Hidup tidak mudah seperti angan waktu kecil. Menjadi dewasa tak seindah bayangan dulu. Tetapi manusia diberi hidup memang buat sebuah permainan, bukan? Tidak selalu perkara kalah, juga tidak melulu soal kemenangan. Permainan yang tidak main-main, adalah bertahan hidup.
Maka Lilith mencoba untuk kembali bangkit. Ia melupakan segala hal yang membebani hatinya. Hari ini Lilith berniat untuk mendaftar di sebuah universitas. Namun karena cuaca sedang tidak bagus, mamanya menyarankan untuk besok saja.
Jadi hari ini Lilith hanya berada di rumahnya, membereskan rumah sejak ia bangun pagi tadi. Lilith menyibukkan diri dengan menyapu dan mengepel lantai, mencuci pakaian dan piiring, mengelap meja serta jendela. Sampai Rio datang dam berkomentar, "Udah mirip ibu rumah tangga banget."
"Mirip doang!" timpal Lilith dan mengelap keningnya yang berpeluh.
"By the way, kekasih lo ke mana?"
Lilith tersentak, ia menatap Rio dengan serius. Tumben sekali dia menanyakan hal itu. "Kenapa sih? Lo kangen Abimanyu?"
"Males banget, nggak sih, cuma kok rumahnya sepi dari kemarin, cuma nggak ada papan iklan kalau rumah itu bakal dijual."
Lilith mengernyit. Ia sejak kemarin tidak menggunakan ponselnya. Bahkan mungkin kini ponselnya sudah mati dan tergeletak saja di atas meja belajarnya. "Mungkin lagi pergi?"
"Masa sekeluarga? tadi pagi pas senam gue juga nggak liat Tante Tari."
Lilith menyerahkan semprotan dan lap kain. "Tolong dong, tinggal jendela sebelah kiri doang. Gue mau ngecas handphone."
Rio membeo, ia menatap kedua alat yang kini berada di tangannya. "Nyesel gue kemari—"
"Eh ada Gerio Rio!" Itu suara Lusy. Gadis itu terdengar membuka gerbang dan berjalan masuk. "Idih, jadi babunya Kak Lilith, ya?"
Rio mengacungkan botol semprotan hendak berpura-pura memukul Lusy, namun pada akhirnya ia memberikan semprotan itu pada Lusy. "Iya, dan lo sekarang jadi babu gue! Bantuin cepet!"
"Nyesel aku datang ke sini," gerutu Lusy.
"Itu juga yang gue bilang tadi!"
"Ya udah pulang yuk."
"Udah terlanjur, udah, orang tinggal kerjain, gitu aja kok repot!"
Lusy mendesis, ia mendadak ingin sekali memukul kepala Rio. Namun ia mendadak mengingat sesuatu. Lusy lantas mengikuti Rio untuk membantu cowok itu membersihkan jendela. "Tadi aku lihat Abimanyu dan mamanya dan papanya dan adiknya naik mobil bawa koper kaya orang mau pindahan, tapi sebenarnya lebih mirip kaya orang yang lari karena dikejar hutang."
"Hush! Kalau ngomong tuh dijaga!"
"Iya, ya? nanti kalau nggak di jaga nggak ke kontrol kaya perasaan kamu ke Kak Lilith." Lusy nyengir.
Sementara Rio menatap Lusy dengan tatapan siap bertempur ronde ke sekian kali. Namun tak lama, Rio kembali menetralkan rautnya karena ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. "Kalau bawa koper, itu artinya mereka pergi jauh dan kemungkinan lama. Lo tahu mereka ke mana?"
"Kalau aku tahu, aku nggak akan nanya ke kamu." Lusy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bodoh banget sih kamu! Makanya aku males makcomblangin kamu sama Kak Lilith. Karena kamu bodoh."
Rio menarik napas. "Lo tahu nggak apa yang lebih gue sesali selain mampir ke sini?"
Lusy mendekat, wajahnya mendadak serius, ia bertanya dengan suara pelan, "Kenapa? bilang aja, aku nggak akan ngadu ke Pak RT atau Pak Wakil Bupati."
"Ketemu sama lo!" ujar Rio dengan sengit. "Serius, Lus, sekarang gue malah nyesel. Lo bisa bayangin nggak rasa sesal gue berapa kali lipat?"
"Kaya lemak kamu yang berkali-kali lipat?"
To be continued…
Note: Guys, sementara segini dulu ya, aku lagi nggak enak bodi.