol nya lalu pergi meninggalkan Samudra dan gian.
Kini Samudra dan Gian duduk dipaling pojok kantin, lebih tepat nya paling belakang mojok ke tembok.
"Btw dra, gw kan belum terlalu akrab sama lu terus gw juga agak canggung hehe, jadi maap maap aja kalo suka mati topik." Gian yang dari tadi merasa canggung akhirnya membuka suara.
"Gua ga pinter nyari topik myb." Jawab Samudra.
"Oiye dra, kalo ga salah lo punya kakak kan?" Gian berusaha terus untuk mencari topik.
Ah, Gian sempat berpikir jika berbincang dengan Samudra ternyata lebih sulit dibanding mencari topik dengan lawan jenis.
"Hm, Galaksi namanya, panggil aja kak aksi, ntar gua kenalin."
"Ngogheyy"
"Wess broo nih pesenan udah beres, tinggal ntar yang lainya si bibi yang anter." Ujar Zalfan yang membawa es teh 3 dengan s**u hilo ditanganya.
"Ck anj, gosah ngagetin fan." Samudra memang sedikit tersentak tadi.
"Thanks." Jawab keduanya Samudra maupun Gian.
"Iye, maaf dra elah hehe, ntar kagak gitu gitu lagi dah." Ujar Zalfan lagi sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
Seketika mereka mulai sibuk dengan makanan dan pikirannya sendiri, saat sedang sibuk bergelut dengan makanan ada seseorang yang sangat tidak sopan menghampiri mereka.
BRAKK
semua nya tersentak kaget begitu juga dengan Samudra yang sudah mencengkram kuat pada ujung kursi untuk menghalau sakit pada tubuh nya.
Ia menghela nafas nya sejenak lalu berdiri dan menghampiri orang yang kurang ajar tadi.
"MAU LO APA ANJENG!" Samudra kelewat emosi dengan dihiasi keringat yang sudah bercucuran sebiji jagung di wajah tampannya.
"Wes kalem bray, posisi lo adek kelas di sini gausah sok gantle." Ucap laki laki itu sambil sedikit mendorong d**a Samudra dengan telunjuk nya.
"Wah maksud lo apa kak gituin temen kita?" Kini Zalfan ikut maju.
Mereka kini menjadi pusat perhatian para siswa dikantin, sejenak mereka seperti menghentikan waktu karna memang sekarang semuanya tertuju pada persetan ini.
"Apa hah? Jangan mentang-mentang lo kakak kelas kita jadi sewenang-wenang mandang rendah kita kak." Ups, Gian juga tak kalah beraninya dengan Zalfan meskipun masih ada status dia murid baru.
"Haha lo siapa? Gua baru liat, murid baru? Murid baru gausah sok belagu lu anjing." s**l, kakak kelas itu sepertinya ingin main kasar.
Samudra masih mencari titik permasalahan antara dia dan mereka, ia pun tak mengerti kenapa selalu dia bahan incaran kakak kelas yang sok itu.
Apa karna kakak nya? Galaksi tidak pernah mencari masalah apapun di sekolah nya, dengan notabe Galaksi adalah salah satu siswa teladan kebanggaan sekolah.
Ataukah karna perihal basket? Bukankah semua nya sudah selesai? Lantas, apa mau mereka.
"Oke, lo pada sekarang mau apa dari gua ha?" Samudra maju sampai tatapan ia dan kakak kelas itu hanya berjarak beberapa cm saja.
"Hah masih ga paham juga ni anak, apa emang b**o? Sayang emang lo adik si Galaksi yang pinter itu, tapi lo nya bego." Remeh nya.
"Gausah bawa kakak gua. Sekarang jelasin apa masalah lo."
DUGH
Belum sempat menunggu jawaban, Samudra malah mendapatkan bogeman mentah di perutnya.
"Akhh" Samudra terpental kebelakang dan meringis
"WOY JANGAN MAEN KASAR LO b*****t!"
BUAKHH
Zalfan menendang perut kakak kelas hingga ikut terpental.
Samudra menggigit bibir bawahnya guna meredam erangan sakit yang keluar dari mulut nya.
Ia mengepal sekuat nya berharap rasa sakit itu segera hilang, sungguh sekarang dia merasakan sensasi pening dikepalanya dan seakan oksigen di sekitarnya seperti menolak ia hirup.
"Hah... hhh... akhh" Samudra ter engah engah, d**a nya seperti di himpit batu besar .
"DRA" Gian menghampiri Samudra saat atensi nya melihat Samudra yang kesulitan bernafas.
"Hah... hhh... ss-sa.. kit.. ttolong hhh.. " Suara Samudra nyaris tidak terdengar.
"Oke calm okey? Lo nafas usahain dari hidung dra pelan pelan, tapi jangan dipaksa gitu ok?" Gian berusaha menenangkan dan tidak ikut panik.
Persertan dengan kakak kelas yang tadi sudah selesai, ada pihak satpam tadi yang melerai mereka.
"Arghh g-ga bisa na nafas hhh..." Kini Samudra merasakan semakin sulit, bahkan mata nya mulai memburam.
"BAWA KE UKS YAN CEPET." titah Zalfan yang tak kalah panik saat Samudra mulai memejamkan mata nya.
.
.
.
Galaksi menghela nafas sejenak, ia benar benar bingung harus berbuat seperti apa.
Kini ia sedang berada di ruang OSIS bersama yang lainnya, mereka memikirkan projek yang akan diadakan oleh sekolah.
Memang sekolahnya itu terkenal dengan nama sekolah yang amat sangat kreatif, murid murid nya pun hanya murid yang terpilih untuk masuk kesekolah itu.
"Mending sekarang kita balik kelas aja, fresh in dulu otak biar dapet inspirasi lagi." Ucap salah satu anggota.
"Lo juga aksi, gausah terteken kek gitu, pembina ngasih banyak waktu ke kita jadi jangan terlalu buru buru."
"Hmm oke, yaudah sekarang bubar aja thanks ya ntar kumpul lagi sore kek biasa."
"Siap." Jawab nya serempak.
Galaksi berjalan sendiri di lorong dekat perpustakaan, niatnya ingin menemui adik nya namun tak lama Raina datang dengan terengah-engah.
"Woi aksiiiii, galaksiiii"
Galaksi yang merasa nama nya terpanggil pun akhirnya menoleh.
"Eh lo kenapa ra, ada setan?"
"Yeuu kagak, itu adek lu di UKS tadi anuu"
"Adek gw kenapa? ahh" Galaksi tidak langsung mendengar penjelasan dari Raira, ia memilih untuk langsung pergi ke UKS dan menemui adik nya.
Di UKS Samudra sudah terpasang oksigen portable dan keadannya tidak seburuk seperti tadi.
"DEKK" galaksi terlihat sangat kalut sampai dia rela berlari dari koridor ke UKS, buktinya ia juga sampai terengah engah dan keringat nya bercucuran.
Zalfan menengok ke arah yang bersuara dan terlihatlah ternyata Galaksi yang berdiri di ambang pintu dengan wajah panik khas nya.
"Kak tenang dulu dong, Samudra gapapa." Zalfan berusaha menenangkan.
"huhh... ini gimana ceritanya sampe adek gw kambuh kayak gini?" Nada bicara Galaksi mengintimidasi.
"Panjang kak, udah sekarang jangan ngurusin dulu yang kayak gitu, kasian Samudra masih sesek tuh kasian." Ujar gian ikut menenangkan.
"oke, dek lo okey kan?" Tanya Galaksi sambil menatap halus kepada adiknya.
Samudra yang luar biasa lemas hanya membalas dengan deheman saja, bahkan ia juga cukup malas untuk membuka mata nya, ah kali ini dia benar benar mengantuk.
"La udah kasih obat?" Tanya Galaksi pada petugas PMR yang diketahui bernama Sila itu.
"Udah Si lu tenang aja, tadi gw juga udah kasih dia Amoksisilin buat pereda nyeri nya yang kena pukul itu." Jelas Sila
"what? pukul?" Tanya Galaksi heran.
"Kenapa pukul? ada yang gangguin adek gw lagi? ck."
"Udah nanti aja cerita nya kasian adik lu mau istirahat pak ketos." Jelas Sila lagi, karna ia sudah tau keadaanya nanti jika Galaksi mengetahui nya sekarang.
"Hm yaudah, Zalfan Gian? kalian ga bakal masuk kelas? bel bunyi 2 menit lagi tuh."
"Ah ya sekalian ambilin tas nya Samudra, dia mau ijin langsung pulang aja takut nya makin parah ntar" Titah Galaksi pada 2 teman adik nya itu.
"Ck males juga kak pelajaran nya pa cipto, ngomong nya kecil banget ga kedenger, udah suka lama banget kalo lagi jelasin kayak yang lagi dengerin khotbah tau ga, males lah kak sebentar lagi ya?" Keluh Zalfan panjang lebar, Gian hanya bergelak kikuk karna ia tak tau, toh ia baru beberapa jam di sekolah ini kan.
"Ngga, mau saya laporin kalian ke guru BK?" Ancam Galaksi
"Eh kak kok 'kalian' sih? Gian dari tadi diem aja padahal." Bela Gian
"Emangnya kamu bakal balik ke kelas sedangkan Zalfan bolos disini ha?"
"Ngga juga si hehe, takut nyasar." Galaksi yang mendengar nya hanya mendengus malas.
"Eunghh kak, Guling..." Samudra sepertinya sudah tak tahan ingin pulang sampai meracau tak jelas, Mereka yang melihatnya hanya gemas karena jarang sekali Samudra yang dinginnya minta ampun merengek seperti itu, ya walaupun dalam keadaan tak sadar.
"Tuh cepetan sana kalian balik ke kelas terus ambilin tas Samudra dulu nanti balik lagi kesini, jangan lupa bilang ke Pak Cipto Samudra ijin." Jelas Galaksi panjang lebar.
"Iya iya pak ketos siap." Setelah itu Zalfan dan Gian berlari ke kelas dan bertepatan bel masuk juga telah berbunyi.
"Emm Si, gw juga balik kelas ya? Samudra mau pulang kan? kalo mau pulang nanti nitip ya jangan lupa kunci lagi UKS nya terus kasihin ke Bu Jihan" Ucap Sila, dari tadi Sila hanya menyimak saja obrolan Galaksi dengan adik kelas nya itu.
"Oh iya silahkan, lu sekalian panggil Bu Citra kan?"
"Iya biar ga bolak balik juga, kenapa?"
"Sekalian ke Pa Mugi ijinin gw ya, gw mau bawa Samudra pulang, kasian juga kalo nanti gw tinggal sekolah lagi."
Sila yang paham pun hanya tersenyum lalu Pergi ke kelas nya.
"Dek bangun dulu, yu pulang." Ajak Galaksi sambil mengelus surai adik nya itu.
"Hm iya."
"Masih sesek atau mau di buka aja oksigen portable nya?"
"Buka." Jawab Samudra
"Dasar keras kepala." Goda Galaksi sambil membantu membukakan oksigen portable nya dan membantu Samudra untuk bangun.
Samudra hanya mencebikkan mulut nya lucu, namun hanya sebentar dan sangat sangat tipis sampai Galaksi pun tidak menyadarinya.