Sekitar jam delapan malam, jika merasa bosan, Lilith biasanya berada di teras dengan secangkir s**u jahe. Terkadang ia juga membawa camilannya keluar. Lilith tak melakukan banyak hal selain duduk di kursi teras dengan memeluk kedua kakinya dan termenung. Terkadang, bila cuaca sedang cerah, ia menatap langit malam dan melihat bagaimana bintang-bintang yang berada di sana, menemani langit yang kesepian. Berbicara soal bintang, Lilith jadi teringat soal bintang sirius yang dibicarakan Abi. Bintang yang paling terang. Terkadang, meski bualan lelaki itu terlalu membosankan, tetapi bila Abi yang mengatakan, rasanya Lilith tidak pernah bosan mendengarkan.
Iya, benar, Lilith adalah bintang yang paling terang di hati Abi.
“Ngapain bengong gitu?”
Lilith terkejut. Ia berdecak kesal dan nyaris memukul lengan Rio yang mendadak muncul di hadapannya dan melemprkan kunci motornya.
“Ngagetin, tahu!” Lilith menggeretu. Kemudian ia menatap motornya. “Terima kasih, by the way. Udah mau ngambilin motornya.”
“Kamu ngira aku ke sekolah lagi cuma buat ngambilin motor?” Rio tertawa. Ia duduk di kursi yang ada di seberang kanan Lilith. “Tadi ada latihan bola sebentar.”
Lilith cuma ber-oh ria. Ia kembali menatap langit dan bertanya dengan pelan, “Mau minum, nggak?” seolah semua energinya telah tersedot habis.
“Nggak, terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, ini s**u jahe, ya?”
Lilith mengangguk tanpa menatap Rio. “Iya.”
“Enak juga,” katanya, setelah mencicipi s**u jahe itu dan menyisakan setengah cangkir.
Lilith meraih cangkirnya, menatap isi gelasnya yang tersisa setengah. Ia bersuara lirih, “Kok tinggal setengah? perasaan tadi masih penuh.”
“Setengahnya ada di dalam perutku,” sahut Rio.
Lilith yang tengah meminum s**u jahe pun mendadak tersedak. Ia menatap Rio dengan mata yang terbelalak. “Kita ciuman?”
“Apaan, sih, nggak jelas!” Rio mengerutkan kening.
“Ya, ini—” Lilith menunjuk cangkirnya. “Kita minum di cangkir yang sama, itu katanya kita ciuman secara nggak langsung!”
Rio terbahak. “Gila, ya? Lagian bekasku di sini, kok,” Rio menunjuk bekasnya. “Kamu jangan minum di bekasku, kalau gitu.”
Lilith mengangguk-angguk. Ia kemudian tertawa. Tetapi justru kembali meminumnya di bekas yang tadi Rio tunjuk.
“Kenapa bintang nggak ada, ya?” gumam Lilith.
“Kenapa? mau nyari bintang sirius? Bukannya ada di hati si Abi?” goda Rio, membuat Lilith tersipu dan berdecak.
Namum bagi Rio, Lilith terlalu mudah dijerat oleh bualan murahan. Meski usia mereka terpaut tiga tahun dan Rio lebih muda dari Lilith, bukan berarti Rio tidak bisa mengerti gadis itu.
Lilith menatap Rio, “Kamu mau lihat bintang sirius, nggak?”
Rio menggeleng, tidak tertarik. “Kamu mau bilang kalau bintang sirius ada di hadapanku, kan?”
Lilith tertawa, ia menyalakan senter ponselnya dan mengarahkan senter tersebut tepat di depan wajah Rio. “Iya, benar. Nih, bintang sirius. Terang banget, kan?”
Rio ikut tertawa, ia meraih ponsel Lilith dan mematikan senternya, lalu ia letakkan di meja. “Ternyata semua orang punya bintang sirius, ya?”
Lilith mengangguk-angguk. Sedangkan Rio kembali menatap Lilith dengan serius. “Kamu tahu nggak? Fakta tentang bintang sirius.”
Lilith menyandarkan tubuhnya, ia menatap Rio dan menggeleng. “Enggak, selain bintang yang paling terang.”
“Abi bilang kalau kamu seperti bintang sirius, bintang yang paling terang di hatinya. Padahal, bintang yang dia sebut paling terang itu adalah bintang yang paling cepat mati.”
Selayaknya bintang sirius, senyum Lilith meredup lebih cepat. Hatinya teriris sakit. Ia ingin menyangkal perkataan Rio, namun bibirnya lebih dulu terbungkam setelah Rio melanjutkan tanpa ragu, “Kamu selama ini mudah terlena sama bualan kaya gitu?”
Lilith bungkam. Ia mengenal bagaimana Rio. Lelaki ini memang tak pernah menjual ekspektasi. Lelaki di sampingnya ini terlalu realistis, sampai-sampai Lilith bisa merasakan jika Rio sedang mematahkan harapannya. Namun, jika Lilith berpikir demikian, bukankah itu artinya dia dikalahkan oleh ekspektasi?
Lilith tertawa hambar. Tawa yang didominasi rasa perih. “Aku nggak tahu harus marah atau sadar diri. Tapi mungkin hal yang kaya begitu justru menyelamatkan aku.”
“Menyelamatkan kamu bagaimana? Apa kamu sedang berpikir kalau seenggaknya dia masih punya rasa yang sama kaya kamu?”
Lilith memalingkan wajah. Ia membenarkan ucapan Rio. Sejenak Lilith bisa merasakan jika ada sedikit senyum masam yang terlukis di wajah Rio. “Orang seperti aku, memang salah, ya? Kalau menganggap hal itu bisa menyelamatkan aku?”
“Orang kaya kamu?” Rio mengulangi. “Bagi orang yang merasa terlengkapi oleh cinta dan enggan sedikit saja melihat pada realitas?” Rio mengangguk, seolah sedang mengiyakan saja apa yang sedang ada pikiran Lilith. “Ya, terserah, deh. Aku cuma mau bilang, kalau mau bahagiamu utuh, jangan bergantung sama orang lain. Maksudku, mengharapkan sesuatu yang nantinya bisa saja hilang.”
Dalam keheningan malam itu, keduanya juga terbungkam sunyi. Sampai rintik hujan perlahan datang bersama derap kaki seseorang dari kejauhan yang tengah berlari ke rumah Lilith.
“Ya ampun, hujannya kok mendadak besar, ya? kaya rasa cinta seseorang yang nggak bisa dimiliki," ujar Lusy polos, tanpa tahu jika di sana, Rio, tengah terpaku dam tersambar oleh perkataan temannya, Nancy Lusiana. Lusy menutup payungnya dan menyandarkannya di dinding.
“Sudah tahu hujan, kenapa datang ke sini?” tanya Lilith.
"Yee... Memangnya nggak boleh? Memang kalian lagi kencan? nggak boleh diganggu?” Lusy duduk di salah satu kursi kosong di dekat Rio.
Rio menyenggol lengan Lusy. “Tumben payungan, biasanya suka hujan-hujanan.”
“Yang biasa hujan-hujanan kan Kak Lilith!” Lusy menjulurkan lidah ke arah Rio. “Kamu kok di sini sih, Yo? Aku kira lagi kencan sama Hila.”
Rio menelan saliva, sementara Lilith menatap Rio yang tengah menggaruk tengkuknya. Tampak kebingungan untuk merespons Lusy.
“Hila?” tanya Lilith.
Lusy mengangguk. “Itu lho, kak, anak IPA 1 yang baru, pindahan dari Bandung. Pindah ke sini karena ayahnya dinas di sini. Klise banget nggak, sih? pindah karena ngikut ayahnya dinas. Dia kayanya suka sama Rio—”
Perkataan Lusy terhenti karena Rio mendadak menendang kursinya. Sementara itu Lusy pindah kursi dan duduk di samping Lilith untuk menghindari teror dari Rio. “Kak Lilith tau? Makanya Rio mau ngambilin motor Kak Lilith kan karena sekalian Rio mau ketemu sama Hila.” Lusy menatap Rio yang sedang melayangkan tatapan tajamnya. Namun, bagi Lusy, selama ada Lilith Himalaya, maka Lusy akan aman.
“Serius?” Lilith menatap Rio penuh tanda tanya, “Kamu bilang sekalian latihan bola sebentar?”
“Oh Rio bilang gitu? Itu juga bener kok, kak.” Lusy menyela. “Jadi kronologinya tuh, Rio latihan bola dan ditemenin sama Hila. Jadi sound system—”
“Support system, Lusy!” koreksi Lilith.
“Nah, iya, itu.”
“Aku jujur, kan?” Rio menaikkan satu alisnya.
“Iya, sih.” Lilith menjawab sekenanya.
“Kok responsnya singkat gitu? Emang aku harus banget bilang ke kamu secara rinci apa yang aku lakuin?”
“Nggak, kok.” Lilith mengernyit. “Kok jadi kamu yang sensitif? PM—”
“Iya, Rio PMS, Kak. Ketularan, sih. Soalnya tadi Hila nggak ikut sholat berjamaah di sekolah karena PMS. Orang bilang, mood cewek yang lagi PMS itu bisa nular ke cowoknya.”
“Kamu bisa diam nggak sih?” Omel Rio kepada Lusy. “Baru datang tapi sudah nyerocos. Kebiasaan banget!”
“Apaan, sih, Rio. Dari pada galau gitu mending Ma-bar, yuk!” Lusy mendadak pindah tempat duduk dan memunculkan cengirannya. “Udah lama tau nggak mabar lagi sama kamu, aku kalah terus kalau main sama yang lain.”
“Ya karena kamu memang nggak bisa main!” cerca Rio. “Nggak, aku nggak bawa smart phone.”
“Pinjam punya Kak Lilith kan bisa, kaya kamu pernah minjem smart phone orang aja, sih!” Lusy menatap Lilith dengan senyuman manisnya. “Ya, kan, Kak Lilith? Boleh, ya? Boleh, dong, Masa engga.” Lusy pun nyengir.
Jika sudah begini, tidak ada yang bisa mengalahkan keimutan Lusy. Baik Rio mau pun Lilith, mereka pada akhirya takluk dan menuruti kemauan Lusy untuk bermain game.
Perlahan, hujan semakin deras dan kedua manusia itu semakim ribut. Lilith yang mulanya merasa galau karena Abi jad terhibur dengan pertarunga keduanya.
“Ih, Rio! Rio! Tolongin Lusy, dong, aduhh!” Lusy menendang-nendang kursi yang tengah Rio tumpangi. “Aduh, aku hampir mati ketembak, Rio tolongin dong!”
Rio yang tengah fokus bermain pun merengek kesal dan bertanya, “Kamu yang mana, sih?”
“Username-nya Ruby Lusiana.”
“Itu bukan nama asli kamu.”
“Ya memang, terus kenapa?”
“Penipuan dong!”
“Penipuan itu kalau aku minjam duit kamu terus aku kabur, itu baru namanya penipuan!”
Lilith terkekeh, ia menghabiskan s**u jahenya yang tinggal sedikit. Sementara Lusy kembali melanjutkan berbicara. “Eh, tapi, Rio ... eum, kamu punya uang kah? Lusy mau pinjam buat beli kuota, biar bisa main sama kamu.”
“Mending kamu belajar deh, banyak tugas tuh, aku juga nggak mau lagi main sama kamu,” Rio mencobir.
Lusy mengerucutkan bibirnya. “Memang, dari dulu kamu pelit banget. Orang pelit hatinya sempit, lho.”
“Kuburannya yang sempit, bukan hatinya! Hatiku bahkan seluas samudera.”
“Tapi sayang nggak ada yang mau tenggelam di samudera kamu.” Lusy terbahak.
Permainan mereka telah berakhir, kini keduanya malah saling mengejek.
“Ya jangan, dong. Seseorag boleh menyelam, tapi jangan sampai tenggelam.”
“Artinya?” tanya Lusy.
Rio menatap Lilith. “Seseorang boleh menjalin sebuah hubungan, tetapi jangan sampai hubungan itu membuat seseorang jadi bodoh dan nggak bisa berpikir secara realistis.”
Lusy yang tadinya serius dengan gamenya, kini meletakkan ponselnya dan memberikan Rio tepuk tangan. "Like?"
"Huh?" Rio membeo.
"Like someone in front of me."