Motor melaju pelan melintasi jalan dari Garut menuju Bandung, rasa sakit yang menjalar di tubuh Asnawi tidak mengurangi semangatnya untuk pulang ke Bandung. Disepanjang jalan Asnawi hanya diam saja tidak sedikitpun berbicara kepada Hayati, Asnawi merasa canggung, takut dan tidak percaya kalau ada kutilanak yang ikut dibonceng.
Di tengah jalanan sepi yang dingin Asnawi mulai menggeber lagi motornya supaya melaju dengan kencang agar cepat sampai ke rumah sebelum matahari terbit. Ketika melintasi jalan Nagreg, disana mulai banyak orang yang melintas pake motor dan mobil, Asnawi mulai terganggu oleh para pengendara motor lainnya yang bilang kalau ada kunti ikut di belakangnya, bahkan ada yang teriak-teriak, baca ayat kursi dan Tahlil dan nunjuk nujuk tangan mereka ke arah Asnawi sambil teriak” KANG...!! eta aya jurig ngilu dibonceng....lailahailallah.....”. Asnawi berusaha untuk tidak menghiraukannya dan pura-pura tidak melihat apa-apa.
Sampai di Rancaekek akhirnya Asnawi menyerah dengan teriakan-teriakan itu dan menepi ke pinggir jalan. “ayo kita turun dulu dari motor, kita masuk ke gubuk itu” kata Asnawi sambil turun dari motor dengan susah payah. Hayati langsung membopong tubuh Asnawi untuk membantunya berjalan ke dalam gubuk itu dan duduk di sebuah bangku panjang. Hayati duduk di sebelah Asnawi.
“Hayati, matahari makin Nampak, di jalan udah banyak orang yang neriakain aku kalo ada kunti di belakang motor aku.”kata Asnawi mengeluh “coba kamu bisa ga ngerubah wajah kamu biar ga nyeremin,? Minimal berubah ke wajah kamu pas sebelum mati, bisa ngga….” Kata Asnawi.
“oke mas, aku coba yah….hihihi”kata Hayati senyum. Hayati langsung menundukan kepalanya kebawah dan membiarkan rambut panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Dia menggelengkan kepala dengan cepat sampai beberapa kali , akhirnya dia dengan cepat mengangkat lagi kepalanya hingga rambutnya mengibas ke atas dan mengenai wajah Asnawi.
“ADUUUHH…..” teriak Asnawi karena terkena kibasan rambut Hayati. Wajah Hayati mulai terlihat dan berubah sangat drastis 180 derajat. Ternyata wajah asli Hayati sangat cantik, kulitnya halus dan putih, hidung mancung, pipi agak tembem dikit, dagu lancip dan tidak berwajah pucat lagi. Terdapat lesung pipit di wajahnya yang membuat wajahnya semakin cantik ditambah senyumannya yang manis dilontarkan ke Asnawi. Melihat kecantikan wajah Hayati, Asnawi diam seribu bahasa matanya melotot sampe keluar air mata saking terharunya dan mulutnya membuka dikit.
“mas…..mas….sadar mas…sadar “ Hayati berusaha menyadarkan Asnawi yang membatu.
“iya…iya aku sadar……..Subhanallah kamu cantik buanget Hayati….kaya malaikat yang jatoh dari langit…” kata Asnawi terpukau.“tapi baju kamu masih kaya kunti, jelek, kumal dan penuh bercak darah kering…..bisa juga ga kamu ganti gitu!!” komentar Asnawi.
“ bisa dong mas……hihihihihi” Kata Hayati sambil ketawa. Hayati memegang bagian depan baju dan kemudian menariknya kedepan. Sinar terang langsung keluar dari tubuh Hayati sampai-sampai Asnawi menutup matanya karena silau. Asnawi kembali membatu seperti tadi ketika melihat baju baru yang melekat di tubuh Hayati. Hayati ternyataa memiliki badan yang sangat bagus pinggul dan buah d**a yang besar ,perut kecil dan postur tubuh yang cukup tinggi. Hayati juga menampakkan bentuk kakinya yang menapak bumi. Hayati dibalut dengan dress putih ketat sehingga meperlihatkan lekuk tubuh indahnya dengan renda yang membentuk alur bunga dari bagian d**a sampai perut, tangan panjang yang melebar dibagian ujungnya dan terlihat jelas belahan dadanya. Sungguh baju yang sangat elegan dan sexy pikir Asnawi yang kembali terdiam menjadi patung setelah melihat perubahan Hayati yang super luar biasa.
“mas…mas…..sadar…sadar……hidung kamu keluar darah tuh……………hihihihihih”kata Hayati berusaha menyadarkan Asnawi lagi.
“ oh iya maaf..hehe” kata Asnawi sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
“mas, kok liatnya ke d**a aku terus sih kan muka aku diatas…” kata Hayati kesal.
“eehh iya maaf Hayati, aku hanya menikmati keindahan bajumu , baju kamu sangat bagus banget desainnya sangat elegan dan jaman now banget kaya hasil design Ivan Gunawan”. Kata Asnawi ngeles.
“ternyata kamu bisa berubah jadi cewek cantik…kenapa ga dari tadi sih…pas pertama kita ketemu tadi, kan aku gausah ketakutan apalagi sampe aku ngompol dicelana” kata Asnawi kesal.
“ maafin mas….abisnya mas ga minta itu tadi hihihihih..........mas ngompol yah” tanya Hayati sembari melihat ke arah celana Asnawi yang masih basah dan bau pesing. Asnawi langsung menutup bagian yang basah dengan tangan dan ekspresi wajah yang memerah karena malu.
“coba kamu puterin badan kamu..aku pengen liat” perintah Asnawi. Hayati memutar badan namun ternyata bagian punggunya masih terdapat lobang besar yang berdarah. Asnawi kembali merasa mual. “aarrgg……punggung kamu masih bolong “ kata Asnawi sambil menutup mulut menahan muntah. “ini pake tas ransel aku aja biar ga keliatan” Kata Asnawi sambil memberikan tas ranselnya ke Hayati.
Hayati langsung mamakai tas ransel itu dan lubang di punggunya tidak terlihat lagi. “nih aku ada kacamata, aku pakein yah biar mata kamu ga jatuh sembarangan lagi…” kata Asnawi sambil memakaikan kacamata ke Hayati. Mata kuning indahnya seakan akan menyinari hati Asnawi yang kala itu sangat bahagia melihat Hayati. “ nah kan tambah cantik mirip Mia Khalifa….hehehehe” kata Asnawi.
“ Mia Khalifa siapa mas??.....” Tanya Hayati.
“ah engga engga…………..bukan siapa siapa kok hehehehe” kata Asnawi sambil berusaha mangganti topik pembicaraan. Asnawi dan Hayati kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandung. Asnawi kembali dibopong oleh Hayati untuk berjalan ke motor. Sepanjang jalan Asnawi kembali merasa kembali terganggu, kali ini dia terganggu akibat para pengendara motor lain terutama pria pada menggoda Hayati, bahkan ada yang ngajak dia untuk pindah motor. Asnawi makin kesal setelah mendengar Hayati malah merespon mereka dengan muka bahagia. Rasanya ingin cepat sekali sampai ke rumah. Asnawi makin tancap gas motornya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan sambil menahan ngantuk dan rasa sakit di sekujur tubuh, akhirnya mereka sampai ke kostan tempat Asnawi tinggal. Ketika motor mau memasuki sebuah gerbang yang cukup besar, Hayati turun dari motor dan membuka pinti gebang yang terbuat dari papan kayu jati. Asnawi pun melaju perlahan ketempat parkir dan memastikan mesin motor dan berusaha untuk turun dari motor. Hayati dengan cepat langsung menyambar tangan Asnawi dan kembali membopong badan Asnawi untuk membantunya berjalan. Kostan tempat tinggal Asnawi sangat besar, terdapat 24 kamar kos yang terbagi kedalam bangunan dua lantai. Kamar Asnawi berada di lantai 2 dan posisinya berada di pojok dekat dengan kamar mandi.Sementara Asnawi dan Hayati berjalan perlahan terdengar suara emak-emak yang cukup keras memanggil Asnawi. Suara itu berasal dari dalam rumah kost dan makin terdengar semakin mendekat.
“Asnawi….Asnawi…kamu kenapa? Kok baju kamu kotor banget terus kepala kamu banyak luka” Tanya ibu kost yang sangat khawatir melihat kondisi Asnawi.
“kecelakaan bu….saya jatuh dari motor” jawab Asnawi.
“lah ini siapa nih….cantik banget…pacar kamu yah Wi??”kata Ibu Kost sambil menunjuk kearah Hayati.
“engga bu…cuman teman..hehe..dia yang nolongin aku.. namanya Hayati” jawab Asnawi malu-malu.
“ehh bagus dong kalo kamu jadi pacarnya Asnawi, dia penghuni ter-sholeh disini, dia rajin ke Masjid, ga pernah telat bayar kost sama ga pernah bawa cewek ke kostan…” ujar Ibu kost sambil tangannya nepuk-nepuk pundak Asnawi.
“aahh si Ibu bisaa aja….hehe……..aku ga sesholeh itu juga kali” kata Asnawi tertunduk malu lalu tertawa-tawa kecil.
“andai aja anak ibu masih ada, pasti ku jodohin sama kamu Wi” kata Ibu Kost.
“emangya anak ibu kemana?” Hayati menyela pembicaraan Ibu Kost.
“anakku meninggal…dek Hayati…kecelakaan” Jawab Ibu Kost
“maafin aku bu…..aku ga maksud membuat ibu sedih”.jawab hayati.
“gapapa kok dek….hehe..oh iya rumah kamu dimana?”Tanya Ibu Kost.
Hayati seperti kebingungan dan beberapa saat dia kelihatan bingung.“rumah Hayati di Jakarta bu……..kebetulan lagi maen ke Bandung” Asnawi menjawab pertanyaan Ibu Kost dengan mantap. Hayati itu ngangguk-ngangguk mempertegas jawaban Asnawi.
“selama di Bandung kamu tinggal dimana dek?” Tanya Ibu kost.
“eehhh aku tinggal sama as…” “Astrid bu Astrid…….ya kan Hayati..” Asnawi menjawab dengan cepat dan memotong pembicaraan Hayati. Hayati kaget dan mengangguk lagi. Akhirnya mereka pun sampai ke depan pintu kamar kost Asnawi, Asnawi lalu membuka kunci pintu dan membukanya. Hayati membopong Asnawi sampai berbaring di kasurnya. Ibu Kost berdiri di depan pintu kamar Asnawi sambil melihat Hayati membantu Asnawi.
Kamar Asnawi cukup berantakan dengan banyak buku kuliah yang berserakan diatas karpet berwarna biru di pinggir kasur. Karpet itu berbulutebal dan empuk. Di depan kasur terdapat LED TV yang terpasang di dinding sehingga Asnawi dapat menonton tv sambil berbaring di tempat tidur. Kamar Asnawi cukup luas, di pinggir pintu masuk terdapat meja belajar. Diatas meja terdapat lampu belajar, laptop dan beberapa buku yang tersusun rapi di pojok. Ada juga beberapa mainan action figure dari karakter-karakter anime, kebanyakan karakter cewek seksi. Di bawah meja terdapat sebuah rak buku yang penuh dengan koleksi komik manga yang tersusun rapi. Setelah membaringkan Asnawi, Hayati membereskan buku yang berserakan dan menyimpannya dengan rapi di atas meja.
“eh kalian pasti lapar yah…ibu lagi masak banyak nih ..” tawar Ibu Kost.
“makasih banget..ibuuu…..aku lapar banget” jawab Hayati semangat.
“jangan bu…jangan repot-repot ………….Hayati biar sm saya aja makan nanti” kata Asnawi yang langsung memotong pembicaraan Hayati.
“maaaasss…………..plisss”Hayati memohon kepada Asnawi dengan wajah memelasnya. Terlihat kedua ,mata kuningnya berbinar-binar. Asnawi merasa kasihan akan tetapi malu juga karena merepotkan Ibu kost.
“gapapa Nawi, ibu masaknya banyak banget kok, ibu ambilin sekarang yah…………tunggu yah” kata ibu kost sambil melontarkan senyum kearah Hayati. Ibu kost pun berjalan ke luar menuju rumahnya untuk mengambil makanan untuk Hayati dan Asnawi. Hayati loncat-loncat kegirangan sampai sampai semua badanya ikut bergetar terutama bagian buah dadanya yang besar bergerak naik turun. Asnawi yang awalnya malu menjadi salah focus melihat Hayati jingkrak-jingkrak dan malah menikmati pemandangan indah sambil senyum-senyum sendiri.
“horeeee…..akhirnya bisa makan lagi…….asiiikk”. kata Hayati sambil Jingkrak, namun dia seketika menghentikannya karena melihat Asnawi bengong lihat dirinya yang jingkrak-jingkrak dengan darah mengucur lagi dari hidung Asnawi.
“mas….hidung kamu bedarah lagi tuh..ihihihhi” kata Hayati sambil menunjuk kearah hidung Asnawi. Tawa khas kunti Hayati seakan-akan langsung menyadarkan Asnawi dari kebengongan mesumnya.
“oops….maaf..hehehehehe” kata Asnawi sambil menyapu darah yang mengucur dari hidungnya.
“kenapa sih mas, tiap liat aku dalam wujud asli suka bedarah aja idungnya”. Tanya Hayati sambil membenarkan posisi kacamatanya yang tadi hampir jatuh dan membuka tas ransel di punggungnya kemudian menyimpannya diatas lemari. Bolong di punggunya kembali terlihat jelas saat Hayati memunggungi Asnawi untuk menyimpan tas ransel, Asnawi mendadak mual.
“kayanya efek kecelakaan deh ..hehe, aduh Hayati itu punggung kamu bisa ditutupin ga, soalnya bahaya nih kalo sampe keliatan sama ibu kost, “jawab Asnawi sambil melempar sebuah kemeja kearah Hayati. Hayati langsung menyambar kemeja itu dan langsung memakainya.
“nah, begitu lebih baik….heheh” kata Asnawi lega “ngomong-ngomong kamu suka makan juga, kan kamu setan…kirain setan ga butuh makan? Tanya Asnawi.
“suka dong mas, aku suka banget makan daging…….hihi”jawab Hayati dengan tawa khas kuntinya lagi “gatau juga sih mas pas jaman aku masih hidup aku itu vegetarian, tap pas udah jadi setan aku cuman bisanya makan daging doang."jawab hayati
“ooh pantes atuh….banyak tukang sate yang sering digodain sama kunti” kata Asnawi mengangguk-angguk.
“iya mas soalnya cuma tukang sate yang punya daging dan berkeliaran malem-malem” “tapi aku ga pernah godain tukang sate mas….aku sukanya godain kamu…hahahaha” kata Hayati ketawa.
“kok aku jadi merinding ya ……………hmmmmm” kata Asnawi mendadak merinding Ibu kost pun kembali dengan membawa nampan yang penuh dengan makanan. Ibu kost langsung menurunkan piring-piring dari nampan ke atas meja belajar. Ada daging paha kambing besar, nasi 2 piring, tahu tempe dan sambal kecap semangkuk.
“wah banyak sekali bu makanannya, hehe” kata Asnawi yang berusaha berjalan menuju meja.
“iya nih, ibu bikin kambing guling…soalnya anak anak ibu mau pada datang kesini” kata ibu kost.
Tiba tiba Hayati langsung menyambar paha kambing itu dan langsung memakannya dengan super lahap. Asnawi dan ibu kost langsung bengong dan terheran-heran melihat Hayati makan daging seperti orang yang sudah tidak makan selama seminggu.
“hati-hati dek makannya, nanti kamu mati keselek loh…”kata ibu kost berusaha memperingati Hayati.
“nyam..nyam..gapapa kok bu…aku kan udah meninggal…”kata Hayati sambil mengunyah daging dan langsung dipotong lagi pembicaraanya oleh Asnawi.
”maksudnya meninggalkan rumah bu…hehehe” . “ maaf ya bu, temenku ini kaum dhuafa jadi jarang nemu daging…paling tiap idul adha dia suka makan daging..hehehehe” kata Asnawi sambil menepuk-nepuk punggung Hayati yang sedang duduk di kursi yang sedang makan daging untuk memberikan kode bahwa jangan bilang kalau dia sudah mati.
“ooh gitu toh, kasihan banget ya…yowis ibu tinggal dulu yah, ibu mau beres kamar buat anak-anak ibu nanti” kata ibu kost.
“makasih banget bu buat makanannya..”kata Asnawi Ibu kost pun kembali kerumahnya dan Asnawi segera menutup pintu kamarnya. Asnawi masih terheran-heran dengan nafsu makan Hayati yang dangat mengerikan.
“yah..aku cuman makan sama tahu tempe doang dong kalo gini mah” kata Asnawi sambil mengambil tahu dan tempe kemudian disimpan di atas nasi. Asnawi pun kembali duduk diatas kasur untuk mulai makan. Hayati tidak menghiraukan ocehan Asnawi dan terus melahap paha kambing itu sampai tinggal tulang.