Musik berdentang sangat keras memekakkan telinga. Hingar bingar dentuman music disko berpadu dengan desiran angin laut yang begitu kencang, ditambah para pelayan wanita berbaju seksi wiri membawa nampan minuman dan cemilan, membuat suasana pesta malam ini begitu meriah dan mewah.
Pesta yang diselenggarakan di atas kapal pesiar pribadi milik salah satu perusahaan terkenal itu memang cukup berkelas. Para pengunjungnya memang tak terlalu banyak tapi yang bisa memberi tahu bahwa mereka menilai dari golongan.
Para wanita mengenakan gaun yang sangat mini dan terbuka bercampur baur menari dengan laki-laki yang kebanyakan bertelanjang d**a. Mendungnya awan dan dinginnya angin laut seakan-akan tak berarti apa-apa-apa dengan gairah mereka.
Namun tak semua pengunjung ikut menari dalam kemeriahan. Ada juga pasangan yang b******u di sudut yang agak gelap dek kapal. Selain itu, ada juga para lelaki yang bersantai di kursi berjemur di dekat kolam renang kecil.
Seorang wanita bergaun merah yang teramat seksi melangkah pelan menuju tempat para pria di sun lounger. Gaunnya yang melekat tanpa lengan dan bawahannya yang hanya sampai pertengahan paha sangat mengekspos sebagian besar indahnya.
Dari gestur tubuhnya terlihat sekali kalau wanita itu tidak nyaman dengan gaun yang di kenakannya. Di saat tangan kirinya membawa tas kecil, tangan kanannya berusaha memegang ujung gaun agar tak terangkat ke atas bersamaan dengan setiap langkahnya.
Dari langkahnya pun terlihat sangat jelas takut dan ragu-ragu. Pandangannya yang sering menunduk menunjukkan bahwa dia ketakutan.
"Selamat malam nona Laura. Anda terlihat sangat cantik sekali memakai gaun itu" sapa salah satu pria di sun lounger.
"Terima kasih" wanita itu hanya tersenyum kikuk.
"Duduk di sini sayang," Pria lain menggeser tubuhnya agar wanita yang bernama Laura itu bisa duduk di sampingnya.
"Mau minum nona?" Harry, pria pertama yang menyapa tadi menuangkan botol wisky ke gelas.
"Istriku tidak minum minuman beralkohol tuan Harry," interupsi Brian, lelaki yang duduk di samping Laura, "Benarkan sayang?"
Laura hanya tersenyum tipis.
Ke empat pria di kursi berjemur itu kembali berbincang, bercanda gurau membicarakan apa saja. Bahkan ketika membahas bisnis pun mereka juga tertawa.
Laura hanya diam tanpa niatan ikut masuk dalam perbincangan, sesekali hanya seseorang yang tidak atau godaan orang itu dengan mengangguk atau tersenyum seperlunya. Dia tak terlalu paham apa yang mereka bicarakan. Wanita itu hanya ingin segera kembali ke kamar inapnya. Gaun yang dipilihkan suaminya ini benar-benar tidak nyaman. Apalagi melihat tatapan para pria ini terhadapnya, entahlah Laura begitu tidak nyaman dengan tatapan mereka. Tentu saja selain suaminya.
Kenapa sayang? Tanya Brian yang melihat Laura mengelus-elus lengan.
Dingin. Itulah yang dirasa Laura pada lengannya yang terbuka tapi wanita itu hanya tersenyum dan menggeleng lemah. Dia mengganggu keasyikan suaminya.
"Mau minum dulu?" Brian menyodorkan segelas air putih.
Laura langsung menerima uluran air itu. Mungkin karena terlalu tegang atau gugup, segelas air putih itupun langsung tandas dalam sekali tegukan. Dengan sedikit gemetar dia meletakkan gelas kosong kembali ke meja.
5 menit kemudian Laura merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Kepalanya pusing dan tubuhnya menghangat. Suara Brian dan teman-teman-yang berbincang terdengar samar.
Mungkin karena cuaca. Batinnya
Laura hanya diam, mencoba menahan hawa tidak enak pada tubuhnya. Entah semakin lama pusing pusingnya semakin menjadi-jadi dan tubuhnya terasa semakin panas.
"Sayang!" Panggil Laura dengan panggilan lengan Brian.
"Laura ada apa denganmu?" Panik Brian ketika mendapati wajah Laura yang pucat.
Laura ingin menjawab tapi suaranya seperti hilang. Pertanyaan-pertanyaan Brian yang panik terdengar semakin samar. Detik berikutnya tubuhnya terasa berat dan tiba-tiba semua menjadi gelap.
############
Ranjang yang bergoyang-goyang dan gemericik suara yang membangunkan Laura. Ketika membuka mata dan melihat sekeliling kamar dia merasa ada yang aneh dan janggal.
Bukan. Ini bukan kamar yang di tempati Laura dan suaminya di kapal ini. Dia masih ingat betul tata letak kamar inapnya.
Mencoba untuk mengingat-ingat kejadian semalam, Laura menutup mata dan memaksanya. Pesta, langit mendung, dingin, minum air putih, pusing, pusing, lalu gelap.
'Ahhhh apa yang sebenarnya terjadi ... ???'
Laura menekan pelipisnya kuat dengan harapan pusingnya dia dan dia ingat kejadian semalam.
Ketika berusaha duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang, Laura kaget dengan keadaan tubuhnya. Dia tidak memakai pakaian sehelai benangpun. Hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.
'Apakah aku dan Brian b******a semalam?'
Suara gemericik air kembali menyadarkannya. Dilihatnya kamar mandi dengan dinding kaca transparan yang berada di dalam kamar. Seorang laki-laki sedang mandi di dalam sana.
Embun yang menempel pada dinding kaca membuat orang yang mandi terlihat buram.
'Apakah itu Brian?'
Pelan, Laura turun dari ranjang. Baju memungut yang berserakan dan memakainya.
"Brian!" Panggilnya pelan.
Gerakan pria yang mandi itu tiba-tiba berhenti. Seakan menunggu kelanjutan dari panggilan tadi.
Aneh. Laura ada yang aneh pada orang yang mandi itu. Jika memang dia seharusnya menjawab ketika dia memanggilnya. Dan biasanya Brian selalu bersenandung saat mandi. Tapi orang di dalam kamar mandi itu tak terdengar sama sekali suaranya.
Agak ragu Laura melangkah ke kamar mandi.
"Brian" panggilnya lagi untuk memastikan apakah orang mandi itu akan menjawabnya.
Nihil. Tak ada jawaban. Orang di dalam kamar mandi malah kembali melakukan aktivitas mandinya setelah berhenti sebentar.
Laura menajamkan penglihatannya pada orang itu. Dan ketika orang itu mengguyur tubuhnya dan embun pada dinding kaca ikut luruh, tersentak lah Laura.
'Bukan. Dia bukan suamiku Brian. Pria yang mandi itu bukan suamiku. '
Sekian tahun menikah tentu Laura sangat hafal postur tubuh suaminya, walau hanya terlihat punggungnya saja dan samar-samar dia pasti apakah itu suaminya atau bukan.
Takut, Laura melangkah pintu. Sedikit gemetar membuka pintu dan keluar kamar.
Bingung dan linglung. Itulah yang dirasa Laura sepanjang jalan melewati koridor kamar-kamar di dalam kapal.
'Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi? Di mana Brian? Siapa pria itu? '
Tiba-tiba saja ada uluran tangan yang menangkap lengan laura dan menariknya keras.
"Aaaaaa ..."
"Diam !!!" Bentak orang yang menariknya.
"Mbak Siska?" Entah untuk beberapa kali dalam semalam ini wanita itu kaget dengan keadaan sekitar.
"Why you out from room it?" Desis Siska seakan-akan menyalah tindakan Laura yang meninggalkan kamar.
Mata Laura membelalak kaget, "Mbak tau aku di dalam kamar itu?"
Menahan emosi Siska kembali menarik tangan Laura, cepatnya, wanita itu mengikuti langkah cepatnya.
"Mbak, kita mau ke mana?" Tanya Laura agak takut. Tangannya terasa sakit akibat cengkraman kuat Siska.
Nama Wanita Siska itu hanya diam dan tetap selalu terhubung. Tak menggubris bahkan ketika terdengar wanita yang memanggilnya 'mbak' itu merintih sakit.
Ketika sampai di deck kapal teratas, tempat yang sama pesta itu di buat, barulah Siska melepas cengkramannya dengan tubuh Laura ke lantai deck.
'Sakit'
Cuaca yang sedang hujan dan pesta yang sudah digunakan membuat tempat itu kini begitu gelap dan sepi.
"Ada apa ini mbk?"
Bukan. Itu bukan suara Laura yang bertanya. Ternyata Brian juga ada di dek paling atas. Laura menoleh ke arah Brian, ingin minta tolong tapi Brian malah menghampiri Siska.
Agak kecewa Laura mencoba berdiri sendiri tapi gagal. Mungkin karena kapal yang terus bergoyang dan lantai yang licin karena hujan membuat Laura susah berdiri.
Laura merasakan tubuhnya ke dek pinggiran. Dengan berpegangan pada besi pinggiran dek Laura mencoba untuk berdiri.
Nging .... nging ... nging ....
Tangan kiri Laura menutup telinga yang berdenging nyaring. Sedangkan tangan kanannya kuat memegang besi pinggiran untuk menopang tubuhnya berdiri.
Dengan sisa kekuatannya, dilihatnya Brian dan Siska. Mereka seperti orang yang sedang berdebat. Tapi Laura tidak mendengar apa yang mereka debatkan.
Tiba-tiba saja kapal bergoyang dengan sangat hebat dan ...
Byuuuuurrr ....
Brian dan Siska seketika berhenti berdebat dan melihat sekeliling.
"LAURA !!!" teriak Brian.
"LAURA .... !!!"
Hening tak ada jawaban.
Takut dan tegang Brian lari ke pinggiran dek dan menatap ombak laut yang ganas.
"LAURAAAAAAA ..... !!!!!!"