Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi. Shanika sudah terlihat segar dengan rambut basahnya, pun dengan sang suami. Perempuan itu bingung apa yang harus dia lakukan. Biasanya, setelah bangun tidur dan menjalankan kewajibannya, dia langsung berberes. Menyapu lantai rumahnya, menyapu halaman, dan membantu ibunya memasak.
Tapi di rumah Marvel, semua sudah ada yang bertugas untuk melakukan hal tersebut. Terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri, membuatnya kebingungan dengan kehidupan baru yang dijalaninnya sekarang.
"Pagi cantik." Marvel memeluk dan memberi kecupan di pipi sang istri yang tengah terlihat kebingungan di tengah ruangan kamar mereka. "Nglamunin apa sih?" sejujurnya, Shanika masih agak kikuk dengan kontak fisik dengan Marvel. Tapi sepertinya dia harus membiasakannya.
"Bingung aja sih, Mas." pelukan Marvel terurai. Pria itu berdiri di depan Shanika untuk melihat ekspresi perempuan yang baru kemarun dinikahinya itu.
"Bingung kenapa?"
"Bingung mau ngapain." senyum Marvel terbit dan cekungan di pipi pria itu muncul seolah menggoda Shanika. Sebelum menarik perempuan itu untuk pergi ke balkon kamar mereka.
"Duduk di sini aja, udara pagi baik untuk kesehatan." katanya dengan duduk di kursi ayunan yang memang diletakkan di balkon kamar Marvel. Shanika hanya mengikuti suaminya dan menghirup udara pagi yang benar-benar segar.
Melihat sekitar rumah Marvel dari lantai dua benar-benar terlihat indah. Dari balkon kamarnya, Shanika bisa melihat kolam renang mewah dengan beberapa kursi malas. Tanaman hias juga tertata begitu rapi. Shanika memang pernah membayangkan jika dia dipersunting dengan lelaki berada dan hidupnya bak Princes di negeri dongeng.
Tapi itu hanya khayalan semata, tidak menyangka jika Tuhan benar-benar memindahkan bayangan semu itu di dunia nyata. Apa lagi yang bisa Sha ucapkan selama bersyukur setiap tarikan nafasnya.
"Kita sarapan Bee." Marvel menyadarkan Shanika dari lamunannya. Pria itu mengelus pipi istrinya dan memandang perempuan itu dalam. "Kita udah ditunggu untuk sarapan." Shanika mengangguk dan berdiri untuk turun ke lantai satu dimana ruang makan berada.
Hatinya tiba-tiba berdetak cepat mengingat jika hari ini dia akan 'disidang' oleh kedua orang tua Marvel.
Sampainya di ruang makan yang memang bersebelahan dengan dapur, keluarga Marvel sudah menunggu. Ibu, ayah, kakak perempuan, kakak ipar, dan tak lupa keponakan Marvel yang masih berusia tiga tahun juga sudah duduk manis di kursinya dengan rambut yang terkuncir dan terlihat sangat menggemaskan.
"Pagi." sapa Marvel dengan senyum merekah di bibirnya. Semua orang yang berada di sana memandang sepasang pengantin baru itu dengan wajah yang berbinar.
"Pagi." jawab mereka serempak. Marvel lebih dulu menciumi keponakannya sebelum ikut bergabung di meja makan.
Kedua orang tua Marvel bisa melihat binar kebahagiaan di mata putra bungsunya itu saat memandang Shanika. Mereka merasa jika Marvel memang begitu mencintai istrinya, dan mereka sebagai orang tua hanya bisa berdoa agar kehidupan rumah tangga putranya selalu dilindungi Tuhan dari hal-hal yang buruk.
"Shanika!" inilah waktunya untuk Sha mendengarkan dan khidmad aturan apa yang boleh dan tak boleh di lakukannya.
"Ya." jawabnya dengan pasti. Sarapan sudah selesai beberapa menit yang lalu. Melvi, kakak perempuan Marvel mengantarkan putrinya ke sekolah, sedangkan suami Melvi sendiri sudah pergi bekerja.
Dan disinilah Shanika dan ketiga anggota keluarga Nareswara berada. Di ruangan kerja kepala keluarga Nareswara dan akan membahas beberapa hal yang harus diketahui oleh penghuni baru di rumah besar itu.
"Ada beberapa hal yang akan,Papa jelaskan kepada kamu." d**a Shanika menghangat saat pria paruh baya berstatus ayah suaminya itu menyebut dirinya sendiri papa kepadanya. Pria itu memang terlihat tegas tapi juga memiliki sifat yang lembut kepada anggota keluarganya.
"Kamu belum menyelesaikan S1 kamu kan?" sebelum Marvel dan Sha menikah, Marvel sudah memberikan informasi kepada orang tuanya bagaimana latar belakang keluarga Sha.
Shanika mengangguk. "Iya, Pa."
"Dalam keluarga Nareswara pendidikan sangat penting," katanya memulai. "Jadi Papa ingin Shanika mau kembali kuliah paling tidak sampai sarjana. Marvel bilang, Sha juga pernah lanjutin kuliah S1 tapi gagal di tengah jalan kan?" Shanika mengangguk mengiyakan. Hidupnya memang sulit, waktu itu. Sampai Marvel mempersuntingnya.
"Kalau begitu tebuslah kegagalan yang pernah Sha alami dengan kembali belajar." itu bukan penawaran atau sejenisnya, tapi itu adalah kewajiban dan keharusan yang harus perempuan itu lakukan dan setujui.
Umur Sha tidak lagi muda, dia bahkan tahun ini 28 tahun, tapi tidak ada batasan umur untuk terus belajar. Meskipun rasa-rasanya, Sha sudah lelah mengulang semuanya dari awal. Tapi ini adalah harga yang harus dia bayar ketika memutuskan untuk masuk ke dalam keluarga konglomerat.
Dulu keinginan terbesar Shanika adalah dia bisa menjadi seorang sarjana, tapi Tuhan belum ingin mewujudkan cita-cita Shanika. Dan harus gagal di tengah jalan saat tiga tahun dilaluinya dengan penuh perjuangan.
"Bee!" remasan di tangan Shanika membuat perempuan itu terbangun dari lamunannya.
"Ya? Ehm, maaf." katanya tak enak hati kepada kedua mertuanya. Ibu mertuanya hanya tersenyum lembut kearahnya. Sedangkan ayah mertuanya hanya memandangnya dalam.
"Pendidikan itu penting Shanika." itu suara ibu Marvel. Mengulang apa yang ayah Marvel sampaikan tadi. "Ada yang bilang, untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau cuma jadi ibu rumah tangga. Tapi faktanya, tugas dari seorang ibu rumah tangga tidak lah mudah. Seorang perempuan itu dituntut menjadi cerdas Sha. Karena kadang runtuhnya pondasi rumah tangga itu karena si perempuan yang tidak bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik." Sha paham akan hal itu.
Menjalani kehidupan rumah tangga tidaklah mudah. Suami istri harus bisa bekerja sama dengan baik. Dan peran perempuan sangatlah penting untuk mendidik anak, mengatur keuangan, mengurus suami, dan banyak hal lagi yang harus para perempuan pahami jika tugas itu tidaklah main-main.
"Mama tahu, banyak perempuan yang memiliki pendidikan rendah dan mampu mengantarkan anak-anak mereka menjadi orang-orang yang luar biasa. Tapi aturan tetaplah aturan, dan keluarga Nareswara sangat mementingkan sebuah pendidikan."
"Sha bersedia kan?" suara ayah mertuanya kembali mengalun. Meskipun ragu, perempuan itu mengangguk.
"Iya, Pa." Ibu mertuanya bahkan tersenyum manis mendengarkan jawaban yang diberikan Shanika kepada mereka.
"Bagus. Masih ada waktu tiga bulan untuk kamu bersiap-siap." Sha tahu, masuk ke keluarga Nareswara tidak akan menjadi mudah. Bahkan layaknya pelamar kerja, dia harus memiliki pendidikan strata satunya. Dan itu pendidikan terakhir yang seharusnya dia miliki.
"Papa ingin, cucu-cucu papa dididik dengan perempuan-perempuan yang hebat. Mereka adalah penerus keluarga kita. Dan kamu harus menjadi perempuan hebat terlebih dulu sebelum cucu-cucu papa dari kamu dan Marvel hadir di keluarga kita."
"Bagaimana kalau Sha hamil terlebih dulu, Pa?" kita tidak pernah tahu rahasia Tuhan. Dalam waktu tiga bulan semuanya bisa terjadi. Dan Sha tentu harus memastikan terlebih dahulu jika rencana ini meleset.
"Bukan masalah, tidak ada yang melarang orang hamil untuk kuliah." Marvel meremas tangan Sha lembut untuk meyakinkan jika semuanya akan berjalan dengan baik.
"Dan jangan pernah bertindak diluar kendali Sha.” Aturan kedua di lantunkan. “Jangan pernah bertingkah bar-bar. Jangan sampai kehilangan kendali diri,sampai beradu fisik dengan orang lain. Itu sangat dilarang dalam keluarga kita." Sha paham dengan maksud beradu fisik yang dikatakan oleh ayah mertuanya, tapi dia memilih tidak menyahuti dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Ada banyak omangan sumbang diluar sana yang mengomentari pernikahan kalian, dan terutama untuk kamu Shanika. Ada banyak komentar negatif yang mereka layangkan seolah mereka tahu dengan sangat baik keluarga kita. Entah cepat atau lambat, Sha pasti akan bertemu dengan orang-orang menyebalkan seperti mereka secara langsung, dan kesabaran Sha menjadi pertaruhan.” Ayah Marvel memulai menjelaskan.
"Jika Sha tidak bisa menekan emosi, maka yang terjadi adalah adu fisik. Karena orang yang sudah dipenuhi emosi, biasanya sulit mengendalikan dirinya sendiri. Dan Papa tidak ingin itu terjadi dan berdampak buruk bagi keluarga kita. Jadi, sesakit apapun hati kamu, kamu harus bisa menekan emosi kamu dan kamu hanya perlu menggunakan lidahmu untuk menghunus mereka. Paham Shanika?" Shanika paham, sangat. Cara melukai orang yang paling ampuh adalah dengan menggunakan lidah.
Shanika mengangguk. "Iya, Pa." jawabnya.
Dan saat ibu mertuanya menegakkan tubuhnya, Shanika tahu jika kini giliran perempuan paruh baya itulah yang berbicara. Meskipun beberapa saat lalu, perempuan itu sudah nyelonong masuk dalam obrolan ayah mertuanya.
"Sebelumnya mama minta maaf karena untuk beberapa waktu ini, kalian tidak bisa pergi honeymoon." pengawalan kalimat yang tidak membuat Shanika kaget tentu saja. "Karena Shanika harus belajar manajemen rumah tangga untuk satu bulan kedepan. Segala urusan rumah tangga keluarga ini Shanika yang tangani. Mulai dari hal terkecil seperti belanja bulanan sampai menggaji asisten rumah tangga."
Tidak pernah sekalipun terpikir dalam otak Shanika jika hal itu adalah salah satu 'ujian' yang akan diberikan sang ibu mertua kepadanya. "Ada anggaran setiap bulannya, dan untuk satu bulan ke depan, Shanika lah yang akan memegang anggaran itu dan mengaturnya. Dan Shanika harus mencatat pengeluaran tersebut agar mama bisa melihat. Jika mama rasa Shanika mampu, maka kalian bisa segera pindah ke rumah kalian, tapi jika belum, terpaksa kalian akan tetap tinggal di rumah ini dan mama sendiri yang akan mengajari Sha."
Otak Sha rasanya penuh saat mendengar itu. Dia pernah mengatur keuangannya sendiri waktu tinggal di kos. Tapi untuk mengatur keuangan rumah tangga? Rasanya dia merasa mual tiba-tiba karena hal ini.
Dia tidak tahu berapa Anggaran di keluarga ini setiap bulannya, tapi dengan ART yang entah berapa jumlahnya itu, dia tahu pengeluaran keluarga Nareswara tidak sedikit. Apalagi mereka pasti akan belanja sayur segar setiap pagi, atau...
"Shanika." lamunan perempuan itu buyar karena panggilan ibu mertuanya. Nanti saja dia akan memikirkan lagi apa yang akan dia lakukan. Sekarang, dia hanya perlu fokus pada kedua orang tua Marvel, bukan yang lain.
"Ya, Ma."
"Tidak perlu setiap hari, tapi seminggu dua kali kamu harus memasak sendiri. Hasil dari tanganmu sendiri. Kita tidak pernah tahu kehidupan kita kedepannya seperti apa Sha, mungkin kita sekarang bisa menggaji banyak asisten rumah tangga, tapi kita tidak tahu semenit ke depan akan berubah seperti apa."
Yang bisa Sha simpulkan adalah, ini bukan hanya 'uji kelayakan' tapi juga untuk mengantisipasi jika kehidupan mereka akan berubah suatu saat nanti. Orang tua Marvel benar-benar tidak bisa ditebak. Mereka mengantisipasi semuanya dari awal.
"Sha paham, Ma. Sha akan belajar sebaik mungkin,dan berusaha yang terbaik untuk melakukan semuanya.” kedua mertuanya mengangguk dan akan menunggu bagaimana menantunya itu akan bekerja.
•°•