"Lo terlihat kaget ngeliat gue bangun dari koma."
"Oh nggak, Danie. Gue cuma kaget lo ada di London." Rhea menaruh sendok kecil yang dia pakai untuk mengaduk teh milik Danie. "Gue tahu lo udah bangun."
Danie mengucapkan terimakasih untuk tehnya. "Padahal lebih baik gue nggak usah bangun, ya?" berkata dengan ekspresi paling tenang.
Rhea tidak menjawab.
"Gue mau to the point kenapa ke sini." Setelah menaruh cangkir di atas meja, Danie siap dengan tujuan pentingnya. Deenan tidak ikut masuk ke apartemen Rhea, berkata ingin membeli sesuatu. Jadi di ruangan ini hanya ada mereka berdua. "Gue ingin bercerai dengan Deenan."
"Kalau gitu pergi ke pengadilan, bukan ke sini." Apartemennya bukan penampungan masalah orang.
"Lo nggak paham?"
"...."
"Satu-satunya orang yang bisa bikin Deenan menceraikan gue itu lo."
Rhea menatapnya lama sebelum akhirnya bersandar ke sandaran sofa.
"Lo terbang sebelas jam buat bilang itu?"
"Iya."
"Lo baru bangun dari koma delapan bulan, badan lo masih kayak gini, dan lo naik pesawat sebelas jam buat minta tolong sama gue." Rhea menggeleng pelan. "Gue nggak tahu harus kagum atau kasihan."
"Gue nggak butuh dua-duanya."
"Gue tahu."
Danie memperbaiki posisi duduknya. Perjalanan itu memang menghabiskan lebih banyak tenaga daripada yang ia perkirakan; punggungnya nyeri sejak jam keempat di pesawat, dan sekarang seluruh tubuhnya terasa seperti dijemur.
Tapi ia sudah sampai. Itu bagian yang penting.
"Lo pikir gue punya kuasa sebesar itu atas Deenan?" tanya Rhea.
"Gue tahu lo punya."
"Berdasarkan apa?"
"Berdasarkan lima tahun." Danie mengucapkannya tanpa nada, seperti membaca laporan. "Lima tahun gue jadi istrinya, Rhea. Dan lima tahun itu, tiap kali nama lo disebut, ada sesuatu di mukanya yang berubah. Gue nggak pernah bisa bikin muka itu berubah."
Rhea memalingkan pandangan ke jendela.
Di luar, London sedang mendung seperti biasa. Gerimis tipis menempel di kaca, dan seseorang berjalan cepat di trotoar sambil menutupi kepalanya dengan map.
"Lo salah," ucap Rhea.
"Soal apa?"
"Soal lima tahun." Rhea menoleh kembali. "Lima tahun itu gue di sini, Danie. Gue nggak pernah nelepon dia. Gue nggak pernah bales chat dia lebih dari dua kalimat. Waktu dia nikah sama lo, gue bahkan nggak datang."
"Justru itu."
"Apanya?"
"Lo nggak perlu ngapa-ngapain." Danie tertawa kecil, dan suaranya patah di tengah. "Itu yang paling nggak adil, Rhea. Gue harus berusaha tiap hari selama lima tahun, dan lo cukup ada. Cukup ada di suatu tempat di London, dan itu udah lebih dari cukup buat bikin dia nggak pernah bener-bener pulang."
Rhea tidak menjawab.
Karena, Danie tahu, tidak ada yang bisa dijawab.
"Jadi gue minta satu hal," lanjut Danie. "Cuma satu, dan setelah itu gue nggak akan pernah ganggu hidup lo lagi. Telepon dia. Bilang apa aja. Bilang lo mau dia balik ke sini. Bilang lo nyesel. Bilang apa pun yang bikin dia akhirnya ngelepas gue."
"Terus lo dapet apa?"
"Gue dapet keluar." Suara Danie akhirnya bergetar. "Lo nggak ngerti, ya? Gue nggak minta lo ngambil dia. Gue minta lo ngelepasin gue."
Rhea menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak Danie masuk ke apartemen itu, ada sesuatu yang runtuh di wajahnya.
"Gue nggak bisa."
"Kenapa?"
"Karena gue udah nolak dia."
Danie mengerjap. "Apa?"
Rhea meraih cangkirnya, lalu meletakkannya kembali tanpa minum.
"Tiga hari sebelum lo jatuh," katanya. "Dia di sini. Di bandara. Dia nanya sesuatu ke gue, dan gue jawab enggak."
Sesuatu yang dingin merambat dari tengkuk Danie sampai ke ujung jarinya.
"Bohong."
"Gue nggak punya alasan buat bohong ke lo."
"Bohong." Danie mengulanginya lebih keras. "Kalau dia nanya, dan lo bilang enggak, kenapa dia balik ke Jakarta terus tetep nggak pernah pulang ke rumah?"
"Gue nggak tahu, Danie."
"LO TAHU!"
Cangkir di meja bergetar.
Rhea tidak bergerak. Perempuan itu duduk diam sambil membiarkan Danie terengah-engah di hadapannya, dan ketenangan itulah yang membuat sesuatu di dalam diri Danie akhirnya putus.
"Lo tahu apa yang gue pikirin waktu gue di rumah sakit?" Danie mencondongkan badan. "Bukan waktu gue bangun. Waktu gue jatuh. Detik-detik gue jatuh."
"Danie—"
"Gue mikirin lo."
Rhea membeku.
"Gue mikir: kalau gue mati, dia bakal ke London." Danie tertawa, dan tawa itu keluar salah, terlalu tinggi, terlalu tajam. "Itu pikiran terakhir gue sebelum semuanya item, Rhea. Bukan mama gue. Bukan papa gue. Lo."
"Gue nggak pernah minta—"
"Seharusnya lo aja yang jatuh dari gedung."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ruangan itu langsung berubah. Seperti ada yang menurunkan suhunya sepuluh derajat sekaligus.
Rhea tidak berkedip. Wajahnya tidak berubah sedikit pun, dan justru karena itu Danie tahu ia sudah melewati batas yang tidak seharusnya ia lewati.
"Gue—" Danie menelan ludah. "Gue nggak—"
"Nggak apa-apa," potong Rhea pelan.
"Rhea."
"Gue bilang nggak apa-apa."
Rhea berdiri, mengambil kedua cangkir dari meja, dan membawanya ke dapur. Punggungnya tegak. Langkahnya tenang. Ia meletakkan cangkir-cangkir itu ke wastafel dengan hati-hati, satu per satu, tanpa satu pun bunyi yang berlebihan.
Lalu ia berdiri di sana, membelakangi Danie, dengan kedua tangan bertumpu di tepi wastafel.
"Lo tahu berapa kali gue baca berita tentang lo?" tanyanya, tanpa menoleh. "Waktu itu masuk portal berita di sana. Perempuan Indonesia, jatuh dari lantai sembilan, kritis."
Danie tidak menjawab.
"Delapan bulan, Danie. Delapan bulan gue buka portal itu tiap pagi buat ngecek apakah namanya udah berubah dari 'kritis' jadi sesuatu yang lain." Rhea memutar keran, membiarkan air mengalir beberapa detik, lalu menutupnya lagi. "Dan tiap pagi gue nggak tahu harus lega atau nggak."
"Kenapa lo cerita ini ke gue?"
"Karena lo pikir gue menang." Rhea akhirnya berbalik. Matanya merah, tapi tidak ada air mata di sana. "Gue nggak menang apa-apa, Danie. Gue cuma jadi alasan kenapa dua orang saling nyakitin selama lima tahun, dan gue bahkan nggak ada di ruangannya."
Pintu apartemen terbuka.
Deenan masuk sambil membawa kantong kertas dari toko di ujung jalan, dan berhenti begitu melihat keduanya.
Ia memandang Rhea. Lalu Danie. Lalu Rhea lagi.
"Gue ganggu?" tanyanya hati-hati.
"Enggak." Danie meraih tongkat penyangganya dan berdiri dengan susah payah. "Kita udah selesai."
"Danie—"
"Gue mau balik ke hotel."
Deenan menaruh kantong itu di meja dan langsung menghampiri, menawarkan lengannya. Danie menerimanya, karena ia harus, karena kakinya benar-benar tidak sanggup lagi, dan ia membenci setiap detik dari kebutuhan itu.
Di ambang pintu, Danie menoleh sekali.
Rhea masih berdiri di dapur.
"Maaf," ucap Danie, hampir tidak terdengar.
Rhea mengangguk sekali.
Pintu tertutup.
***
Malam itu, di apartemennya yang kembali sunyi, Rhea duduk di sofa yang sama selama hampir satu jam tanpa menyalakan lampu.
Lalu ia membuka laptopnya.
Ada dua tawaran pekerjaan yang sudah tiga minggu ini ia biarkan tanpa balasan di kotak masuknya. Yang satu di Manchester. Yang satu lagi di Jakarta.
Rhea membaca yang kedua sekali lagi, dari awal sampai akhir.
Ia sudah lima tahun lari dari kota itu, dan hari ini seorang perempuan yang baru bangun dari koma terbang sebelas jam hanya untuk memberitahunya bahwa lari sejauh itu pun ternyata tidak mengubah apa-apa.
Kalau memang tidak ada bedanya, pikir Rhea, kenapa gue harus jauh.
Ia membalas surel itu pukul dua pagi.
Dan tiga hari kemudian, tanpa memberi tahu siapa pun, Rhea duduk di pesawat yang sama dengan Deenan dan Danie, delapan belas baris di belakang mereka.