"Semua anggota CanisLupus memiliki tato itu. Tato itulah yang menjadi tanda pengenal mereka. Orang-Orang akan mengetahui siapa mereka hanya dengan melihat tato di lengannya saja," lanjut Dennis membuat mata Bima terangkat naik
"Kau serius?" tanya Bima terkejut.
"Ya. Bukan hanya itu, mereka membagi tingkatan kekuatan berdasarkan warna tato. Ada tiga tingkatan, kasta alpha, kasta kedua, dan kasta pasukan. Ketiga kasta itu dibedakan berdasarkan warna tatonya. Kasta alpha adalah orang yang memimpin mereka. Dia adalah orang yang paling berkuasa dan yang terkuat. Kasta Alpha memiliki tato berwarna putih. Kemudian satu tingkat di bawah kasta alpha adalah Kasta Kedua. Mereka memiliki tato berwarna hitam. Kasta Kedua biasanya diberi kekuasaan oleh Kasta Alpha untuk memerintah anggota Geng. Dan yang terakhir adalah Kasta Pasukan. Kasta ini biasanya berjumlah lebih banyak dari kedua kasta di atasnya. Anggota dari kasta ini biasanya orang-orang yang terjun langsung dalam kegiatan Geng seperti bertempur atau pun menjalankan bisnis gelap Geng Canislupus. Kasta ini memiliki tato berwarna putih," papar Dennis membuat Bima tercengang. Bagaimana Dennis tahu begitu banyak soal Geng Canislupus?
"Sekarang aku tanya kepadamu, dari ketiga warna tato yang kusebutkan, orang yang kau cari memiliki tato berwarna apa?" lontar Dennis.
Bima mengernyitkan kening. "Bukankah aku sudah mengatakannya padamu tadi?" balas Bima.
"Iyakah? Aku tidak ingat," lanjut Dennis.
"Hitam. Tato orang itu berwarna hitam," jawab Bima.
"Hitam? Kau sudah gila, hah?" ujar Dennis. Raut wajahnya sangat terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Jika orang yang kau cari itu memiliki tato berwarna hitam, berarti dia adalah kasta kedua. Aku beri tahu ya, kekuatan kasta pertama itu setara dengan seratus kekuatan kasta kedua. Lalu kekuatan kasta kedua setara dengan lima puluh kekuatan kasta ketiga. Apa kau tahu seperti apa kekuatan kasta ketiga?" lontar Dennis kemudian. Bima menggelengkan kepalanya.
"Kekuatan kasta ketiga setara dengan kekuatan sepuluh orang kuat. Apa kau yakin bisa mengalahkan orang itu? Dan jika kau nekat masuk ke sana, kau akan berhadapan dengan kasta ketiga sebelum melawan kasta kedua,"
"Aku akan melakukan apapun untuk membalas dendam. Aku tidak punya urusan dengan orang lain. Urusanku hanya dengan orang itu, orang yang telah melukai temanku,"
"Baiklah. Kita anggap kau bisa mengalahkan semua kasta ketiga. Lalu apa yang akan kau lakukan? Biar kutebak, kau akan langsung mencari orang yang memiliki tato berwarna hitam. Benar?" tanya Dennis. Bima menjawab dengan anggukan.
"Apa kau tahu seperti apa rupanya?" tanya Dennis lagi. Bima menggelengkan kepala.
"Dan apa kau tahu berapa orang yang memiliki tato berwarna hitam?"
Bima kembali menggelengkan kepalanya.
"Kau mau tahu? tanya Dennis yang membuat Bima mengangguk.
"Jumlah mereka ratusan. Nah sekarang, aku tanya lagi, bagaimana kau bisa menemukan satu diantara ratusan orang yang memiliki tato berwarna hitam tanpa tahu rupanya, BIMA!?"
Bima hanya terdiam. Kalau begitu, bagaimana ia menemukan orang yang membuat Arga celaka, sedangkan dirinya saja tidak mengetahui bagaimana rupanya.
"Hei, lihat itu.." ucap Dennis pelan sambil menunjuk sebuah gedung besar dengan baliho bertuliskan CanisLupus Nigreos.
"Itu markas mereka." Ucapnya lagi.
Bima melihat kesana, sangat banyak orang disana, kebanyakan pria dewasa yang terlihat sangar. Terlihat juga perempuan beragam usia dengan pakaian agak terbuka layaknya perempuan penghibur.
"Nah, apa rencanamu?"
Bima tersentak kaget, ia terlalu cepat mengambil langkah, ia tidak punya rencana sama sekali. Tidak mungkin untuk langsung masuk ke sana karena terlalu banyak orang. Bima bisa saja melawan sekitar 5-10 orang tapi jumlah mereka lebih dari 20, dia tidak mungkin sanggup melawannya, dia juga tidak tahu persis kemampuan pemuda yang baru ia kenal, Dennis.
"Aku tidak tahu, ini diluar dugaanku.
" Jadi bagaimana? Kita kembali?"
"Sepertinya begitu."
"Baiklah ayo."
Mereka berbalik dan hendak melangkah.
"HEI KALIAN!! BERHENTI DISANA!! Teriak seseorang dari belakang.
Bima dan Dennis membelalakan mata.
" LARII!! MEREKA AKAN MEMBUNUH KITA!!" Seru Dennis lalu mulai berlari cepat disusul Bima.
Kecepatan mereka hampir setara, mereka berlari cukup jauh. Dennis kemudian berbelok memasuki sebuah gang disusul Bima. Hampir saja mereka dapat masalah besar. Entah apa yang terjadi kalau mereka di tangkap oleh orang-orang itu.
***
Bima dan Dennis sudah memulihkan kembali tenaga mereka dan tengah berjalan tanpa arah.
"Setelah ini kau mau kemana?"
"Entahlah, mungkin aku akan pulang."
"Ke Desamu? Jangan, lebih baik kita cari penginapan disini, bisa saja orang-orang itu sudah menyebar untuk mencari kita."
Bima teringat seseorang. "Aku mengenal seseorang di daerah sini."
"Bagus, ayo pergi ke tempatnya."
***
Bima mengetuk pintu sebuah rumah beberapa kali dan beberapa saat kemudian pintu terbuka diikuti raut wajah terkejut seseorang dari dalam rumah. "Bima?"
"Maaf mengganggu malammu, Destry, aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi."
"Ba-Bantuan apa, Bim?"
"Kami ingin bermalam di rumahmu untuk malam ini."
"Ah baiklah, silakan masuk." ucap Destry.
Bima masuk duluan ke dalam rumah diikuti Dennis. "Wah, cantik juga kenalan si Bima." gerutunya.
Bima dan Dennis sudah duduk di ruang tengah lalu Destry datang membawa dua cangkir berisi teh hangat.
"Terimakasih, Destry. Maaf merepotkanmu."
"Ah tidak apa-apa, ngomong-ngomong kenapa kau berada disini?" Destry mengalihkan pada Dennis. "Arga tidak bersamamu?"
Bima diam sejenak. "Dia baru saja tertimpa masalah."
"Astaga, Arga kenapa?"
"Dia..."
Akhirnya setelah bercerita panjang lebar, mereka bertiga pun tertidur. Malam berlalu dan pagi telah tiba. Bima dan Dennis pamit pulang.
"Sekali lagi, terimakasih ya Destry. Kau perempuan yang sangat baik."
"Dan juga sangat cantik." sambung Dennis lalu tersenyum yang membuat Destry tersipu malu.
"Yasudah kalau begitu, kami pergi dulu.
"Iya, berhati-hatilah kalian."
***
"Kau mau kembali ke desamu sekarang, Bim?
"Iya, aku akan pulang. Kau?"
"Sepertinya aku juga akan kembali ke daerahku."
"Baiklah kalau begitu, senang bertemu denganmu, Dennis. Terima kasih telah membantuku."
"Tidak masalah, teman. Senang bisa mengenalmu."
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Iya, berhati-hatilah."
Setelah itu, Bima mulai berlari menuju desanya. Setelah beberapa jam, ia sampai dan melihat Ling tengah duduk di teras depan sambil menatapnya.
"Darimana kau, Thera?
" A-Aku baru saja menemui teman, Nek."
"Kau bolos sekolah lagi?"
"Ti-Tidak, aku akan berangkat setelah mengganti baju."
"Yasudah kalau begitu. Tapi sebelum itu, temui dulu temanmu."
"Temanku?" Pikiran Bima hanya tertuju pada satu orang. Ia mulai melangkah kakinya masuk ke dalam rumah sampai ke teras belakang dan menemukan seseorang tengah duduk disana sambil memegang cangkir berisi teh.
Bima melangkah perlahan mendekatinya lalu duduk disampingnya dan menatapnya dengan perasaan bahagia. "Kau sudah sembuh, Ar?"