Kaki Anya masih berdenyut ketika ia melangkah menjauh dari pintu kamar 4901. Setiap kali telapak kakinya menyentuh lantai marmer lorong lantai 49, nyeri itu menjalar sampai ke betis. Tapi anehnya, bukan kakinya yang paling terasa sakit sekarang. Ada bagian lain di dalam dirinya yang jauh lebih perih dan sayangnya tidak bisa disembuhkan hanya dengan kompres es batu.
Petugas keamanan yang berjaga di ujung lorong menghampirinya begitu melihat Anya berjalan tertatih.
“Do you need any help, Miss? (Apakah Anda butuh bantuan, Nona?)”
“No, thank you. I’m okay (Tidak, terima kasih. Saya tidak apa-apa),” jawab Anya sambil menarik sudut bibirnya. Senyum yang dipaksakan, tentu saja. Tidak mungkin ia bercerita pada orang asing bahwa kakinya terjepit pintu karena ia nekat menahan pintu kamar atasannya sendiri. Terlalu memalukan untuk diceritakan pada siapapun.
Anya menyeret langkahnya masuk ke dalam lift. Begitu pintu lift tertutup dan hanya tersisa dirinya sendiri di dalam sana, bahunya turun. Pertahanan yang susah payah ia bangun sejak pintu kamar 4901 dibanting itu akhirnya runtuh juga.
Di jembatan kaca lantai sepuluh, jembatan yang menghubungkan gedung kondominium dengan gedung hotel, Anya berhenti. Dari balik kaca, kota San Fransisco terhampar dengan bukit-bukitnya yang naik turun dan atap-atap rumah berwarna pastel. Kemarin pemandangan yang sama membuatnya ingin menari. Hari ini ia hanya ingin duduk di lantai dan menangis sampai puas.
Dan ia memang menangis. Hanya sebentar, mungkin dua menit, sambil memunggungi kaca supaya tidak ada staf yang lewat lalu melihat wajahnya.
Dua menit itu cukup.
Karena setelah dua menit, wajah Erica muncul di kepalanya. Ibunya yang sekarang berada di sebuah apartemen di Singapura, menunggu jadwal operasi, dengan biaya pengobatan yang tidak akan sanggup Anya bayar seumur hidupnya jika ia hanya mengandalkan gajinya sendiri. Lalu terngiang lagi kalimat Sally yang diucapkan dengan nada datar namun menusuk itu.
“Jika kau melanggar, mengundurkan diri atau lari dari tugasmu, maka sudah dipastikan semua fasilitas bahkan biaya pengobatan Ibumu akan terhenti saat itu juga.”
Anya menghapus air matanya dengan punggung tangan lalu menegakkan tubuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jembatan. Rambut yang tadi pagi digulung rapi kini sudah setengah berantakan, riasan tipisnya luntur di bawah mata, dan sebelah sepatunya terpaksa ia jinjing karena punggung kakinya mulai membengkak.
“Baiklah, Mr Jeremiah Halim,” gumam Anya pada pantulan dirinya sendiri. “Hari ini kau menang. Tapi ini baru hari pertama.”
***
Ruangan CEO Diamond Group adalah ruangan paling luas di lantai sepuluh. Dindingnya kaca dari lantai hingga langit-langit, menghadap ke arah teluk. Ada meja kerja besar dari kayu walnut, kursi kulit berwarna cokelat tua, sebuah rak buku berisi buku-buku manajemen perhotelan yang sampulnya masih terlalu mulus untuk ukuran buku yang pernah dibaca, dan lemari kaca berisi miniatur seluruh properti Diamond Group di penjuru Amerika.
Semuanya terlihat mahal. Semuanya terlihat berwibawa. Dan semuanya tidak pernah dipakai.
Anya duduk di kursinya sendiri, tepat berhadapan dengan meja itu. Setiap pagi petugas kebersihan mengelap meja walnut itu hingga berkilau, mengganti air di vas bunganya, meluruskan posisi kursi kulitnya. Setiap sore semuanya masih persis sama seperti pagi harinya. Tidak ada satu benda pun yang bergeser sesenti. Kursi itu terlalu bersih untuk sebuah kursi yang katanya sudah ada pemiliknya.
Anya menghela nafas lalu menarik tumpukan map di sisi mejanya.
Laporan okupansi tiga cabang. Perpanjangan kontrak vendor laundry yang jatuh tempo minggu depan. Proposal renovasi lantai dua belas. Rekapitulasi keluhan tamu bulan lalu yang tebalnya hampir dua sentimeter. Evaluasi kinerja karyawan divisi housekeeping. Semuanya menunggu satu hal yang sama, keputusan seorang CEO.
Anya membuka map pertama dan mulai membaca. Ia membaca sampai matanya perih. Ia mencatat, membandingkan angka, menandai bagian yang janggal, lalu menyusun ringkasan satu halaman untuk setiap map. Ini kebiasaan yang sudah ia bangun sejak menjadi sekretaris Rivaldi dulu. Atasan mana pun tidak akan sudi membaca dua puluh halaman, tapi atasan mana pun pasti mau membaca satu halaman.
Pukul empat sore ia mengirimkan ringkasan pertamanya ke ponsel Je.
Terkirim. Tidak dibaca.
Pukul lima ia menelepon. Kotak suara.
Pukul enam ia mengirim email dengan lampiran lengkap dan judul yang ia susun sesopan mungkin. Tidak ada balasan.
Pukul delapan malam, sebagian lampu di ruang manajemen sudah dimatikan dan hanya ruangan Anya yang masih menyala. Miriam yang kebetulan lembur mampir sambil membawa dua gelas kopi.
“Kau masih di sini?” tanya Miriam sambil meletakkan satu gelas di meja Anya.
“Aku belum selesai membaca semuanya.”
Miriam melirik tumpukan map itu lalu terkekeh kecil. “Kau tahu, Marty juga begitu di minggu pertamanya.”
“Marty bertahan berapa lama?”
“Empat bulan. Itu rekor.” Miriam menyeruput kopinya. “Sebelum dia ada yang dua bulan. Yang paling singkat sebelas hari. Dia bahkan tidak sempat menerima kartu aksesnya.”
Anya tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak ada senangnya.
“Kalau begitu targetku sekarang cuma satu. Melewati hari kesebelas.”
Miriam menepuk pundak Anya lalu pamit. Sebelum benar-benar keluar, wanita itu berbalik sebentar.
“Anya, satu saran dari orang yang sudah lima tahun di sini. Jangan berharap pada Je. Berharap pada Je itu seperti menunggu hujan di musim panas. Kerjakan saja bagianmu, bubuhkan tanda tangan elektronik, lalu pulang tepat waktu. Semua orang di lantai ini melakukan itu dan semua orang selamat.”
Anya mengangguk sopan. Tapi di dalam hatinya ia sama sekali tidak setuju. Kalau ia hanya perlu menandatangani dokumen atas nama orang lain, untuk apa Sally repot-repot mendatangkannya dari Malang dan membayar seluruh pengobatan Ibunya? Misi Anya bukan menggantikan Je. Misi Anya mengembalikan Je.
Dan sejujurnya Anya belum tahu bagaimana caranya. Belum.
Sebelum benar-benar beranjak pulang malam itu, Anya mengeluarkan map yang diberikan Sally padanya di kediaman Halim. Map berisi seluruh data tentang Jeremiah Halim. Hasil tes karakter, nilai akademis dari bangku sekolah sampai kuliah, riwayat kesehatan, riwayat cedera, sampai catatan prestasi basketnya dari tahun ke tahun. Semuanya tersusun serapi berkas seorang kandidat direksi.
Anya membacanya ulang dari halaman pertama, kali ini jauh lebih pelan.
Nilainya bagus. Terlalu bagus untuk seseorang yang oleh seluruh isi kantor disebut tidak becus. Hasil tes karakternya memuat kata-kata seperti disiplin tinggi, loyalitas kuat pada kelompok, dan tahan tekanan. Semua sifat yang justru tidak Anya temukan sedikit pun pada pria yang kemarin membanting pintu tepat di depan wajahnya.
Ada sesuatu yang tidak nyambung di antara dua Je itu. Dan di dalam map setebal ini, tidak ada satu halaman pun yang menjelaskan di sebelah mana sambungannya terputus.
Anya menutup map itu lalu mematikan lampu mejanya.
***
Hari kedua dimulai jauh lebih cepat dari yang Anya kira.
Pukul sembilan pagi telepon di mejanya berdering. Suara di seberang adalah Constantine Donalds, direktur humas, memintanya datang ke ruang rapat besar dalam sepuluh menit.
Anya bergegas mengambil buku catatan dan mapnya. Kakinya masih nyeri, tapi hari ini ia sengaja memakai sepatu berhak paling rendah yang ia bawa dari Malang.
Di dalam ruang rapat sudah duduk seluruh kepala divisi. Perencanaan dan pengembangan, pemasaran dan branding, event, keuangan, operasional hotel dan humas. Hanya ada satu kursi yang kosong. Kursi paling ujung, yang sandarannya paling tinggi.
Kursi CEO.
“Jadi kau pengganti Marty,” sapa Constantine tanpa mengulurkan tangan. Pria paruh baya itu menatap Anya dari balik kacamatanya. “Rapat ini seharusnya dipimpin CEO. Karena CEO kita entah ada di mana, silakan kau duduk mewakili. Tapi jangan salah paham, Nona. Mewakili bukan berarti memutuskan.”
Anya menahan diri untuk tidak menjawab. Ia duduk, membuka buku catatannya, lalu menyalakan pena.
Agenda hari itu hanya satu, perayaan ulang tahun Diamond Group yang tinggal dua minggu lagi.
Danny Lee dari divisi event memaparkan konsep acara. Gala dinner di ballroom utama, pembukaan galeri sejarah perusahaan di lobby, konferensi pers di sore hari, lalu ramah tamah dengan seluruh mitra bisnis. Emily dan Cornellia menambahkan daftar tamu undangan serta daftar media yang jumlahnya empat puluh dua.
Empat puluh dua media.
Anya mencatat angka itu dan menggarisbawahinya dua kali, tanpa tahu persis kenapa ia merasa perlu melakukannya.
Lalu masuklah bagian yang membuat ruangan itu berubah tegang. Divisi keuangan memaparkan bahwa anggaran acara melampaui plafon persetujuan asisten. Sesuai aturan internal perusahaan sendiri, angka sebesar itu wajib disetujui langsung oleh CEO. Bukan tanda tangan elektronik, bukan atas nama, tapi persetujuan langsung dari orangnya.
Dan ada satu lagi yang jauh lebih berat. Susunan acara mencantumkan sambutan CEO dan sesi foto bersama seluruh jajaran direksi di atas panggung.
Seluruh pasang mata di ruangan itu serentak menoleh pada Anya.
“Nah, Nona,” kata Constantine sambil bersandar. “Anggaran masih bisa kita atur. Tapi sambutan tidak bisa diwakilkan. Ini ulang tahun perusahaan. Semua pemegang saham hadir. Semua media hadir. Kalau kursi itu kosong lagi seperti waktu peresmian rooftop kemarin, aku sarankan kita semua langsung menyiapkan surat pengunduran diri, bukan hanya kau.”
“Saya mengerti,” jawab Anya setenang yang ia bisa. “Saya akan menyampaikan seluruh hasil rapat ini pada Mr Je dan membawa keputusannya.”
“Menyampaikan?” Constantine mendengus. “Marty juga menyampaikan. Setiap hari. Selama empat bulan.”
Anya memilih tidak menjawab. Ia justru membalik halaman dokumen penanganan media yang tadi dibagikan Emily. Ada satu baris yang sejak tadi mengusik pikirannya, tercetak tebal di bagian paling bawah, terselip di antara aturan biasa tentang zona wartawan dan durasi wawancara.
TIDAK ADA LAMPU FLASH DALAM RADIUS SEPULUH METER DARI CEO. TANPA PENGECUALIAN.
“Boleh saya bertanya?” Anya mengangkat dokumen itu. “Aturan ini datang dari siapa dan apa alasannya?”
Ruangan itu mendadak sunyi. Emily dan Cornellia saling melirik. Danny Lee menggaruk tengkuknya. Constantine memutar bola matanya dengan malas.
“Aturan itu sudah ada sejak hari dia dilantik,” jawab Constantine akhirnya. “Datang langsung dari manajemen olahraganya. Tanpa penjelasan dan tidak boleh dipertanyakan. Menurutku itu hanya tingkah manja seorang selebriti yang tidak mau wajahnya terlihat berminyak di foto. Kau akan terbiasa.”
Beberapa orang tertawa. Anya ikut tersenyum tipis, tapi ia tidak ikut tertawa. Entah kenapa, dari sekian banyak hal yang ia dengar tentang Je selama dua hari ini, justru satu baris kalimat itulah yang paling menempel di kepalanya.
Rapat ditutup pukul sebelas lewat. Anya keluar dari ruangan itu dengan tiga keputusan yang bisa ia ambil sendiri, dan dua keputusan yang mutlak membutuhkan seorang pria yang bahkan tidak sudi mengangkat teleponnya.
***
Anya mampir ke pantry lantai sepuluh untuk membuat kopi. Kepalanya penuh dan ia butuh sesuatu yang panas.
“Kau terlihat seperti orang yang baru saja kalah bertanding,” sapa sebuah suara dalam Bahasa Inggris dari arah belakangnya.
Anya berbalik. Seorang pria muda dalam setelan jas abu-abu berdiri di ambang pintu pantry sambil memegang cangkir kosong. Wajahnya tampan, senyumnya tenang, dan Anya yakin ia pernah melihat pria ini. Di lift, kemarin. Dan sepertinya juga di lift hotel di Surabaya, walau Anya tidak berani memastikannya.
“Sampai sebegitu kelihatan, ya?” balas Anya, juga dalam Bahasa Inggris.
“Kau yang bilang, bukan aku.” Pria itu melangkah masuk lalu menuang kopi untuk dirinya sendiri. “Rapat ulang tahun perusahaan?”
“Bagaimana kau tahu?”
“Apakah ada agenda lain di gedung ini yang sanggup membuat orang keluar dari ruang rapat dengan wajah seperti itu?”
Anya tertawa kecil. Pria ini membalas pertanyaan dengan pertanyaan, tapi anehnya sama sekali tidak terasa menyebalkan.
“Kalau boleh aku bertanya,” kata Anya sambil mengaduk kopinya, “seandainya ada pintu yang dikunci rapat dari dalam, apa yang akan kau lakukan? Mendobraknya?”
Pria itu berpikir sejenak sambil menyeruput kopinya.
“Apakah kau sudah pernah bertanya kenapa pintu itu dikunci?”
“Aku tidak punya waktu untuk bertanya. Aku punya tenggat.”
“Dan menurutmu, orang yang tidak punya waktu untuk bertanya biasanya selesai lebih cepat?”
Anya membuka mulutnya hendak membantah, lalu menutupnya lagi. Ia tidak punya jawaban. Kalimat itu tersangkut di kepalanya seperti duri kecil yang tidak kelihatan tapi terasa setiap kali bergerak.
“Kau ini sebenarnya siapa?” tanya Anya akhirnya.
Pria itu tersenyum, meletakkan cangkirnya, lalu merapikan kancing jasnya.
“Apakah sebuah nama penting untuk secangkir kopi di pantry?” Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, “Jo. Panggil saja Jo.”
“Anya.”
“I know (Aku tahu).” Jo mengangkat cangkirnya sedikit, seperti orang bersulang, lalu melangkah keluar. Meninggalkan Anya yang berdiri kebingungan di depan mesin kopi.
Konsultan, mungkin. Atau anak salah satu pemegang saham yang sedang belajar mengenal perusahaan. Anya memutuskan untuk tidak memusingkannya lebih jauh. Ada urusan yang jauh lebih mendesak sedang menunggunya di meja.
***
Sepanjang sisa hari itu Anya menyusun hasil rapat menjadi satu berkas rapi di dalam map merah. Halaman pertama ringkasan satu lembar. Halaman berikutnya rincian anggaran lengkap dengan tiga pilihan pemangkasan yang sudah ia hitung sendiri. Halaman terakhir susunan acara, dengan satu baris yang sengaja ia tandai dengan stabilo kuning. Sambutan CEO, tujuh menit.
Sebelum menutup laptopnya, Anya menelepon Je sekali lagi. Kotak suara. Ia mengirim pesan lagi. Tidak dibaca. Ia mengirim email lagi. Tidak dibalas.
Ponselnya bergetar dan untuk sepersekian detik jantung Anya melonjak. Ternyata bukan Je. Panggilan video dari Singapura.
Wajah Erica muncul di layar, duduk di tepi ranjang dengan kardigan tipis dan senyum yang sengaja dilebar-lebarkan seperti biasa.
“Anya! Kau sudah makan?”
“Sudah, Ma. Mama sendiri sudah minum obat?”
“Sudah dong. Perawat di sini galak sekali, Mama tidak berani bandel.” Erica terkekeh, lalu wajahnya melembut. “Bagaimana pekerjaanmu? Bosmu baik?”
Anya menahan nafas satu ketukan. Kalau ia jujur, Ibunya pasti akan langsung memintanya pulang, dan seluruh pengobatan ini akan berhenti hari itu juga.
“Baik, Ma. Orangnya cuma… unik. Tapi aku sanggup kok.”
“Syukurlah. Kerja yang benar ya, Nak. Jangan mengecewakan orang yang sudah baik sama kita.”
Panggilan itu berakhir. Anya meletakkan ponselnya di meja lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan selama beberapa saat. Sekali lagi hanya sebentar. Kemudian ia menyeka wajahnya, mematikan lampu ruangan, memeluk map merah itu erat-erat, dan berjalan menuju lift.
Di lobby, sopir dari kediaman Halim sudah menunggu dan membukakan pintu untuknya. Anya masuk, meletakkan map merah itu di pangkuannya, dan mobil itu pun meluncur keluar dari halaman Diamond Hotel.
Di dalam map merah itu ada hasil rapat yang lengkap, rapi dan siap dipresentasikan kapan saja. Sayangnya, hasil rapat selengkap apa pun tidak ada gunanya jika orang yang harus memutuskan tidak pernah sudi ditemui.
***
A/N: Hayooo, kalau kalian jadi Anya, hari kedua begini masih mau bertahan atau langsung resign?