Valeria menatap pantulan dirinya di cermin toilet kantor. Polesan bedak di wajah serta lipstik di bibirnya hanya mampu menyamarkan sedikit kepucatan diwajahnya. Dia baru saja memuntahkan cairan kuning seperti biasa. Dan dari pagi belum ada satupun makanan yang masuk ke perutnya.
"Kau ingin menghukum mommy ya." Ucapnya pelan sambil mengelus perutnya yang masih terlihat datar.
Setelah merasa lebih baik, Valeria keluar dari toilet. Seseorang yang akhir-akhir ini dibencinya berdiri didekat pintu toilet dengan raut wajah bersalah.
"Val, kau baik-baik saja ?" Jonatan, pria yang telah menambahkan obat sialan ke dalam minumannya bertanya dengan raut wajah khawatir.
Sejak kejadian malam itu, Jonatan selalu berusaha untuk meminta maaf kepada Valeria. Namun Valeria selalu mengacuhkannya. Valeria tidak bisa semudah itu untuk memaafkan orang yang telah menghancurkan hidupnya.
"Bukan urusanmu !" Jawab Valeria ketus.
Dia berjalan melewati Jonatan, tapi Jonatan malah memegang lengan Valeria.
"Val, sampai kapan kau akan membenciku." Jonatan menatap Valeria dengan sendu. Dia sungguh menyesal telah melakukan itu. Sejujurnya dia menyukai Valeria sejak pertama kali melihatnya. Namun Valeria sama sekali tidak meliriknya.
"Sudahlah Jo, aku sudah cukup lelah dengan semua ini. Aku ingin melupakan semua yang terjadi di malam itu. Jadi aku mohon, berhenti mengingatkanku !"
"aku minta maaf Val. Sungguh. Aku akan melakukan apapun asal kau memaafkanku."
"Kau ingin aku memaafkanmu ?"
Jonatan mengangguk.
"Jangan dekati aku lagi. Bersikaplah seperti kau tidak mengenalku. Mungkin setelah itu aku akan melupakan semua yang telah kau lakukan kepadaku." Ucap Valeria, tanpa melihat Jonatan.
***
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Aurora yang berdiri di depan meja kerja Valeria. Dia sangat khawatir melihat Valeria yang terlihat sangat pucat sejak kembali dari toilet.
Valeria mengangguk. "hanya muntah seperti biasa."
"Lebih baik kau izin saja hari ini. Wajahmu terlihat sangat pucat."
"Aku sungguh baik-baik saja, Ra."
Aurora mendesah pasrah. Dia heran, kenapa Valeria masih saja keras kepala disaat kondisinya seperti ini.
"Ra."
"Ya."
"Aku akan keluar sebentar. Tiba-tiba saja aku ingin makan kue yang ada di seberang kantor." Ucap Valeria dengan mata berbinar.
"Kau mengidam ya." Sahut Aurora, menggoda Valeria.
Valeria mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku hanya ingin memakan itu sekarang."
"Pergilah, aku akan memberikan alasan kalau Ms. Naina mencarimu nanti."
***
Orlando turun dari mobil sambil merapikan jasnya. Lalu melangkah masuk ke perusahaan yang di datanginya. Alaric Company, perusahaan keluarga milik sahabatnya yang bernama Tristan Alaric. Entah kenapa, tadi pagi saat terbangun, dia ingin sekali mengunjungi sahabatnya itu.
Dia melangkah dengan santai. Beberapa orang yang berlalu lalang menatap kagum ke arahnya. Apalagi kaum hawa. Bagaimana tidak, Orlando memiliki ketampanan di atas rata-rata. Sayangnya, Orlando bukanlah pria ramah yang akan tersenyum saat ada orang yang menyapanya. Dia hanya akan mengangguk sekilas, lalu berlalu begitu saja.
Orlando berdiri di depan lift, menunggu lift didepannya terbuka sambil memainkan ponselnya.
Ting.
Lift itu terbuka, Orlando terpaku saat melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari lift dengan wajah sedikit menunduk. Terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Wanita dengan rambut ikal berwarna coklat. Dia ingat sekali siapa pemilik rambut itu.
Wanita itu adalah Valeria. Wanita yang meninggalkannya di hotel begitu saja setelah melalui malam yang menakjubkan bersama. Sial sekali. Dia selalu merasa kesal mengingat bagaimana dia terbangun tanpa wanita itu disampingnya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, wanita itu meninggalkan selembar kertas yang bertuliskan kata "MAAF".
Ck. Dia merasa seperti korban pemerkosaan saja. Padahal jelas-jelas wanita itulah yang telah dirugikan oleh Orlando. Tadinya, Orlando berfikir kalau wanita itu sama saja seperti masalalunya yang sudah tidak perawan lagi saat pertama kali mereka berhubungan. Tapi ternyata dia salah, wanita itu masih perawan.
Harusnya Orlando tahu kalau wanita itu masih perawan, sangat terlihat dari betapa amatirnya dia saat Orlando mencium bibirnya. Orlando bisa menebak, pasti wanita itu belum pernah berciuman sebelumnya. Tapi mau bagaimana lagi, nafsu sudah menguasainya saat itu. Munafik jika dia bilang dia tidak tergoda dengan tubuh indah yang dimiliki Valeria. Wanita itu memiliki semua bagian menggiurkan dengan ukuran pas ditubuhnya yang diinginkan oleh para pria manapun, termasuk Orlando.
Orlando membiarkan Valeria begitu saja. Melanjutkan tujuan awalnya yang ingin bertemu dengan Tristan. Dia tidak ingin membuat keributan. Akan sangat memalukan jika orang-orang tahu bahwa seorang Orlando ditinggalkan begitu saja oleh wanita yang baru saja ditidurinya.
"Kau sibuk ?" Tanya Orlando, dia masuk begitu saja ke dalam ruangan Tristan.
Tristan yang sedang menandatangani beberapa berkas menoleh lalu berdecak. "Kau mengagetkanku saja !"
Orlando terkekeh pelan lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Tristan dengan menyilangkan kakinya.
"Apa yang membuatmu kemari ? aku bisa tebak, pasti sesuatu yang sangat penting hingga seorang Orlando Arsenio menemuiku di kantor." Tristan menggeser berkas-berkas yang tadi dipegangnya lalu duduk bersandar dikursi kebesaran miliknya.
Orlando mengedikkan bahunya. "Aku hanya ingin mampir."
"Benarkah ? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain."
"Kau selalu saja sok tahu."
Tristan tertawa pelan.
"Ngomong-ngomong, apakah karyawanmu ada yang bernama Valeria ?" Tanya Orlando.
Tristan menaikkan alisnya. "Sudah kuduga pasti ada sesuatu. Aku tidak yakin kau hanya akan mengunjungiku begitu saja tanpa ada maksud lain." Ejek Tristan.
Orlando memutar bola matanya. "Tadinya aku memang hanya ingin mengunjungimu. Tapi aku jadi penasaran setelah bertemu wanita itu." Ujar Orlando.
"Wanita itu ? Siapa ? Oh, jadi dia bernama Valeria !" Seru Tristan lagi.
"Simpan dulu semua rasa penasaranmu. Jadi, apakah karyawanmu ada yang bernama Valeria ?"
Tristan mendengus kesal. Merasa kesal karena Orlando tidak mau menceritakan apapun perihal wanita bernama Valeria itu padanya. "Aku tidak tahu. Karyawanku terlalu banyak untuk ku ingat satu-satu namanya." Gerutunya. "Tapi kau tenang saja, aku akan meminta sekretarisku untuk mencari data karyawan bernama Valeria dan membawakannya untukmu." Lanjut Tristan lagi.
Tristan lalu menghubungi sekretarisnya dan meminta data itu diantarkan dalam sepuluh menit.
Pada menit kedepelapan, sekretaris Tristan yang bernama Regina masuk dengan membawa map di tangannya.
"Ini data yang ada minta, Sir." Ucap Regina sopan dengan sedikit menunduk.
"Terimakasih Regina. Kau boleh kembali ketempatmu."
Regina mengangguk lalu beranjak meninggalkan Tristan.
"Sekretarismu benar-benar kaku." Celetuk Orlando setelah Regina keluar dari ruangan Tristan.
"Biarkan saja, yang penting kerjanya bagus." Tristan mengecek map yang diberikan oleh Regina tadi, lalu memberikannya kepada Orlando. "Lihatlah, Valeria mana yang kau maksud."
Orlando mengambil map itu, lalu mulai melihat satu persatu data karyawan Tristan yang bernama Valeria. Untungnya hanya ada belasan Valeria saja, jadi Orlando tidak harus menghabiskan banyak waktu dalam mencarinya.
Mata Orlando terpaku pada satu berkas dengan nama Valeria Tanisha. Dia membaca data-data yang ada disana. Lalu tersenyum dengan puas.
"Tristan, bisakah kau suruh sekretarismu untuk memanggil wanita ini ?" Orlando memberikan berkas yang bernamakan Valeria Tanisha kepada Tristan.
"Aku sungguh tidak mengerti denganmu. Apa yang akan kau lakukan padanya ? Siapa wanita ini ?"
Orlando berdecak. "Ayolah, nanti saja bertanyanya. Aku butuh bertemu dengan wanita ini." Desak Orlando, tidak sabaran.
Trsitan mengangkat tangannya, tanda menyerah. Dia kembali menghubungi Regina, meminta sekretaris andalannya itu untuk memanggil Valeria Tanisha.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Tristan diketuk dari luar.
"Masuk." Ucap Tristan.
Sosok Valeria melangkah masuk dengan sedikit menunduk. Terlihat sekali bahwa dia sedang gugup. "Maaf, Tuan. Benarkah anda memanggil saya ?" Tanya Valeria dengan sopan. Dia masih menundukkan sedikit wajahnya. Dia bahkan tidak sadar diruangan itu ada orang lain selain Tristan.
"Kau, Valeria Tanisha ?" Tanya Tristan lagi.
Valeria mengangguk. "Benar, Tuan. Saya Valeria Tanisha."
"Ada seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu." Jelas Tristan.
Valeria mengerutkan dahinya. "Seseorang ? Maaf, saya tidak mengerti, Tuan."
Orlando yang dari tadi diam dan duduk membelakangi Valeria langsung berdiri dan menatap tajam Valeria. "Senang bertemu denganmu, LAGI, Nona Valeria Tanisha." Ucap Orlando sambil menyeringai. Dia menegaskan kata "lagi" yang berarti bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Kau...bagaimana bisa..." Valeria tercekat. Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
"Kau terkejut ?" Tanya Orlando dengan nada sombongnya.
Valeria menelan salivanya. Mencoba menghilangkan gugup yang menguasai dirinya. Tubuhnya semakin lemas, ditambah lagi dia belum sempat memakan kue yang tadi dibelinya karena atasannya mendesak Valeria untuk segera menemui pemilik perusahaan mereka.
Tiba-tiba saja semua yang dilihat Valeria menjadi berputar. Bahkan wajah pria itu tidak bisa lagi dilihat dengan jelas. Hanya satu kata yang didengar Valeria hingga semuanya menjadi gelap.
"Oh shiit !"
Orlando mengumpat sambil menangkap tubuh Valeria yang jatuh pingsan dengan sigap.
"Ada apa dengannya ?" tanya Tristan yang juga ikutan panik melihat Valeria pingsan.
Orlando menggendong Valeria dan membaringkan tubuhnya diatas sofa yang ada diruangan Tristan. Dia membuka sepatu yang dikenakan oleh Valeria lalu menoleh kearah Tristan.
"Tolong panggilkan Dokter sekarang juga !" Desak Orlando, yang tanpa dia sadari dia ucapkan dengan nada khawatir.
***
Valeria memijit pelipisnya, dia masih merasa sedikit pusing. Begitu dia membuka matanya dia langsung mendapati Orlando yang duduk tepat disamping tempat dia tertidur.
"Kau berbaring saja." Perintah Orlando saat melihat Valeria yang terlihat memaksakan dirinya untuk duduk.
Valeria menurut. "Boleh aku minta minum ? aku haus sekali." Pinta Valeria dengan pelan.
Orlando memberikan segelas air putih kepada Valeria yang mau tidak mau membuat Valeria menjadi duduk, tidak berbaring lagi.
"Apa kau sudah gila ? kau sedang hamil dan kau tidak makan apapun sejak pagi !" Bentak Orlando.
"Kau...tahu ?" Tanya Valeria dengan gugup.
"Tentu saja aku tahu. Untung saja aku menyuruh Tristan untuk memanggil Dokter. Kalau tidak, aku tidak akan pernah tahu bahwa kau sedang mengandung anakku."
"Bagaimana kau yakin ini anakmu ? Ini bukan anakmu !" Elak Valeria, berbohong.
"Kau tidak berbakat untuk berbohong."
"aku tidak berbohong. Ini memang bukan anakmu !."
"Sudahlah Valeria, kau benar-benar tidak berbakat dalam berbohong. Aku tahu kau masih perawan saat melakukannya denganku. Dan aku juga yakin hanya akulah pria yang pernah berhubungan denganmu. Jadi simpan tenagamu itu, jangan menghabiskannya dengan mendebatkan hal yang tidak penting denganku."
"Kita harus menikah." Ucap Orlando lagi.
"Tidak. Kau tidak perlu bertanggung jawab. Aku akan membesarkan anak ini sendiri."
"Aku tetap akan bertanggung jawab. Sebulan dari sekarang, persiapkan dirimu untuk menjadi istriku."
"Aku tidak mau !"
"Aku tidak meminta persetujuanmu. Sebulan lagi atau besok, semua keputusan ada ditanganmu." Ujar Orlando, tanpa mau dibantah.
"Kau benar-benar sudah gila !"