Lilith menghempaskan tubuhnya di atas jok mobil. Ini adalah hari pertama ia menjadi mahasiswa. Selama masa ospek, Lilith menyibukkan dirinya untuk bersenang-senang. Hari ini adalah hari terakhir ia ospek, dan ia baru menyadari jika ternyata selain Flo, ia juga satu kampus dengan Danish. Dan hari ini, karena tadi pagi Lilith datang ke kampus diantar Bang Tora, hari ini Lilith akan pulang dengan Danish. Mulanya Lilith ingin menunggu Bang Tora saja, namun Danish memaksa bahwa dia akan mengantarnya, berhubung komplek perumahan Danish melewati komplek perumahan Lilith.
"Jadi sekarang lo sama Abim gimana, Lith?" tanya Danish seraya mengecilkan volume lagu yang ia putar.
"Gimana ya, meski gue udah tahu kalo Abim emang agak deket sama beberapa cewek, gue masih belum bisa ngomong ke dia, Dan. Lo tahu nggakn sih? akhir-akhir ini gue sering berantem sama dia. Yang tadinya gue ngga begitu curigaan, sekarang setiap Abim pegang ponsel kalo kita lagi kencan, gue selalu sensi dan nyuruh dia pulang," jelas Lilith.
"Jadi lo sekarang mudah cemburu, ya?" Danish terkekeh, ia masih fokus mengemudi. "Tapi lo dulu juga cemburuan banget tuh, manja lagi!"
Lilith mendesis, sudah siap-siap ingin memukul lengan Danish, namun lelaki itu lebih dulu menghindar. "Eh, eh, gue lagi nyetir lho ini, kalo nabrak gimana? Gue masih amatir ini!"
"Halah!" Lilith mencibir. "Lo kira gue nggak tau kemarin lo ke Banten sama siapa? Sama Rio, kan? Lo juga tuh yang nyetir sejauh itu, gila, ya? Emang lo udah punya sim?"
"Udah, dong. Gue kan udah 20 tahun."
Lilith terperanjak. "Ih, serius? masa sih? bukannya lo sepantar sama gue, ya? kok lo ternyata lebih tua dua tahun dari gue, ya?"
Danish terkekeh menyadari raut keterkejutan Lilith. "Biasa aja kali, kok lo kaget banget, sih? Gue nggak keliatan tua, kan?"
Lilith ingin mematahkan kepedean Danish, namun ia memang benar. "Malah gue kira lo sama Abim itu tuaan Abim, lho. Lo serius ini? serius gue palimg benci banget dibohongin cowok!"
"Lo mau liat kartu tanda penduduk gue? sebenarnya sih gue lebih tua satu tahun doang sama lo, tapi dulu pas mau bikin ijazah SMP, guru gue nanya karena akta dan kartu keluarga gue beda, jadi gue dituain deh. Tapi nggak masalah sih, toh, gue jadi bisa bikin KTP dan SIM lebih cepet dari Abim," Danish terkekeh di akhir.
"Sejak kapan lo bisa mengemudikan mobil?"
"Sejak kelas 10 gue udah bisa sih, baru berani jauh-jauh pas kelas 11, tapi karena Mama gue parnoan, gue baru diizinin keluar kota gitu pas kemarin."
"Terus lo kemarin ke mana sih? sama siapa aja?"
Danish menghentkan mobilnya karena lampu merah, ia menatap Lilith dengan tatapan ingin menggoda. "Hayo, lo kepo sama Rio, kan? Gue sama anak-anak tim basket, kecuali Abim, karena kemarin dia masih di Bandung."
"Lo ngapain jauh-jauh ke Banten?"
"Loh, lo nggak tahu? silaturahmi ke rumah Pak Aldi, lo inget nggak? dulu dia pelatih tim basket kita yang sekarang tinggal di Banten ngikut istrinya. Pak Aldi udah sukses, padahal dulu di SMA dia guru yang dipandang rendah sama yang lain. Cuma gue tahu skill dia, tim basket tau kalo Pak Aldi ini orang yang spesial. Pak Aldi deket banget lho sama Abim."
"Profesi dia sekarang apa?" tanya Lilith penasaran.
Danish kembali melajukan mobilnya saat lampu sudah berubah hijau. "Dia usaha kuliner, punya dua restaurant yang terletak di deket bandara Soetta dan di Jakarta Selatan. Kemarin pas gue ke sana, gue nginep di Vila gratis! sumpah itu lokasinya asri banget, bangunannya juga ala-ala kampung halaman, bersih dan nyaman. Gue yakin lo bakal betah di sana, si Rio aja minta nambah satu hari di sana. Dan lo tau nggak apa fakta menariknya?"
Lilith ingin tertawa saja, sebab Danish bercerita dengan sangat antusias, dan itu malah terlihat lucu baginya. Jadi kini Lilith menanggapi. "Apa tuh?"
"Vila itu punya Pak Aldi."
Lilith sontak bertepuk tangan. "Hebat! Jadi lo di sana dapet pengalaman apa aja? Gue tahu pasti Pak Aldi suka banget nyeritain pengalamannya biar lo termotivasi, kan?"
Danish menjetikkan kedua jemarnya hingga berbunyi. "Right! Lo mau denger ceritanya?"
Lilith mengangguk antusias. "Ceritain! gue selalu suka denger cerita-cerita hebat, apa lagi orangnya terbukti gue kenal."
Danish berdeham, bersiap untuk bercerita. Kini rautnya berubah jadi serius, seolah cowok itu memang habis pulang dari event motivasi.
"Lo tau kan, gimana peruangan Pak Aldi dulu? Sebelum Pak Aldi dateng ke sekolah kita, tim basket kita jarang banget bawa piala kemenangan. Sejak dia datang, tim basket kita jadi sering menang. Pak Aldi selalu bilang, ini bukan karena dirinya kami menang, tapi karena semangat kami, karena kami yakin kami bisa. Sejak kenal Pak Aldi, tim basket sekolah kita makin solid. Lo pernah denger cerita ini nggak? Abim buka donasi buat beliin Pak Aldi sepatu baru. Karena sekolah kita elit, siswa tuh jadi ngerasa seolah-olah mereka membayar guru dan banyak dari mereka yang mandang rendah guru, apa lagi kalo penampilannya sesederhana Pak Aldi."
Lilith jadi teringat, dulu ada seorang siswa anak bupati yang kurang tata krama dan pernah menyakiti hati Pak Aldi, bahkan bukan hanya Pak Aldi, tetapi guru lain juga. "Iya, gue tahu."
"Mereka nggak tau aja, orang yang berpnampillan sederhna ini punya hidup yang sebenernya disiplin banget dan tegas sama dirinya, orang yang berpenampilan sederhana ini, sebenarnya menyembumyikan kekayaanya dari publik. Dulu selesai latihan kami nggak akan pernah makan sebelum Pak Aldi dateng dan makan bareng kami. Lo tahu kenapa? soalnya Pak Aldi nggak akan pernah makan sebelum Pak Satpam istirahat, dia selalu di pos satpam kalo jam istirahat, kan? Jadi kami mau beratitut baik kaya yang dicontohin Pak Aldi. Dan setelah dia keluar dari sekolah, gue sebenarnya udah tau sih kalo Pak Aldi bukan orang yang sembarangan. Malah kalau bisa gue bilang, menjadi guru dan melatih kamu cuma kerja sampingan dia. Pak Aldi juga cerita, kesuksesannya ini karena doa orang tua dan istri. Pak Aldi bilang, kalau mau jadi raja, lo harus memperlakukan orang tua lo seperti raja, memperlakukan seorang istri layaknya ratu. Didikan Pak Aldi ke anak-anaknya juga keren. Yang paling kecil itu kelas satu, dia udah bisa baca alquran dengan lancar, pas gue tanya ke anak itu, dia bilang gini, 'Ayah aku bilang, jadi lelaki itu harus kuat, karena nanti kami akan menjaga Mama dan saudara wanita kami. Nah sebelum kami menjaga mereka, kami harus tahu apa yang diperbolehkan dan dilarang oleh Tuhan, kami harus paham agama dan berpendidikan serta berperilaku bagus."
Lilith melongo. Ia tak menyangka akan mendengar cerita yang sangat berarti dan menyentuh hati. "Pak Aldi itu orangnya sabar banget, ya? Dia pantas bahagia karena niat dia juga melindungi dan membahagiakan orang-orang di sekitarnya."
Danish menatap Lilith dengan tatapan penuh makna. "Jadi sekarang lo bisa bayangin nggak? Harus cari pemimpin yang kaya apa?"
To be continued...