Dari sisi lain, seorang pemuda gagah terlihat bersenang-senang dengan beberapa orang dari Pasukan CanisLupus. Ia bertarung dengan mengandalkan keahlian yang ia miliki. Kemampuan yang paling mencolok dari dirinya adalah gerakannya sangat cepat dan langkah kaki yang begitu lincah. Ia bertarung dengan senyum lebar di bibirnya. Pemuda itu adalah Hestra, siswa Akademi Bach yang berasal dari kelas (1—2) dan mengikuti Bidang Keahlian Beladiri.
Jika kita melihat pemuda lain bertarung dengan raut wajah serius dan nafas yang terengah—engah, Hestra sama sekali tidak terlihat sedang bertarung. Dia seolah hanya bersenang—senang dalam latihan bertarungnya. Sangat berbeda dengan pemuda di sekitarnya. Hal itu dapat terlihat dari senyum yang terkembang lebar di bibirnya.
Bagaimana ia bisa setenang itu dalam pertarungan besar tersebut? Apa dia cukup yakin dengan kemampuan yang dia miliki?
Dalam pertarungan besar itu, Hestra menggunakan kecepatannya untuk menyerang lawan—melayangkan pukulan serta tendangan keras yang menghujam langsung pada titik vital lawan dan menggunakan kelincahannya untuk menghindari serangan lawan—langkah kakinya sangat ringan dan bergerak dengan sangat mudah. Dengan lihainya ia berpindah ke segala arah—membuat lawan yang ia hadapi cukup kesulitan.
Walaupun kemampuannya sudah sangat mumpuni, Hestra masih belum mengeluarkan kemampuan yang ia miliki seutuhnya. Kekuatan yang tidak pernah mereka duga. Ia masih menyembunyikan kekuatan besar yang tersembunyi dalam tubuhnya. Sebuah kekuatan yang tidak dimiliki siapapun, hanya dia seorang. Kekuatan yang tertidur dalam tubuhnya seakan enggan dibangunkan oleh pemiliknya. Karena jika kekuatan itu bangun, akan sangat berbahaya, bahkan untuk Hestra sendiri. Jika ia tidak bisa mengendalikan kekuatan itu, maka kekuatan itu akan mengalahkan dirinya.
Ya. Hestra sudah cukup mengenal dirinya sendiri serta mengetahui jati diri yang sebenarnya. Namun, ia masih belum dapat memastikan itu apa. Ia mengetahui bahwa ia memiliki semacam kekuatan yang tersembunyi jauh di dalam tubuhnya. Sebuah kekuatan yang membuatnya memiliki kemampuan khusus, dimana ia bisa mengeluarkan duri tajam dari kepalan tangannya. Hanya itu yang ia ketahui. Namun, kekuatan itu justru lebih besar dan lebih menakutkan dari dugaannya. Ia tidak tahu, duri itu tidak hanya bisa keluar melalui tangannya saja, melainkan bisa keluar dari sekujur tubuhnya. Tapi, masih butuh waktu untuk dia mengetahui itu.
Meskipun dirinya sudah mengetahui kekuatan itu, namun ia masih belum berani menggunakannya dalam pertarungan. Walaupun Hestra tahu, kekuatan itu akan sangat berguna, membantunya mengalahkan semua musuh dengan cepat. Memberikan mereka serangan telak dengan pukulan berdurinya.
Tapi, di sisi lain, ia juga merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi jika sampai kekuatan itu bangkit. Ia takut akan dampak kekuatannya sendiri. Ia takut kekuatan itu akan mengalahkannya dan mengambil alih tubuhnya. Ia takut dirinya tidak mampu mengendalikan kekuatan itu dan sesuatu yang buruk pun terjadi, tubuhnya diambil alih oleh kekuatannya sendiri.
Kejadian di Gunung Nara saat dirinya bertemu dengan Arga dan Bima masih terbayang di ingatannya. Bima dan Arga harus bertarung dengannya untuk membuatnya kembali tersadar dari pengaruh kekuatan itu. Kejadian itu membuka matanya, ia tersadar bahwa kekuatan yang ia miliki sangat berbahaya. Bahkan, bisa melukai orang—orang di sekitarnya. Tidak peduli itu kawan ataupun lawan, dia akan melampiaskan hasrat membunuhnya.
Maka dari itu, Hestra menyadari bahwa dia tidak bisa menggunakan kekuatannya begitu saja tanpa kemampuan untuk mengendalikannya. Ia harus benar—benar mampu menguasai dan mengendalikan kekuatannya sendiri. Untuk mencapai itu, Hestra harus lebih banyak berlatih dan mempelajari lebih banyak tehnik—tehnik lain yang mungkin akan berguna saat berada dalam pertarungan.
Walaupun, tanpa ia pungkiri, Hestra sempat terbesit ingin menggunakan kekuatannya dalam pertarungan tersebut. Kemampuan yang dia miliki akan sangat membantunya untuk mengalahkan orang-orang dari Pasukan CanisLupus. Duri tajam yang ada pada lengannya akan menambah daya hancur pukulannya—dan juga akan melindungi tubuhnya dari berbagai macam serangan. Namun, kembali lagi pada kenyataan bahwa Hestra belum mampu mengendalikan kekuatan mengerikan tersebut. Ia khawatir kekuatan itu justru akan berbalik kepadanya, membuatnya lepas kendali dan malah melukai teman—temannya dari Bachalpsee.
Namun, ia terlihat tidak terlalu kesulitan dalam menghadapi musuhnya, meskipun tanpa kekuatan itu. Terlihat dari sikap tenangnya saat menghadapi beberapa orang dari Pasukan CanisLupus. Mungkin hanya dia yang terlihat paling menikmati pertarungan tersebut. Entah mengapa ia sangat bersemangat menghabisi orang—orang berwajah sangar itu.
Beralih dari tempat Hestra bertarung, beberapa langkah di belakangnya, seorang pemuda berbadan tegap terlihat sangat marah. Dengan mata melotot, ia menyerang musuh tanpa ampun dengan pukulan membabi—buta—nya. Pemuda yang dijuluki Si Tukang Tidur oleh teman sekelasnya itu memiliki tenaga yang sangat mengerikan. Dia mampu membuat dua orang dari Pasukan CanisLupus terpental jauh dengan satu pukulan. Byron dengan kemampuan bertarungnya berdiri tegak menghadapi setiap lawan. Dengan tenaganya yang luar bisa, ia menghabisi semua musuh di sana.
Setelah membuat orang—orang itu terkapar, Byron berseru dengan lantang, "Maju kalian semua, Sial*n!". Pasukan Canislupus lain yang mendengar teriakan Byron lantas langsung berlari kearahnya secara serentak seraya membawa kepalan tangannya. Byron menutup bibirnya rapat. "Sial, aku salah bicara," ucapnya kemudian.
Orang—Orang itu mulai menyerang Byron dari segala arah. Pukulan dan tendangan mereka layangkan pada tubuh Byron. Gerakan Byron yang terbatas membuatnya kesulitan menghalau semua serangan itu. Ia harus merelakan sekujur tubuhnya mendapatkan serangan bertubi—tubi dari mereka. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena Byron segera membalas serangan mereka dengan pukulan telak.
Meskipun jumlah pasukan CanisLupus yang menyerang Byron cukup banyak, ternyata Byron mampu menandingi kekuatan mereka semua. Justru orang—orang itu yang kesulitan menyaingi kekuatan Byron. Mereka hanya mampu mendesak Byron secara serentak. Orang-Orang itu tidak akan punya kesempatan untuk menyerang Byron jika hanya seorang diri saja.
Pengalaman yang mereka miliki belum cukup untuk membuat Byron terdesak, apalagi untuk mengalahkannya. Justru semakin banyak orang—orang itu mengerumuni Byron, pemuda itu semakin menyerang dengan agresif, pukulannya semakin kuat dan gerakannya semakin bringas.
Walaupun pukulan Byron sangat kuat dan memiliki daya hancur yang dahsyat, itu belum cukup untuk melumpuhkan mereka. Orang—Orang itu cukup tangguh. Tubuhnya sudah tahan akan berbagai macam serangan, bahkan pukulan terkuat sekalipun. Byron yang hanya mengandalkan kekuatannya saja, namun tidak mampu menyerang titik vital mereka, tidak bisa mengalahkan mereka dengan satu serangan.
Begitu pukulan kerasnya menghantam tubuh maupun wajah mereka, orang—orang itu akan langsung terpental dan terkapar di tanah, namun hanya untuk sesaat. Mereka akan segara bangkit dan kembali menyerang Byron. Semakin lama, orang—orang yang menyerang Byron semakin banyak. Membuat Byron cukup kesulitan bergerak. Tidak cukup ruang untuk kakinya melangkah. Ia terjebak di tempatnya dengan sekumpulan lalat yang terus menyerangnya.
Byron diserang dari segala arah, membuat sekujur tubuhnya merasakan rasa sakit. Namun, dengan segala upaya, Byron terus berusaha memberikan perlawanan. Tidak akan ia biarkan tubuhnya jatuh ke tanah. Ia akan terus berdiri tegak tanpa mundur sedikit pun. Tapi, orang–orang itu tidak ada habisnya. Seperti piranha yang tengah memakan mangsanya, mereka akan bergantian menyerang Byron. Byron mendengus kesal. "Astaga! Kenapa orang–orang ini banyak sekali? Kenapa tidak ada habisnya?! Aku 'kan sudah memukul banyak sekali orang, kenapa mereka tidak berkurang sedikit pun? Sial*n!" ujarnya kesal.
Byron memutar tubuhnya seraya mengedarkan pandangan. Dia mencoba menghitung jumlah orang yang berada di dekat tubuhnya. Mencoba memperkirakan jarak mereka dengan jangkauan pukulan yang bisa ia lakukan. Ia berniat melumpuhkan mereka semua dalam satu serangan—menggunakan satu pukulan pamungkasnya.
Setelah mengetahui jumlah dan tempat mereka berdiri, Byron sudah memperkirakan jangkauan pukulan yang harus ia layangkan untuk melumpuhkan mereka semua. Byron menarik nafas dalam, lalu dalam satu hentakan, Byron melayangkan pukulannya seraya memutar kakinya, membuat pukulan melingkar yang menjangkau seluruh areanya. Orang—Orang CanisLupus yang berada di sekitarnya langsung terkapar di tanah begitu terkena pukulan keras Byron. Mereka semua tumbang hanya dengan satu pukulan Byron. Namun, karena terus memberi perlawanan pada mereka, Byron merasa sangat kelelahan.
Ia membungkukkan badan dengan tangan menopang pada lutut, lalu mencoba mengatur nafasnya agar kembali stabil.
Pukulan memutar tersebut merupakan tehnik yang telah Byron pelajari selama bertahun-tahun—dan hanya akan ia gunakan saat dalam keadaan terdesak saja. Dia menamakan tehnik itu dengan nama Pukulan Beruang Berguling. Tehnik itu akan sangat berguna saat ia menghadapi lawan lebih dari satu orang. Sepertinya ia harus mengurangi waktu tidurnya dan mulai mempelajari dan menguasai tehnik—tehnik lain. Tapi, itu hanya pikiran orang lain, Byron tidak seperti itu. Tidur adalah segalanya baginya. Karena dengan tidur, tubuhnya menyerap berbagai macam energi di sekitarnya dan menjadikan tubuhnya lebih kuat. Itu merupakan salah satu kemampuan yang dimiliki oleh Byron.
Saat dirasa napasnya sudah stabil, Byron kembali menegakkan tubuhnya lalu memandangi mereka semua—Pasukan CanisLupus yang tengah terkapar sembari merintih kesakitan. Kali ini, mereka tidak kembali bangkit seperti sebelumnya. Mungkin karena tubuh mereka sudah tidak mampu menahan rasa sakit lagi atau mungkin kaki mereka langsung mati rasa seketika. Entahlah, yang jelas Byron dapat menghela nafas untuk saat ini.
"ARRGH!" Byron berteriak keras seraya mengeraskan otot tubuhnya. "Rasakan itu, Sial*n!" sembur Byron saat melihat mereka semua merintih kesakitan di tanah. Tehnik yang dia pelajari ternyata tidak sia—sia. Itu sangat berguna untuk melumpuhkan musuh seperti mereka—yang menyerang secara serentak. Byron sedikit tidak percaya pada awalnya, ternyata ia mampu menggunakan tehnik Pukulan Beruang Berguling itu dengan sangat baik. Tidak ia sangka, kemampuannya sudah jauh meningkat.
"Akh!" Byron meringis saat merasakan rasa sakit di punggungnya. Dia mencoba menyentuh rasa sakit itu. "Aw! Astaga sakit sekali! Orang—Orang sial*n itu terus menyerang punggungku. Dasar pengecut! Menyerang orang dari belakang!" sembur Byron. Sepertinya pukulan mereka meninggalkan lebam di punggungnya. Rasa nyeri itu semakin ia rasakan ketika menyentuhnya. Semakin lama, rasa sakit itu mulai terasa berdenyut. Aneh sekali, pikir Byron.
Bergeser beberapa langkah ke depan, tidak jauh dari tempat Byron berdiri, seorang perempuan berkulit putih dengan tenangnya melompat kesana—kemari dengan kaki jenjangnya. Dia menghindari semua serangan musuh dengan sangat mudah—tanpa kesulitan sedikit pun. Dengan tubuhnya yang ramping, Adisty dapat bergerak dengan leluasa ke segala arah. Kakinya yang lincah membuatnya mengelabui lawan dengan mudah.
Setiap kali orang—orang itu melayangkan serangan padanya, ia menghindari serangan mereka dengan gerakan kakinya yang sangat cepat. Adisty terus menghindari serangan orang—orang itu sampai mereka merasa kelelahan. Tubuhnya yang ramping namun atletis membuatnya dapat bergerak begitu mudah. Namun, itu semua tidak akan berhasil jika ia tidak memiliki otot kaki yang kuat. Tumpuan pergelangan kakinya serta tolakan yang mampu ia lakukan bisa membuatnya melompat sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi tubuh orang—orang itu. Adisty melompat melewati kepala mereka.
Selain kelincahan dan kekuatan otot kakinya, Adisty juga mempunyai penglihatan yang sangat tajam. Lebih tajam dari siapa pun. Sepuluh kali lebih baik dari penglihatan kebanyakan orang—orang di sana. Tajamnya penglihatan yang ia miliki, membuatnya dapat menebak arah serangan lawan hanya dengan melihat awal pergerakan tubuh mereka saja.
Saat orang dari Pasukan Canislupus yang berusaha menyerangnya sudah merasa kelelahan, dengan cepat Adisty langsung menyerang titik vital mereka. Titik yang Adisty serang adalah bagian samping leher. Dia menyerangnya dengan tendangan samping yang sangat keras. Saking kerasnya tendangan Adisty, orang—orang itu langsung tumbang dan tak sadarkan diri.
Serangannya sangat kuat dan efisien, namun membutuhkan waktu yang cukup lama karena harus membuat lawan kelelahan terlebih dahulu. Namun, mungkin saja orang yang lebih menguasai tehnik tendangan tersebut bisa langsung melakukannya tanpa harus menunggu lawan kelelahan terlebih dahulu. Jumlah tenaga dan tehnik yang digunakan menentukan tingkat efisiensi tehnik tersebut. Hal yang Adisty lakukan sudah sangat baik, hanya saja masih terdapat kelemahan saat hendak melakukannya. Bukan tanpa alasan, hal itu dikarenakan jumlah tenaga antara laki-laki dan perempuan jauh berbeda. Maka, eksekusi yang mereka ambil juga berbeda. Langkah yang mereka ambil menjadi penentu keberhasilan tehnik tendangan tersebut.
Beberapa meter dari tempat Adisty bertarung—jauh di barisan depan, Arga terlihat berjibaku dengan beberapa Pasukan Canislupus di sana. Dilihat dari tehnik dan gaya bertarung yang Arga gunakan, kemampuan Arga sudah jauh berkembang. Level kemampuannya saat ini tidak bisa dianggap remeh. Dari semua orang yang ada di sana, Arga yang terlihat paling banyak bergerak—kakinya terus melangkah ke depan. Setelah menumbangkan satu orang, Arga maju satu langkah dan menghajar Pasukan CanisLupus yang lain, begitu seterusnya sampai dia berada jauh di barisan depan—tepatnya berada di kerumunan Pasukan CanisLupus Nigreos.
Hal yang membuat Arga begitu berani, bahkan beberapa orang menyebutnya dengan kata "nekat", karena ia mempunyai satu tujuan yang harus ia capai dalam pertarungan itu, yaitu balas dendam! Niat balas dendam pada pembunuh orang tuanya—Jak belum hilang dan akan terus membara di hatinya, tidak akan padam sampai ia berhasil membuat Jak membayar kematian kedua orangtuanya, tentu saja dengan nyawa Jak sendiri.
Beberapa kali Arga melemparkan pandangannya pada seorang pria yang tengah berdiri beberapa meter di depan matanya, yang tak lain adalah Jak. Dia hanya berdiri di sana sembari mengantongi kedua lengannya. Sebelah sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum miring yang terlihat memuakkan di mata Arga. Pemuda itu terus melangkah maju—berusaha mendekati Jak agar bisa bertarung langsung dengannya. Tapi, sebelum itu, Arga harus menghadapi puluhan Pasukan CanisLupus yang menghadang jalannya. Di depan sana, Jak terlihat sangat menikmati pertempuran yang sedang berlangsung, tapi tidak ada yang lebih menarik perhatiannya selain pertarungan Arga dan beberapa orang dari Pasukan Canislupus.
Jauh di belakang Arga, Bima terlihat mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Dalam keadaan bertarung, matanya berpendar, menoleh ke kanan dan ke kiri, beberapa kali Bima memutar badannya. Ia terlihat sedang mencari seseorang. Benar, Bima melakukan itu karena tengah mencari seorang teman, yaitu Arga. Ia masih belum melihat Arga dimana pun. Beberapa saat yang lalu Arga berada di dekatnya, namun sesaat kemudian ia menghilang begitu saja.
Dengan raut wajah cemas disertai perasaan gelisah, Bima terus mencari dimana Arga berada. Bima kemudian mencoba menghentakkan kakinya dan melompat tinggi, melayang di udara untuk beberapa saat. Matanya terangkat naik saat melihat Arga jauh di depan sana. Kenapa dia selalu gegabah? Hal yang dia lakukan bisa membuat dirinya celaka! Bima tidak habis pikir dengan pola pikir Arga. Keinginan balas dendam seharusnya tidak membuat pikirannya begitu pendek. Tanpa rencana apapun, ia langsung menerobos maju begitu saja.
Saat sudah mengetahui posisi Arga, Bima mencoba bergerak lebih jauh ke depan. Kini posisinya semakin mendekati posisi Arga. Dari tempatnya bertarung, Bima melihat Arga nampak kesulitan menghadapi mereka semua. Jumlah orang yang Arga hadapi terlalu banyak, itu diluar kapasitasnya. Bima melihat Arga mendapatkan pukulan terus—menerus, namun dia masih mampu untuk tetap berdiri.
Bima kembali tertuju pada Pasukan Canislupus yang ada di hadapannya, lalu melakukan pertarungan untuk beberapa saat. Ketika lawannya sudah terjatuh, Bima kembali melempar pandangannya pada Arga, matanya terbelalak saat tendangan keras menghujam perut Arga sampai darah keluar dari mulutnya. Arga menyeka darah itu dengan punggung tangannya, sesaat kemudian ia kembali bertarung dengan mereka. Dia terlihat tidak memedulikan rasa sakitnya.
Arga dalam bahaya, Bima harus segera membantunya. Ia terus berusaha bergerak mendekati Arga, namun dorongan demi dorongan membuat langkahnya semakin mundur, posisinya semakin jauh dengan Arga. Ia berusaha melumpuhkan mereka dengan cepat, namun jumlah orang yang Bima hadapi terlalu banyak. Itu akan menguras waktunya. Butuh banyak waktu untuk mengalahkan mereka semua. Pasukan Canislupus terus mengerumuninya, membuat ruang gerak Bima semakin sempit. Langkahnya tertahan di tempatnya berdiri. Dengan ruang gerak terbatas, Bima melumpuhkan mereka satu per satu, namun perhatiannya masih terpaku pada Arga.
Bima melihat setidaknya lima orang dari Pasukan CanisLupus yang bertarung dengan Arga. Pandangannya teralihkan oleh lima orang lain yang berlari ke arah Arga dan hendak ikut menyerangnya. Sepuluh pria dewasa melawan satu pemuda? Membayangkannya saja sudah membuat jantung Bima berdegup tak beraturan. Bagaimana pun juga, Bima tidak mau jika harus melihat Arga kembali terluka. Ia harus melindunginya, bagaimana pun caranya! Meskipun itu akan membahayakan dirinya, Bima akan mengambil resiko tersebut.
Bima harus segera mendekati Arga dan membantunya mengalahkan orang—orang itu. Namun, sebelum melakukan itu, Bima harus mengalahkan orang—orang yang ada di depan matanya yang jumlahnya semakin bertambah banyak. Bima mengerahkan seluruh kemampuannya, menghajar mereka satu per satu dengan cepat. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Bima merasa ia tidak akan sempat menyelamatkan Arga.
Ketakutan Bima akhirnya terjadi, sepuluh orang itu sudah mengelilingi Arga dengan kepalan tangan yang sudah mereka siapkan. Kerumunan itu menghalangi penampakan tubuh Arga, membuat Bima tidak bisa melihatnya.
Karena terlalu terpaku dengan keadaan Arga, Bima sampai tidak memperhatikan keadaannya sendiri. Satu pukulan telak menghantam rahang bawah Bima, membuatnya melayang di udara untuk sesaat. Kekhawatirannya pada Arga membuatnya lengah dan mengabaikan keselamatan dirinya, membuat lawan dengan mudah menyerangnya dengan serangan telak mereka.
Yang Bima takutkan akhirnya terjadi. Sebelum ia sempat mendekati Arga untuk membantunya, orang-orang itu sudah lebih dulu bergerak—mereka mulai menyerang Arga secara serentak. Dari tempatnya berada, Bima melihat orang-orang itu mulai menggulung Arga. Ia lantas terbelalak hebat seraya berteriak keras. "ARGA!!"