Tubuh indah Sandra terekspos di depan mata Baskara. Perempuan itu kini hanya mengenakan pakaian dalam setelah sengaja menanggalkan pakaiannya dengan harapan dapat menggoda pria yang selama ini dicintainya.
Sandra melangkah mendekat. Tatapannya penuh harap, sementara bibirnya menyunggingkan senyum menggoda. Ia yakin, sebagai seorang pria, Baskara tidak mungkin menolak pesonanya.
Namun, dugaan Sandra ternyata keliru.
Baskara justru mundur beberapa langkah. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus ketidaknyamanan melihat tindakan perempuan yang sudah cukup lama menjadi kekasihnya itu.
"Stop, Sandra! Apa yang kamu lakukan?" tegur Baskara tegas.
Sebelum Sandra sempat menjawab, Baskara buru-buru melepaskan jas yang dikenakannya, lalu menyampirkannya ke tubuh perempuan itu.
"Pakailah ini. Jangan melakukan hal seperti ini lagi."
Sandra terdiam.
Senyum yang semula menghiasi wajahnya perlahan memudar. Ia menunduk, memandangi jas yang kini membungkus tubuhnya, sebelum kembali mengangkat wajah untuk menatap Baskara.
"Apa kamu tidak normal, Bas?" tanyanya dengan suara bergetar.
Baskara mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu?"
"Atau memang aku kurang menarik di matamu?"
Sandra berusaha mempertahankan ketenangannya, tetapi rasa malu dan sakit hati telanjur menguasai dirinya. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang perempuan telah diinjak-injak. Bagaimana mungkin pria yang sudah menjalin hubungan dengannya justru menolak ketika dirinya berusaha memberikan sesuatu yang menurutnya istimewa?
"Bukan begitu, Sandra."
"Lalu apa? Bukankah kita sepasang kekasih? Bukankah kamu mencintaiku?" Sandra mulai meninggikan suaranya. "Aku ini kekasihmu, Baskara. Aku bukan perempuan asing yang tiba-tiba datang menawarkan diri kepadamu!"
Baskara mengembuskan napas panjang. Ia tahu Sandra sedang terluka, tetapi ia juga tidak bisa membiarkan perempuan itu salah memahami sikapnya.
"Aku mencintaimu. Tidak pernah sedikit pun aku meragukan perasaanku sendiri kepadamu," jawabnya tenang.
"Lalu kenapa kamu menolakku? Kita dua tahun lho berpacaran, sejauh ini kita tuh cuman ciuman saja. Seperti anak SMP."
"Karena aku tidak ingin hubungan kita berjalan seperti ini."
Sandra menatapnya tak percaya.
"Berjalan seperti apa? Kita hidup di zaman modern, Bas! Banyak pasangan yang melakukan hal seperti ini. Kenapa kamu justru bersikap seolah-olah aku melakukan sesuatu yang memalukan?"
"Aku tidak pernah mengatakan kamu memalukan."
"Tapi sikapmu menunjukkan itu!"
Baskara terdiam sesaat. Ia kemudian melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak yang membuat Sandra merasa semakin asing dengan pria itu.
"Dengarkan aku baik-baik, Sandra. Aku tidak mempermasalahkan pakaianmu, kecantikanmu, atau apa pun yang kamu miliki. Kamu perempuan yang menarik. Bahkan, kamu tahu sendiri bagaimana perasaanku kepadamu."
"Kalau begitu, apa masalahnya?"
"Masalahnya adalah prinsip hidupku."
Sandra mengatupkan bibir.
Baskara melanjutkan dengan suara lebih lembut, "Aku mungkin hidup di zaman modern. Aku tidak pernah merasa diriku lebih baik daripada orang lain. Aku juga tidak akan menghakimi pasangan yang memilih jalan berbeda. Namun, untuk diriku sendiri, aku punya batasan yang tidak ingin kulanggar."
"Batasan?"
"Aku tidak ingin melakukan hubungan intim sebelum kita resmi menjadi suami istri."
Kalimat itu membuat Sandra terdiam.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Baskara seolah sedang berusaha memastikan bahwa pria itu benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kamu sungguh-sungguh?" tanyanya lirih.
Baskara mengangguk.
"Sangat serius."
Sandra memalingkan wajah. Ada perasaan lega karena Baskara masih mengaku mencintainya, tetapi rasa malu yang menyelimuti hatinya belum juga menghilang.
Ia merasa sudah mempertaruhkan harga dirinya demi membuat Baskara semakin terikat kepadanya. Namun, yang didapatkannya justru sebuah penolakan.
"Aku hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar menginginkanku," gumam Sandra.
Baskara menghela napas.
"Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini untuk membuktikan apa pun kepadaku. Aku ingin kamu menjadi istriku, Sandra. Aku ingin membangun rumah tangga bersamamu, bukan sekadar menikmati hubungan yang hanya didasarkan pada keinginan sesaat."
Sandra kembali menatapnya.
"Kalau memang begitu, kapan kamu akan menikahiku?"
Pertanyaan itu membuat Baskara terdiam.
Sandra menangkap perubahan ekspresi di wajah kekasihnya.
"Kenapa diam? Kamu bilang ingin menjadikanku istrimu. Jadi, kapan?"
"Sandra, kita sudah membicarakan ini."
"Ya, dan setiap kali kita membicarakannya, jawabanmu selalu sama. Kamu bilang ingin menikahiku, tetapi tidak pernah mengatakan kapan."
Baskara mengusap wajahnya.
"Aku masih punya beberapa urusan yang harus kuselesaikan."
"Urusan apa lagi, Bas? Sampai kapan aku harus menunggu?"
"Aku tidak pernah memintamu menunggu tanpa kepastian."
"Tapi itulah yang terjadi!"
Sandra menahan air mata. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Baskara, apalagi setelah kejadian yang membuatnya merasa begitu terhina.
Baskara menatap perempuan itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku akan membicarakan semuanya dengan keluargaku. Beri aku sedikit waktu lagi."
Sandra tertawa hambar.
"Sedikit waktu. Selalu begitu."
Ia kemudian melepaskan jas Baskara dan mengenakan kembali pakaiannya dengan gerakan kaku. Setelah merapikan rambutnya, Sandra mengambil tas yang tergeletak di sofa.
"Aku pulang."
"Sandra, tunggu."
Perempuan itu berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Sandra memejamkan mata sejenak.
"Masalahnya, kamu mungkin tidak bermaksud menyakitiku, tetapi aku tetap merasa terluka."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Sandra melangkah pergi.
Baskara tidak mengejarnya.
Pria itu hanya berdiri di tempatnya, memandangi pintu yang baru saja tertutup. Ada banyak hal yang ingin dikatakannya kepada Sandra, tetapi ia tahu bahwa percakapan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa jika keduanya masih dikuasai emosi.
Baskara mencintai Sandra. Namun, ia dituntut harus menikahi perempuan lain. Baskara menghela napas panjang, ia menjatuhkan dirinya di sofa.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mau kehilangan Sandra tapi ..."
Sementara itu Sandra berjalan tergesa menuju lobi apartemen seraya menelepon asistennya. Perempuan itu minta dijemput. Sandra duduk di sofa, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Bisa-bisanya Baskara nolak aku. Sial, yang tadi sangat memalukan." Sandra menggerutu.
Dua puluh menit Sandra menunggu, asistennya muncul. "Mba Sandra maaf jalanan macet," ujar Nuri, asistennya.
Sandra spontan berdiri, tatapannya sangat mematikan. "Kamu ya, kebiasaan!" Sandra berjalan keluar lalu diikuti oleh Nuri.
"Apa schedule saya setelah ini?" tanya Sandra.
"Satu jam lagi Mba ada pemotretan untuk iklan sehabis itu free. Oh iya, hampir saya lupa. Pak Sunny pemilik stasiun tv mengundang Mba Sandra makan malam."
Sandra menghentikan langkahnya, ia menoleh kepada asistennya. "Pak Sunny? Kenapa kamu tidak memberitahu saya?"
"Maaf Mba, saya lupa." Nuri menjawab sambil menggaruk kepalanya.
"Kebiasaan." Sandra kembali melangkah.
Saat di dalam mobil ponsel Sandra berdering. Barisan angka tanpa nama tertera di layar.
"Siapa ini?" gumamnya. Sandra menerima panggilan tersebut. "Halo," sapanya lembut.
"Mba Sandra ya. Saya Sunny, malam nanti saya tunggu kehadirannya. Jangan sampai tidak datang lho ya."
"Ada perlu apa ya, Bapak undang saya makan malam?" tanya Sandra seraya matanya melirik Nuri.
"Saya punya project bagus untuk Mba Sandra. Pokoknya Mba Sandra harus datang ya. Karena apa yang akan saya tawarkan ke Mba, bisa membuat nama Mba Sandra melambung tinggi. Ha ha ha ...."
"Wah, Pak Sunny pinta sekali membuat saya penasaran. Oke, saya pasti akan datang."
Percakapan keduanya pun berakhir. Suasana hati Sandra yang semula kesal berubah bahagia. Ia membayangkan dirinya akan menjadi superstar sekelas Dian Sastro. Namun, kadang untuk mencapai kesuksesan ada hal yang harus dikorbankan termasuk harga diri.