Sebenarnya Lilith akan baik-baik saja, andai mamanya tidak menitikkan air mata di hari itu. Lilith mampu menahan semuanya, andai ia tak temui seraut wajah sendu yang kebingungan. Lilith masih tak paham harus bersikap bagaimana, ia tak pandai berpura-pura untuk menutupi sedihnya. Itu sebabnya tadi siang ketika Abimanyu menjemputnya di kelas untuk pulang bersama dan lelaki itu menanyakan, apakah dia baik-baik saja? Jujur, Lilith tak kuasa membendung air matanya.
Lilith memang tipikal yang bila ditanyakan keadaannya, ia akan langsung menangis. Untung saja Abimanyu masih mengerti, lelaki itu sempat berhenti di kedai es krim dan membelikan Lilith es krim agar mood-nya tak terlalu menurun. Ia juga mengajak Lilith makan bakso pedas di tempat biasa. Namun mendadak, Abimanyu tak tega melihat cewek itu kepedasan dengan mata yang masih agak bengkak.
"Lith, kalau nggak kuat udahan aja," pinta Abimanyu seraya mengelus punggung si gadis. "Itu kamu meler gitu, nanti perutnya malah sakit." Abimanyu mendekatkan tisu untuknya.
Lilith menggeleng, menarik kembali mangkuknya yang ditarik oleh Abimanyu. "Kamu kalau masih kurangan pesen lagi dong! ini kan punya aku!"
Abimanyu meloloskan satu tawanya. Ia sudah memahami Lilith. Cukup berikan gadis itu makanan kesukaannya maka ia akan berhenti menangis. Meski mungkin nanti bila teringat ia akan menangis lagi, namun setidaknya untuk saat ini suasana hati Lilith masig bisa diperbaiki.
"Kamu mau makan apa lagi?" tawar Abimanyu.
"Kamu kayanya nawarin aku cuma karena aku lagi nangis aja, kan?"
"Ya nggak gitu, dong. Makanya kamu jangan nangis, nanti aku beliin apa yang kamu mau."
"Janji, ya?"
Abimanyu mendekat dan berbisik, "Iya, Sayang…"
Sumpah, Lilith merinding mendengarnya. Jarang sekali Abimanyu memanggilnya begitu saat sedang berdua, kecuali di chat. Namun Lilith segera menghabiskan makananya selagi Abimanyu berujar di sampingnya, "Jagan larut dalam kesedihan, roda itu berputar kok, Lith. Aku yakin setiap orang punya jalan keluarnya."
Lilith hanya bergumam karena tidak fokus jika Abimanyu mewejanginya ketika ia sedang makan. Jadi di sana, Abimanyu memesan satu es teh lagi untuk Lilith karena gadis itu mulai kepedasan lagi.
Sesampainya di rumah, Lilith tak menemukan keberadaan mamanya. Jadi ia mengecek ponsel dan mendapati pesan dari mamanya kalau wanita itu akan pulang telat karena harus mendadak menerima lemburan dari kantor.
Tepat ketika Lilith selesai mandi dan hari sudah menjelang malam, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Lilith yang baru saja mengambil wudhu dan berniat sholat, terpaksa membukakan pintu tersebut. Seperti dugaannya, itu Rio. Mengenakan baju koko dan sarung.
"Kenapa? Mau ngimamin gue?" tebak Lilith.
Rio berdecak, tak percaya dengan kepedean gadis itu. "Abis sholat ke rumah gue, Mama masakin sesuatu buat lo, tuh."
"Anu, tapi—"
"Cumi balado, lo nggak mau?" serobot Rio.
Lilith yang mulanya ingin menolak lantas berbelok mengiyakan karena setidak bisanya ia ingin menolak, bila sudah berhubungan dengan makanan favoritnya, seafood, Lilith tak bisa menahan nafsu makannya yang mendadak meningkat.
"Kalau nggak kau ya udah—"
"Eh, eh, mau dong! ya kali gue nolak permintaan Mama lo." Lilith nyengir, lantas setelah itu dia membiarkan Rio melenggang untuk melanjutkan perjalannnya ke masjid.
Setelah menunaikan ibadah sholat, Lilith seperti biasa mengecek ponselnya, ia mendapat satu pesan suara dari Abimanyu lima belas menit yang lalu, mungkin tepatnya saat Lilith membukakan pintu untuk Rio? Jadi Lilith mendengarkannya, sebab tak biasa Abimanyu mengiriminya pesan suara.
Dan ketika Lilith mulai mendengarkannya, itu bukan suara Abimanyu, melainkan mamanya. "Lilith, Tante masakin seafood balado, lho. Ada cumi, udang, lobster, pokoknya banyak deh, kamu setelah sholat dateng ke rumah ya? Kita makan bareng, soalnya tante masakin banyak emang buat kamu juga. Nanti biar Abimanyu jemput kamu."
Mendadak, Lilih menjatuhkan dirinya di ranjang dan mendesahkan napas. Ucapan Rio dan mamanya Abimanyu berputar di kepala secara serentak.
"Mama masakin sesuatu buat lo!"
"Tante masakin banyak buat kamu juga!"
Oh, sial. Bagaimana Lilith bisa menangani situasi seperti ini? Ia jelas tak bisa memilih!
To be continued....