Celline terpaku saat mendengar perkataan sang ayah kepadanya, yang meminta dirinya agar segera menikah. Ini sesuatu yang sangat menyinggung batin dan perasaannya saat ini. Di mana Celline yang belum memiliki calon seorang pun diminta agar menikah. Lantas, jika ia menolak tawaran sang ayah begitu saja jelas akan membuatnya semakin terancam.
Celline bangkit dari duduknya dan melihat ayahnya, Abimana tengah membenarkan kacamata rantainya. Celline menghembus napas perlahan, berharap apa yang dikatakan nantinya tak akan membuat sang ayah semakin marah.
"Ayah. Aku ... aku belum memiliki calon. Bagaimana bisa aku akan menikah?" Ujar Celline dengan mencoba berhati-hati.
Abimana menatap wajah putrinya dengan tenang.
"Berarti kau tidak menolak keinginan, Ayah? Baiklah ... Ayah mengerti. Untuk itu Ayah ingin menjodohkan kau dengan Bagas Pamungkas, pokoknya kau tidak boleh menolaknya," Ucap Abimana penuh penekanan.
"Ayah ... aku tidak mau. Aku tidak mencintai Bagas, dia pria kejam dan licik!" Cetus Celline dengan lantangnya. Ia tak peduli dengan tanggapan ayahnya, yang jelas dirinya sangat antipati terhadap pria yang bernama Bagas Pamungkas.
"Celline! Kau tidak boleh menentang permintaan Ayahmu. Bagas itu sangat tajir dan kaya. Pokoknya kau harus menikah dengannya!" Gertak Morina, sang ibu.
Celline menelan salivanya saat melihat ibunya datang dan memihak ayahnya. Ini sungguh menyiksa dirinya. Ia tak dapat berpikir jika ia harus hidup bersama pria kejam seperti Bagas.
"Tidak! pokoknya, aku tetap menolaknya. Aku tidak ingin menuruti keinginan kalian." Cetus Celline geram, lalu ia beranjak dari ruang tengah itu dan berlalu menuju kamarnya.
Di sana terlihat Celline menangis sesenggukan. Ia tak habis pikir jika orangtuanya tega memaksa dirinya agar menikahi pria kejam demi meraih keuntungan semata. Itu artinya orangtuanya sama saja akan menjual putrinya. Ini tidak bisa dibiarkan, dengan penuh tekad Celline memikirkan cara agar dirinya terbebas dari perangkap tersebut. Hidup memang kejam, akan tetapi ia tak boleh menyerah begitu saja.
Kini Celline tersenyum dan mengusap air matanya. Sepertinya ia telah menemukan rencana bagus untuknya. 'Mau tidak mau, aku harus segera kabur dari rumah.' Pikirnya.
Celline mengambil ponsel miliknya, ia melihat arah jarum jam tengah menunjukkan angka 12.00. Itu artinya, ia harus segera bersiap untuk lari dari rumah. Karena sebentar lagi ia tak mungkin ada kesempatan untuk lari dari rumah jika bodyguard sang ayah telah kembali.
Ia pun tak mengambil waktu banyak untuk mempersiapkan apa yang perlu dibawa. Mungkin hanya beberapa pakaian dan uang yang cukup untuknya di perjalanan nanti. Celline tersenyum menatap layar ponselnya. Kemudian ia bangkit dari duduknya dan segera keluar dari kamar melalui jendela kamar. Meskipun siang terang benderang, akan tetapi di sekitar rumah miliknya sangat sepi.
Untunglah Celline berhasil keluar dan berjalan sempoyongan menyusuri jalan yang terjal itu. Ia mengambil jalan pintas untuk menghindar dari buronan bodyguard ayahnya nanti. Sambil terus melangkahkan kakinya, Celline melihat sekeliling berharap tidak ada yang mencurigai dirinya.
Tepat di jalan raya, Celline meregangkan ototnya dan melepas lelah sejenak. Ia tak dapat menyangka, ternyata berjalan kaki sangat melelahkan dirinya. Tanpa sepengetahuannya, sebuah mobil sport melintas di jalan tersebut dan menyerempetnya hingga terpelanting. 'Aaaaahhh.' Bugg! Celline pun tergeletak lunglai di atas rumput. Ia tak sadarkan diri dengan luka di bagian kepala dan tangannya. Sungguh malang nasibnya, kabur dari rumah berharap ada keajaiban di luar sana malah berakhir tragis.
Seketika pemilik mobil tersebut menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil. Sungguh celaka! wajahnya sangat cemas saat melihat seorang gadis manis terluka karenanya. Nicky, pria yang membuat gadis itu hingga terluka merasa khawatir ada seseorang yang melihatnya. Ia pun buru-buru menggendong gadis tersebut dan memasukkan ke dalam mobilnya. Mau tidak mau Nicky harus segera membawa gadis itu ke rumah sakit agar mendapat perawatan khusus.
"Mas Abi, bagaimana ini Celline tidak ada di kamarnya. Apa dia kabur dari rumah?" Ungkap Morina pada Abimana.
Sungguh terkejut! mendengar penuturan istrinya, Abimana mengerutkan alisnya dan menggeram kesal.
"Apa?! dasar anak tidak tau diri! berani-beraninya kabur begitu saja. Pokoknya ini tidak dapat dibiarkan." Sergah Abimana merasa kesal.
Lalu ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi putrinya, alhasil nomornya tidak aktif. Abimana menghembus napas geram. Kini emosinya kian meluap. Ia pun segera meminta bodyguardnya untuk mencari keberadaan putrinya sebelum terlambat.
Bagaimana tidak, Abimana dan keluarga Pamungkas telah berjanji untuk menjodohkan anak mereka demi meningkatkan income perusahaan masing-masing. Terlebih, Pamungkas telah memberikan sejumlah uang yang cukup banyak nilainya kepada Abimana sebagai bentuk perjanjian mereka. Jika pernikahan itu gagal, maka Abimana sendiri yang harus menanggung resikonya.
"Saya tidak mau tau bagaimana pun caranya, kalian harus menemukan putriku." Perintah Abimana dengan tegas pada bodyguardnya itu.
"Siap, Tuan Abi." Balas bodyguardnya secara bersamaan.
Sepeninggal bodyguardnya, Abimana mengatur napasnya dan menyeruput segelas teh hangat yang diberikan oleh istrinya. Morina menatap suaminya dengan wajah datar, ia mengerti bagaimana perasaan suaminya saat ini. Selain kesal ia juga merasakan kekhawatiran yang mendalam.
"Mas Abi, kau jangan terlalu cemas. Celline pasti akan segera kembali," Ia mencoba menenangkan suaminya dan mencairkan suasana yang kaku saat itu.
Abimana hanya mengangguk dan menghela napas dalam. Meskipun dalam hati ia merasa geram dengan sikap putri bungsunya itu, akan tetapi ia harus mencoba bersabar dan mengontrol emosinya.
"Sekarang aku ingin istirahat," Ungkap Abimana, lalu bangkit dari duduknya.
"Pergilah, Mas. Aku akan membereskan gelas ini." Ucap Morina sambil mengemas gelas di atas meja.
Abimana pun beranjak pergi ke dalam kamar. Di sana ia merebahkan tubuhnya di ranjang dan mengistirahatkan pikirannya.
Di rumah sakit swasta, Nicky berdiri mondar mandir di depan ruang UGD sambil menatap ruangan tersebut. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan pada gadis itu, ia akan celaka. Ia pun berharap agar semua baik-baik saja. Meskipun ia merasa bersalah pada gadis itu, akan tetapi ia juga merasa bingung bagaimana bisa ia menyerempet gadis itu tadinya? saat kejadian ia merasa tidak sadar, apakah ia tidak melihat ada orang sehingga menyerempet gadis tersebut? Entahlah, jika dipikirkan itu sangat membuat otaknya semakin sakit.
Yang terpenting saat ini kesembuhan untuk gadis itu. Apa pun itu akan ia lakukan demi kesembuhan gadis tersebut. Nicky mengambil ponsel miliknya dan melihat sebuah panggilan tak terjawab. Lyodra, gadis cantik yang telah dijodohkan orangtuanya untuk menikah dengannya. Namun, Nicky sendiri tak menerima perjodohan itu. Ia tidak tertarik sedikitpun terhadap Lyodra. Apalagi setiap saat Lyodra selalu mengganggu waktunya yang membuatnya sia sia.
"Gadis ini! tidak ada bosannya menggangguku." Cetus Nicky dengan kesal. Ia meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya. Lalu duduk di kursi sambil menunggu dokter keluar.
Ckkkk!
Pintu terbuka lebar, tampaklah seorang dokter menghampiri Nicky.
"Tuan Nicky, keadaan pasien saat ini masih belum siuman. Dikarenakan luka pada kepalanya cukup parah. Sehingga perlu perawatan yang lebih untuk kebaikannya," Jelas dokter membuat Nicky merasa tertegun.
"Jadi, apakah pasien dapat disembuhkan, Dok?" Tanya Nicky merasa penasaran.
"Bisa, namun pasien perlu membutuhkan darah yang cukup supaya keadaannya dapat membaik,"
Oh My God! darah? dari mana ia harus mendapatkan darah untuk kesembuhan gadis itu? Nicky pun merasa bingung dengan sendirinya. Sepertinya ia harus mencari seseorang yang rela mendonorkan darahnya untuk gadis itu.