Jeslin menarik tangan Bimo menuju outlet es krim. Rasanya ia sudah lama tidak menikmati es krim berdua dengan Bimo. Bahkan ia sudah tidak mengingat lagi kapan terakhir kali ia mengunjungi Pantai Indah Kapuk dan berburu kuliner di sana sembari menikmati pemandangan pantai. Jeslin langsung memesan es krim cokelat bercampur vanilla yang merupakan rasa kesukaannya. Sementara Bimo lebih memilih rasa strawberry dan blackberry.
"Wah! Udah lama banget kita gak ke sini!" seru Jeslin sambil memakan es krim miliknya.
Bimo tersenyum melihat wajah happy Jeslin. "Iya udah lama banget."
"Salah siapa?" Jeslin memicingkan matanya.
Bimo tertawa. "Iya. Salah aku yang terlalu sibuk," jawab Bimo mengalah.
"Baguslah kalo nyadar." Jeslin kembali menikmati es krimnya.
Selama satu jam mereka menyantap manisnya sambil berjalan menyusuri deretan ruko yang menghadap ke air.
Angin sore membawa bau asin dan aroma sate dari lapak-lapak di seberang. Beberapa keluarga duduk di bangku beton sepanjang tepi kanal, memberi makan ikan dengan remah roti. Seorang anak kecil berlarian mengejar burung merpati dan gagal, lalu mengulanginya lagi dengan semangat yang sama.
Jeslin memperhatikan anak itu sambil tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Bimo.
"Gak apa-apa. Cuma... lama banget rasanya aku gak duduk santai kayak gini."
Bimo tidak menjawab. Jeslin melirik dan mendapati kekasihnya sedang memandangi permukaan air, dahinya sedikit berkerut.
"Bim."
"Hm?"
"Kamu lagi mikirin kantor, ya."
"Enggak."
"Bohong."
Bimo tertawa pendek dan mengangkat kedua tangannya. "Oke. Iya. Dikit."
"Tuh, kan."
"Tapi cuma dikit, sumpah." Bimo menggeser posisinya, menghadap Jeslin sepenuhnya. "Aku lagi mikir kenapa aku susah banget berhenti mikirin kantor. Itu beda, kan?"
Jeslin memiringkan kepala. "Beda dikit."
Mereka berjalan lagi. Beberapa langkah kemudian, tanpa bicara, jari-jari Bimo menemukan jari-jari Jeslin dan mengaitkannya.
Genggaman itu membuat sesuatu di dada Jeslin menghangat sekaligus perih. Menghangat karena inilah yang ia rindukan selama berbulan-bulan. Perih karena ia harus menunggu enam bulan dan satu pertengkaran di ruang rapat tanpa dinding kaca hanya untuk mendapatkannya kembali.
"Bim."
"Hm."
"Kalau seandainya... " Jeslin memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Kalau seandainya suatu hari kamu harus milih antara kerjaan sama aku, kamu bakal milih apa?"
Langkah Bimo melambat.
"Kenapa nanya gitu?"
"Jawab aja."
"Pertanyaan kayak gini gak adil, Jes."
"Kenapa gak adil?"
"Karena kalau aku jawab kamu, kamu bakal mikir aku cuma ngomong doang. Kalau aku jawab jujur bahwa aku gak tahu, kamu bakal sakit hati." Bimo menghela napas. "Jadi apa pun jawabannya aku kalah."
Jeslin berhenti berjalan.
"Berarti jawabannya kamu gak tahu."
Bimo membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Untuk sesaat, hanya ada suara air yang menampar dinding kanal dan tawa anak kecil di kejauhan.
Lalu Bimo menarik napas dan berkata, "Aku pernah ngitung, Jes."
"Ngitung apa?"
"Berapa hari dalam setahun terakhir aku ketemu kamu lebih dari dua jam." Bimo menatap air, bukan menatapnya. "Empat puluh satu hari."
Jeslin terdiam.
"Aku ngitungnya bulan lalu, jam dua pagi, di kantor, waktu lagi nunggu render selesai." Bimo tertawa, tapi bunyinya salah, seperti tawa orang yang sedang menahan sesuatu. "Terus aku mikir, gila. Empat puluh satu hari dari tiga ratus enam puluh lima. Dan kamu masih di sini."
"Aku masih di sini," ulang Jeslin pelan.
"Iya. Itu yang aku gak ngerti."
Jeslin mengulurkan tangan dan menyentuh pipi kekasihnya, memaksa Bimo menoleh padanya.
"Karena aku sayang sama kamu, bodoh," katanya. "Bukan sama jadwal kamu."
Bimo memejamkan mata dan menekankan pipinya ke telapak tangan Jeslin.
Mereka berdiri seperti itu cukup lama sampai seorang penjual balon lewat dan menawarkan dagangannya dengan suara nyaring, membuat keduanya tertawa dan melangkah lagi.
***
Mereka baru saja berbelok ke deretan kafe ketika Jeslin mendadak menarik tangan Bimo dan menyeretnya masuk ke sela dua ruko.
"Eh—Jes, kenapa?"
"Ssst."
Jeslin mengintip dari balik bahu Bimo. Di seberang jalan, dua perempuan berjalan sambil membawa gelas minuman: satu memakai topi bucket, satu lagi sibuk memotret deretan lampu yang baru dinyalakan.
Anak-anak tim keuangan. Jeslin hafal keduanya. Salah satunya duduk tiga meja dari mejanya.
"Anak kantor," bisik Jeslin.
Bimo menoleh sedikit. "Yang mana?"
"Jangan noleh!"
"Iya, iya."
Mereka berdiri berhimpitan di celah sempit itu, punggung Jeslin menempel ke dinding ruko yang masih hangat oleh matahari seharian, sampai suara tawa kedua perempuan itu menjauh dan hilang.
Jeslin menghembuskan napas panjang.
Lalu ia sadar betapa dekat wajah Bimo dengan wajahnya.
"Kita ngumpet," ucap Bimo pelan.
"Iya."
"Di gang."
"Iya."
"Kayak maling."
Jeslin memukul dada Bimo pelan. "Ya mau gimana lagi."
Bimo tidak tertawa. Pria itu memandanginya dengan ekspresi yang membuat senyum Jeslin perlahan memudar.
"Aku benci ini," kata Bimo.
"Bim—"
"Bukan benci kamu." Bimo menggeleng. "Benci bagian ini. Bagian di mana aku harus pura-pura gak kenal kamu di lift. Bagian di mana kamu manggil aku Pak."
Jeslin menunduk.
"Enam bulan lagi," ucapnya. "Habis proyek gede itu selesai, aku resign. Terus kita gak usah ngumpet lagi."
"Enam bulan."
"Iya."
Bimo mengangguk pelan, tapi Jeslin melihat sesuatu yang tidak yakin di matanya, dan entah kenapa hal itu terasa seperti firasat.
"Ayo keluar," kata Jeslin cepat, menarik tangan Bimo. "Aku laper."
Matahari sudah turun ketika mereka memutuskan mencari makan malam.
"Aku tahu tempat bakmi enak di sini," ucap Bimo sambil membuka peta di ponselnya. "Kata Andre sih enak. Dia sampai bela-belain ke sini tiap Sabtu."
"Andre kan tukang makan. Selera dia gak bisa dipercaya."
"Justru itu. Kalau tukang makan bilang enak, berarti bener-bener enak."
Jeslin tertawa. "Yaudah, ayo."
Tempatnya ternyata kecil, terselip di antara dua ruko, dengan meja-meja kayu yang ditata rapat dan kipas angin dinding yang berputar terlalu pelan. Antreannya mengular sampai ke trotoar.
"Ini antrean atau demo?" komentar Jeslin.
"Bagus dong, berarti enak."
"Atau berarti pelayanannya lambat."
Bimo tertawa dan menariknya ke barisan paling belakang.
Mereka menunggu dua puluh menit. Selama dua puluh menit itu Bimo tidak sekali pun mengeluarkan ponselnya, dan Jeslin memperhatikan hal itu dengan perasaan yang sulit ia jelaskan — semacam kelegaan yang bercampur dengan kesadaran pahit bahwa ia sampai harus memperhatikan hal sekecil itu.
Ketika akhirnya mendapat meja, keduanya memesan porsi jumbo dengan topping lengkap.
Dan untuk satu jam berikutnya, di meja kayu sempit yang dikelilingi suara sendok beradu dan pesanan yang diteriakkan ke dapur, Jeslin merasa mereka kembali menjadi dua orang yang dulu — sebelum jabatan, sebelum jadwal, sebelum enam bulan kebohongan kecil yang ia simpan sendirian.
Ia berharap perasaan itu bertahan lama.
Ia belum tahu bahwa perasaan itu hanya akan bertahan sampai ponsel Bimo berdering.