Hari kedua sekolah rasanya lebih neraka dari hari pertama.
Gara-gara taruhan kemarin, Arka beneran nempel kayak perangko.
Jam 7 pagi. Aku baru sampe gerbang.
"Selamat pagi, Calon Pacar!" Arka udah nunggu sambil nyodorin roti. "Sarapan. Biar gak pingsan pas upacara."
"Aku udah sarapan."
"Bohong. Mata lo sembab. Kurang tidur mikirin gue ya?" Dia nyengir.
Aku diem dan jalan cepet. Dia ngikutin.
Jam 10. Pelajaran Fisika.
Tiba-tiba ada kertas nyelip di bukuku.
`PS: Senyum lo pas jawab soal no.3 tadi manis. -A`
Aku buang. 5 menit kemudian ada lagi.
`PPS: Kalo lo senyum ke gue, gue kasih nilai 100. -A`
"ARKA!!"
"Apaan sih? Belajar yang fokus dong." Dia polos banget.
Jam 12. Istirahat.
Chelsea udah nungguin di depan lokerku. Dengan 3 anak gengnya.
"Jadi beneran lo pacaran sama Arka?" suaranya ketus.
"Enggak. Kita lagi taruhan." jawabku jujur.
"Taruhan apaan?!"
"Dia nyoba bikin aku suka dia dalam 1 bulan. Kalo gagal dia traktir sekolah."
Chelsea mendengus. "Gak akan. Arka itu cowok gue."
"Mantan." koreksiku.
PLAK.
Buku di tanganku jatuh. Chelsea udah jalan pergi dengan dagu terangkat.
Aku jongkok buat ngambil buku. Tiba-tiba ada tangan yang ngambilin duluan.
"Nggak sakit kan?" Arka.
"Gak usah sok baik."
"Gue gak sok baik. Gue emang baik sama calon pacar." Dia ngeluarin plester dari sakunya. "Tangan lo lecet."
Aku liat telapak tanganku. Ada goresan kecil kena binder.
Tanpa nanya, Arka langsung tempelin plester gambar Doraemon ke tanganku. Plester anak SD.
"Nih. Biar cepet sembuh."
Aku bengong. Pentolan sekolah pake plester Doraemon?
"Kenapa? Jelek?" tanyanya.
"Enggak... cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma gak nyangka lo bawa plester."
Arka garuk kepala. Kaku. "Itu... adek gue yang nitip. Dia masih SD."
Oh.
Untuk pertama kalinya aku liat Arka gak nyengir. Dia cuma diem, ngeliatin plester di tanganku.
Detik itu d**a aku aneh.
"Udah. Makasih." kataku buru-buru. "Gue ke kelas."
"Oh. Oke."
Sore. Pulang sekolah.
Hujan deres. Aku gak bawa payung.
Tiba-tiba ada jaket dilempar ke kepalaku. Jaket Arka. Masih anget dan bau sabunnya.
"Pake. Gue anterin."
"Gak usah. Nanti lo kehujanan."
"Gue pentolan. Kebal." Dia udah narik motorku. "Naik."
Aku ragu 3 detik. Terus naik juga.
Sepanjang jalan dia nyetir pelan. Jaketnya aku pake. Tanganku megang ujung jaketnya takut jatuh.
Pas di depan rumah, dia berhenti.
"Besok gue jemput lagi ya?"
"Gak usah."
"Iya. Tapi gue tetep jemput." Dia lepas helm. Rambutnya basah semua. "Oh iya... plesternya jangan dilepas ya. Lucu."
Terus dia tancap gas pergi, ninggalin aku basah kuyup tapi anget karena jaketnya.
Aku masuk rumah. Buka jaket. Di kantongnya ada permen mint dan secarik kertas.
`Catatan Hari ke-2: Target mulai luluh 5%. Semangat gue. -A`
Aku ketawa kecil. Sialan.
depan umum